[Ficlet] End of Month

DWrDkleXcAIPGfN.jpg

End of Month

 by. Ayumi-Chan

TWICE’s Jihyo, SVT’s DK 

Slice of life, AU, Teen, slight romance, College Life | PG-13

All those cast are not mine and this fanfiction is pure by mind. Last but not least, please don’t be plagiators and siders!

 

 

Akhir bulan adalah yang sangat ingin dihindari oleh semua orang, termasuk seseorang bermata besar dan berwajah bulat, Park Jihyo. Tapi, ini masih tanggal 24, yang bahkan menurut Jihyo itu belum dikategorikan akhir bulan sekali. Namun, untuk bulan ini sepertinya Jihyo mengalami banyak pengeluaran. Bukan. Bukan karena ia boros. Ini masih awal semester.

Masih awal semester berkuliah, pastinya banyak pengeluaran untuk membeli buku-buku mata kuliahnya, ditambah lagi club paduan suaranya mengharuskan semua anggota untuk membeli kostum. Mau tidak mau ataupun ada tidak-adanya uang, Jihyo harus tetap membeli. Dan sekarang, sisa uangnya hanya cukup untuk makan satu kali, pilihannya hanya untuk sore nanti atau mungkin malam.

Semua orang pasti berpikir, kenapa Jihyo tidak meminta saja pada orang tuanya. Tapi, entah kenapa, Jihyo selalu merasa tidak enak jika harus meminta, belum lagi bulan ini belum habis, kan. Biasanya Jihyo selalu menunggu ayah atau ibunya bertanya terlebih dahulu, baru ia akan menjelaskannya.

Di hari Sabtu kali ini, Jihyo memutuskan untuk datang ke asrama Lee Dokyeom, kekasihnya yang berbeda universitas itu. Sudah satu bulan atau mungkin dua bulan, Jihyo tidak tahu. Yang pasti mereka belum bertemu lagi setelah dimulainya perkuliahan semester empatnya.

Setelah mereka bertemu, mereka memilih berjalan-jalan di sekitaran universitas di mana Dokyeom berkuliah. Kebiasaan Jihyo adalah selalu bercerita tentang hari-harinya, ia juga menceritakan bagaimana banyaknya pengeluaran untuk semester kali ini. Untuk bagian cerita masalah keuangannya, ia benar-benar hanya menceritakannya pada Dokyeom. Gadis Park itu tak tahu harus bercerita pada siapa lagi tentang hal seperti itu, selalu pada Dokyeom. Bukan karena ia berharap Dokyeom akan memberikan uang padanya, ya hanya saja Dokyeom mengerti mengapa jika Jihyo kehabisan uang yang tak pernah memberitahukan pada orang tuanya, sebelum orang tuanya bertanya.

“Sudah makan?” Tanya lelaki Lee itu sambil menatap Jihyo.

Jihyo menghela nafas sejenak, “Belum. Aku tidak lapar.” Satu kebohongan Jihyo untuk Dokyeom.

“Yakin tidak lapar?” Dokyeom memastikan, karena demi apapun Dokyeom mengerti mengapa Jihyo menjawab seperti itu.

“Ah tapi, aku rindu tteokbokki di kedai langganan kita.” Keluh Jihyo.

Tiba-tiba, Dokyeom menarik tangan Jihyo dan membuat gadis Park itu terkejut. Jihyo ingin bertanya, tapi ia urungkan. Jika dengan tangan mereka saling bertautan akan membuat Jihyo bisa sejenak melupakan fakta tentang keuangan menjelang akhir bulan semakin memburuk, akan ia lakukan. Konyol memang, tapi hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia hanya berharap Dokyeom tidak menyadari kebohongannya kali ini.

~oOo~

Jika ditanya siapa yang paling pengertian dan paling bisa membaca pikiran Jihyo setelah orang tua dan kedua adiknya, adalah Lee Dokyeom. Gadis Park ini melupakan fakta bahwa Dokyeom itu seperti bisa membaca pikiran Jihyo atau apapun bahasanya, yang pasti Dokyeom selalu bisa menebak apa yang ada dipikirannya.

Ketika tadi Jihyo bilang rindu tteokbokki di kedai langganannya, ternyata Dokyeom mengajaknya kesana, bahkan lelaki Lee itu sempat-sempatnya membelikan ayam goreng untuk teman-teman Jihyo di asramanya. Jihyo tahu, pasti keuangan Dokyeom menjelang akhir bulan seperti ini sama seperti Jihyo, apalagi lelaki itu ada di jurusan teknik, pasti pengeluarannya lebih dari Jihyo yang hanya jurusan psikologi.

Mereka memang sudah lama berpacaran—kurang lebih tiga tahun—tapi tetap saja, perlakuan Dokyeom tadi itu mungkin sedikit membuat Jihyo tidak enak, terlebih Jihyo tidak ingin merasa dikasihani. Apalagi saat tadi Dokyeom malah memberikan Jihyo juga sejumlah uang yang mungkin itu cukup untuk satu minggu.

“Tidak usah. Uangnya disimpan saja. Kamu juga pasti butuh.” Tolak Jihyo halus.

“Justru itu. Kamu juga pasti saat ini butuh uang ini, bukan?” pada akhirnya Dokyeom yang paling mengerti Jihyo.

“Tapi kan kamu juga pasti sama sepertiku.” Jihyo tetap tidak mau menerima.

“Iya. Dan karena masalah itu, aku kasih kamu uang ini.” Dokyeom mengambil tangan kanan Jihyo yang kosong yang tidak membawa ayam goreng dan memberikan uang tersebut.

Jihyo menarik tangannya, dan masih tidak mau menerima. Ekspresi Dokyeom sedikit kecewa. Tapi, sejurus kemudian lelaki itu tersenyum manis, “Baiklah. Aku bukan memberimu, aku cuma memberi pinjaman. Nanti kamu bisa kembalikan kapan pun. Bagaimana?”

Karena Dokyeom memberikan alternatif lain, maka Jihyo menerimanya. Ia berjanji akan mengembalikan uang tersebut saat nanti sudah di transfer oleh ayahnya. Jihyo tidak tahu harus bagaimana lagi menggambarkan sosok Dokyeom, lelaki itu terlalu sempurna.

Fin~

 

Well, apa ini? :3 Twiceteen feels wkwk iseng aja pasangin Jihyo sama DK :v

Tapi cerita ini nyata beneran wkwk bukan cerita saya sih, ini cerita temen di asrama kemarin dan membuahkan ide untuk bikin cerita model begini :”D karena saya pikir ini sweet banget huhu :3

 

 

Iklan

5 respons untuk ‘[Ficlet] End of Month

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s