Impossible Family (Episode 1)

 

shoshana presents

IM(possible) FAMILY

TWICE Dahyun, Nayeon, GOT7 Jaebum, Stray Kids Bang Chan ft. Others

Chaptered | Family, Humor garing, School-life, Slice-of-life | T/Teen

I own nothing but the story idea!

Note: The story is set in 2012. Dahyun’s narration is coded like this.

“It’s a hot mess, but it’s family,”

EPISODES: 01. Pilot | 02 | 03 | 04 | 05


Terkadang bukan suatu kemustahilan hidupmu bisa berubah dalam semalam. Ya, memang seringnya hal seperti itu terjadi di film atau buku, tapi ini serius hidupku baru saja berubah dalam semalam. My family is a mess. Well, that’s nothing new. They’re crazy. Perubahan yang kumaksud adalah…

“Beneran mau pindah? Serius? Ga bisa dipikirin lagi? Eomma? I have a band here!

This is my oldest brother Im Jaebum (18). Dia terobsesi sama band-nya, ia menyebut gitarnya sebagai pacar dan ia juga hampir 100% hasil fotokopi Appa. Bisa dibilang itu bukan sesuatu untuk dibanggakan. Dia kakak yang baik sih, lebih pantas disebut kakak daripada yang satu ini.

EOMMA?! AKU BARU BANGUN MASA TIBA-TIBA DIBILANG GA USAH KE SEKOLAH LAGI? ADA APAAN SIH? AKU KENA MASALAH APA? APA AKU SEKARAT APA GIMANA?!” Sambil tergesa-gesa menuruni tangga dan memegang ponselnya, seorang gadis muda berteriak-teriak. Rambutnya masih acak-acakan, piyama bermotif zebra masih membalut tubuhnya.

Yang ini kakak perempuanku, Im Nayeon (17). Berisik, pembuat onar, pengganggu, namun setidaknya kita berbagi satu hal yang sama; kita sama-sama suka mengejek Jaebum oppa. Dia ini anggota tim debat di sekolah, padahal katanya benci sekolah. Lagi-lagi hampir 100% carbon copy-nya Eomma. Jika keduanya ada di satu ruangan yang sama kau harus siapkan penyumbat telinga.

“I hate to disobey you, but I have to disagree on this.”

Well, yang satu ini, adikku Im Chan (14). Ia terlalu normal untuk keluarga ini! Sepertinya ia tertukar di rumah sakit atau mungkin menjedotkan kepalanya ke tembok terlalu keras waktu bayi. Ia siswa A+, ikut berbagai macam ekskul di sekolah, mungkin satu-satunya yang membanggakan keluarga ini dan menyelamatkan orang tua kami dari kematian dini. Ya, dia punya beberapa hobi dan kebiasaan aneh tapi… setidaknya ia pintar.

Iya ngapain pindah sih? Entar kita menderita lagi di sekolah baru!”

Now this, is me. Im Dahyun (15). Mungkin kamu sadar ada sedikit perbedaan antara aku dengan saudara-saudaraku. Aku lebih keren dari mereka? Oh tentu saja. Bukan itu sih maksudnya, perbedaan fisik itu yang kumaksud. Ya, benar aku anak adopsi. Begitulah anehnya keluarga ini, mereka sudah punya dua pembuat bencana Im Jaebum dan Im Nayeon namun memutuskan untuk mengadopsiku juga. Kemudian Chan hadir sebagai produk hasil kecelakaan yang disebabkan dosis pil KB tidak rutin.

I don’t care whenever Nayeon unnie decided to make fun of me with the fact that I was adopted. I’m well aware of that and I can just punch her on the face. Just kidding.

Ngomong-ngomong ini kami seminggu yang lalu, ribut soal pindahan ke kota pinggiran kecil dan meratapi nasib kami yang harus beradaptasi lagi dari awal di lingkungan baru.

Cerita yang sebenarnya dimulai ketika Eomma membelikan kami empat set seragam abu-abu yang tak enak dipandang saking membosankannya.

.

Im Nayeon memandangi empat set seragam yang baru saja ibunya letakkan di atas tempat tidurnya dengan penuh kengerian. Saudara-saudaranya yang sedang ikut berkumpul di kamarnya tak kalah ngeri. Warna abu-abu dekil yang membosankan serta model yang kuno memberi kesan bahwa sekolah baru mereka adalah ‘sekolah tua di film horror’.

Tumbuh besar di Amerika, anak-anak keluarga Im memang tak tebiasa memakai seragam sekolah. Mereka juga tidak tahu menahu kebiasaan dan sistem di sekolah Korea. Begitu pindah ke Seoul dua tahun lalu, mereka dimasukkan ke International School, tak jauh beda dengan lingkungan mereka di Amerika. Sekarang tiba-tiba mereka harus beradaptasi di sekolah lokal di daerah pinggiran. Rasanya migrain langsung menyerang keempat saudara itu.

EOMMA! INI BERCANDA YA?!” Teriak Nayeon histeris, menunjuk seragam barunya.

Sembari menyisir rambut sebahunya ke belakang dan menghela napas, Song Sook-ah atau kadang dipanggil Karen alias ibu mereka, menjawab pertanyaan Nayeon dengan tenang.

No sweetie I’m not joking. Tahun lalu restoran appa-mu kan bangkrut, sekarang kita udah ga bisa lagi bayar international school yang mahal itu dan ga bisa lagi hidup di Seoul karena semua serba mahal! This is the next best thing I can get you, ini satu-satunya sekolah yang ada di daerah ini. Dari SD sampe SMA semuanya di satu area, enak kan kalian bisa bareng?” ujar wanita campuran Korea-Amerika itu pada anak-anaknya.

Kali ini bukan Nayeon lagi yang protes, melainkan Dahyun. Gadis kelas 9 itu mengangkat seragam miliknya lalu melambai-lambaikannya.

Next best thing!? Tapi ini tragis banget. Kita kayak pemeran film horror tahun 70an nyasar di era modern!”

THEN DEAL WITH IT KIDS! Awas kalo protes lagi kalian ga usah makan seminggu!”

Pintu kamar Nayeon dibanting begitu keras oleh Mrs. Im yang sudah tidak tahan mendengar keluhan mereka, meninggalkan anak-anaknya meratapi nasib di dalam kamar.

“Restoran appa bangkrut? kok baru tau sih,” celetuk Jaebum.

“Makanya jangan sibuk pacaran sama gitar! Gitu tuh jadinya,” sambar Nayeon, dengan asal meraih boneka beruang miliknya dan melemparkan benda itu ke wajah kakaknya.

“Sebenernya untung sih buat appa kalo bisnisnya pindah ke sini. Kompetitornya ga banyak, sewa tempat lebih murah, terus-”

Menyadari ketiga saudaranya hanya melongo mendengarnya bicara, Chan akhirnya menutup mulutnya tanpa menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya tentang bisnis restoran Cina milik Mr. Im. Percuma saja, mereka tidak ada yang peduli soal itu sekarang.

“Mungkin kita harus terima nasib aja,” ujar Chan pada akhirnya.

“Ogah terima nasib macam gini!”

“Kamu sih harus terima. Bersyukur masih ada yang mau ngadopsi, kalo engga tinggal di jalanan kali!”

Respon Nayeon pada gerutuannya membuat Dahyun semakin kesal. Namun ia sudah terbiasa dengan candaan kejam kakak perempuannya itu, jadi ia hanya tersenyum sok manis sambil memiringkan kepalanya dan menatap Nayeon.

I’m so grateful we are not related you ugly teeth bi-

Dahyun! You can’t use the B word on your sister.” Jaebum dengan cepat memotong perkataan Dahyun, membuat gadis itu menggeram.

Oppa kok belain dia sih! Dia duluan tuh!”

Setelah Dahyun mengatakan itu, Nayeon menjulurkan lidahnya penuh kemenangan. Untuk seorang siswi kelas 2 SMA terkadang ia masih sangat kekanak-kanakan. 

“Tetep aja ga boleh ga sopan,” ucap Jaebum, semakin terdengar seperti ayahnya.

“Kalian semua benci sama aku apa gimana sih?” Dahyun mengerucutkan bibirnya.

“Aku sayang Dahyun nuna kok!”

Chan tiba-tiba merentangkan tangannya dan mendekati Dahyun seperti akan memeluknya. Secepat kilat Dahyun mendorong Chan menjauh hingga adiknya itu protes.

“Ga butuh disayang kamu!”

I thought we had a special connection!” Seru Chan tak percaya.

Sebelum Dahyun bisa memperpanjang konversasi tidak penting itu dengan Chan dan merubahnya menjadi pertengkaran semalam penuh, Jaebum menjentikkan jarinya meminta atensi saudara-saudaranya.

Nayeon, Dahyun dan Chan memperhatikan Jaebum dengan serius, berharap kali ini sang kakak akan mengatakan sesuatu yang bermutu.

“Kita emang sering berantem, saling benci, rebutan makanan apalah tapi kali ini kita ada di lingkungan baru. Kita harus bikin aliansi-”

“Aliansi apaan lagi sih?” Sela Chan, menerima lirikan menusuk dari kedua kakak perempuannya, memberi tanda supaya ia diam.

“Ya aliansi, kita harus kerja sama gitu bego!” Nayeon mengulurkan tangannya untuk menoyor kepala Chan, namun Dahyun yang berdiri di antara mereka segera menyingkirkan tangan Nayeon. Bukannya mau melindungi Chan, hanya saja tangan Nayeon menghalangi matanya.

Sementara Im Jaebum hanya bisa menghela napas. Ia semakin yakin bahwa mengajak adik-adiknya bicara serius adalah suatu kemustahilan.

“Ngomong-ngomong aku lumayan setuju soal aliansi itu,” ungkap Dahyun. Chan juga mengangguk sebagai tanda persetujuan. Lain halnya dengan Nayeon. Tak hanya mengungkapkan keikutsertaannya dalam aliansi keluarga Im, ia juga membuka pintu kamarnya dan mengusir saudara-saudaranya.

“Sekarang keluar kalian semua! Aku mau tidur cantik!”


Pagi hari yang malas di hari rabu itu diawali dengan keributan di meja makan. Demi selembar panekuk bonus setipis kertas tisu, Jaebum rela ditusuk garpu oleh Nayeon yang merasa dirinya lebih berhak atas bonus itu. Mrs. Im pusing bukan main mendengar dentingan garpu dan teriakan Nayeon, belum lagi keributan lainnya sedang berlangsung di depan kamar mandi.

Chan dan Dahyun sedang berebut memasuki kamar mandi, menjadikan pintu kamar mandi yang malang sebagai korban dari aksi saling menggencet dan memukul itu. Erangan frustrasi keluar dari mulut Dahyun ketika Chan berhasil menyelip masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.

Kalau begini Dahyun harus menunggu setengah jam lebih sampai gilirannya untuk mandi. Hanya Tuhan dan Chan sendiri yang tahu apa yang ia lakukan saat memakai kamar mandi hingga menghabiskan waktu begitu lama.

Terlepas dari rutinitas pagi yang kacau, keempat Im bersaudara berhasil sampai sekolah tepat waktu, diantar oleh Mr. Im yang masih setengah mengantuk dengan mobil VW warna biru kebanggaannya.

Nayeon turun dari mobil dengan penuh percaya diri, mengibaskan rambut, dan memicingkan matanya untuk menangkap setiap detil gedung sekolah barunya dari luar. Di sebelahnya, Dahyun berkacak pinggang, lalu menaikkan kaca mata hitamnya ke atas kepala.

Tak lupa menggendong gitar kesayangannya, Jaebum juga berusaha memasang tampang sok keren. Sedangkan Chan mengangkat dagunya sedikit, entah pose apa yang sedang ia tunjukkan tapi di dalam bayangannya itu keren.

Lalu realita seolah menampar mereka dengan keras begitu mereka melihat murid lain berlalu-lalang dengan seragam abu-abu kelam yang juga melekat di badan mereka saat ini.

This uniform is killing our vibe,” kata Dahyun setengah berbisik, kaca mata hitamnya kembali jatuh ke posisi semula. Akhirnya ia menaruh benda itu di dalam tas.

Dengan agak ragu, empat saudara itu akhirnya mengambil langkah mendekati pintu masuk utama gedung sekolah.

Seperti kata Mrs. Im sebelumnya, dalam satu area sekolah terdapat tiga tingkatan sekaligus: SD, SMP, dan SMA. Sebagai satu-satunya sekolah di kota kecil itu, muridnya tidak terlalu banyak dan biasanya saling mengenal semua. Tingkat SMA dan SMP berada di dalam satu gedung yang sama, sedangkan SD berada di bangunan terpisah. Sekolah ini tak punya fasilitas gimnasium, hanya terdapat satu lapangan ukuran sedang untuk pelajaran olahraga. Fasilitas lainnya adalah kamar mandi, perpustakaan dan kantin.

Kesannya memang tidak terlalu buruk, namun Jaebum, Nayeon maupun Dahyun dan Chan masih setengah hati menerima takdir mereka sebagai murid baru Sejong School.

Baru saja akan menginjakkan kaki di dalam bangunan sekolah, beberapa murid lain melempar pandangan heran pada mereka. Ada yang cekikikan sambil menunjuk-nunjuk, atau geleng-geleng kepala lalu berlalu melewati mereka.

“APAAN SIH?” Seru Nayeon gondok. Sedari tadi mereka diperlakukan seperti sejumlah freak.

“Kalian kalo masuk harus ganti sepatu khusus dalam ruangan. Masa gitu aja ga tau.” Salah satu murid akhirnya memberitahu mereka apa yang salah.

“Hah?” Respon Dahyun bingung.

“Ga praktis banget,” tambah Chan.

“Udah buruan masuk aja kita ga punya sepatu gituan juga.” 

Jaebum mendorong Nayeon yang berada di depannya supaya berjalan maju, gadis itu mendecih dan segera menyingkirkan tangan kakaknya dari kedua bahunya. Dahyun dan Chan mengikuti di belakang mereka.

Sesekali Dahyun balas memelototi orang-orang yang mencuri-curi pandang ke arah mereka. Ia bahkan hampir mengangkat jari tengahnya pada seorang laki-laki yang menertawakan warna kaus kakinya. Untungnya Chan berhasil menahannya.

Setidaknya Chan tidak mau Dahyun berbuat hal bodoh yang mengundang masalah di hari pertama sekolah.


Bel istirahat pertama terdengar begitu nyaring di telinga Jaebum setelah kelas pertama dan keduanya yang terasa begitu sunyi selesai. Ia berhasil melalui dua mata pelajaran tanpa menarik perhatian terlalu banyak atau mendapat lebih dari satu pertanyaan dari gurunya.

Ia masih tidak terbiasa dengan sistem pergantian guru melainkan pindah kelas, tapi tidak masalah baginya. Justru ia bisa menghabiskan waktu istirahatnya untuk tidur di kelas sementara yang lain pergi ke kantin.

Kedua lengannya sudah terlipat di atas meja, siap menjadi bantal untuk kepalanya. Kemudian sebuah tepukan pelan di bahunya membatalkan rencana tidur siangnya itu. Jaebum menoleh malas dengan mata mengantuk ke arah siapa pun itu yang mengganggunya. Matanya terbuka lebar seketika melihat gadis yang berdiri di sebelah mejanya.

“Im Jaebum kan? Kakaknya Im Nayeon? Your sister is in trouble,”

Continued to Episode 2: The Perks of Family


[A/N] Finally! The 1st Episode is here :3 I had to push it back a week from the actual premiere date because apparently I was busy that day. Semoga tidak mengecewakan dan ga garing-garing amat lol. Ini sih rencananya bakal Dahyun-centric makanya dia yang narasi di awal tapi… gatau gimana nanti kesananya. Btw just fyi, umurnya Chan sama Dahyun itu dituker jadi Dahyun yang lebih tua, soalnya aku pengen bungsunya cowok dan pengen Chan castnya hahaha. I hope you enjoy this light and fun story!

Love, Sho♡

Iklan

4 respons untuk ‘Impossible Family (Episode 1)

    1. aku juga suka ff family life tapi jarang ada yg sesuai ekspektasi(?) wkwkwk.
      chan berubah jadi anak smp yg masih imut disini XD
      yap begitulah disini trouble makernya nayeon (?)
      thanks for coming to this crappy ff by the way ♡♡

      Disukai oleh 1 orang

  1. Astaga, mereka keluarga yang benar-benar…gimana ya bilangnya, penuh keributan dan protes (?) lucu wkwkwkwk
    Nayeon terkena masalah apa ? Perang debatkah dengan murid lain??? ‘^’

    Disukai oleh 1 orang

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s