[FICLET] What am I to You?

e9a6084b83bbdffbb045e32971ebe27d
credit image to owner!

What am I to You?

by twelve

Son Chaeyoung; Jeon Jungkook

+ Kim Dahyun, Kim Yeri, Chou Tzuyu

>1000 words (ficlet); school-life AU, slice of life, friendzoneship, fluff

.

.

“Ini hari pertamaku. A-aku … terlanjur tembus celana olahraga. Aku—” dan tangisnya benar-benar pecah.

“Udahan nangisnya. Bantuan pake turbo ke sana, sabar.”

Maka siang itu, tersebar berita seantero Hanlim. Nyaris setiap dua meter semua murid membicarakan tentang seorang cowok jangkung lari-lari semacam pantatnya terbakar membawa jinjingan makan dengan plester penurun panas di keningnya.

.

“Terus apalagi?”

Ya udah mau kamu aja.

.

.

Related to [ This is Typical of Love ]

///

Pagi tadi, udaranya segar sekali. Son Chaeyoung bersyukur pada Tuhan yang telah berbaik hati membiarkan otaknya untuk mengirim sinyal agar bangun jauh lebih pagi ketimbang biasanya.

Maka, senyum Chaeyoung lebar sekali waktu berangkat meninggalkan rumah. Sampai jalan menuju halte pun agak meloncat-loncat layaknya anak TK. Ditambah suara dalam kepala menyenandungkan “it’s the be~st da~y e~ver~” serta bibir terbentuk jadi lengkungan cantik, Chaeyoung benar-benar tidak pernah menyangka kejadian ini akan menimpanya.

Uh, sebetulnya ada sedikit firasat sih. Chaeyoung merasa mata kanannya berkedut. Orang zaman dulu bilang itu adalah sinyal marabahaya datang, dan Chaeyoung menyesal tidak menganggap hal itu serius.

Berimbas ia dikira hantu penunggu karena menangis di toilet dekat kantin, bilik paling pojok pula.

Jari Chaeyoung bergetar. Terbata-bata mengeluarkan ponsel dan memencet ikon telepon. Speed dial ditekan sampai akhirnya terdengar suara seseorang.

Halo—”

“Tolong aku,” Chaeyoung menarik ingus. “Ini hari pertamaku. A-aku … terlanjur tembus celana olahraga. Aku—” dan tangisnya benar-benar pecah. “A-aku- roknya ada di loker, tapi ngambilnya malu … huhuhuhu. Tolong. Huhuhuhu.”

Hening sejenak (ini super menyiksa buat Chaeyoung, sungguh!), namun selanjutnya terdengar balasan.

Udahan nangisnya. Bantuan pake turbo ke sana, sabar.”

Sekian menit setelah telepon terputus, Chaeyoung menerima ketukan. Ia membukanya setelah mengusap jejak tangis di pipi, dan terkejut melihat Tzuyu di sana dengan kening mengernyit.

“Ini ada titipan—eh, kamu mau makan siang di toilet, Chae?”

Chaeyoung menerima jinjingan makan kuning bunga-bunga. Isinya adalah seragam sekolah dan roti yang diselipi ‘benda wanita’ serta sekotak susu stroberi dengan post-it andalan seseorang berisi tulisan menyebalkan: “Iya, sama-sama“.

Itu tulisan ceker ayam Jeon Jungkook, Chaeyoung 100000% yakin namun masih tetap ingin menyangkal. Dan (entah ini kabar baik atau buruk) dugaan itu terbukti benar begitu keluar dari toilet untuk bergabung makan siang dengan teman-temannya yang bertanya kemana perginya si Perempuan Rambut Pendek selepas olahraga, Chaeyoung mencuri dengar obrolan meja sebelah:

Tadi masa ada cowok ganteng bawa jinjingan makan! Mohon-mohon ke satpam katanya temennya sakit. Padahal dia sendiri pucat.”

Wah! Idaman juga tuh cowok.

Ah, biasa aja kali.

Maka siang itu, tersebar berita seantero Hanlim. Nyaris setiap dua meter semua murid membicarakan tentang seorang cowok jangkung lari-lari semacam pantatnya terbakar membawa jinjingan makan dengan plester penurun panas di keningnya, termasuk teman-teman Chaeyoung.

“Mereka ngomongin cowok yang tadi bukan, sih?” celetuk Dahyun tiba-tiba, mengundang kerutan bingung.

“Hah? Yang mana?”

“Yang matanya dua, yang lobang hidungnya dua.” Yeri langsung kena geplakan Dahyun. (Bercandanya perempuan satu itu memang minta diguyur air selokan!)

“Itu yang tiba-tiba nyamperin Tzuyu.”

Chaeyoung berhenti mengunyah, menyimak.

“Oh, yang tiba-tiba nyuruh ngasihin jinjingan buat Chaeng?”

“Nah itu! Yang di jidatnya pakai fever cooling patch kayak bayi.”

Uhuk!

Mendengar pernyataan Dahyun, Chaeyoung sampai tersedak. Tiba-tiba mengheningkan cipta dalam hati mengingat satu hal penting: bukannya Jeon Jungkook sedang demam?

Daripada menerka-nerka, Chaeyoung cepat-cepat memeriksa call history-nya. Dan, yeah, keparat. Nama Jeon Jungkook tercatat paling atas di daftar sebagai penerima telepon dua puluh lima menit lalu.

Pipi Chaeyoung memerah. Artinya, orang yang menyelipkan ‘benda wanita’ di antara roti itu Jeon Jungkook juga.

.

.

.

Selama perjalanan pulang, Chaeyoung menekan bibir menjadi satu garis tipis di antara setiap lirik yang masuk ke indera pendengaran. Entah untuk alasan apa organ di balik rongga dada itu berdebar begitu jarinya galau gundah gulana mau membuat panggilan dengan kontak bernama ‘Jungcookie’.

Chaeyoung berencana mampir ke rumah Jungkook sebagai rasa terima kasih atas apa yang sudah lelaki itu lakukan untuknya hari ini. Maka, Anak Perempuan Son itu tidak punya pilihan lain selain mematikan lagu, diganti suara serak si pemilik marga Jeon.

Hey, Chaeng.

Chaeyoung menghela napas, menimbang pro dan kontra sebelum kalimat selanjutnya dilontarkan. “Butuh sesuatu gak? Aku baru turun dari bis, mau jajan.”

Tumben amat,” biarpun hanya lewat telepon, Chaeyoung bisa merasakan senyumnya Jungkook di ujung sana. Lalu, entah kenapa, Chaeyoung juga ikut-ikutan senyum.

“Buruan. Jangan kebanyakan mikir.”

Apa aja yang bisa dimakan—eh, nori deh nori.”

“Terus apalagi?”

Cola.

“Gila ya lagi sakit minta cola.” Chaeyoung mengomel, kemudian mengingatkan dirinya sendiri untuk menghadiahkan satu jitakan di kepala kelapa Jeon Jungkook. Apalagi respon si Lelaki Jeon malah kekehan menyebalkan.

Ya udah butuh kamu aja.

“Ih, dangdut.”

Jungkook ketawa lagi. “Serius. Ayah, Ibu, Kakak, pergi semua: aku sendiri di rumah.”

“Ngomong, kek. Aku otw, jangan bandel. Udah makan belum?”

Belum.”

“Dasar bodoh.” Lagi-lagi Chaeyoung menahan agar tidak ada kalimat umpatan yang keluar. “Ada obat?”

Enggak.

“Astaga, Jeon Jungkook. Bosen hidup ya?”

Ampun, Ndoro.

Son Chaeyoung sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa hari ini ia akan berakhir di kamar Jeon Jungkook dengan nasi panas dan dua bungkus nori. Namun kenyataannya, Chaeyoung benar-benar duduk bersila di hadapan Jungkook. Memasang wajah super ditekuk dan terus-terusan mengomel.

Gak capek apa? Marah-marah mulu.” Lama-lama Jungkook gerah juga. Apalagi sepanjang perjalanan dari mini market ke rumah Jungkook diisi dengan Chaeyoung marah-marah lewat telepon.

“Suruh siapa bandel.”

Jungkook diam, sibuk menelan. Tapi sedikit-sedikit senyumnya merangkak naik.

“Tadi juga,” Chaeyoung melepas fever cooling patch di kening Jungkook kemudian menggantinya dengan yang baru keluar dari kulkas. “Udah tau demam, malah ke Hanlim. Bela-belain banget, sih.”

“Ya, kan kamu nelepon aku?”

Duh, masalahnya tadi Chaeyoung bahkan tidak sadar menelepon Jungkook. Tapi, Chaeyoung tidak sanggup berterus terang.

“Kan bisa nolak.”

“Ditolak rasanya gak enak, tau.”

“Dih, bodo amat.”

Jungkook tertawa riang (diselingi batuk-batuk, sih) sambil mengacak rambut Chaeyoung. Anak Perempuan Son itu pasrah, sementara tangannya mencomot nasi di mangkuk Jungkook. Marah-marah berefek besar pada cacing-cacing di perut Chaeyoung.

But seriously, aku kan bisa telepon Tzuyu kalau kamu nolak.”

Kedua bahu diangkat, Jungkook tidak membalas ucapan Chaeyoung.

“Kamu jadi digosipin satu sekolah,” ujar Chaeyoung, membuat alis Jungkook terangkat sebelah. “Katanya, ‘tadi masa ada cowok ganteng bawa jinjingan makan! Mohon-mohon ke satpam katanya temennya sakit. Padahal dia sendiri pucat.’”

Dan tawa Jungkook meledak mendengar Chaeyoung meniru obrolan perempuan-perempuan tukang gosip dengan bibir dicebik-cebikkan. Nyaris saja semua nasi di mulut Jungkook menyembur keluar saking lucunya wajah Chaeyoung.

“Jadi tersanjung.” setelah berhasil menghabiskan tawa, Jungkook memberikan suapan terakhirnya pada Chaeyoung.

Tentu saja Chaeyoung mencibir sementara mengunyah sampai tuntas. Kemudian tatapannya berubah khawatir lagi. “Seriously, Kook. Kalau butuh apa-apa bilang.”

“Jangan terlalu baik, Chaeng. Nanti aku baper.”

Baik Jungkook maupun Chaeyoung, keduanya saling pandang. Intens dan super serius. Sampai akhirnya Chaeyoung memutuskan kontak mata dengan cara menjawil pipi si Sahabat Karib hingga mengaduh minta ampun.

Ngelantur terus.”

“Ampun, Ndoro!”

Selain mengaduh gara-gara sakit di pipi, diam-diam Jungkook juga mengasihani nasibnya yang harus sabar akan ketidakpekaan Son Chaeyoung. Sabar, sabar.

///

Author’s Note:

HAH APAAN NIH.

Kesel gak sih ini si Chaeng gak pekaan amat aku yang nulisnya aja kesel banget. Aduh, Son Chaeyoung, what am I to you, Nduk? Jungkook musti sabar-sabar deh Chaeyoung-nya terlalu gak pekaan.

Btw, sebenernya buat scene terakhir itu versi galak-galak-manis dari fiksi yang gatau kapan bakal aku rilis. HEHEHE. Ketauan gak punya ide lagi.

Terinspirasi dari tumblr yang post tentang Boyfriend!Jungkook dan art-nya Sundaekids. Thank you!

Terima kasih juga buat yang udah baca. Me loves everyone!

Twelve.

Iklan

9 thoughts on “[FICLET] What am I to You?

  1. hm kenapa saya yg baper bukannya chaeng 😥 dan kenapa chaeng susah bgt pekanya wkwkwk. jungkook’s character is just too good to be true, everyone would date a man like him tbh. jadi geregetan sama chaeng 😭
    great one as always btw~♡

    Suka

    1. Aku juga yang nulisnya baper kok ini masih kerasa bapernya 😫 lol
      BENER BANGET YA TUHAN. Jeon Jungkook di sini tuh baik bgtbgtgtbgt terus udah kode gila-gilaan juga Chaeng-nya gak peka bgtbgtbgtbgt 😩

      Btw, thank you udah baca dan komennya! 💙😻

      Suka

    1. HAHAHA i know right??? Kayaknya Jungkook biar gak ketauan bawa ‘barang cewek’ jadi diselipin ke roti soalnya dia cowok kan malu 😂

      Thanks udah baca dan komenannya, Kak!

      Disukai oleh 1 orang

    1. AHAHAHAHAHAHA. Emang Jungkook se-boyfriend material itu. Huhuhu. Udah tinggalin aja Jimin-nya ((LOL)) ((Bisikan setan))

      Btw thank you udah baca dan komennya!!! ❤

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s