[Vignette] Lazy Sunday

mina

ShanShoo’s present

TWICE Mina with SVT Joshua

friendship, fluff // vignette // teenager

disclaimer : I just own the plot!

—oOo—

“Jangan selalu mementingkan tugas Matematika atau apalah itu di hari libur. Kau tahu kan, terlalu banyak berpikir bisa membuat kepalamu mendadak botak?”

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

 

Joshua sudah menekan bel sebanyak lima kali dan ia masih tetap bersabar dan berpikiran positif. Yah, baiklah, mungkin saja si pemilik rumah kecil ini sedang sibuk menata masakan di atas meja untuk makan siang (makanya dia tidak sadar kalau bel rumahnya berdering sedari tadi), atau si pemilik rumah sedang berada di kamar mandi (ia sadar bel rumahnya berdering namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaannya yang sedang mm… begitulah), atau…

“Demi Tuhan, Mina, apa kau benar-benar tidak mendengarnya?” Kali ini Joshua kehilangan kesabaran. Sudah hampir lima belas kali (iya, Joshua memang niat sekali menghitungnya) dan hingga sekarang, Mina tak kunjung membukakan pintu untuknya. Sungguh kelewatan.

Joshua menatap nanar satu paket di tangannya yang berisi macam-macam buah yang tadi ia beli sebelum ia berdiri di sini dengan keadaan dongkol. Tadinya, kalau Mina membukanya cepat, Joshua akan langsung menghadiahi gadis Myoui itu dengan senyuman secerah matahari di atas kepala sembari menyodorkan paket buah itu kepadanya, tetapi mungkin karena sekarang situasinya berbeda, Joshua jadi berpikir berkali-kali untuk melakukan dua hal itu.

Jika Joshua hidup sebagai karakter animasi, bisa jadi di atas kepalanya sudah membubungkan asap tebal serupa polusi udara yang kerap kali ditemukan di jalan raya. Pemikiran-pemikiran positif mengenai hal yang dilakukan Mina di dalam sana kini hilang tak bersisa.

Joshua memang sudah sangat dongkol dan hendak pergi saja dari sana lalu memakan buah-buahan itu sendiri, tetapi karena seperempat bagian dari hatinya masih memiliki nurani, Joshua kembali menekan bel rumah sekali lagi sebelum ia…

“Oh, hai!”

Joshua harus banyak mensyukuri hidupnya hingga usianya yang kini menginjak dua puluh dua, karena ia tidak diberi penyakit turunan seperti penyakit jantung dan lain sebagainya. Walau rasa kaget tidak dapat ia tutupi begitu saja saat melihat sosok Mina yang baru membuka pintu dan menatapnya sambil tersenyum kelewat lebar.

Manik laki-laki itu mulai memerhatikan penampilan Mina dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas dan mengembuskan napas tak percaya.

“Kau baru bangun tidur? Jam dua belas? Yang benar saja, Mina?” tanya Joshua bertubi-tubi. Yang ditanya menggaruk belakang kepalanya seraya mengedik bahu. Mina sangat cuek kalau menyangkut penampilannya kala bangun tidur, tetapi sebagai teman dekatnya, Joshua tetap saja merasa risi dan sering bertanya kepada dirinya sendiri; apakah gadis ini sungguhan temannya?

“Memangnya, apa lagi yang harus kulakukan di hari Minggu ini?” Mina balas bertanya. Tubuhnya menyamping, meminta Joshua masuk lewat kedikan bahunya, kemudian menguap lebar yang langsung ditepuk oleh punggung tangan Joshua.

“Bibirmu bisa robek kalau kau menguap seperti itu,” kata Joshua, mengejeknya.

Mina tidak menggubris ejekan si laki-laki. “Kau bawa buah-buahan untukku?” Tanpa persetujuan darinya (karena Joshua memang berniat memberikan itu padanya), Mina mengambil paket tersebut dari tangan Joshua dan menatapnya berbinar. “Anggur! Aku sangat suka anggur!” pekiknya, seperti bocah lima tahun. “Oke, terima kasih.” Mina mempertunjukkan cengiran yang membuat Joshua tersenyum kecil.

“Mandi sana, kau bau kecut!” Joshua mengusak puncak kepala gadis itu gemas, sebelum berlalu masuk ke ruang tengah dan, lagi-lagi, Joshua dibuat terkejut ketika ia melihat kalau ruangan yang hendak ia masuki tampak sangat berantakan; empat bantal sofa tergeletak sembarang di lantai; remah-remah keripik singkong di atas karpet bulu dan lantai; berkaleng-kaleng minuman cola yang sisanya menumpahkan bercak di meja kaca; dan televisi yang sedang menayangkan salah satu adegan action bersumber dari DVD yang menyala. Joshua tidak mau berasumsi, tetapi keyakinannya begitu kuat kalau DVD itu menyala sepanjang malam kemarin.

Mina berdiri di belakang Joshua, berusaha menatap sisi wajah Joshua yang masih saja tercengang, sementara gadis itu memasang tampang polos yang tidak dibuat-buat sama sekali. “Kenapa?” Mina bertanya dengan nada santai, sangat tipikal Mina.

“Ya Tuhan… Mina,” Joshua berusaha mengatur napasnya sambil memejam mata. “Bagaimana bisa… kau… perempuan… tapi…” Kepalanya menggeleng kuat, lantas menoleh menatap mata gadis itu. “Kau ini perempuan, kan?” Mina memberinya anggukan tegas. “Lihatlah rumahmu, bagaimana jika orangtuamu…”

“Nah, kebetulan sekali kau datang,” Mina memotong ucapannya. “Kau bisa membantuku membereskan rumah sebelum ayah dan ibuku datang, kan?”

Joshua mengerjap pelan, tak percaya. Di sisi lain ia berharap semoga ini hanyalah bagian dari mimpi buruknya saja, lalu ia akan terbangun di atas tempat tidurnya yang nyaman dan wangi.

Hah… mustahil! Ini semua terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi buruk.

“Mina, ini sama sekali tidak lucu!” kata Joshua, menyadarkan Mina.

“Memangnya siapa yang melucu?” Mina berkata begitu, selagi kakinya melangkah ke dapur untuk menyimpan paket buah di meja makan. “Bahagialah sedikit untuk menghadapi hari Minggu tanpa orangtua di rumah sepertiku,” Mina seakan mengejek Joshua dan melanjutkan, “Jangan selalu mementingkan tugas Matematika atau apalah itu di hari libur. Kau tahu kan, terlalu banyak berpikir bisa membuat kepalamu mendadak botak?”

Joshua turut melangkah mendekati Mina dan berkacak pinggang. Ia sama sekali tak mengacuhkan ocehan panjang lebar si gadis. “Baiklah. Aku akan mulai membersihkan ruang tengah dan kau…” Joshua berhenti berkata selama sekian detik. “Apa kau sudah membersihkan kamarmu?”

“Menurutmu?” Mina berbalik menghadap Joshua. Sebelah tangannya sudah menggenggam satu apel segar dan memakannya tanpa memotongnya lebih dulu. Dilihat dari ekspresi gadis itu, sudah pasti, dia belum membereskannya.

“Kadang aku suka merasa heran, apakah kau ini memang terlahir sebagai perempuan atau bukan.” Joshua mendesah pendek. Mulai menyesal kenapa ia harus datang kemari di hari Minggu, di saat gadis itu memang sedang berupaya menghabiskan hari liburnya dengan cara menyeramkan begini.

“Semalam aku tidur di ruang teve,” jelas Mina tanpa diminta. “Tapi, aku juga menghabiskan waktu siang di kamar dan memang belum sempat kubereskan.” Mina mengangkat sebelah bahu saat menerima pelototan dari karibnya. “Yah, aku akan membereskannya sekarang…?” Nadanya terdengar bertanya, meminta persetujuan Joshua, mungkin.

Lagi pula, kenapa Mina harus meminta izin? Oh, ya ampun.

Bye!” Mina melambai kecil. Kakinya berderap meninggalkan Joshua menuju kamarnya dan menutupnya. Masih di tempatnya, Joshua menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.

“Aku tidak percaya, aku mau berteman dengan gadis pemalas seperti Mina,” ujar Joshua sambil mulai merapikan ruangan tengah tepat seperti yang ia katakan tadi.

—oOo—

Dua puluh menit berlalu dan Joshua sudah selesai dengan pekerjaannya. Tidak ada lagi remah-remah di atas karpet serta lantai, pun tidak ada kaleng-kaleng sampah di atas meja. Semuanya benar-benar bersih dan rapi. Joshua tinggal beranjak ke kamar Mina hanya untuk memastikan kalau gadis itu juga sudah merapikan kamarnya (karena omong-omong, ini sudah dua puluh menit dan Mina tak kunjung keluar dari sana).

Joshua tentu tidak akan masuk tanpa permisi. Jadi, dia mengetuk pintunya lebih dulu dan bertanya, setengah berteriak. “Mina, kau sudah selesai?” Tidak ada jawaban. “Mina? Apa kau sedang… mandi?” Kalaupun iya, Joshua pasti mendengar gemericik air dari dalam kamar.

Secara disengaja, Joshua memutar knop pintu kamar si gadis. Dia terkejut karena rupanya, pintunya tidak dikunci. Jadi, Joshua memutuskan untuk membuka pintu sedikit lebih lebar dan mengintip di celah-celahnya. “Mina… hei! Apa yang kaulakukan?!” gerutunya kala ia melihat Mina sibuk memainkan ponsel pintarnya sambil tertawa ria.

Joshua mengira, Mina sudah menyelesaikan tugasnya, tetapi apa? Kamar gadis itu masih sangat berantakan. Selimut terkulai di ujung tempat tidur dan sedikit lagi akan jatuh sepenuhnya ke lantai. Bantalnya pun berada di pergelangan kaki si gadis, sementara gulingnya dipeluk erat-erat.

Gadis Myoui itu kemudian mengalihkan pandangan dan kembali tertawa pada Joshua. “Hei, Sana sedang curhat padaku tentang pacar barunya yang tidak becus mengendarai motor. Memangnya di zaman sekarang, masih ada cowok yang begitu?” tanyanya, seakan Joshua datang kemari untuk mendengarkan celotehan tak bergunanya itu.

Joshua ingin mengomel, namun ia malah jadi terlihat seperti ayah yang sedang memarahi anak gadisnya. Maka, Joshua berusaha menahan amarahnya dan bertanya setenang mungkin (meski akhirnya terdengar seperti gerutuan). “Kenapa kau tidak membereskan kamarmu?”

“Akan kubereskan setelah Sana berhenti mengirimku pesan obrolan,” jawab Mina tanpa menatap lagi Joshua.

Yang Joshua tahu, Sana akan berhenti membalas pesan obrolan kalau baterai ponsel gadis itu benar-benar habis dan tak lagi bisa digunakan sambil diisi.

“Kapan orangtuamu pulang?” Joshua mengalihkan pembicaraan.

Pergerakan jemari Mina terhenti, lalu ia tampak berpikir. “Jam… empat sore?” jawabnya, tidak yakin.

Joshua melirik jam dinding di kamar Mina. “Nah, sekarang sudah jam satu siang dan kau masih malas-malasan di tempat tidur?” tanyanya, ketus. Dan sekali lagi, Mina tidak memedulikannya.

“Ah, benar.” Mina beranjak duduk di tepian tempat tidur, kemudian menatap Joshua yang kelihatan lelah menghadapi tingkahnya. “Aku akan membereskannya sekarang. Kau… hm, lebih baik kau bantu aku membereskan ruang dapur juga, ya?”

—oOo—

Sebenarnya, yang menjadi penghuni kediaman keluarga Myoui ini siapa? Joshua tak lelah menggerutu sepanjang ia membereskan ruang dapur. Ia mengusap peluh sebesar biji jagung yang muncul di wajahnya sambil menghela napas panjang. Hampir sepuluh menit ia menghabiskan waktunya di sana dan ia baru melihat Mina keluar dari kamarnya dengan langkah gontai.

Mina menghampiri Joshua dan bertanya, “Sudah selesai?” Tanpa menatap sang lawan bicara, melainkan memerhatikan seisi ruangan dapur yang tampak rapi dan mengilat. “Wow, benar-benar cantik!” pujinya senang. “Kau baik sekali, Jo,” dia beralih memuji Joshua.

“Aku melakukannya dengan terpaksa, kalau kau lupa,” gumam Joshua kesal, menghempaskan lap ke atas meja untuk melipat tangan di dada. “Sementara kau? Kau hanya membersihkan kamarmu saja. Tidak lebih,” keluhnya, yang ditanggapi oleh tawa ringan Mina.

“Eiii… tidak perlu merajuk begitu.” Siapa yang merajuk?! “Kamarku itu tergolong susah untuk dirapikan, kalau kau mau tahu.”

“Ya, susah dibersihkan bila kau yang menghuninya.” Joshua menyentil kening Mina, dan seketika itu pula, Mina memekik kesakitan.

“Hei, kenapa kau…”

“Kenapa ada pisau dapur di pot bunga kecil itu?” Joshua memotong ucapan Mina, karena tiba-tiba saja matanya menangkap pantulan sinar matahari dari arah taman bunga yang pintunya terhubung dengan ruang dapur.

“Pisau dapur?” Mina ikut menatap ke arah yang sama. “Ah, iya, kemarin ibu memintaku memangkas bunga yang layu. Gunting bunganya tumpul, jadi, aku pakai pisau dapur saja.”

“Hah?”

“Hah kenapa?”

Rasanya, Joshua ingin segera enyah dari lantai rumah ini dan berniat tak akan kembali lagi sampai kapan pun.

“Kenapa harus pisau dapur?” tanya Joshua tak percaya.

“Karena cuma itulah satu-satunya benda tajam yang ada,” sahut Mina tak acuh.

“Oke, sekarang kita lihat kondisi taman bunga ibumu…” Joshua tercengang untuk yang kesekian kalinya karena ulah Mina.

“Mina, kau memangkas hampir semua bunga yang hidup!” pekik Joshua kesal. Omong-omong, ia adalah pecinta bunga. Dan ia memiliki banyak bunga cantik di antara bunga yang ditanam ibunya di taman.

Mina turut memandangi bunga-bunga segar yang bercampur dengan bunga layu lainnya. Iya, bunga itu memang dipotong oleh tangannya, tetapi Mina sama sekali tak merasa bersalah.

“Bunganya akan… tumbuh lagi dengan cepat, kan, Jo?” Lalu, kali ini rasa bersalah mulai bersarang di hatinya.

“Menurutmu?” Joshua balas bertanya. “Ayo kita rapikan kekacauan ini sebelum orangtuamu datang!” ajaknya, tak terbantahkan.

—oOo—

Kenyataannya, hanya Joshua sendiri yang membereskan kekacauan yang dibuat oleh karibnya itu.

Mina malah asyik membawa satu bunga patah di dekatnya dan menyematkannya di telinga. Gadis itu kemudian mencolek bahu Joshua. “Apa aku terlihat cantik?”

Iya. Sahutan itu terlalu cepat terlontar dalam hatinya, tetapi Joshua menolak menyuarakannya. “Kau jadi sangat terlihat cantik kalau kau tergolong perempuan yang cinta kerapihan dan kebersihan.” Pada akhirnya, ucapan itulah yang keluar dari bibir tipisnya.

Mina mengangkat bahunya tak acuh. “Masa bodohlah jika kau tak mau mengakuinya,” katanya kemudian. “Pokoknya, terima kasih karena kau sudah mau membantuku membereskan rumah,” ucapnya tulus, yang langsung ditanggapi dengan sentilan lain di keningnya dari Joshua.

“Ingat, kau hanya merapikan kamar tidurmu saja, sedangkan sebagian besar ruangan lainnya olehku,” kata Joshua tidak terima, meski ujung-ujungnya ia menoreh senyuman geli di bibir.

“Iya, iya, Pangeran. Saya memang berdosa,” Mina menyahutinya dengan nada jenaka, dan Joshua mengamatinya selama sesaat.

Bunga cantik berukuran kecil itu masih tersemat di telinga kanan Mina. Joshua terlalu larut memerhatikan paras gadis itu yang cantik sampai ia tak menyadari, bahwa yang ditatap kini memberinya pandangan penuh tanda tanya dan berkata, “Kau baru menyadari kalau aku ini cantik, ya?”

Seakan baru kembali ke kesadarannya, Joshua membantah, “Eiii… enak saja! Mana mungkin kau itu cantik? Kau itu terlihat seperti nenek sihir, tahu!”

“Hmm… mau mencoba mengelak rupanya.” Mina memutar bola matanya. “Terserahlah.”

Joshua tertawa ringan.

“Mau kubuatkan minuman?”

“Boleh.”

“Apa?”

“Apa saja.”

“Jus jeruk atau jus mangga?”

“Mm… jus mangga?”

“Aku tidak bisa membuat jus, sebenarnya. Jadi, kuambilkan air putih saja, ya? Atau… teh hangat?”

Joshua menggerutu kecil. “Apa pun.”

Setelahnya, keduanya beranjak meninggalkan area taman kecil menuju ke ruang tengah, dengan Mina yang lebih dulu membuat dua cangkir teh hangat untuknya dan Joshua.

Mina datang membawa dua cangkir teh panas dan meletakkannya di atas meja kaca.

“Hei, Joshua!”

“Hm?” Joshua menggumam di tengah kenikmatannya memejamkan mata sambil bersandar di kursi sofa.

“Kau jangan pulang dulu. Tunggu sampai ayah dan ibu datang.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin mereka tahu, kalau kau juga membantuku membereskan kekacauan yang kubuat di rumah.”

“….”

“Jo? Joshua? Joshua Hong?” Mina melambaikan tangannya di depan wajah Joshua yang masih memejamkan mata. Ah, sepertinya Joshua tertidur. Dia pasti lelah karena sudah membantunya beres-beres. “Kau pasti lelah,” gumam Mina, sangat pelan. Matanya memerhatikan setiap inci dari wajah tegas nan lembut yang Joshua miliki, lantas, ia tersenyum manis. “Pokoknya, terima kasih sudah membantuku,” bisiknya, kemudian, dengan gerakan perlahan, Mina menyandarkan kepalanya ke bahu Joshua.

Tanpa Mina sadari, Joshua tersenyum kecil dalam keadaan setengah tidurnya.

-end

Waaaaaaah manisnya Mina-Joshua ini ^^

Aku dukung banget seandainya mereka jadian di real life hehehe x)))

Komentarnya ditunggu, yaaa… makasiiih :*

Salam sayang,

ShanShoo♥

Iklan

9 respons untuk ‘[Vignette] Lazy Sunday

    1. iya ya, untung punya teman sesabar dan serajin joshua. enak banget kan hidupnya mina xD

      kalau aku punya temen macem dia dan main ke rumahnya dalam keadaan berantakan gitu sih, mana mau ikut bantuin, mendingan pulang lagi aja /ketawa epil/

      yooosh! ayo dukung semoga mereka beneran jadian x”D

      terima kasih sudah mampir dan berkomentar x))))

      Disukai oleh 1 orang

  1. Finally ada karakter Mina yang agak beda dari Mina yang biasanya kalem, manis, princess material XD aku suka it’s a good difference. Aku punya temen kayak Mina kayaknya mau modar aja ga sesabar Joshua wkwkwkwk tapi aku mencium bau-bau friendzone lol
    nice one, btw♡

    Disukai oleh 1 orang

    1. yeaaay! senengnya kelakuan pemalas mina jadi perdana di sini /apa maksudnya/
      hohoho susah ya kita mah sesabar joshua, punya teman malesnya kebangetan xD bangun dari tempat tidur aja males banget kayaknya xD

      wahahah iya ya, ini bibit-bibit friendzone xD kayaknya joshua kudu ngegas nih biar bisa jadian sama mina :”D

      terima kasiih ya sudah mampiir x)))

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s