Impossible Family (Episode 2)

shoshana presents

IM(possible) FAMILY

TWICE Dahyun, Nayeon, GOT7 Jaebum, Stray Kids Bang Chan ft. Others

Chaptered | Family, Humor garing, School-life, Slice-of-life | T/Teen

I own nothing but the story idea!

Note: The story is set in 2012. Dahyun’s narration is coded like this.

“It’s a hot mess, but it’s family,”

EPISODES: 01 02. The Perks of Family | 03 | 04 | 05


Hal pertama yang Im Nayeon lihat begitu memasuki kelasnya tidak terlalu mengejutkan. Hanya sekumpulan anak remaja hormonal yang berisik bertebaran di dalam ruang kelas itu. Beberapa sedang mengobrol dengan geng masing-masing, yang lainnya fokus pada buku pelajaran atau mencatat sesuatu di buku mereka. Ada juga yang tidur dengan earphone menyumbat kedua lubang telinganya.

Nice butt new girl!

Kalau yang itu, sama sekali tidak terduga bagi Nayeon.

Kata-kata itu—entah pujian atau bukan—datang dari seorang siswa bernama Kim Taehyung yang baru saja berjalan melewatinya. Nayeon hanya memutar matanya kesal. Melihat seragam Taehyung yang acak-acakan dan dasi yang melingkari kepalanya, ia langsung bisa menebak murid macam apa si lelaki Kim itu.

Mengesampingkan sambutan yang tidak pantas tadi, Nayeon melanjutkan langkahnya mencari tempat duduk kosong di kelas yang ramai ini. Pilihannya jatuh pada kursi kosong di pinggir baris ketiga, di sebelah si tukang tidur pemakai earphone duduk. Jika Nayeon harus duduk dengan orang yang sama sepanjang tahun maka ia akan memilih orang yang paling tidak berisik dan bermasalah; jadi sepertinya laki-laki ini adalah orang yang tepat.

Kedua matanya kembali mengobservasi keadaan kelas. Kali ini dua orang gadis yang sedang berargumen di pojok belakang kelas menangkap seluruh atensinya. Salah satunya yang berambut hitam sebahu berdiri sambil berkacak pinggang di sebelah meja lawan bicaranya. Si rambut cokelat panjang yang sedang duduk sama sekali tidak terlihat senang namun mengiyakan saja perkataan si rambut hitam.

Adu mulut mereka tidak begitu terdengar jelas, samar-samar Nayeon mendengar kata “rahasia” dan sesuatu seperti “akan aku hancurkan hidupmu”. Si rambut hitam sepertinya meminta sesuatu namun si rambut cokelat menolak memberikan.

Nayeon tidak suka ikut campur dengan urusan orang, namun ketika si rambut hitam mulai menggunakan kekerasan ia langsung berdiri dan menghampiri dua gadis itu. Di mana pun Im Nayeon berada, ia tidak akan pernah membiarkan aksi bullying terjadi. Itu bisa dibilang hal baik, walau kadang itu bisa jadi hal buruk yang ikut menyeretnya ke dalam masalah.

“Heh anak baru! Ga usah ikut-ikutan!” Chu Sojung, si rambut hitam, menyingkirkan tangan Nayeon yang mencengkeram lengannya.

“Kamu mau aku diem aja liat orang dipukulin? Not gonna happen bitch,” balas Nayeon. “Sampah tukang bully macam kamu harusnya udah dibuang ke laut dari dulu,” lanjutnya.

Sambaran Nayeon membuat mereka bertiga menjadi tontonan seluruh kelas, kecuali si tukang tidur. Tidak ada yang pernah melawan Chu Sojung, semua takut padanya karena ayahnya adalah donatur terbesar sekolah. Tentu saja Im Nayeon tidak tahu soal itu dan tidak akan peduli. Ia tidak takut pada siapa-siapa bahkan pada ibunya sekali pun. Seorang Chu Sojung tidak akan menghentikannya.

“Ugh Im Nayeon kan? Udah sana kamu duduk aja aku gapapa kok,” si rambut cokelat alias Oh Seunghee mulai khawatir melihat raut wajah Sojung.

“Yup Im Nayeon duduk aja sana, ga usah berani-berani ganggu aku, aku bisa ngancurin hidup kamu, bikin kamu nyesel seumur hidup, bikin kamu nangis-nangis mohon-mohon sama aku!”

Rasanya Nayeon ingin tertawa keras, entah Sojung terlalu banyak nonton film drama remaja seperti Mean Girls atau gadis ini memang imitasi Regina George yang paling buruk.

“Iya terserah deh, biar aku ancurin dulu muka kamu!”

Detik berikutnya Nayeon dan Sojung sudah saling jambak dan cakar-cakaran. Nayeon benar-benar menepati perkataannya, mengarahkan serangannya ke wajah Sojung dengan penuh determinasi hingga gadis Chu itu menjerit ngeri.

Terlibat dalam perkelahian di hari pertama sekolah tentu saja tidak akan berakhir di mana-mana selain di ruang kepala sekolah. Kedua gadis muda itu beserta ketua kelas mereka dipanggil menghadap Kepsek Moon.

Pria botak itu sama sekali tidak tampak terkejut melihat Sojung di kantornya, bukan berita baru gadis itu sering berkelakuan buruk. Namun Im Nayeon si anak baru cukup membuatnya geleng-geleng kepala.

“Yoon Dowoon, kamu ini sebenernya ngapain aja di kelas? Anggota kelas kamu berantem kamu biarin aja?!”

“Setiap hari juga Sojung berantem. Terus saya harus apa pak? Lagian tadi saya tidur sambil dengerin lagu, ga tau apa-apa.” Jawab Dowoon si ketua kelas dengan ekspresi datar tanpa interest sedikit pun untuk melanjutkan topik itu.

“Ya kan tugas kamu sebagai ketua kelas mengawasi kelas kamu!” Kepsek Moon menghela napas berat, ia tidak mengerti apa yang salah dengan murid-murid kelas 2-2.

Terpaksa ia meminta tolong ketua student body karena nyatanya Yoon Dowoon tak bisa diandalkan.


“Hah apa?” Jaebum tidak sempat memproses rentetan kalimat yang keluar dari mulut gadis berambut panjang yang baru saja menghampirinya.

Kang Seulgi—nama yang tertera pada name tag gadis itu—adalah satu-satunya orang yang mengajaknya bicara hari ini. Sebutlah ia berlebihan, tapi gadis Kang itu membuatnya membeku. Ia begitu menarik, bukan hanya sekedar cantik. Seulgi sampai harus mengulang kalimatnya dua kali barulah Jaebum bisa menangkapnya.

“Nayeon kena masalah apaan?” Tanya Jaebum, meminta Seulgi duduk di sebelahnya dan menjelaskan maksud ucapannya tadi.

“Dia kelahi sama temen sekelasnya, sekarang dua-duanya ada di kantor kepsek. Tadinya Kepsek Moon mau manggil orang tua kalian, tapi karena ini masih hari pertama kalian di sini jadi aku disuruh nyari kamu aja.”

“Kelahi?! Tonjok-tonjokan? Yang bener? Gila kali si Nayeon,” komentar Jaebum selesai Seulgi menyampaikan berita itu.

“Makanya ayo ikut ke kantor kepsek sekarang,” ajak Seulgi sedikit memaksa supaya lelaki Im itu bergerak cepat.

Kedua siswa kelas 3 itu sampai di kantor kepala sekolah di tengah-tengah ceramah panjang Kepsek Moon. Tak lupa mengetuk pintu dulu sebelumnya, Seulgi membawa Jaebum masuk ke dalam ruangan lalu memberitahu Kepsek Moon akan kehadiran mereka.

“Nah Im Jaebum, adikmu ini baru saja membuat keributan di kelasnya. Sekarang ayo kita dengarkan penjelasan masing-masing dari Im Nayeon dan Chu Sojung, lalu kamu dan Kang Seulgi sampaikan penilaian kalian. Saya mau kamu menilai perilaku adik kamu secara objektif,” jelas Kepsek Moon, sepenuhnya mengacuhkan kehadiran Dowoon di ruangan itu dengan tidak meminta pendapatnya.

Jaebum melirik Nayeon yang memandanginya sambil merengut, lalu mengangguk tanda setuju pada Kepsek Moon. Pria itu kemudian mempersilahkan Sojung menceritakan kronologi perkelahian mereka sesuai versinya.

“Jadi, tadi saya lagi ngobrol sama Oh Seunghee, kita cuma lagi argumen biasa aja kok. Eh tiba-tiba dia dateng terus nyerang tanpa alasan—”

“IDIH APAAN BUSUK BANGET BOHONGNYA!” Nayeon berdiri penuh emosi, kedua tangannya sudah terulur untuk menyerang gadis Chu itu lagi. Kalau Seulgi tidak cepat menariknya kembali duduk, mungkin Nayeon benar-benar akan mencekik Sojung.

“Dia boong! Tadi dia bukan cuma ngobrol sama Oh Seunghee, dia mau mukul Seunghee. Saya cuma mau nyelamatin Seunghee dari tindakan pembully-an kok,” ungkap Nayeon defensif.

Lirikan sang kepala sekolah pada Jaebum membuat lelaki itu merasa tak nyaman. Ia berdeham, masih sambil memikirkan apa yang harus ia katakan supaya menguntungkan Nayeon.

Well, keliatannya adik saya ga bohong pak. Harusnya dia jadi pahlawannya kenapa malah mau dihukum?”

Pada pernyataan ini, Nayeon menepuk dahinya. Ia menggertakkan giginya, melemparkan silent threat pada kakaknya. Sementara Jaebum sama sekali tidak mengerti di mana letak kesalahannya, ia kan baru saja membela adiknya?

“Kang Seulgi?” Kepsek Moon sekarang mengalihkan pandangannya pada Seulgi, yang hanya mengeluarkan suara ‘hm’ panjang. Sepertinya bahkan ketua student body sekali pun tak tahu harus mengatakan apa.

“Menurut saya dua-duanya salah. Nayeon punya niat baik tapi kekerasan bukan cara yang bagus buat menyelesaikan masalah. Tapi dia kan masih baru di sini, dia belum ngerti kebiasaan-kebiasaan di sini. Jadi mungkin Im Nayeon ga perlu dihukum, biar saya kasih school tour aja. Terus Sojung,” jeda pada kalimat Seulgi menandakan bahwa ia tahu apa pun usulannya, gadis itu akan tetap lolos dari hukuman.

“Mungkin detensi setelah kelas selesai?”

Usulan Seulgi menjadi keputusan final Kepsek Moon, seruan protes Nayeon yang teredam oleh bekapan Jaebum tidak dipedulikannya sama sekali. Menurut Nayeon detensi masih kurang adil, walau setidaknya ia selamat dari hukuman untuk hari ini.

Selepas meninggalkan ruangan kepala sekolah, kelima murid tadi berpisah ke tujuan masing-masing. Jaebum menarik Nayeon ke kantin sementara Seulgi mengikuti Sojung dan Dowoon dari belakang menuju kelas 2-2.

Kakak beradik Im itu duduk berhadapan di salah satu meja kantin. Di sekeliling mereka terdengar suara kunyahan dan percakapan layaknya background noise dalam film. Jaebum menarik napas, satu huruf keluar dari mulutnya Nayeon sudah menyuruhnya diam.

“Aku tau oppa mau bilang apa, pasti mau ngatain aku bego karena nyari musuh bukan temen, pasti mau nyumpahin hidup aku bakal sengsara di sini ga punya temen ga punya pacar, ya kan?”

“Siapa yang mau bilang gitu,” elak Jaebum, “masih ada aku buat jadi pacar boongan kalo kamu semenderita itu.”

“Idih! Udah cukup dikira pacar oppa mulu dulu. Ga mau lagi.” Nayeon menolak mentah-mentah tawaran Jaebum. Semenyedihkan itu kah dirinya, satu-satunya teman yang ia miliki adalah saudaranya, bahkan hanya kakaknya-lah yang mau ia ajak pergi kencan.

Tak lama, Dahyun dan Chan ikut bergabung di meja itu, masing-masing memegang sekotak jus di tangan kanan mereka. Pertanyaan Dahyun tentang wajahnya yang kusut dibalas sentakan oleh Nayeon.

“Ngapain kalian di sini?! Mana ada coba yang makan di kantin bareng saudara sendiri? Aku jadi kayak ga punya temen kalo gini,” omel Nayeon.

Face it, nuna emang ga punya temen,” celetuk Chan, menyatakan fakta pahit yang berusaha Nayeon kesampingkan.

Bibir gadis Im itu kembali membentuk bulan sabit terbalik. “Thanks for the reminder, Chan.”

“Im Nayeon masa lembek gini. Seengganya unnie masih punya kita!” Dahyun menepuk-nepuk punggung Nayeon dengan keras hingga dada kakaknya itu tak sengaja beradu dengan pinggiran meja.

Umpatan kasar meluncur dari mulutnya, dipicu oleh rasa nyeri di dadanya. Nayeon pun mengunci kepala Dahyun dengan lengannya, lalu menyentil kening adiknya berkali-kali tanpa ampun.

“AW! NAYEON UNNIE MAAFIN AKU HUEK-” Dahyun berteriak panik sementara Jaebum dan Chan berusaha menyelamatkannya.

Memang tak ada hari yang tenang bagi empat bersaudara bermarga Im itu.


Jumat sore itu Chan seperti orang kesetanan, membongkar lemari pakaiannya hingga seluruh lantai dan tempat tidurnya penuh dengan baju. Ibunya akan berteriak sekeras mungkin melihat kekacauan itu, namun yang ada di otaknya saat ini hanya bagaimana supaya ia bisa tampil layak di hadapan keluarga Son alias tetangga sebelah mereka. Bukan sembarang tetangga, putri bungsu keluarga Son merupakan teman SD-nya dulu di Seattle, suatu kebetulan aneh mereka bertemu lagi di kota kecil ini dan menjadi teman sekelas di sekolah.

Tentu saja karena orang tua mereka adalah teman lama, ayahnya mengusulkan ide cemerlang untuk mengundang keluarga Son makan malam di rumah. Chan rasanya ingin mengutuk saja. Pasalnya ia tidak yakin pubertas mengubahnya menjadi lebih keren, sedangkan Son Chaeyoung terlihat semakin cantik saja. Dahyun yang sejak tadi berdiri sambil bersandar pada bingkai pintu kamarnya terus saja mengejeknya overreacting dan menyebut Chaeyoung sebagai “cinta monyet jaman SD”-nya. Chan hanya bisa memberi bantahan yang kurang meyakinkan.

“Please deh Chan biasa aja udah, ini bukan makan malam formal juga. Nayeon unnie aja pake piyama,” komentar Dahyun ketika adiknya mencoba sebuah setelan jas hitam di depan cermin.

“Percaya aja sama aku, aku kan cewek. Si Chaeyoung paling ga suka yang aneh-aneh juga,” tambahnya.

“Dahyun nuna mana bisa dipercaya!” Chan membalas dengan nada kesal. Ia tak pernah lupa bagaimana Dahyun selalu menjahilinya setiap kakaknya itu menyuruhnya untuk percaya.

“Yee kali ini serius. Pake ini aja!” Dahyun mengambil celana jeans dan kaus oblong biru muda dari lantai lalu menyodorkannya pada Chan.

“Awas aja kalo aneh-aneh nanti. Hidup nuna ga bakal tenang.”

Dahyun tertawa kecil pada ancaman Chan, ia jadi agak tidak tega mau mengacaukan acara makan malam nanti.

.

Tepat pukul tujuh lebih lima, keluarga Son sudah berada di beranda rumah mereka. Jaebum dan Mr. Im membukakan pintu dan mengantar pasangan Son beserta kedua anak perempuan mereka ke ruang makan. Di atas meja sudah tersedia satu set hidangan Korea beserta mangkuk nasi, sumpit dan sendok. Nayeon yang tadi ikut memasak dengan ibunya tidak yakin dengan rasa hidangan-hidangan itu terutama sup kimchi-nya.

Dua keluarga itu duduk mengitari meja makan bundar, melahap makanan di hadapan mereka sambil membicarakan hal-hal trivial. Para orang tua mulai sibuk bernostalgia, mengenang hal-hal yang mereka lakukan bersama dulu sewaktu muda. Sementara anak-anak mereka terus mengunyah sambil sesekali saling pandang dan tersenyum canggung.

“Nayeon, ambil aja puding cokelat yang di kulkas buat kalian. We adults will have some drink at the front porch.” Mrs. Im akhirnya mengakhiri makan malam itu, mengambil sebotol minuman dari lemari penyimpanannya dan mengajak para orang tua ke teras depan.

Nayeon mengiyakan perintah ibunya lalu mengalihkan pandangannya pada dua bersaudara Son yang duduk di hadapannya. Seulas smirk muncul di wajahnya melihat wajah-wajah bingung kedua gadis Son itu.

“Kalian mau puding? Percaya deh rasanya sama ga enaknya sama sup kimchi tadi,” kata Nayeon.

“Ah engga kok, masakan ibu kamu enak,” ucap Son Seungwan—putri keluarga Son yang paling tua—berusaha mengelak sambil tersenyum canggung. 

“Gapapa jujur aja, kita juga tau kok itu ga enak. Ya kan Chan!” Dahyun menimbrung percakapan itu sembari menyikut Chan yang sejak tadi tidak membuka mulutnya. Lirikan tajam Chan hanya Dahyun balas dengan ekspresi masa-bodoh.

“Eh Chaeyoung, masih inget ga sama Chan? Dia dulu satu kelas sama kamu waktu SD.”

Kali ini Jaebum yang buka suara, berusaha mengalihkan topik pembicaraan dari rasa masakan ibunya. Chan sama sekali tidak bersyukur dijadikan umpan oleh kakaknya, ia memang ingin bicara dengan Chaeyoung dan topik ini bisa jadi kesempatannya, namun ia belum menyiapkan sepatah kata pun. Seketika perutnya bergolak membuatnya ingin muntah karena gugup.

“Ini Chan yang itu? Yang pernah ngompol di kelas 2? Udah beda banget aku sampe ga ngenalin waktu papasan di sekolah.”

Ah sial, mengapa kejadian memalukan itu yang Son Chaeyoung ingat tentang dirinya.

Tawa kedua kakak perempuannya membuat rasa gugup Chan makin memburuk, kalau bukan karena senyuman ceria di wajah Chaeyoung ia mau menyerah saja pada kehidupan.

“Ngomong-ngomong kalian mau ikutan talent show sekolah ga? Siangnya ada acara Family Day juga,” Seungwan kembali mengubah topik pembicaraan dan menyelamatkan Chan dari hinaan Nayeon dan Dahyun.

“Wah aku ga tertarik sama talent show,” sahut Nayeon diiringi tawa mengejek.

“Wah padahal aku ketua pelaksana acaranya,” timpal Seungwan. Sesaat suasana di ruang makan itu jadi canggung.

“Mungkin aku mau ikut kalo punya band.” Jaebum akhirnya menengahi sebelum Nayeon mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyinggung perasaan Seungwan.

“Gampang kalo itu! Nanti aku kenalin sama anak kelas aku yang suka nge-band juga.”

“Sebenernya,” Dahyun tiba-tiba memotong pembicaraan Seungwan dan Jaebum sambil menundukkan kepala dan menatap meja, ia tahu betul konsekuensi yang harus ia tanggung setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Aku udah daftarin keluarga kita buat Family Day itu,”

Seolah baru mendengar berita buruk dari Dahyun, wajah saudara-saudaranya berubah pucat. Gelas berisi air putih dalam genggaman Nayeon langsung jatuh ke meja lalu menggelinding dan terjun ke bawah, menimbulkan bunyi prang keras begitu benda pecah belah itu bertemu lantai.

To be continued to Episode 3: A Brother’s Duty


A/NHi~ sho is back with another crappy episode of Impossible Family! I really shouldn’t put a deadline for myself karena akhirnya ga bisa sesuai jadwal updatenya. Apalagi waktu itu deadlinenya pas ada berita menyedihkan :’) inspirasi aku buat nulis yang lucu-lucu ilang semua huhu. Anyway, I hope you enjoy this and see you on my next fic!

Love, Sho♥

Iklan

3 respons untuk ‘Impossible Family (Episode 2)

  1. seperti biasanya ya emang keluarga Im kayak begitu wkwk
    Nayeon si pembuat masalah pun muncul xD lalu bayangin Bang Chan yg segitu gugupnya depan Chaeyoung duh wkwk
    nice fict (y) ditunggu next nya 😉

    Suka

  2. Nggak pernah bayangin kalau punya keluarga yg insinya kayak gini. Apa dulu mereka punya latar belakang pengalaman beda ya makanya sifatnya jadi gini? Tapi, justru itu jg yg buat fic ini jadi menarik. Ditunggu kelanjutannya, jarang jarang ada family fic yg bagus ^^

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s