Girls’ Problem (Episode 9)

shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 09: Finale

Park JihyoMyoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7

Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish | T/Teen
I own nothing but the story~
Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story!

► Watch the previous episodes!  PROLOGUE EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3 | EPISODE 4 | EPISODE 5 | EPISODE 6 | EPISODE 7 | EPISODE 8EPISODE 9


“Selamat datang di Korean National Cheerleading Competition 2017! Cuaca hari ini cukup berangin dan mendung namun di dalam sini rasanya panas sekali ya? Sebentar lagi acara akan dimulai dan para peserta-“

Klik. Klik. Sekali lagi kamera di tangan Nayeon mengambil gambar dirinya dan delapan gadis berseragam cheerleader lengkap di belakangnya. Total sepuluh pose berbeda sudah mereka lakukan, beberapa di depan banner KNCC dan sisanya di dalam ruang tunggu. Momen ini terlalu istimewa bagi mereka untuk tidak diabadikan dalam foto-foto dua dimensi itu. Selesai berfoto, Nayeon menyalakan kembali kameranya dan mulai berkeliling merekam kegiatan teman-temannya di ruang tunggu.

“Jihyo! Ayo bilang sesuatu,” pinta Nayeon, mengarahkan kameranya ke wajah Jihyo. Si kapten tertawa, agak menjauhkan kamera Nayeon dari wajahnya lalu menangkupkan kedua tangannya sambil membawa pom-pom.

“Hmm aku mau hari ini kita sukses. Apalagi ya? I love you girls, I hope this is not our last nationals.”

Di sisi lain ruangan, Momo sedang menempel pada Sana sambil tak hentinya menginterogasi gadis itu. Momo penasaran bukan main setelah menangkap basah interaksi tak biasa antara Sana dan Jackson Wang yang barusan mengunjunginya sebentar. Jika Momo tidak juga melepaskan lingkaran lengannya di pinggang Sana dan berhenti memaksanya bicara, maka gadis Minatozaki itu akan benar-benar jadi gila.

“Ada yang mau kamu omongin sama aku? Ya kan? Sanaaaa!” Rengek Momo. Bibirnya mengerucut ketika Sana menyingkirkan lengannya secara paksa.

“Ngga ada! Apaan sih!”

“Ada pasti! Kamu punya pacar baru ga bilang-bilang sama aku?” Momo kembali meluncurkan pertanyaannya, membuat rona merah di wajah Sana semakin sulit disembunyikan.

“Pacar baru apaan lagi?” Bantah Sana, memalingkan wajahnya dari Momo.

Girls! Say hi for the camera!”

Kedatangan Nayeon dan kameranya menyelamatkan Sana dari keingintahuan Momo untuk sementara. Kedua gadis Jepang itu saling merangkul lalu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi terawat mereka. Pesan-pesan sepenuh hati mereka sampaikan untuk tim tersayang mereka. Harapan Sana dan Momo untuk hari ini sama dengan yang lainnya; mereka hanya ingin melakukan yang terbaik.

Penampilan sempurna berdurasi dua setengah menit yang dihasilkan dari latihan keras selama sebulan setengah itu berhasil dibawakan oleh 9MILLION. Hingga detik terakhir, mereka berhasil memukau para juri dan penonton. Di antara penonton ada orang tua Jihyo, orang tua Mina, dan yang lainnya; bahkan ibunya Jungyeon yang sangat menentang keikutsertaan anaknya dalam tim cheerleader. Beberapa anggota tim baseball dan teman-teman di kampus juga hadir mendukung mereka, kelas Jihyo lagi-lagi membawa banner membuat gadis itu terkesan sekaligus malu.

Memang Cheer 101 masih mengalahkan mereka dari segi kesulitan gerakan, tapi Jihyo cukup puas dengan penampilan timnya. Senyum bahagia menempel di wajahnya hingga saat-saat sebelum pengumuman pemenang berlangsung. Ia tidak lagi berambisi terlalu keras, yang terpenting baginya saat ini adalah ia mencintai apa yang ia lakukan dan ia sangat menyayangi teman-teman setimnya.

Total 25 tim yang bertanding hari ini berkumpul di atas panggung bersama si pembawa acara. Pemuda itu sudah begitu semangat ingin mengumumkan pemenang kompetisi nasional tahun ini, kemungkinan rasa semangatnya juga datang karena ia dikelilingi gadis-gadis cantik.

Peringkat ketiga diraih oleh sebuah tim bernama Cosmic Wonders yang beranggotakan 13 orang. Gadis-gadis berseragam ungu tua-perak itu berjalan ke tengah panggung sambil menangis dan bertepuk tangan. Rupanya ini pertama kalinya mereka sampai ke tingkat nasional dan mendapat peringkat setinggi ini. Sang kapten Chu Sojung memberi pidato singkat sambil sesenggukan. Di belakang mereka, tim-tim yang lain ikut bertepuk tangan walau beberapa memasang wajah datar atau sinis.

“Selanjutnya kita akan mengumumkan pemenang dan runner up secara bersamaan!”

Bisikan-bisikan langsung terdengar di belakang. Sebelumnya hal seperti ini tidak pernah dilakukan. Beberapa merasa itu agak aneh, ada yang setuju-setuju saja ada juga yang protes seperti Im Nayoung yang takut spotlight timnya dicuri. Ia sudah yakin akan menang peringkat pertama, ia tidak mau tim runner up mengacaukan momennya. Gadis Im itu melirik ke arah 9MILLION, mendapati Sana menjulurkan lidahnya mengejek.

“Dengan perolehan poin yang hampir sama, sepertinya kedua tim ini memang tidak hentinya bersaing di kompetisi nasional dari tahun ke tahun!”

Jihyo memejamkan matanya, refleks menggenggam tangan Mina yang berdiri di sebelahnya. Genggaman itu begitu kuat, menunjukkan betapa gugupnya Jihyo. Mina tersenyum lalu balas menggenggam tangan Jihyo. Dalam hati ia berdoa untuk hasil yang terbaik apapun itu.

Give a big round of applause for our winner Cheer 101 and the runner up 9MILLION!

Begitu mendengar nama tim mereka disebut, sembilan gadis-gadis cheerleaders itu langsung berlari ke tengah panggung mendahului Cheer 101 yang seharusnya memberikan pidato pemenang sebelum mereka. Jihyo menerima pialanya sedangkan Sana menerima karangan bunga besar dari tangan pembawa acara.

Im Nayoung dan anggota timnya hanya bisa tercengang tidak percaya, mereka jelas-jelas kesal namun si pembawa acara juga tidak menghentikan pidato heboh 9MILLION. Mereka terlihat lebih bahagia daripada pemenang yang sebenarnya. Jihyo menyampaikan perasaan terima kasihnya dan semua bagian yang emosional. Selanjutnya Sana, Momo dan Jungyeon berteriak-teriak tidak jelas, mengutuk semua orang yang meremehkan mereka.

“JINYOUNG I LOVE YOU!” Seru Nayeon sambil melambai-lambai ke barisan penonton tempat Jinyoung duduk. Momo dan Jihyo sampai membekap mulutnya supaya ia tidak mengatakan hal-hal yang lebih memalukan. Mina, Dahyun, Chaeyoung dan Tzuyu hanya bertepuk tangan dan menambahkan ucapan terima kasih.

Meski berada di posisi kedua, mereka sudah merasa seperti pemenang malam itu.


Dengan senyum kemenangan di wajahnya, Park Jihyo meletakkan piala perak yang diraihnya di kompetisi nasional beberapa hari lalu di meja Dekan Choi. Kemudian ia mendaratkan bokongnya di kursi, menunggu wanita itu mengatakan sesuatu soal nasib beasiswanya. Dekan Choi memandangi piala itu lalu wajah bahagia Jihyo sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Ia menghela napas dan memberi Jihyo jawaban yang gadis itu tunggu-tunggu.

Sure Ms. Park, beasiswa cheerleader-mu akan berlaku lagi. Dengan catatan,” Dekan Choi menghentikan Jihyo yang sudah mau beranjak dari kursinya, “prestasi tim-mu tidak berhenti di sini.” Pungkasnya.

“Tentu saja. Saya akan bawa lebih banyak piala untuk Youngkwang.” Jihyo membungkuk hormat lalu melangkah menuju pintu, meninggalkan kantor Dekan Choi. Ia tidak berharap untuk masuk ke situ lagi kecuali untuk menunjukkan piala-pialanya.

Di depan kantor, matanya menangkap pemandangan langka; Im Jaebum sedang mendiskusikan sesuatu dengan seorang profesor. Tidak biasanya seorang Jaebum mementingkan urusan kuliah, jika ini menandakan perubahan positif maka Jihyo ikut senang.

Merasa sedang diperhatikan, Jaebum menghampiri Jihyo setelah diskusinya dengan profesor tadi selesai. Senyum di wajah Jihyo seketika lenyap, gadis itu langsung melengos pergi namun Jaebum menahannya.

“Apa?” Tanya Jihyo berusaha terdengar ketus, apalagi melihat seringai konyol di wajah Jaebum.

“Gapapa. Lagi apa di sini?” Jaebum menunjuk pintu kantor Dekan Choi.

“Abis ngurusin masalah beasiswa. Karena menyangkut kegiatan tim aku jadi harus ke Dekan Choi dulu. Kamu sendiri?”

“Tadi lagi diskusiin soal kelulusan aku sama Profesor Kim. Semoga aku bisa lulus akhir taun ini atau pertengahan taun depan.”

Jihyo mengangguk mengerti, ia senang Jaebum akhirnya berhenti menunda-nunda kelulusannya.

You still wanna be a pro baseball player?” Jihyo bertanya lagi, mengingatkan laki-laki itu pada mimpinya sejak sekolah menengah dulu. Mimpi itu masih menyala terang dalam hatinya meskipun orang tuanya berusaha mengubur impian itu dengan setumpuk kertas-kertas perbisnisan.

“Iya. I’m already a rebel since forever. Kamu sendiri punya rencana apa, hyo?”

Si gadis Park tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. “Aku ga tau. Padahal aku kuliah jurusan manajemen bisnis tapi aku ga pernah pengen kerja di bidang itu. aneh kan?”

“Sama sekali ga aneh kok,” timpal Jaebum. “Banyak orang yang kayak gitu. By the way that hair pin really looks good on you, apalagi kalo kamu senyum.”

Jepit rambut berbentuk four leaf clover perak itu tampak berkilau di rambut gelap Jihyo. Benar kata laki-laki Im itu, senyuman Jihyo memang menyempurnakan penampilan gadis itu. Jihyo sempat berniat untuk membuang jepit pemberian Jaebum namun benda mungil itu terlalu cantik, ia tidak sampai hati melemparnya ke tempat sampah seberapa besar pun rasa bencinya pada si pemberi. Ralat itu, ia tidak lagi membenci Im Jaebum. Amarahnya pada lelaki itu sudah pudar.

“Aku udah maafin kamu kok, just so you know,” ucap Jihyo tiba-tiba, mengganti arah pembicaraan mereka sepenuhnya. Gadis itu berjinjit, mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Jaebum. Sebelum Jaebum bisa berkata apa-apa, Jihyo melangkah mundur menjauh, senyum jahil mengembang di bibirnya.

Good luck Im Jaebum!

Pada detik itu juga, Im Jaebum tahu bahwa Park Jihyo yang ia kenal sudah kembali.


Dapatkan edisi pertama Writozine di sini. Di bawah poster yang ditempelnya di mading itu, Myoui Mina menggantungkan sebuah keranjang berisi sepuluh majalah tipis berjudul Writozine yang memuat tulisan-tulisan kreatif mahasiswa Sastra Inggris. Majalah itu adalah projeknya dengan beberapa teman sekelasnya. Projek itu memang masih non-profit, namun Mina cukup bahagia ia bisa menyalurkan ide-idenya dengan percaya diri.

Lagi-lagi Mina teringat pada keputusannya untuk bergabung dengan 9MILLION waktu itu. Dulu Mina tidak akan berpikir bahwa keputusan itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil seumur hidupnya. Lain halnya sekarang, bertemu dengan gadis-gadis itu adalah hal terbaik yang terjadi padanya sejak pindah kembali ke Seoul, tanpa mereka si penakut Sharon Myoui pasti masih menguasai dirinya.

Selesai mempromosikan majalahnya, Mina melangkah menuju tangga sambil mengecek ponselnya yang terus-terusan berdering sejak tadi. Nama Jihyo alias “Ms. Captain” tertera di layar ponselnya, ternyata gadis itu sudah menelponnya lima kali. Sembari menuruni tangga, Mina menerima panggilan keenam dari Jihyo, mendengarkan si kapten mengomel di telinganya karena ia tak kunjung menjawab.

“Aku lagi ngurusin mading tadi, ada apa sih?” Kata Mina tenang, memperlambat langkahnya.

“Aku mau ngajak makan bareng,” sahut Jihyo dari balik sambungan telepon.

“Oh haha kirain kenapa,” tawa Mina, lagi-lagi menerima omelan dari Jihyo. “Mau makan di mana?”

“Di tempat makan burger yang deket kampus itu mau ga? Di sana saladnya enak.

“Mmm okay, tunggu 15 menit ya?” Ucap Mina.

See you miss Myoui! Awas kalo telat!” Mina hanya tertawa lalu menyimpan kembali ponselnya. Pertemanannya dengan Jihyo sudah sampai pada taraf yang ia sendiri tidak sangka-sangka.

Hi Myoui! You look so happy,” Sapaan tiba-tiba dari Kim Yugyeom yang berdiri di ujung bawah tangga cukup mengagetkan Mina hingga hampir menjatuhkan tasnya. Kecanggungan di antara keduanya masih ada sampai sekarang. Walau mereka sering mengobrol lewat chat, sepertinya setiap bertatap muka secara langsung rasa canggung itu muncul kembali bagai kabut tipis di antara mereka.

“Oh hai Yugyeom.” Mina membalas sapaan itu sembari menyandangkan kembali tali tas selempangnya. Ia mengambil beberapa langkah turun menghampiri Yugyeom, kini mereka saling berhadapan dan saling melempar senyum canggung lagi.

“Eh tau ga ada film bagus baru main di bioskop. Cuma ngasih tau aja sih siapa tau-“

I like movies.” Potong Mina, menganggukan kepalanya dan menunjukkan gummy smile-nya.

“Jadi mau…?”

“Jumat, jam 7. Kamu beli tiket aku yang beli makanan.”

“Oke,” Yugyeom menyetujui perjanjian yang dibuat Mina. “Ini bukan date atau apa kok, aku cuma mau nunjukin film itu. Anggap aja nonton sama temen.” Lanjutnya.

“Iya iya aku tau,” timpal Mina.

“Aku bukannya mau gantiin Jaebum hyung atau gimana.”

Mendengar nama Jaebum disebut, Mina tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya dan membantah pernyataan Yugyeom barusan. Hubungannya dengan Im Jaebum hanya seperti mengisi lubang-lubang kosong di antara waktu luang. Sementara waktu utamanya tetap untuk Jihyo. Mina tidak menganggap hubungan itu serius, ia memang sempat menyukai senior-nya itu, tapi mereka tidak sampai ke mana-mana. Tak ada rasa sedih atau apa pun di benaknya, ia lebih suka Im Jaebum menjadi temannya.

“Ga gitu kok. Thanks Yugyeom. Eh aku harus pergi sekarang, there’s a special date.” Mina melirik jam tangan di tangan kanannya. Hampir 10 menit sudah berlalu sejak ia menutup telpon Jihyo. Gadis itu akan mengomel lagi kalau ia terlambat.

Special date? Sama siapa?”

Mina tersenyum lebar, “sama Park Jihyo!”


“Gimana tadi praktek dramanya?” Pertanyaan Sana membuka pembicaraannya dengan Momo yang dari tadi sibuk melahap makanan di meja.

Hirai Momo baru saja menyelesaikan praktek drama kelasnya hari ini. Ia mendapat nilai B- dan julukan peran utama kedua terburuk sepanjang sejarah jurusan Seni Teater. Tak peduli apa yang dosennya katakan, Momo tetap senang ia berhasil melewati praktek kali ini tanpa cedera.

 “Well, tetep aja aku benci si Changkyun. Kalo bukan gara-gara dia aku ga bakal dapet nilai segitu.”

Mengangkat kepalanya dan memindahkan fokusnya dari makanan ke sahabatnya, Momo mendapati Sana mengeluarkan sebungkus rokok dari tasnya. Momo segera menyita benda itu sebelum Sana sempat menyelipkan sebatang di antara kedua bibirnya.

“Heh sejak kapan ngerokok? Ga baik San,” kata Momo, mengerucutkan bibirnya menunjukkan ketidaksetujuannya.

“Cuma nyobain sekali kok,” jawab Sana. “Iya ga akan lagi.” Ia melanjutkan, membuat Momo tersenyum senang dan mengacungkan jempolnya.

“Tau ga, rasanya ga pernah ada temen aku yang sedeket kamu. You’re like my other half, do you feel that way too?” Entah bagian jiwa Momo yang mana yang sedang kumat, namun Sana tak bisa menahan untuk tidak tertawa mendengar kata-kata cheesy gadis itu.

No I don’t wanna be your girlfriend Momo.”

“Wow thanks for being so bitchy Sana,” Momo memutar matanya kesal.

“Bercanda ih! Serius amat,” balas Sana, melemparkan sebutir kacang pada Momo.

“Ga lucu! Ngeselin!” Momo balas melempar kacang tadi.

Jeda sunyi sesaat sebelum keduanya tertawa geli. Tak peduli jika mereka bertambah tua, Momo tak mau pertengkaran-pertengkaran konyolnya dengan Sana berakhir. Persahabatannya dengan Sana menjadi warna yang berbeda dalam kehidupan sehari-harinya. Ia akan mati kebosanan kalau tidak ada Sana untuk diajak bertengkar.

“Abis kuliah kamu mau ke mana? Balik ke Jepang?” Tanya Sana pada Momo yang sedang mengunyah sepotong daging.

“Kenapa nanya gitu? Masih lama juga,” jawab Momo heran.

“Gapapa. Aku ga mau kita pisah.” Sana rasanya ingin menampar dirinya sendiri, sekarang ia yang bertingkah cheesy terhadap Momo.

“Idih kayak aku mau pergi besok aja,” komentar Momo.

“Yaudah ga jadi!” Sana pun menyumpal mulut Momo dengan sepotong daging karena kesal. Gadis Hirai itu berusaha mengunyah dagingnya sambil tertawa hingga nyaris tersedak.

I hate you,” ketus Sana, lalu ikut memakan makanan yang masih tersisa di meja.

I hate you too,” balas Momo, mengambil potongan daging terakhir dari jepitan sumpit Sana.

Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi Hirai Momo selain membuat kesal Minatozaki Sana.


Belum ada satu pun coretan tinta merah di atas kertas laporan Yoo Jungyeon dan itu merupakan hal baru. Hal baru yang baik tentunya, laporannya kali ini bisa dibilang sempurna. Jungyeon menyaksikan Profesor Han memeriksa lembar demi lembar laporannya tentang kasus kleptomaniac, ada ekspresi senang samar-samar di wajah pria tua itu, membuat Jungyeon semakin tak sabar mendengar komentarnya.

“Waktu berharga saya tidak terbuang sia-sia membaca laporan ini Miss Yoo. What a great take on a kleptomaniac case,”

Jantung Jungyeon baru saja melompat! Komentar itu membuatnya lega sekaligus menggebu-gebu. Untuk pertama kalinya ia tidak merasa seperti sebuah kegagalan besar, ia punya sesuatu untuk dibanggakan, sesuatu untuk ditunjukkan di depan wajah ibunya sambil berkata “lihat, aku bisa melakukan ini.”

“Terima kasih pak.” Hanya itu respons yang bisa keluar dari mulut Yoo Jungyeon saat ini. Tangannya masih gemetaran karena terlalu senang dan kaget. Profesor Han kembali memandangi laporan Jungyeon, lalu menyimpan kertas-kertas itu di atas mejanya, mengalihkan atensinya pada siswinya yang masih berdiri di depan mejanya.

“Saya sedang butuh asisten di ruang konseling dan asisten untuk mengajar juga. What do you think, Miss Yoo?”

Tidak sampai 5 detik Jungyeon langsung menerima tawaran dosennya itu. Tak hentinya ia mengucapkan terima kasih, melukiskan senyum kecil di wajah sang profesor yang terkenal galak itu.

Hari ini Jungyeon meninggalkan kelasnya dengan mata berbinar dan semangat baru di dalam dadanya, bukan wajah stress karena setumpuk revisi yang biasanya. Inilah saat yang tepat untuk menelpon ibunya, Jungyeon ingin menyombong, membalas semua tekanan yang ibunya berikan selama ini.

Ia menekan speed dial nomor dua di ponselnya, mendengarkan nada sambung yang terus terulang sebanyak tiga kali hingga terdengar suara ibunya di seberang.

“Coba tebak? Mulai hari ini Yoo Jungyeon adalah asisten dosen. Have I make you proud yet, eomma?

Jungyeon? Ini serius?

“Ya! Jadi sekarang jangan protes lagi soal kegiatan cheerleading aku. Karena buktinya kuliah aku sama sekali ga keganggu.”

Tak ada suara apa-apa terdengar dari ponselnya setelah Jungyeon mengatakan itu. Sempat ia kira ibunya sudah memutus sambungan, tapi kemudian terdengar isak tangis. Sangat pelan namun jelas. Ibunya sedang menangis.

Eomma?” Panggil Jungyeon. Nada suaranya agak melembut.

Jungyeon, denger, maaf eomma neken kamu terus selama ini tanpa tau seberapa keras usaha kamu. Wajar kalo kamu pengen marah.”

“No it’s okay. Semua orang tua mau yang terbaik untuk anaknya, aku ngerti kok. Cara eomma salah tapi-” Jungyeon tak mampu melanjutkan kalimatnya. Mendengar ibunya menangis membuatnya ingin ikut menangis.

Akhirnya konversasi via telepon itu pun diisi dengan isakan dan ungkapan kasih sayang antara ibu dan putrinya yang selalu merasa disisihkan. Sebuah resolusi yang sejak dulu Yoo Jungyeon butuhkan untuk menghentikan tensi di antara dirinya dan ibunya.

Hubungan keduanya memang tidak pernah baik, Jungyeon selalu merasa ia ada di bawah bayang-bayang Seungyeon. Jauh di dalam benaknya Jungyeon tetap mencintai ibunya dan mengharapkan perhatian yang setimpal dari wanita itu. Begitu pun ibunya, meski tak tahu cara menunjukkan perasaannya dengan tepat, ia juga menyayangi Jungyeon.


Melihat jumlah makanan yang Dahyun dan Chaeyoung bawa ke meja, Kim Mingyu tercengang hingga menjatuhkan sumpitnya. Ia sama sekali tidak berpikir makan siang bersama Tzuyu sama dengan mendapatkan Dahyun dan Chaeyoung di mejanya sebagai paket tambahan. Dua gadis itu memandangi Mingyu penuh selidik bak detektif, berbisik-bisik mendiskusikan sesuatu dan membuat Tzuyu ikut bingung.

“So are you still a jerk or are you serious with Tzuyu?

Mingyu nyaris menyembur minuman sodanya segera setelah Dahyun mengajukan pertanyaan itu. “Apa?!”

“Dia kan masih polos! Siapa tau sunbae cuma mainin dia!” Tambah Chaeyoung, menunjuk Tzuyu dengan roti di tangannya.

“Ya! Kita cuma mau ngelindungin dia!”

Guys… please…” Tzuyu menundukkan kepalanya, tak bisa lagi menahan malu karena kelakuan teman-temannya.

“Aku- bisa ga sih ga ngomongin ini?”

Tawa puas Dahyun dan Chaeyoung meledak melihat ekspresi frustasi Mingyu. Tidak berhenti sampai situ, interogasi mereka masih terus berlanjut. Mulai dari menanyakan daftar mantan pacar Mingyu dan menanyakan detail kencan pertamanya dengan Tzuyu di bioskop.

“Oke udah cukup.” Mingyu mengangkat kedua tangannya menghentikan banjir pertanyaan yang masih keluar dari mulut Dahyun dan Chaeyoung.

Let’s talk about you guys instead! You were amazing in the nationals.

Pengalihan topik pembicaraan itu cukup berhasil, untuk sesaat Kim Mingyu tidak menjadi objek penderita dan pusat pembicaraan. Dahyun mulai mengoceh tentang tumble yang dilakukan Tzuyu di kompetisi nasional waktu itu dan betapa sulitnya latihan mereka.

“Tau ga sih gimana capeknya, Tzuyu sampe nangis gara-gara kakinya keseleo,” cerita Chaeyoung, mendapat anggukan setuju dari Dahyun dan Tzuyu sendiri.

“Ngomong-ngomong Jihyo unnie bilang taun depan kita bakal buka audisi buat anggota cowok. Supaya bisa bikin koreo yang lebih keren. Mingyu sunbae, you should join haha!”

Here we go again. Lagi-lagi Dahyun melancarkan serangan pada Mingyu.

“Enak kan satu tim sama Tzuyu!” Chaeyoung memberi dukungan dan ikut terkikik geli bersama Dahyun.

Jika ini yang harus Kim Mingyu hadapi setiap hari untuk bisa duduk satu meja dengan Tzuyu, maka ia harus sangat bersabar. Butuh waktu dua bulan atau lebih sampai gadis-gadis ini berhenti menggodanya tentang segala hal. Bahkan hingga semua piring di meja telah kosong tersapu bersih, Kim Dahyun dan Son Chaeyoung seperti tak kehabisan bahan pembicaraan atau ide untuk mengganggunya.

“Oh iya aku ada kelas lagi. Sunbae yang bayarin makanannya kan?” Celetuk Dahyun tiba-tiba, menatap Mingyu dengan pandangan memaksa.

“Aku ga pernah bilang mau bayarin-”

Sunbae harus mau, kalo mau duduk sama Tzuyu harus bayarin makan kita juga!” Chaeyoung memasang ekspresi serius untuk membuat Mingyu percaya.

Segera saja Tzuyu menggelengkan kepalanya kuat-kuat membantah klaim kedua temannya. “Engga ih mereka cuma bercanda.”

We’re dead serious.

Tanpa menunggu jawaban Mingyu atau Tzuyu, keduanya membereskan tas masing-masing secepat kilat kemudian mengambil langkah seribu meninggalkan kantin kampus dan tagihan makanan mereka pada Kim Mingyu. Lelaki Kim itu menarik napas dalam sambil mengacak-acak rambutnya. Ia tidak yakin dengan sisa uang di dompetnya dan ia tidak mungkin meminta Tzuyu membayar.

“Temen kamu gila semua,” kata Mingyu, menghadap Tzuyu yang hanya bisa cengar-cengir canggung.

“Maaf. Aku bantuin bayar deh?”

Perlahan jemari Tzuyu bergerak membuka ritsleting dompet kecilnya untuk memeriksa keadaan di dalam sana. Hanya ada dua lembar uang pecahan ₩1000 dan beberapa koin. Ekspresi penuh rasa bersalah muncul di wajah si gadis Chou yang kini tak berani menatap Mingyu.

It’s okay, it’s okay. Gotta be tough to be your boyfriend hm?

No no not at all, I’m really sorry,” ujar Tzuyu pelan. “Dahyun unnie sama Chaeng emang suka kelewatan kalo ngerjain orang,” imbuhnya.

Mingyu hanya tertawa, mengacak rambut Tzuyu, membiarkan netranya menangkap fitur wajah cantik Tzuyu sampai ke detail yang terkecil.

Well, waktunya ngosongin dompet aku haha.”


Holy– bau apaan nih?”

Hal pertama yang menyambut Jungyeon begitu ia sampai ke rumah adalah aroma menyengat dari dapur dan asap membumbung. Setelah meletakkan sepatunya di rak, ia bergabung dengan teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang TV. Kelihatannya mereka juga sama terganggunya dengan bau-bauan yang datang dari dapur.

“Bau keringet sekumpulan cewek yang tinggal serumah sama masakannya Im Nayeon.” Sana menjawab dengan nada datar, masih dengan kedua matanya fokus ke layar TV.

“Yakin dia lagi masak bukan lagi bakar rumah kita?”

Pada pertanyaan ini, Sana hanya mengangkat bahunya. Masakan Nayeon memang tidak terkenal enak, biasanya levelnya berkisar antara biasa saja dan tidak bisa dimakan. Malam ini sepertinya dia memasak sesuatu dengan jumlah bubuk cabai yang terlalu banyak atau membiarkan makanannya gosong karena api kompor yang kebesaran.

Selama itu bukan daging, Jihyo tidak akan protes, Momo akan makan apa saja yang ada di meja jika ia lapar. Sedangkan yang lain biasanya tidak mengatakan apa-apa karena kasihan pada Nayeon. Sana adalah pengecualian, ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengejek masakan anggota tertua mereka itu.

Serangkaian denting sendok dan piring berserta aroma masakan yang tidak meyakinkan rasanya kemudian, waktu makan malam akhirnya tiba. Sembilan gadis-gadis itu seperti biasa duduk melingkar di meja makan bundar mereka. Minuman-minuman kaleng menambah keramaian di atas meja.

Rasa sup tahu buatan Nayeon memang tidak bisa dibilang lezat, namun bukan itu yang memicu perubahan ekspresi wajah gadis-gadis cheers itu. Begitu Nayeon mengatakan ia punya pengumuman penting, perasaan-perasaan aneh langsung merayapi benak mereka.

“Jadi, mulai tahun depan aku mau fokus kuliah. Aku mau lulus lebih cepet jadi… aku mau keluar dari tim.”

Pengumuman Nayeon tidak terlalu mengagetkan, melihat ia sudah mendekati semester terakhirnya di universitas dan keinginan ayah gadis Im itu supaya ia lebih serius. Namun pekikan-pekikan tak percaya tetap terdengar di ruangan itu.

“Sedih emang, tapi ini udah keputusan aku. Also, Jinyoung and I plan to settle down in about two years after we graduate. Kalian dukung aku kan?”

You cook like this, and you wanna get married?” Ucap Sana, menunjuk panci sup tahu di atas meja seperti melihat tragedi.

“Jinyoung sunbae bisa mati gara-gara diare,” celetuk Momo.

“Kalian bener-bener…” Nayeon memijat-mijat pelipisnya. Tak ia sangka gadis-gadis ini masih bisa bertingkah tidak serius di saat ia sendiri merasa begitu berat untuk menyampaikan keputusannya.

Just kidding, kita bakal kangen banget sama unnie.”

“Tunda dulu nangis-nangisnya bisa? Aku juga punya pengumuman.”

Tiba-tiba saja Jihyo memotong momen yang seharusnya sudah menjadi dramatis sejak tadi. Makan malam mereka benar-benar terlupakan sekarang. Atensi mereka sepenuhnya untuk Nayeon dan juga Jihyo, yang baru saja akan membuka mulutnya untuk menyampaikan sesuatu.

“Kamu mau keluar dari tim juga?” Tanya Mina, mempertanyakan hal yang sama dengan yang dipikirkan oleh anggota yang lain.

Sang kapten menggelengkan kepalanya. “Engga bukan itu,” kata Jihyo, “Aku udah mutusin mau mundur dari posisi kapten. Aku punya alasan sendiri. Tadinya aku mau ngebalikin posisi kapten ke Nayeon unnie, tapi karena dia mau keluar jadi…”

“Kita harus voting buat kapten baru?” Dahyun melanjutkan, didukung anggukan setuju dari Jihyo.

“Aku punya calon yang pas,” usul Nayeon, mengacungkan tangannya ke udara dengan semangat. “Momo!”

“HAH? AKU? Yang bener aja?”

Seakan tak mendengar protes keberatan Momo, Jihyo lanjut bicara memulai sesi voting.

“Oke, yang setuju Momo jadi kapten kita yang baru angkat tangan!”

Delapan tangan terangkat ke udara secara bersamaan, menandakan suara bulat untuk menjadikan Momo kapten yang baru. Tangisan Momo langsung pecah, entah tangis haru atau takut atau kesal.

“Kalian mau aku ngancurin tim ini apa?! Aku mana bisa jadi kapten! Kenapa ga Jungyeon aja!”

“Kamu bisa kok. Pengalaman kamu hampir sama kayak aku, your choreography is bomb, dan yang lain juga setuju.” Jihyo merangkul Momo, mengusap-usap lengan gadis itu untuk menenangkannya.

Hirai Momo menyapukan pandangannya ke semua teman-temannya dari mulai Nayeon sampai Tzuyu, semua memberinya senyum mendukung dan kata-kata semangat. Air matanya masih berlinang, antara masih tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi sepenuhnya, dan merasa semangat sekaligus takut untuk menghadapi tantangan baru sebagai kapten.

Are you all serious?” Tanya Momo dengan suara bergetar.

“Menurut kamu gimana idiot,” sahut Sana dengan nada sarkastis.

Lagi-lagi dapur kecil itu dipenuhi suara tangisan Momo. “AKU BENCI KALIAN SEMUA HUAAA!”

“Ayo foto lagi!”

Sambil membawa kamera di tangan kanannya, Nayeon menyeret Momo yang masih sibuk mengusap air mata di pipinya ke ruang TV. Nayeon mendudukkan gadis itu di sofa, lalu mengajak semua teman setimnya berkumpul. Mereka berpose mengapit Momo di tengah sementara Nayeon mengatur kameranya.

Bersamaan sembilan gadis itu menghitung satu sampai tiga. Cahaya flash berpendar mengenai mata mereka, ditemani bunyi klik khas dari kamera.

Sekadar lembaran foto dua dimensi memang tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan hari-hari yang mereka lalui bersama. Namun setidaknya cukup sebagai pengingat masa muda mereka yang berantakan, penuh emosi campur aduk, dan pelajaran hidup yang berharga.

To our youth, our cheer days and silver pom-poms. To the girls with thousand life problems. To friendships that last forever.

.

.

AFTERCREDIT

“Eh tadi siapa nama kamu?” Momo kembali memeriksa berkas-berkas peserta audisi yang tadi diberikan Chaeyoung, menyesap kopinya, lalu melihat ke arah gadis berambut pendek di hadapannya.

“Shin Ryujin,” jawab si rambut pendek tanpa keraguan di dalam suaranya.

Well ok, show us what you got girl,” kata Sana sembari melipat tangannya di dada, mengamati Ryujin dari atas ke bawah.

Sebelum gadis itu memulai, Jihyo menyuruhnya berhenti, memanggilnya mendekat dan membisikinya sesuatu.

“Percaya deh ini bukan cheers squad biasa, be yourself is more important here.”

fin


A/N: Girls Problem is officially ended :)) thanks for everyone who keeps up with this series ♡ I appreciate all the reads, likes, and comments. Maaf kalo endingnya ga sesuai ekspektasi apa gimana, tapi emang aku rasa enakan distop disini daripada kebanyakan episode terus jadi gaje. Aku punya sedikit bonus content hehehe ada versi-versi awal episode 1 / prolog Girls’ Problem, dan lain-lain yang berhubungan dengan series ini. CLICK HERE (pass: girlsproblem). Thank you and see you on my next project!

Love, Sho♡

Iklan

11 respons untuk ‘Girls’ Problem (Episode 9)

  1. Seneng bgt mereka makin deket satu sm lain
    Mingyu + maknae line moments 😂
    Nayeon, sang tetua keluar dari tim
    And Shin Ryujin sang trainee talented ikut audisi cheers 😆

    Yaah sedih juga Girl’s Problem ended….
    Semangat kak Sho! Kutunggu works selanjutnya hehehe 😉

    Disukai oleh 1 orang

    1. thanks for coming and commenting ♡♡
      aku pun sedih harus udahan nulis girls problem :’) padahal sih masih banyak yg ga sempet diceritain.
      makasih lagi udah ngikutin ini sampe akhir ♡ sip tunggu aja project baru aku XD

      Disukai oleh 1 orang

  2. Jihyo bisa jadi sweet juga ya ke jaebum.
    Aku ngikutin fanfic ini dari awal dan aku termasuk picky klo soal fanfic tapi ini aku suka banget banget sama jalan ceritanya
    I will wait for your other stories
    Eh and Can I make a request? If it possible can you make a story with the main character is jihyo and chan stray kids. But the decision is on you, aku sangat berterimakasih if you make it 😊

    Disukai oleh 1 orang

    1. thanks for coming and commenting♡♡
      karena jihyo sebenernya dulu emang sweet cuma dia jaim wkwk.
      wah makasih udah ngikutin sampe akhir ♡ i’m honored that you like my story :’)
      actually my next project features chan as one of the main characters! let me think of it. maybe i can pair him with jihyo 😀

      Disukai oleh 1 orang

  3. Aku baru cek lagi~~
    Aaaahhh~~ nggak nyangka dh bisa baca smpai tamat :’
    Suka bngt sama cerita ini ><
    Endingnya bagus kok, btw ^^
    Semangat terus nulisnya, Kak!

    Disukai oleh 1 orang

  4. ini bagus banget huhuhuhu sayang banget ceritanya end sampe siniㅠㅠ btw aku butuh spin-off nya jaebum sama jihyo soalnya mereka cuteee banget yaampun:((((

    Disukai oleh 1 orang

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s