Girls’ Problem (Episode 3)

Poster by HRa@PosterChannel
Thank you for the amazing and lovely poster!

shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 03: Boys Boys Boys

Park Jihyo, Myoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7

Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish |PG-15 (for mild sexual references and swearing)
I own nothing but the story~
Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story! This chapter focuses on how some of the members dealing with life & boys.

PROLOGUE | EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3


kim yugyeom
hai, ini yang melempar bola tadi
maaf aku sangat ceroboh

First thing first, how did he get my contact?

Mina memiringkan kepalanya, apa lagi ini? Mengapa begitu banyak hal aneh terjadi padanya sejak pindah ke Seoul? Hidupnya bukan semacam cerita-cerita romansa remaja klise itu kan? Ia menimbang-nimbang sejenak apakah ia harus membalas pesan si Yugyeom ini atau tidak. Mina bahkan sudah tidak peduli dengan kecelakaan kecil itu, kecuali sisa-sisa rasa nyeri di kepalanya. Well, cukup bilang bahwa ia tidak apa-apa dan terima kasih atas kepeduliannya tidak akan merugikan dirinya juga. Mina pun menekan kolom reply dan mengetik balasannya.

Tidak apa-apa ^^ aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menanyakan

“Ih apaan formal banget,” gumam Mina, ibu jarinya mulai menekan delete berulang-ulang kali. Setelah mencoba berbagai macam jenis balasan yang bisa terpikir olehnya, akhirnya ia memilih satu dan menekan send.

 myouiii
oh yang tadi, aku baik-baik saja no problem! ^^

kim yugyeom
baguslah

baguslah? Itu saja? Bukannya Mina mengharap lebih, ia hanya merasa jawaban seperti itu terlalu singkat. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab dengan singkat juga. Ia hanya membalas dengan ‘oke’ setelah itu sungguh ia tidak berharap akan mendapat balasan lagi dari laki-laki itu, tetapi selang beberapa detik balasan dari Yugyeom kembali datang.

myouiii
oke

kim yugyeom
mau aku traktir es krim? sebagai permintaan maaf

“Heh? Es krim?!” Mina memekik kaget tanpa sadar. Teman-teman sekamarnya, Momo dan Jihyo, sedang sibuk berebut charger, terlalu sibuk sampai tidak memerhatikan Mina yang memekik pada layar ponselnya seperti orang gila. Lagi pula suara pekikannya juga tidak begitu keras. Yang benar saja, mereka baru saling kenal selama beberapa menit. Bahkan bukan saling kenal juga, hanya mengobrol lewat chat dan obrolannya sangat canggung pula. Bagaimana bisa Yugyeom langsung terpikir untuk mengajaknya makan es krim? Mina meletakkan ponselnya di atas pahanya yang ditutupi selimut, menggaruk-garuk kepalanya sambil berpikir apa ia harus menerima ajakan itu atau tidak.

myouiii
ah ga usah repot-repot
maksudnya aku ga butuh ditraktir es krim
eh maksudnya… ya begitu, ga usah repot-repot

kim yugyeom
yakin?
okay but if you change your mind
just come to the big canteen tomorrow

Kali ini Mina melempar ponselnya ke sebelah bantal, lalu berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai wajahnya ikut tertutup. Ia memejamkan matanya, memaksakan diri untuk tidur, namun otaknya masih aktif menentukan keputusan. Lebih baik datang atau tidak?

Sambil melangkah memasuki kantin yang ramai, Mina mulai merasa menyesal memilih untuk datang ke sini. Kim Yugyeom pasti tidak serius soal traktir es krim itu, ia tidak mengabarinya lagi mengenai tempat duduknya atau petunjuk lainnya. Atau mungkin Mina datang terlalu cepat, oh astaga laki-laki itu bahkan tidak menyebut jam berapa ia harus datang.

Mina menempati sebuah meja kosong di dekat kios tteok-bokki, bertopang dagu sambil mengerucutkan bibirnya. Bukan kecewa karena tidak jadi makan es krim gratis, ia merasa konyol saja. Tapi ia sudah terlanjur di sini, tidak ada salahnya membeli makanan. Perjalanan naik bus dan kelas siang tadi semua ia lalui dengan perut kosong.

Harus ia akui ia juga merasa agak kesepian. Hari ini teman-teman setimnya semua punya jadwal berbeda: ia, Momo dan Sana naik bus ke kampus kemudian berpisah ke fakultas masing-masing; Nayeon tidak ada jadwal, jadi ia mengantar Dahyun, Chaeyoung dan Tzuyu yang ada kelas pagi lalu pergi kencan. Sedangkan Jungyeon dan Jihyo yang tidak ada jadwal juga memilih berdiam diri di rumah. Ia sudah mulai terbiasa berada di antara kegaduhan teman-teman barunya itu.

Baru saja ia berniat untuk menghampiri kios tteok-bokki tadi, seseorang menyodorkan es krim vanila di depannya. Siapa lagi kalau bukan Kim Yugyeom. Mina tersenyum canggung, menerima es krimnya dan menyuruh Yugyeom duduk. Seolah membaca pikiran Mina, laki-laki tinggi itu langsung memberi penjelasan tanpa diminta.

“Tadinya aku mau tanya dulu kamu di mana, tapi aku keburu liat kamu duluan. Jadi aku langsung ke sini.”

“Oh jadi gitu, makasih es krimnya Yugyeom-ssi,” ujar Mina.

Yugyeom hanya mengangguk, lalu memakan es krimnya. Keduanya terdiam beberapa menit, sibuk dengan es krim masing-masing. Mina akhirnya memberanikan dirinya untuk menanyakan dari mana Yugyeom mendapat kontaknya.

“Dari Sana, dari siapa lagi,” jawab Yugyeom. Tentu saja, Mina sudah bisa menduga jawaban itu. Siapa lagi kalau bukan Minatozaki Sana si social butterfly yang kenalannya tersebar di mana-mana.

“Pantesan,” ujar Mina pelan.

Menit-menit selanjutnya kembali mereka habiskan dengan saling diam, menghabiskan es krim masing-masing hingga corongnya tak bersisa. Pada saat seperti ini, Mina ingin mengutuk takdirnya terlahir sebagai orang yang super awkward. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai atau memperpanjang suatu percakapan. Sialnya, Kim Yugyeom juga sama sekali tidak buka suara. Mulai merasa tidak nyaman di tempat duduknya, Mina bolak-balik memainkan ponselnya, berusaha menghilangkan kecanggungan. Akhirnya ia membereskan barang-barangnya dan beralasan harus pergi ke kelas. Baru saja Mina berdiri dari kursinya, Yugyeom memanggil namanya dan memintanya untuk menemani ngobrol lebih lama.

Mina menghela napas, memangnya dari tadi mereka mengobrol apa sih? Walaupun begitu Mina tipe orang yang sulit mengatakan tidak, jadi ia kembali meletakkan barang-barangnya di meja dan duduk di kursinya. Dinginnya es krim vanila tadi mungkin membekukan lidah keduanya, berbasa-basi saja terasa berat seperti ada yang mengikat lidah mereka masing-masing menjadi simpul mati. Gadis Myoui itu bertopang dagu, membiarkan kedua manik cokelat gelapnya menangkap gambaran wajah Kim Yugyeom. Fitur wajahnya layak untuk dikagumi, apalagi hidung mancungnya itu! Sungguh, Mina tidak bermaksud memandangi wajah orang yang baru ia kenal sampai setiap detilnya, hanya saja ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ah, ia teringat sesuatu, mungkin ia bisa mengangkat topik tentang baseball. Yugyeom itu kan… sebentar, apa itu namanya? Pitcher? Mina berdeham, mempersiapkan serangkaian kata yang akan ia ucapkan.

“So, how’s the baseball thing going?”

Pertanyaan itu berhasil menarik perhatian Yugyeom, namun kelihatannya bukan jenis reaksi yang Mina harapkan. Bukankah ia seharusnya bersemangat membicarakan sesuatu yang ia sukai? Sorot mata dan garis bibirnya tidak menunjukkan itu, malah kelihatannya Kim Yugyeom agak membenci topik yang satu ini. Butuh lebih dari dua menit bagi laki-laki Kim itu untuk menjawab, jeda sunyi di antaranya benar-benar menyiksa Mina.

“Yah, begitulah. Latihannya bikin capek seperti biasa. Kamu sendiri gimana sama cewek-cewek cheerleader itu?”

Sekarang Mina yang tercekat. Memar-memar di kedua kaki dan tangannya berdenyut-denyut lagi bak luka baru. Puluhan tumbling dan loncatan yang telah ia lakukan, setiap gerakan dari rutin cheerleading tim-nya, terputar kembali di dalam kepalanya seperti film dokumenter. Teriakan tegas dan lantang Jihyo terngiang-ngiang di telinganya, ugh rasanya ia ingin berteriak frustrasi. Ia mengepalkan tangannya sembari menggigit bibir bawahnya, seakan berusaha melawan rasa sakit kepala yang tak tertahankan. Yugyeom sampai heran melihatnya.

“Aku bahkan masih bingung ngapain aku gabung tim cheerleader,” Mina tertawa pelan.

I know that feeling,” Yugyeom menimpali. “Ngomong-ngomong akhir bulan nanti mau nonton pertandingan tim baseball? Aku bisa ngambil tiket gratis kalau kamu mau.”

“Boleh—” 

Sebuah rangkulan mendarat di pundak Yugyeom, diikuti sapaan dan senyuman ramah yang tidak asing lagi bagi Mina. Im Jaebum. Interupsi yang tidak di undang itu jelas sekali mengubah suasana hati Yugyeom secara drastis, disingkirkannya lengan Jaebum dengan cepat. Tak berkutik sedikit pun, Jaebum malah duduk di sebelahnya, kembali merangkul anggota timnya yang paling muda itu.

“Kalian saling kenal?” Celetuk Jaebum. Mina tidak memberi jawaban pasti; ia memperlihatkan gummy smile khas-nya diikuti sebuah tawa canggung. Sementara Yugyeom lagi-lagi menyingkirkan lengan Jaebum, tersenyum pada hyung-nya itu sambil berbicara dengan suara pelan.

Hyung, ngapain sih? Ganggu aja.”

“Latihan, bukannya malah makan sama cewek!” Jaebum menepuk pundak Yugyeom, kelewat keras sampai laki-laki itu meringis nyeri. “What are you doing with Mina anyway, she’s mine.” 

Yugyeom tertawa mencemooh dan menimpali, “urusin dulu tuh si Jihyo.”

“Ga usah bawa-bawa Jihyo.”

Menonton dua cowok saling sindir tidak jelas di hadapannya bukan sesuatu yang ia inginkan di waktu istirahat makan siangnya. Pandangannya beralih dari Jaebum kemudian ke Yugyeom, kemudian ke Jaebum lagi, dan terus begitu. Sepertinya kedua orang ini sudah benar-benar lupa akan kehadirannya. Ia mengeluarkan ponsel, mengangkatnya ke dekat telinga kanannya lalu berkata, “oh, okaasan! selamatkan aku dari dua cowok aneh ini.” dalam Bahasa Jepang. Jaebum dan Yugyeom berhenti beradu mulut sejenak, melihat ke arah Mina yang sedang siap-siap pergi sambil menelepon. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Mina bicarakan, tapi mereka bisa merasakan betapa Mina ingin sekali pergi dari situ.



Keringat dan rambut kusut.

Sudah biasa bagi seorang Hirai Momo berpenampilan seperti ini setiap kali latihan pementasan drama selesai. Ia sudah muak mendengar dosen vokalnya meneriaki keterampilan bernyanyinya dan menyuruhnya menyerah saja pada theater art. Padahal ia tidak pernah meminta peran yang memiliki bagian menyanyi, ia ingin menari. Itu saja. Salahkan saja si ketua kelas Im Changkyun yang terus-terusan memberinya peran utama kedua. Momo membanting pintu ruang latihan dengan keras, berjalan malas sembari menenteng tas latihannya. Jujur saja, ia memilih latihan cheers bersama Jihyo yang galak daripada latihan pementasan drama kalau ia terus dipaksa untuk menyanyi. Ketika ia sedang mengomel sendiri sambil menggaruk-garuk kepala, kedua matanya menangkap sosok Mark Tuan berjalan di koridor dari arah yang berlawanan. Momo pun panik tak karuan, cepat-cepat membalikkan badannya dan menyembunyikan wajah kusamnya. Mana boleh Mark melihatnya dengan rupa seperti ini. Lagi pula, apa yang Mark Tuan lakukan di gedung fakultas seni? Sebenarnya Momo tahu jawabannya, tapi ia tidak menyukai kenyataan itu.

Momo merapikan rambutnya dengan jemarinya, mengelap keringatnya dengan selembar tisu sekadarnya. Ia yakin penampilannya tidak berubah sedikit pun, walaupun mungkin dengan sedikit bedak dan liptint ia akan terlihat setidaknya 10% lebih baik. Setelah merasa siap, ia melangkah mengikuti Mark yang sedang menuju salah satu kelas musik, mencolek pundak laki-laki itu dari belakang dengan jari telunjuknya. Mark menoleh ke arahnya, mendapatkan sebuah senyuman cerah dari Momo yang super kucel. Tidak disangka-sangka, Mark membalas senyuman Momo dengan sapaan ramah. Rasanya Momo mau pingsan saja.

“Uhm sunbae masih inget ga utang ramyeon yang waktu itu? Hehe,” kata Momo, masih cengar-cengir.

Utang yang ia maksud sudah berumur satu tahun lebih, ketika itu pertandingan baseball baru saja selesai dan Mark merasa lapar. Tentu saja Momo ada di sana karena waktu itu 9MILLION masih sering tampil untuk tim baseball, Mark yang lupa bawa dompet akhirnya meminjam sejumlah uang untuk beli ramyeon pada Momo. Mark berani sumpah ia mengembalikan uang Momo langsung seminggu setelahnya, tapi setiap bertemu dengannya gadis itu selalu mengangkat topik yang sama.

“Udah dibalikin kan uangnya,” ujar Mark.

“Oh iya haha,” Momo akhirnya berhenti cengar-cengir. Ia harus memikirkan alasan lain untuk menemui Mark, alasan utang itu sudah kadaluarsa. “Kalo gitu ayo makan jokbal sama aku sunbae, gantian sunbae yang bayar!” Ia pun melancarkan jurus kedua; to the point.

Mark mengeluarkan tangan kanannya dari dalam saku jaketnya, menepuk-nepuk kepala Momo layaknya memperlakukan seorang adik kecil. Hatinya jatuh ke dasar bumi seketika. Tidak bisakah Mark melihatnya seperti seorang perempuan? Ia hidup di bumi ini selama 20 tahun dan Mark masih melihatnya seperti anak usia 5 tahun.

“Jangan sekarang, aku ada janji sama Suji.” Oh tentu saja si nenek sihir Bae Suji.

“Tapi pacarmu itu—” Sebuah kata yang sangat kasar berada di ujung lidah Momo, namun ia menelannya kembali. Ia tidak akan menjatuhkan citra dirinya di depan Mark hanya karena ia membenci pacarnya dan perlakuan gadis itu pada Mark. Ia menggelengkan kepalanya lalu membuang muka ketika Mark memberinya pandangan bertanya-tanya.

Sunbae, you’re not serious with her, are you?” Tanya Momo penuh selidik.

“Maksudmu? Ya, serius sih,” jawab Mark diwarnai sedikit keraguan. “I do love her, I guess.

“Yang bener? Dia nyuruh sunbae bawa tas belanjaan, sering nelpon jam 3 pagi minta jemput di klub padahal dia tau sunbae butuh tidur.”  Kata-kata itu mengalir begitu saja bak air keran dari mulutnya, tanpa Momo sadari ia terdengar sedikit menakutkan, mengetahui banyak sekali tentang hubungan Mark dan pacarnya.

“Jangan tanya aku tau dari mana,” imbuhnya.

“Itu bukan urusan kamu,” Mark membalas dengan singkat dan dingin. Melihat Bae Suji sudah keluar dari kelas bersama dua temannya, Mark meninggalkan Momo begitu saja lalu mengejar pacarnya itu.

Menyaksikan Suji melemparkan tas biolanya pada Mark bahkan tanpa melihat ke arah laki-laki itu membuat Momo geram. Betapa bodohnya seorang Mark Tuan sampai mau diperlakukan seperti itu. Kalau ia sudah tidak punya malu lagi, ia akan menyerang Suji tanpa pikir dua kali. Yang Momo butuhkan sekarang adalah mandi, Sana, dan makanan.


Orang bilang toilet perempuan adalah tempat yang penuh dengan rahasia. Jeritan si kutu buku yang di-bully, aroma parfum bercampur pekatnya gosip, dan peralatan make up atau bahkan alat tes kehamilan yang tertinggal di dekat wastafel. Semua itu hal biasa, apalagi bagi Sana. Toilet perempuan adalah tempat ia menemukan gosip terkini, dan saat ini juga ia sedang mendengarkan salah satunya. Memoleskan liptint merah muda ke bibirnya, Sana memasang telinga, mendengarkan percakapan dua cewek di bilik nomor tiga.

“Udah denger kan? Katanya Minatozaki Sana sering kencan sama om om.” Diikatnya rambut panjangnya menjadi ekor kuda, kemudian dirapikannya dasi kupu-kupu birunya. Sana masih menyimak.

“Iya, mana katanya setiap minggu ganti-ganti. Jijik. Mungkin dari situ kali ya dia dapet uang, cantik sih tapi ternyata cewek gituan.”

Brak!

Pintu bilik nomor tiga dibuka paksa dari luar, tidak diragukan lagi Sana dan otot-otot gymnast-nya memang sangat kuat. Ia berdiri di sana, bersandar pada bingkai pintu sambil melipat tangannya di dada. Tubuhnya yang nyaris sempurna dan paras cantiknya bisa mengintimidasi siapa saja, tapi kali ini senyum ramahnya lebih menakutkan. Sana mengenali salah satunya sebagai Kim Jiwon, mantan anggota 9MILLION yang menyebarkan rumor bullying. Oh, betapa senangnya Sana bertemu dia lagi.

“Kok berhenti? Bagus banget loh ceritanya, lanjutin dong aku juga mau denger,” kata Sana dengan nada gembira yang dibuat-buat.

Jiwon dan temannya tetap bungkam, keduanya sedang berusaha pura-pura berani. Ada secuil kebenaran pada sumber gosip itu. Faktanya, memang banyak yang mencoba mengajak Sana kencan tiap minggu dan kadang ia mau. Tapi mereka bukan “om om” dan semua itu hanya kencan biasa, Sana tidak menerima sepeser pun atau memberikan apa pun. Hanya teman-temannya yang tahu bahwa ia sungguh tidak suka pergi dengan cowok-cowok itu. Dikenal sebagai majalah gosip kampus, Sana tahu gosip kotor yang penuh kebohongan begitu memuakkan. Gosip-gosip seperti itu bisa menghancurkan hidup orang, contohnya timnya sendiri dan Jihyo. Karena itu orang seperti Kim Jiwon yang menyebar kebohongan adalah salah satu jenis orang—atau penggosipyang paling ia benci.

“Atau mungkin kalian mau cerita yang lain?” Tanya Sana, mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya. “Hmm, how about Kim Jiwon who swam naked with Kim Hanbin at the campus’ swimming pool. Great story, isn’t it?”

“Sana!” Seru Jiwon marah, wajahnya memerah entah karena malu atau, ya, marah tentunya.

Senyuman tak sedetik pun meninggalkan wajah Sana. Ia melenggang ke luar dari toilet dengan penuh kemenangan. Butuh 1000 Kim Jiwon atau lebih untuk menjatuhkannya. Ia tahu lebih banyak fakta tentang Jiwon dari pada jumlah rumor tak berdasar tentang Sana yang bisa gadis itu buat.  

Suara langkah kaki di belakang Sana terdengar semakin dekat, berikutnya sebuah tangan menarik rambutnya dengan kasar, penuh emosi. Menyukai reaksi yang ia dapatkan, senyum di bibirnya semakin melebar. Ia berbalik dan mendapati Kim Jiwon masih dengan wajah merah padam. Sana benar-benar berhasil membuatnya meledak.

“Aku masih punya banyak hal kotor tentang tim kamu yang bisa aku sebar kapan aja. Cheerleaders busuk itu—” Ancaman Jiwon dipotong oleh Sana yang tiba-tiba menjambak keras rambut keritingnya. Rintihan kesakitan mengikuti setelahnya.

“Nobody talks shit about my girls, especially you b!#ch.” 

Bertikai dengan Jiwon sampai membuatnya lapar dan hampir lupa bahwa ia ada janji bertemu Jackson di kelasnya. Sana segera melepaskan rambut Jiwon lalu melangkah pergi begitu saja.

Sesaat setelah bertatap muka dengan Jackson, hal pertama yang ia lakukan adalah mengomel tentang Jiwon. Menceritakan seluruh detil kejadian dengan intonasi yang semakin meninggi setiap menitnya. Padahal tujuan awal mereka bertemu karena Sana akan mendengarkan Jackson yang mau curhat

“Jadi kamu kena masalah lagi? Kenapa ga minta tolong?”

“Ngapain minta tolong, aku bisa sendiri ga perlu bantuan kamu terus. You’re not my boyfriend Jackson,” jawab Sana sembari mengikat kembali rambutnya yang berantakan. Jackson tersenyum kecil mendengar Sana yang tidak mau repot-repot memanggilnya sunbae. 

“Kan kita temen,” kata Jackson.

“Emang kita temen?” Pertanyaan Sana membuat Jackson tertegun sejenak sebelum mengatakan “Iya lah.”

“Partner gosip kali, sama si Bambam juga,” sahut Sana.

“Temen.”

“Tempat sampah curhatan soal Momo?”

Kalimat yang satu ini tidak diharapkan baik oleh Jackson maupun Sana yang mengatakannya. Jeda keheningan beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya, keduanya saling pandang tanpa suara. Sorot mata Sana penuh makna yang tidak bisa Jackson artikan. Udara di sekitar mereka menyesakkan dada, atau mungkin hanya untuk Sana.

“Ehm ya tetep aja temen kan, San?” Yang diajak bicara hanya mengangguk setengah hati.

Jackson teringat kembali akan tujuan utamanya bertemu Sana setelah gadis itu menyebut Momo. Matanya menangkap surai cokelat Sana yang diperindah dengan kombinasi warna yang lebih terang di ujungnya. Jackson tidak heran, ia pasti baru melihatnya karena memang Sana baru mengecat rambutnya, dia itu bisa ganti gaya rambut setiap minggu. Oh, for God sake Jackson Wang, bukan itu yang penting saat ini! Raut wajah dara Jepang itu menunjukkan bahwa ia sudah hilang selera untuk bercakap-cakap. Jackson tak yakin untuk mulai membicarakan soal Momo pada temannya itu, namun Sana tersenyum tipis padanya dan menyuruhnya segera bicara.

Selagi Jackson curhat panjang lebar tentang usahanya mendekati Momo, pikiran dan jiwa Sana terbang ke dunia lain. Dia tidak begitu mendengarkan. Dia malas mendengarkan. Manusia yang satu ini masih tidak mengerti juga bahwa usahanya sia-sia, dan bahwa mungkin saja ada orang lain yang melihatnya sebagaimana ia melihat Momo. Sana melipat lengannya di atas meja, menjadikannya alas untuk kepalanya. Matanya terpejam namun telinganya masih mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Jackson. Ah, pura-pura tidur tak ada gunanya.

“Heh, Sana? Sana!” Jackson menepuk-nepuk pundak gadis itu, berusaha membangunkannya. Sana mengangkat kepalanya, memasang wajah mengantuk terbaiknya dan menguap.

“Aku dengerin kok,” kata Sana datar. “Momo itu udah cinta setengah mati sama Mark Tuan, mau diapain juga ga bisa dibikin suka sama orang lain,” lanjutnya.

“Mark udah punya pacar kali,” timpal Jackson, yang langsung Sana balas dengan mantap, “buat Momo pacarnya itu kayak setan.”

Ponsel Sana bergetar terus-menerus, entah siapa yang menghubunginya, orang itu pasti benar-benar tidak sabaran. Diambilnya benda itu dari dalam tas tangannya, ternyata ada sejumlah chat dari lima grup berbeda dan, pas sekali waktunya, dari Momo.

H. momo
SAAAAANAAAA
dimana? makan yuk lagi kesel nih :c aku bayarin deh
pengen jambak kamu biar lega wahahahaha
buru bales!

Sana tersenyum kecil. Setelah mengirim balasan untuk Momo, ia iseng membuka display picture yang dipakai Momo. Foto itu muncul di layar ponselnya, menampilkan salah satu dari sekian selca-nya bersama Momo.

Ia tersenyum lagi. Bagaikan film dokumenter, memori tentang pertemuan pertamanya dengan Momo muncul kembali di depan matanya. Mereka berdua sama-sama mahasiswa baru dari Jepang yang tidak tahu apa-apa dan tidak punya keluarga di Korea. Mereka bertemu di asrama Youngkwang University sebagai teman sekamar dengan selusin perbedaan. Minatozaki Sana si mantan gymnast yang cantik serta berada, dan Hirai Momo si dancer berkeringat yang tukang makan. Kemudian keduanya bergabung dengan tim cheerleader dan sampai saat ini Momo masih teman tersayangnya. Mengingat semua itu Sana seolah menampar dirinya sendiri supaya sadar, supaya ia tidak menghancurkan hubungannya dengan Momo hanya karena masalah sepele. Rebutan cowok misalnya.


Dahyun mengunyah makan siangnya—atau lebih tepatnya makan sore—dengan sangat pelan, tangannya yang memegang sumpit masih menggantung di udara. Matanya tidak tertuju ke piring, tapi ke arah Son Chaeyoung yang duduk di seberangnya. Ia keheranan melihat tingkah laku gadis mungil ini, pilihan makanan di kantin masih banyak tapi ia mengambil berbagai macam sayuran dan segelas air putih. Sungguh aneh. Dahyun meletakkan sepotong ayam di piring Chaeyoung, memaksanya memakan sumber protein hewani itu.

“Kata Jihyo unnie aku harus diet,” ujar Chaeyoung menolak. Dahyun tertawa geli mendengarnya.

“Diet apaan ngaco. Jihyo unnie bilangnya kamu harus makan lebih sehat bukan diet. Ayam sehat kok Chaeng, satu doang juga.” Akhirnya Chaeyoung tidak bisa menolak dan melahap ayam tersebut dengan senang hati. Dia benar-benar merindukan keripik kentang kesukaannya.

Dari kejauhan terlihat Chou Tzuyu berjalan mendatangi meja mereka sambil tersenyum, keduanya pun balas tersenyum pada Tzuyu. Nampan abu-abunya terisi penuh dengan makanan, Dahyun tidak menyangka Tzuyu yang seperti model begitu lebih rakus darinya. Baik Chaeyoung maupun Dahyun masih saja terpana dengan kecantikan Tzuyu sampai saat ini, kadang mereka merasa bahwa gadis itu tidak nyata.

Begitu menempati kursi di sebelah Chaeyoung, wajah cantik Tzuyu langsung menunjukkan ekspresi takut, membuat kedua temannya penasaran bukan main.

“Tau ga, tadi ada cowok gitu,” Tzuyu memulai ceritanya, Dahyun dan Chaeyoung dengan serius menyimak. “Dia liatin aku terus sambil senyum-senyum. Serem ih. Terus dia datengin aku nanya-nanya nama aku, ih.”

Dahyun mengerutkan dahi, ia melirik ke arah Chaeyoung yang kelihatan sama bingungnya. “Yang mana sih orangnya?” Tanya Dahyun. Dengan ibu jarinya, Tzuyu mengarahkan pandangan Dahyun pada seorang laki-laki tinggi di depan kios bibimbap yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Sama sekali tidak terlihat seram bagi Dahyun. Lagi pula ia mengenal orang itu.

“Kim Mingyu? Temen sekelas Jihyo unnie tuh anak manajemen bisnis. Ngapain dia nyamperin kamu?”

“Ngga tau hii,” jawab Tzuyu sambil menggelengkan kepalanya.

“Dia naksir kali,” celetuk Chaeyoung. Reaksi Tzuyu yang malah semakin menunjukkan ketakutan membuat Dahyun dan Chaeyoung semakin kebingungan.

“Ngapain takut sih, toh bukan alien yang naksir,” kata Dahyun, kembali menyentuh makanannya. Tzuyu mengerucutkan bibirnya sambil menusukkan sedotan pada karton susu strawberry-nya.

“Aku ga boleh pacaran sama mama, katanya nanti mau dijodohin.” Dahyun dan Chaeyoung tersedak dan terbatuk-batuk.

Mereka memutuskan untuk meninggalkan topik Tzuyu, Mingyu dan perjodohannya untuk lain hari, mengalihkan pembicaraan ke soal latihan. Chaeyoung pikir mereka harus latihan setiap hari. Mengetahui bahwa Jihyo tidak sekejam itu membuatnya lega.

“Biasanya kalo deket lomba gini 3 kali seminggu. Pengalaman aku sih gitu,” ungkap Dahyun.

“Kaki aku aja masih sakit bekas kemaren,” keluh Tzuyu, yang langsung didukung oleh anggukan setuju Chaeyoung.

“Ya abis gimana, kan ga bisa nunggu kaki sembuh dulu baru latian lagi. Nanti juga kuat kok,” Dahyun bahkan belum sempat bernapas ketika ponsel miliknya dan milik kedua temannya berbunyi secara bersamaan. Melihat nama si pengirim pesan, ketiganya menundukkan kepala lalu segera menyelesaikan makan sore mereka. 


Meja bundar di dapur rumah sembilan cewek itu dipenuhi wajah-wajah muram tanpa semangat hidup. Hanya Dahyun, Chaeyoung, Tzuyu dan, anehnya, Jihyo yang suasana hatinya kelihatan baik. Raut wajah Mina terlalu datar dan tak menampakkan emosi tertentu, jadi entah bagaimana perasaannya. Jungyeon melamun menatap meja di hadapannya sementara Momo di sebelahnya fokus kepada sepiring jokbal, makan tanpa henti seperti orang kelaparan.

Bahkan Sana yang biasanya cerewet dan selalu punya topik untuk dibicarakan sepertinya habis baterai sore ini.

“Sana, lagi badmood? Tumben,” ucap Jihyo. Sana hanya merespon dengan “hmm” sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja.

“Kenapa?” Tanya Jihyo lagi. Kali ini Sana menatapnya tajam dan buka suara.

“Tumben peduli?”

“Believe it or not I do care,” kata Jihyo pelan.

Keheningan di dapur membuat waktu terasa lebih lama. Mereka sedang menunggu Nayeon pulang supaya Jihyo bisa menyampaikan pengumuman pentingnya. Beberapa menit sebelumnya Jihyo menelepon Nayeon yang tengah kencan, memintanya segera pulang. Ia agak merasa tidak enak menginterupsi kencan pertama Nayeon setelah dua minggu tidak bertemu Jinyoung. Pasangan sibuk, pikirnya. Sesekali melirik ke arah jam dinding, Jihyo menyibukkan dirinya dengan majalah home shopping yang dipenuhi barang-barang dengan harga tak masuk akal.

Tak lama terdengar suara mobil diparkir, diikuti suara pintu mobil dibanting dan langkah kaki terburu-buru. Pintu depan dibuka dengan suara brak yang sangat keras, berhasil mengalihkan perhatian Momo dari jokbal-nya. Nayeon muncul di dapur dengan muka masam dan rambut semrawut. Ia menempati kursi kosong di sebelah Mina, membiarkan dirinya bernapas sesaat.

Unnie ga kayak pulang abis nge-date,” celetuk Dahyun. Nayeon melirik ke arah Jihyo, kemudian kembali ke Dahyun.

“Aku nyetir kayak orang gila gara-gara Jihyo nyuruh cepet-cepet. Jadi gini,”

Jihyo langsung berdeham keras, meminta atensi dari teman-temannya yang walau setengah hati, tetap memberikan. Tersenyum lebar, Jihyo mengeluarkan sebuah amplop yang ia selipkan di majalah tadi. Dibukanya amplop putih bersih itu dengan penuh semangat, lalu ditunjukkannya surat di dalamnya pada teman-temannya. “Ready for the big news?” 

Awalnya mereka mengira Jihyo sedang menunjukkan undangan pernikahannya atau semacam itu, namun mereka melihat logo KCA di atasnya. Momo adalah yang pertama berteriak histeris, selanjutnya Jungyeon dan Nayeon ikutan teriak-teriak. Dapur kecil itu dipenuhi teriakan heboh, pelukan, cekikikan dan pernyataan tidak percaya dalam waktu singkat.

“Ini beneran? Kita masuk seleksi tingkat kota? Kita boleh ikut lomba lagi?” Pekik Sana masih tidak percaya. Jihyo hanya mengangguk-angguk.

“Berarti kita harus siapin—” 

“Iya! Makanya sekarang aku mau kita diskusiin kostum—”

ddrrrt 

Interupsi kegembiraan. Bunyi getaran ponsel apalagi dua sekaligus memang bisa bikin gondok apalagi disaat yang tidak diharapkan. Pemilik masing-masing ponsel, Jungyeon dan Mina, melihat ke arah Jihyo.

“Angkat aja dulu, mungkin penting,” kata Jihyo.

Jungyeon malah mematikan ponselnya dan meletakkan benda itu kembali ke meja. “Ga usahlah. Nanti aja.”

“Emang siapa yang nelpon?” Tanya Momo penasaran.

“My mom. Same old problem.” 

Reaksi berbeda ditunjukkan oleh Mina yang memegang ponselnya dengan tangan gemetaran. Ia membiarkan sambungannya putus sendiri, tapi matanya tetap terpaku pada layar ponsel yang menampilkan nama “Megan”. Lagi-lagi ponselnya bergetar, masih dari orang yang sama, dan lagi-lagi ia membiarkannya mati sendiri.

“Ada apa?” Nayeon memiringkan kepalanya untuk melihat layar ponsel Mina. Secepat kilat Mina mengunci layarnya dan memasukannya ke dalam saku celana.

“Uh… bukan apa-apa. Ayo lanjutin lagi,”

Suara-suara antusias kembali memenuhi dapur, dibuka oleh Sana dengan topik kostum. Mina ikut tertawa bersama mereka, berbagi ide dan mendengarkan cerita tentang pengalaman kompetisi cheers mereka. Jauh di dalam benaknya, ketakutan akan hantu-hantu masa lalu kembali merayap ke kehidupannya mulai bermunculan.

To be continued to Episode 4: Crumbling Down


Girls’ Corner #01: Jungyeon’s Assignment
(featuring 3mix)

Selepas menerima telepon dari ibunya yang berisi omelan tentang prestasi akademik dan keanggotaannya dalam tim cheerleader, Jungyeon tidak sanggup lagi menyelesaikan essay-nya. Ia menatap kosong ke layar laptop sambil memikirkan kapan ibunya akan berhenti membandingkan dia dengan kakaknya. Biasanya kalau tidak sedang mengerjakan tugas, Jungyeon menggunakan laptop-nya untuk menonton video band kampus, anak-anak jurusan musik yang terlambat lulus. Ini hal kesukaannya yang tidak seorang pun tahu. Terlebih lagi, ia naksir salah satu anggotanya yang bermarga Park. Bisa hilang image cool-nya kalau sampai ada yang tahu, terutama Nayeon atau Sana.

Kaki gadis itu mulai bergerak-gerak mengikuti irama musik, mulutnya menggumamkan lirik demi lirik. Ia terlalu hanyut ke dalam video penampilan band itu sampai tidak menyadari Jihyo dan Nayeon sudah ikut duduk di sebelahnya.

“Jadi ini ngerjain tugas?” Kata Jihyo.

“Sok rajin padahal nonton video ginian huuu!” lanjut Nayeon, mengacak-acak rambut pendek Jungyeon sampai ia mengeluh.

“Naksir yang mana sih yeon? Yang kaca mata bukan?” Tanya Jihyo lagi sambil menunjuk salah satu anggota band di video tadi.

“DUH PERGI SANA!”


Enjoy your Monday everyone ♡

Love, Sho ♡

Iklan

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s