[Vignette] Dearest

mina twice

ShanShoo’s story

TWICE Mina with SVT Joshua

friendship, fluff, slight!angst // vignette // pg-17!

—oOo—

“Aku tidak mau mengobatimu. Buat apa melakukannya kalau kau akan terlibat dalam balapan dan perkelahian konyol itu lagi?”

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

Mina tidak tahu, sudah berapa lama dia berdiri di belakang mesin kasir dan melayani banyak pelanggan di toko kecil tempatnya bekerja malam ini. Sebenarnya, dia sudah bekerja hampir seharian penuh lantaran mendapat hukuman karena lalai dalam menjaga seluruh barang jual dari terkaman seorang pencuri di luar sana. Mina yang terlalu lelah karena ia masih belum mampu membagi waktu antara pergi kuliah dan bekerja, membuatnya juga tak mendapatkan istirahat yang cukup. Mina berpikiran bahwa tokonya dalam keadaan sepi pelanggan. Itulah sebabnya, mengapa Mina tertidur di kursinya ketika siang itu tokonya kedatangan pencuri jalanan.

Sudah cukup baginya mendapat segala macam caci maki, umpatan dan nyaris terkena tamparan dari si pemilik toko hari ini. Dan berhubung barang yang dicuri memiliki harga yang cukup tinggi, Mina jadi harus mengganti ruginya dengan waktu bekerjanya yang ditambah dua kali lipat setiap hari, karena ia tidak mampu membayarnya (terlebih kenyataan kalau gaji yang ia dapat tidaklah terlalu besar).

Jadi, ketika Mina baru saja selesai bekerja dan menenteng satu kantung plastik berisi dua botol minuman isotonik dan beberapa bungkus camilan, dia berjalan sambil memijat-mijat bahu kanannya menggunakan tangan kirinya yang bebas dan seketika itu pula, dia meringis kecil. Rasa pegalnya sungguh bukan main (seluruh anggota tubuhnya juga merasakan hal yang sama, kalau boleh menambahkan).

Beruntung jarak tempat kerja paruh waktu dan flat yang disewanya tidak seberapa jauh, sehingga Mina bisa menempuh perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki. Sampai di saat Mina hampir sampai ke flatnya, matanya mendapati sebuah mobil sedan hitam mewah dan juga seseorang yang duduk di bagian depannya, dia membelalakkan matanya.

“Joshua?” gumam Mina, setengah tak yakin. Sosok yang dilihatnya terlalu samar untuk diperhatikan dari jarak cukup jauh ini. Mina pun memutuskan mempercepat langkah demi mengetahui siapa sosok yang saat ini memarkirkan mobilnya tidak jauh dari depan bangunan flatnya itu.

Suara gemerisik kantung plastik di tangannya membuat sosok laki-laki yang diduga teman dekatnya itu lantas menoleh kepadanya. Dan ketika keduanya sudah saling berhadapan, Mina tidak dapat mencegah pekikan kecilnya kala tebakannya benar. Ini Joshua, namun bukan masalah benar atau tidaknya yang menyebabkan ia memekik dan melebarkan pandangan, melainkan karena ia melihat ada banyak memar di beberapa bagian wajah mulus Joshua, serta darah kering di kedua sudut bibir laki-laki itu. Mina mengalihkan pandangan ke arah mobil yang masih diduduki Joshua. Bagian depannya cukup rusak. Ada banyak goresan di sana-sini, pun kaca mobil bagian pengemudi yang tampak retak.

Selagi Mina mengamati semua itu dengan ekspresi ngeri, Joshua malah memamerkan cengiran kecil yang berujung pada kekehan samar di bibirnya dan kekehan itu berubah menjadi ringisan tertahan.

Mina kembali fokus menatap Joshua. “Apa yang terjadi?!” Nadanya terkesan tidak santai. Mina langsung menyentuh wajah Joshua dengan hati-hati, kendati tindakannya itu tetap saja memancing ringisan Joshua lebih panjang lagi. “Ada apa, huh? Apa kau balapan liar lagi?” tanyanya kalut. Mina bahkan merasa tidak percaya kalau pertanyaan itu keluar dari bibirnya sendiri.

Sudah tiga kali Mina menemukan Joshua dalam kondisi yang sama, tetapi tetap saja Mina tidak bisa untuk tidak terkejut dan cemas. Dan demi apa pun, kondisi Joshua yang sekarang adalah kondisi paling mengerikan yang pernah Mina lihat. Joshua Hong datang kemari dengan membawa memar yang lebih banyak lagi dibandingkan saat itu.

Joshua beralih menggenggam tangan Mina dan meletakkannya di atas pahanya sendiri. “Kau bertanya karena kau tidak tahu atau karena kau lupa?” dia balas bertanya dengan nada kepalang santai, melupakan fakta bahwa teman dekatnya itu masih memberinya tatapan kalut yang tidak biasa.

Mina sontak menghempaskan genggaman Joshua dan mendesah berat. Dia sempat membuang mukanya ke kanan lalu kembali menatap Joshua, kali ini menghunus dan tampak geram. “Wajahmu kelihatannya hancur. Apa kau tidak sadar?” tanyanya retoris, yang direspons Joshua dengan embusan napas panjang sembari menumpukan kedua telapak tangannya ke belakang, kepalanya menengadah, menatap langit kelam berbintang.

“Joshua, jawab aku!” desak Mina, sesaat setelah tiga detik keheningan menyapanya yang seolah membakar belakang tubuhnya, panas dan membuatnya tidak nyaman.

Joshua memerhatikan wajah Mina sebentar, sebelum ia menegakkan posisi tubuhnya untuk menarik Mina ke dalam pelukannya. Tubuh Mina terasa menegang, tetapi Joshua tak acuh dan menyandarkan dagunya di bahu mungil sang gadis.

“Hei, apa yang kau lakukan?” bisik Mina. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Joshua dan ia harus menelan kenyataan kalau kekuatannya tidak sebanding kekuatan yang dimiliki laki-laki itu.

Joshua berbicara, setengah mendesis, “Sebentar saja,” kemudian memejamkan matanya sesaat. Beberapa detik berikutnya, Joshua memulai pembicaraan lain, “Omong-omong, apa kau menyukai pekerjaanmu itu? Kau tidak merasa lelah?”

“Joshua…” Mina tidak tahu harus berkata apa lagi di saat Joshua memilih membicarakan hal lain yang tidak penting dari yang ingin dibahasnya sekarang. Dia bergerak gusar dalam pelukan Joshua, sementara laki-laki itu seakan tidak memedulikan ketidaknyamanannya.

Pada akhirnya, Joshua kembali mendesah lebih panjang, menyisakan rasa sesak di dadanya. “Iya, tadi aku memang mengikuti balapan liar karena sudah agak lama aku tidak mengikutinya, tapi hei, kau tahu?” Baru sekarang Joshua membebaskannya dari pelukan, dan itu membuatnya lega. Kali ini Joshua meremas bahu Mina dan melanjutkan, “Seharusnya aku yang memenangkan balapan itu tapi… yah, seseorang rupanya berlaku curang dan itu membuatku ingin menghajarnya habis-habisan!”

Mina tertawa mendengus. “Lalu?” tanyanya malas. Ia sebenarnya sudah bosan mendengar cerita yang sama dari mulut yang sama pula. Tidak ada bedanya. Yang membedakan hanyalah memar yang didapat Joshua jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

Ucapan itu memunculkan decakan kesal dari sang lawan bicara. “Aku tidak tahu kalau ternyata dia pandai berkelahi. Aku sempat kewalahan dan… kau bisa melihat seperti apa kondisiku ini, tapi aku tetap berhasil mengalahkannya. Hebat, bukan?” katanya, membanggakan diri yang malah terdengar menyebalkan di telinga Mina.

Mina memanfaatkan kebebasannya dengan menyentil dahi tanpa memar Joshua sekeras mungkin, hingga sukses memancing pekik kesakitannya. Matanya kembali mengamati Joshua dari atas sampai bawah dan ia baru menyadari beberapa hal; pakaian yang melekat di tubuh Joshua begitu berantakan, pun robek di bagian lengannya, kancing kemejanya hilang dua bagian dari atas, memperlihatkan kaus putih polos di baliknya.

Ya! Apa-apaan itu?” tanya Joshua dengan mata melebar ke batas maksimal. “Bukannya mengobatiku tapi kau malah…”

“Siapa yang berniat untuk mengobatimu, huh?” sela Mina jengkel. “Aku tidak mau mengobatimu. Buat apa melakukannya kalau kau akan terlibat dalam balapan dan perkelahian konyol itu lagi?” katanya dengan nada sarkastik tanpa menatap Joshua, lalu berbalik untuk meninggalkannya.

Ya, ya!” Joshua turun dari mobilnya, menarik lengan Mina agar menghadap padanya. Mina lantas menatapnya dongkol, sementara ia mencondongkan tubuhnya seraya menunjukkan luka-luka memar di wajahnya pada gadis itu. “Kau benar-benar tidak mau mengobatiku? Rasanya wajahku seperti dibakar habis-habisan dan nyerinya tidak main-main.”

“Apa peduliku?” Mina mendengus, hendak melanjutkan niatnya, tetapi Joshua mencegahnya lagi.

“Kau sungguh tidak peduli?” Joshua memastikan. Mina tidak merespons dan hanya memandangi wajah Joshua hingga ia menarik napas panjang lalu mengembuskan napas tanda menyerah.

—oOo—

“A-aw! Pelan-pelan! Ini sakit sekali!” Joshua meringis saat Mina dengan sengaja menekan kuat-kuat memar yang tercetak di bagian pipi atasnya. Gadis itu tampak tidak terganggu dengan segala macam protes dan makian Joshua. Ia hanya fokus membersihkan luka, berikut bercak darah di wajah laki-laki itu menggunakan handuk kecil yang lembab karena perasan air dingin. “Ya, Myoui Mina!”

“Apa?” Mina menatapnya datar. “Kau bilang, kau ingin diobati, kan? Aku sedang melakukannya. Jadi, diamlah!” jawabnya, kesal dan semakin memperkuat tekanannya itu.

“Aw… ya!” Joshua menjauhkan tangan Mina dari wajahnya. “Kubilang pelan-pelan, ini sakit!”

“Sudah tahu sakit, tapi kau masih saja terlibat balapan liar dan perkelahian? Maumu apa sebenarnya?” tanya Mina, dengan kening mengerut dalam seraya membasahi lagi handuk kecil di tangannya ke dalam wadah berisi air dingin.

“Aku sudah mengatakan alasannya,” sahut Joshua, bersikukuh. Matanya mengikuti pergerakan tangan Mina dan ketika gadis itu hendak membersihkan lukanya lagi, Joshua memundurkan tubuh atasnya. “Pelan-pelan, oke?”

“Aku akan mengikuti keinginanmu asal kau juga mengikuti keinginanku,” Mina akhirnya berkata begitu sambil menatap Joshua serius.

Berhubung kantung plastik yang tadi dibawa Mina disimpan di atas meja, Joshua sok penasaran dan berdeham-deham keras. “Hei, kau membeli apa saja? Bolehkah aku memintanya?” Melihat ada dua botol minuman, Joshua mengambilnya satu kemudian membuka dan meminumnya sampai tersisa setengahnya lagi.

“Joshua Hong,” panggil Mina datar, nyaris tanpa ekspresi apa-apa di wajahnya. “Aku sedang bicara padamu.”

“Oh?” Joshua melirik Mina hati-hati, lalu mengangkat bahunya singkat.

“Berhentilah mengikuti balapan liar itu dan jadilah anak yang baik, ya?” pinta Mina gemas. Tanpa sepengetahuan Joshua, gadis itu menekan handuknya ke sudut bibir kanannya dan itu sukses mengundang ringisan Joshua lagi. “Kau tidak bisa seperti ini terus, Jo. Orang tuamu pasti tidak akan senang melihat putranya…”

“Mereka memang tidak memedulikanku sejak dulu. Jadi, buat apa kau mengkhawatirkannya?” Joshua menghadirkan tawa muram di sela ucapannya. “Lagi pula, aku menyenangi balapan ini. Aku suka mobilku yang seperti itu. Bagiku, balapan sudah cukup untuk mengalihkan kekecewaanku dari ayah dan ibu yang selalu…” Joshua tak lagi melanjutkan perkataannya, tidak di saat Mina membawa tubuh ringkihnya ke dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan, hingga Joshua bisa mencium lagi wangi parfum Mina yang masih tersisa di pakaiannya.

Mungkin, tidak ada salahnya ia membiarkan dirinya larut ke dalam perasaan nyaman yang kian melekat ke dalam batinnya.

Keheningan merambat, terasa seperti satu abad lamanya, tetapi itu tidak menyebabkan keduanya canggung. Selalu ada cara bagi Mina untuk membuka pembicaraan tanpa memudarkan suasana menenangkan ini bagi Joshua (dan tanpa melepas pelukannya). “Kau tahu,” jeda sejenak, “Kau mungkin selalu berpikiran buruk seperti itu pada kedua orang tuamu, tapi kau tidak akan tahu seperti apa perasaan mereka ketika kau ketahuan menjalani kehidupan malam yang menurutku… sangatlah menakutkan.”

Barulah kali ini Mina melepas pelukan itu, lantas beralih memegang sebelah tangan Joshua. “Kau boleh memarahiku atau apa pun itu karena ucapanku ini, tapi sungguh, otakku tidak bisa berhenti memikirkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi jika kau terus mengikuti balapan liar itu. Oke, untuk malam ini kau masih bisa selamat, tapi untuk malam selanjutnya? Apa kau bisa memastikan dirimu sendiri kalau kau akan tetap selamat?”

“Hei, Mina…” Joshua tahu ke mana arah pembicaraan yang Mina bawa, namun Mina tidak mengizinkannya berbicara banyak.

“Bagaimana kalau kau kehilangan nyawa di saat kau beradu kecepatan mobil dengan para pesaing atau musuhmu? Bagaimana kalau salah satu dari mereka membuat kecurangan yang lebih berbahaya dibandingkan sekarang? Apa yang akan terjadi selanjutnya, andai kedua orang tuamu mendengar kabar buruk itu?”

Joshua sudah bertekad untuk membentak dan memarahi Mina seperti keinginan gadis itu tadi, karena ia membantah semua kemungkinan yang diutarakan sang gadis. Ia tentu akan selalu keluar sebagai pemenangnya, tetapi anehnya seluruh tekad itu perlahan runtuh pada detik dirinya mendapati Mina meneteskan air mata dan mengusapnya secepat ia datang. Mina tertawa miris. Ia menunduk, tak ingin membiarkan Joshua melihatnya menangis.

“Mina…” Lagi, Joshua tak mampu bertutur kata.

Begitu Mina menegakkan kepalanya, wajahnya berubah berseri dan tersenyum senang layaknya tidak mengalami kejadian serta percakapan sendu antara dirinya dengan Joshua. Mina kembali berkata, “Baiklah, biarkan aku membersihkan dan mengobati lukamu lagi sebelum kau pulang, oke?”

Joshua terdiam. Mata sekelam malamnya menatap lurus pada Mina yang sibuk membersihkan sisa-sisa debu di wajah serta darah kering di wajahnya sebelum ia mulai mengobatinya. Tidak ada rasa sakit yang dirasakan, karena kali ini Mina melakukannya dengan hati-hati.

Jarak wajah mereka tidak seberapa, bahkan Joshua bisa merasakan embusan lembut gadis itu yang menerpa hidungnya. Tanpa sadar, Joshua menorehkan senyum tipis. Jantungnya berdetak sedikit di atas normal.

Joshua mengembuskan napas pendek. “Hei, Mina,” panggilnya. Mina menyahutinya dengan gumaman samar. Mina beralih menyentuhkan kapas alkohol ke dekat ekor mata Joshua dan di situlah, mereka saling bersitatap untuk waktu yang cukup lama. Joshua tak sendirian, ada Mina yang juga merasakan debaran cepat yang sama. “Kurasa…” Joshua memulai lagi pembicaraannya, “aku tidak akan mengikuti acara balapan liar itu lagi minggu depan.”

Mina bisa merasakan pipinya merona tipis mendengar ucapan Joshua. Ia tentu senang, tetapi kesenangannya dibayang-bayangi rasa penasaran karena ingin mendengar apa alasannya. Jadi, Mina bertanya, “Wow, kenapa?” Selesai mengobati wajah Joshua, Mina menekuni kegiatannya lagi di tangan kanan Joshua yang juga terdapat memar serta darah kering (mungkin itu darah orang yang dipukulinya, atau darahnya sendiri).

“Mau kuberi tahu sesuatu?” tawar Joshua, yang tidak perlu repot-repot bagi Mina untuk menyetujuinya. “Sebenarnya… perkelahian ini terjadi bukan karena ada kecurangan, tapi karena… mereka ingin kami bertaruh sesuatu dalam sesi balapan nanti.” Joshua sempat ragu untuk meneruskan ceritanya. Tiba-tiba saja dadanya seperti disesaki sesuatu yang tak kasat mata dan membuatnya ingin membanting barang yang ada di sekitarnya. Memikirkan kelanjutan ucapannya sendiri saja sudah cukup membangkitkan amarahnya yang bergejolak.

“Jo, taruhan apa yang mereka inginkan?” desak Mina, tak sabaran.

Joshua menemukan kilat penuh penasaran di mata Mina. “Kau,” jawabnya tanpa nada.

Gadis itu melebarkan pandangannya. Tangannya tak lagi sibuk berkutat di luka Joshua. “A-apa? K-kenapa… aku?”

Joshua menunduk sebentar. “Mereka ingin kami semua mempertaruhkan perempuan yang paling disayangi dan nanti, ketika salah satu dari kami kalah, maka kami akan menyerahkannya kepada lawannya.”

Jantung Mina nyaris berhenti saat itu juga. Mendadak sekujur tubuhnya dibalut rasa dingin yang kuat. Gadis itu mengerjap cepat, masih belum bisa mencerna perkataan Joshua dengan benar. Joshua yang mengetahui kekagetan gadis itu lekas berusaha menenangkannya dengan nada bicaranya yang lembut. “Hei, hei, Mina, tenanglah. Aku tidak akan melakukannya. Kau terlalu berharga untuk dijadikan barang taruhan. Lagi pula, aku memang sudah tidak berniat mengikutinya lagi semenjak taruhan yang dilakukan adalah perempuan yang disayangi.”

Ada kelegaan dan kengerian yang bercampur di benak Mina. Pertama, Mina tidak percaya kalau dia merupakan perempuan yang disayangi oleh Joshua dan kedua, ia tidak percaya kalau Joshua sempat memikirkan dirinya bisa dijadikan sebagai barang taruhan, meski itu tidak akan dilakukan olehnya.

Mina kembali dilanda kebingungan.

Ia ingin marah, tetapi tidak bisa. Ia ingin tersenyum, tetapi bibirnya terlampau kaku untuk mengukirnya.

“Mina, apa kau mulai merasa benci padaku?” Suara Joshua menerobos kabut tebal yang menyelubungi pemikirannya.

Mina tidak menjawabnya.

“Aku bersungguh-sungguh padamu, Mina. Aku tidak akan melakukannya. Percayalah padaku.” Joshua menekan kedua belah bibirnya kuat-kuat, takut jika Mina benar-benar merasa benci padanya.

“Aku tidak tahu,” jawab Mina cepat―terlalu cepat.

Joshua tidak yakin, namun sepertinya gadis itu menaruh perasaan benci terhadapnya. Yah, Joshua pun tidak bisa menyalahkan perasaan tersebut, karena siapa pun pasti merasakan hal yang sama seperti Mina. Joshua tidak punya pilihan lain, selain beranjak bangkit dari posisi duduknya, berniat untuk pulang sebelum Mina membulatkan tekad untuk membencinya dan tak ingin melihatnya lagi seumur hidup.

“Mina, aku pulang dulu,” Joshua berkata gugup. “Aku… kurasa… ah, tidak, selamat malam.” Diiringi senyuman muram, Joshua melangkahkan kakinya menuju ke pintu flat, tetapi sebelum ia memutar gagang pintu, Mina lebih dulu menarik gusar sebelah tangannya, sehingga Joshua memutuskan untuk menatap gadis itu yang menunduk di belakangnya.

“Kau…” Mina menggigit bibir bawahnya berkali-kali. “Lukamu belum selesai kuobati.”

Joshua menarik senyum manis. Tingkah Mina terkadang berhasil membuat keadaan jantungnya tidak stabil dan itu tidak baik untuk kesehatannya.

“Kupikir kau… membenciku? Kau tidak ingin melihatku lagi?” tanya Joshua, memastikan.

“Aku tidak bilang begitu,” gerutu Mina pada akhirnya, mengundang tawa singkat Joshua.

“Tapi kalau kau memang ingin marah dan membenciku, lakukan saja. Aku tidak apa-apa.”

“Aku tidak pernah dan tidak akan pernah bilang begitu,” tegas Mina sekali lagi, kali ini berani membalas tatapan Joshua. “Biar kuselesaikan pekerjaanku sebelum kau pulang,” pintanya seraya menarik tangan Joshua menuju ke sofa ruang tengah yang tadi diduduki.

“Kau sungguh tidak akan marah dan benci padaku?” Joshua masih belum yakin.

“Mm,” gumam gadis itu bosan. “Tidak, setelah kau berkata sungguh-sungguh, kalau kau tidak akan mengikuti balapan sialan itu lagi.” Nada sarkasnya menghadirkan tawa ringan Joshua.

Tahu-tahu, Joshua mendaratkan satu usakan gemas di kepala Mina. “Iya, aku berjanji tidak akan melakukannya. Kau puas?”

Rona merah di pipinya tidak dapat ditutupi. Itulah sebabnya mengapa Joshua berkata, “Oh, pipimu memerah! Kau pasti merasa tersanjung karena ucapanku, kan?” dan Mina membalasnya dengan satu pukulan sekuat tenaganya di puncak kepala laki-laki itu.

Joshua meraung kesakitan, di samping karena luka-luka yang ia dapat, juga karena pusing yang menghantamnya selepas pukulan itu, sementara Mina puas menertawai kemalangan Joshua di depan matanya.

Tanpa tahu, bahwa jantung mereka masing-masing memiliki detak yang sama; cepat dan menyenangkan.

—oOo—

Fyuhh…. ini ff kayaknya yang paling panjang di antara ff TWICE-ku yang lain xD

Segala efek samping seperti mual dan muntah serta mata berkunang-kunang ditanggung pembaca masing-masing, ya /ga/

Daaaaan…. fanfiksi ini kuposting tepat di hari ulangtahunku yang ke-21! Yeaaay!!!!! /tebar konfeti/ /nyanyi lagu selamat ulang tahun/ /make a wish/ /tiup lilin/ /potong kue/ /udah udah udah/

Pokoknya, terimakasih buat para pembaca yang udah menyempatkan waktunya buat mampir ke fanfiksi tidak bermutu ini x)))))))))))))

Dah ah, mau merayakan ultah bareng dedek daehwi duyuuu /ppyong/

Salam sayang,

ShanShoo♥

Iklan

4 respons untuk ‘[Vignette] Dearest

  1. udah sih ah jadian aja haha greget juga ini dibikin mesem mesem sama mas Jo wkwk

    dan demi apapun Jo jangan ikutan balapan ‘sialan’ itu ya xD

    anyway happy birthday mb Shanshoo 😙😙😂😂 ternyata saya masih muda satu tahun yak xD semangat terus nulisnya 💕

    Disukai oleh 1 orang

    1. Joshua bisa ae bikin anak gadis baper yha :”D

      Hohoho udah tau taruhannya gitu kan pasti doi kagak bakalan ikutan lagi xD

      terimakasiih yaaaa huhuhu nggak kerasa umur makin berkurang di dunia ini :””) (jatuhnya sedih gini)

      btw panggil Isan aja ya x))))

      terimakasih sudah mampir dan baca ❤

      Disukai oleh 1 orang

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s