Girls’ Problem (Episode 8)

shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 08: Game On!

Park JihyoMyoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7

Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish | T/Teen
I own nothing but the story~
Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story!

► Watch the previous episodes! 
PROLOGUE EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3 | EPISODE 4 | EPISODE 5 | EPISODE 6 | EPISODE 7EPISODE 8

Myoui Mina menginjakkan kakinya di belakang gedung perkantoran tua yang disebut Megan tepat pukul delapan pagi sesuai permintaan. Di sana Megan, Nancy dan Cathy sudah menunggunya, dengan penampilan stylish mereka seperti biasa, serta tangan di pinggang layaknya model. Mina sama sekali tidak berani berdiri terlalu dekat, ia menjaga jarak aman dari tiga perempuan itu. Namun Megan melangkah mendekatinya, diikuti Nancy dan Cathy di belakangnya. Megan, si gadis berambut blonde, tersenyum pada Mina sembari menepuk pundaknya.

“Hai Sharon, kangen ga sama aku?”

“Ga usah pegang-pegang,” Mina menepis tangan Megan dari pundaknya lalu melanjutkan, walau masih tak berani menatap langsung ke mata si blonde. “I can’t believe you come here just to mess with my life again.”

Nancy Young yang berdiri tepat di sebelah Megan berseru mengejek seolah-olah ia terkejut mendengar perkataan Mina lalu terkekeh.

We’re not here for you rich bitch, we’re here for holidays,” kata Cathy Evans yang berambut keriting dengan ketus.

“Yap, tapi kita kan temen-temen kamu jadi kita pikir kenapa ngga sekalian ketemu kamu, ya kan?” Megan menyambung perkataan temannya.

Oh shut up Megan,” balas Mina kesal. “Kalian bukan temen-temen aku. Apa sih yang kalian mau? Baju baru? Tas branded? Sepatu baru? handphone baru? kartu kredit aku? Ambil aja, asal kalian ga ganggu hidup aku lagi!”

“Wow Megan dia berani ngelawan kamu!” celetuk Cathy.

Sorot mata Megan memancarkan kemarahan ketika gadis itu melangkah semakin dekat ke hadapan Mina. Ia meraih dagu Mina, menjepitnya dengan jari-jari lentiknya dan memaksa Mina untuk mengangkat kepalanya.

“Mentang-mentang sekarang kamu udah masuk grup cheerleader itu terus kamu jadi sok gini sama aku hah? Kamu pikir mereka beneran mau temenan sama kamu?”

“Meg, pukul aja dia!” Seru Nancy memprovokasi.

Sementara Mina belum bisa berkata apa-apa, Megan masih memegang dagu gadis Myoui itu, menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan paksa. Senyum jahat mengembang di wajah cantiknya, sebuah ide sempurna baru saja muncul di kepalanya.

Well, Sharon, seems like you got prettier. May I add some natural blush and black eyeshadow to your flawless face?

Megan melepaskan dagu Mina lalu mengangkat tangannya. Sebelum tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Mina, seseorang menangkap tangan Megan dan memutarnya hingga bunyi ‘krek’ terdengar. Megan pun menjerit seperti gadis kecil yang baru saja jatuh dari sepeda. Sedangkan Myoui Mina tampak terkejut mendapati sosok kapten tim-nya berdiri di sebelahnya.

Keep your dirty hands off of my friend,” ucap Jihyo tenang. Wajahnya juga begitu tenang, tidak terintimidasi sedikit pun oleh Megan yang lebih tinggi dan menyeramkan. Sekali lagi Park Jihyo membuat Mina kagum.  

“Ini temen cheerleader kamu? She’s so tiny weeny.” Megan membalas dengan ejekan walau tangannya masih terasa nyeri. Ia baru saja akan menyuruh Cathy dan Nancy untuk menyingkirkan Jihyo ketika sebuah pukulan keras dari gadis Park itu melayang ke wajahnya. Megan Carlton pun terjatuh ke tanah dengan bunyi ‘bruk’ keras, wajah kedua temannya berubah pucat.

“Selesain gih,” Jihyo beralih pada Mina yang masih berdiri diam.

“A-apa maksudnya?” Mina bertanya bingung. Ia kira Jihyo sedang memintanya untuk memukul Megan lagi. Ternyata si kapten cuma ingin ia menyampaikan kata-kata terakhirnya untuk Megan, apa pun itu yang ingin ia katakan.

F you Megan. Jangan berani-berani muncul depan aku lagi.”

Setelah Mina berhasil mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya, Jihyo menarik lengan gadis itu, membawanya pergi. Keduanya berjalan dengan langkah yang sama menuju halte bus dalam diam. Mina sempat kepikiran untuk membuka topik pembicaraan dengan ucapan maaf, tapi ia mengurungkan niatnya. Justru Mina malah membahas tinju maut Jihyo, memuji pukulan itu sambil tersenyum lebar. Ia betul-betul bersyukur Jihyo datang di saat yang tepat.

“Ya, aku juga ngerasa hebat. Cewek-cewek itu emang butuh dihajar.”

Di halte yang ramai, Jihyo dan Mina berdiri menunggu bus berikutnya datang. Gadis-gadis itu kembali tenggelam dalam diam selama beberapa saat.

“Jihyo, maafin aku,” kata Mina pelan, mendapat tepukan bercanda dari Jihyo di lengannya.

“Ga usah minta maaf. Aku udah ngerti. Kamu emang tertutup aku ga bisa maksa kamu buat curhat. Tapi aku tetep pengen kamu nganggep aku sahabat, bukan aku doang, yang lain juga. Kita mau bantu kamu kok.”

Mina mengangguk senang, “sure.” Ia membuka beberapa kancing kemeja hitamnya, menunjukkan seragam cheers 9MILLION yang tersembunyi di baliknya. Can I still come to the game though?

Jihyo langsung tertawa tidak percaya. “Iya boleh banget. Berdoa aja kita ga telat.”


Pertandingan baseball antar universitas di seluruh kota Seoul itu sebentar lagi akan dimulai. Hirai Momo mulai melangkah mondar-mandir dengan panik di ruang tunggu karena sampai saat ini timnya masih kehilangan kapten dan tanpa kaptennya mereka tidak mungkin tampil. Masa bodoh dengan amanat yang Jihyo tinggalkan padanya, ia tidak mau dan tidak akan pernah bisa memimpin tim ini sebaik Jihyo.

“Benar-benar tragedi,” gumam Momo sembari menggigiti kuku, hingga membuat Sana kesal melihatnya. Yang lainnya menunggu sambil diam dan berharap-harap cemas. Kalau Jihyo berhasil membawa Mina itu akan lebih baik lagi.

Pengumuman dibukanya acara pertandingan sudah berkumandang, tim lawan pun memasuki lapangan dan batang hidung Jihyo belum juga terlihat.

“Matilah kita. Kita mati. Kita selesai,” Momo masih menggumam tidak jelas dan melebih-lebihkan situasi mereka.

“Diem deh ga usah panik gitu!” Sana membentak temannya, lalu melempar pom-pom ke wajah si gadis Hirai.

“Itu Jihyo unnie! Sama Mina unnie juga!”

Seruan Chaeyoung mengalihkan atensi mereka semua ke pintu masuk ruang tunggu yang baru saja dibuka oleh Jihyo. Di belakangnya Mina mengikuti, sudah mengenakan seragam cheers lengkap. Di lengannya terlampir kemeja hitam dan celana jeans yang ia pakai sebelumnya.

Thank God! Dari tadi kita udah ditanyain terus sama mereka,” kata Nayeon, melirik ke arah para anggota baseball lalu mengambil pakaian Mina dari lengan gadis itu. Ia merapihkan rambut Mina, memberikan sedikit sentuhan make-up sederhana dan cepat pada wajah gadis itu, serta memberinya sepasang pom-pom.

Suara pria yang membacakan pengumuman kembali terdengar melalui speaker di dinding, memanggil tim Youngkwang University untuk segera masuk ke lapangan. Sembilan gadis cheerleaders itu menarik napas dalam, berdiri melingkar sambil mengulurkan tangan yang memegang pom-pom ke tengah. 

“Oke, fokus, kita cuma tampil dua setengah menit-”

Yo ladies! Kalian jadi tampil ga? Buruan!” Choi Youngjae berseru memotong pidato motivasi singkat Jihyo.

“Berisik banget sih!” Balas Sana, mengancam akan melemparkan sepatu kets putihnya ke kepala Youngjae, hingga lelaki itu buru-buru menyusul teman-teman setimnya. “Can’t you believe she is my ex?!” terdengar samar-samar.

Sana hanya memutar mata lalu kembali fokus pada timnya, mendengarkan kata-kata penyemangat terakhir Jihyo sebelum mereka pergi ke luar sana untuk menunjukkan potensi mereka yang sebenarnya pada semua orang.


1 week later

Sembilan wajah tercengang menyambut Lee Miyeon, perwakilan KCA yang membawa undangan istimewa kompetisi nasional untuk 9MILLION. Wanita itu menemui mereka di kantin kampus ketika mereka sedang makan bersama, membuat semua makanan di meja terlupakan (bahkan Momo mengabaikan jokbal-nya).

Amplop putih mulus berisi undangan tersebut berada di tangan Jihyo. Kertas itu lebih berharga dari apa pun bagi mereka saat ini, Jihyo sampai menyelipkannya di dalam binder dengan begitu hati-hati tanpa menekuk atau mengotorinya sedikit pun. Sembilan gadis cantik itu masih tak bisa berkata-kata, terlalu banyak kalimat yang ingin mereka muntahkan.

“Terima kasih banyak atas undangannya. Kami sangat menghargainya.” Son Chaeyoung akhirnya mewakili teman-temannya bicara.

Wanita Lee itu tersenyum ramah, meminta mereka untuk santai saja berbicara padanya setelah mendengar Chaeyoung yang begitu sopan. Ia menjelaskan alasannya mengundang 9MILLION ke kompetisi nasional, mengungkapkan betapa ia juga beruntung telah melihat penampilan mereka hari itu.

“Aku teringat pada timku dulu waktu melihat kalian. Very nostalgic. Tapi bukan itu yang membuat kalian diundang, kalian memang punya potensi besar. Aku harap kalian akan melakukan yang terbaik di tingkat nasional,” katanya sambil melihat ke arah Jihyo. Si kapten mengangguk semangat mengiyakan pernyataan tadi.

“Apa kami harus daftar lagi di website KCA?” Tanya Jihyo.

“Tidak usah. Nanti aku yang daftarkan tim kalian. Kalian tinggal ambil nomor urut di depan venue besok. Tunjukkan saja undangannya.”

Merasa semua hal yang penting sudah dibicarakan, percakapan itu jadi beralih ke basa-basi tidak penting seperti rasa popcorn yang dijual di stadion atau betapa serunya pertandingan minggu lalu.

“Aku benar-benar harus berterima kasih pada keponakanku karena sudah mengundang aku ke pertandingan itu. Kalau aku tidak datang aku tidak akan lihat kalian. Kebetulan aku juga suka baseball haha,” tawa renyah Lee Miyeon memenuhi udara, ucapannya soal keponakan memunculkan tanda tanya di benak Jihyo.

Oh, sungguh ia cuma penasaran. Namun menit berikutnya ketika Lee Miyeon menceritakan siapa keponakannya, Jihyo selamanya menyesal telah mengikuti rasa penasarannya dan menanyakan soal itu.

“Keponakan?”

“Ya, dia kapten tim dari universitas ini. Kalian pasti kenal Im Jaebum. Padahal dia tidak pernah mengundang orang tuanya tapi tiba-tiba dia mengundangku sungguh aneh-”

Di kala wanita itu masih mengoceh panjang lebar tentang keponakannya, wajah Jihyo memerah bagaikan tomat rebus. Kedua tangannya dikepalkan dengan sangat kuat seolah ia akan meledak sebentar lagi. Nayeon yang cepat tanggap akan situasi Jihyo segera membekap mulut gadis itu, sebelum ia berhasil menyelesaikan umpatan kasar yang keluar dari mulutnya.

“Maaf tapi Jihyo memang lagi moodswings dari pagi. It’s that time of the month,” kata Jungyeon, tersenyum canggung sambil menyikut Sana meminta bantuan.

“Eh- iya iya. Sekali lagi terima kasih atas undangannya. Mau saya antar ke luar?” Sana setengah berlari menghampiri Lee Miyeon, mengamit lengan wanita itu lalu membawanya menjauh dari meja mereka. Sana terus saja mengajaknya bicara, mengalihkannya dari kerusuhan di belakang mereka.

Kedua lengan Jihyo dipegang erat-erat oleh Momo dan Mina, menahan si gadis Park agar tidak melompat dari tempat duduknya. Nayeon masih membekap mulutnya, memblokir serangkaian kata-kata kasar yang mendesak untuk keluar. Jungyeon dan Dahyun berusaha menenangkan si kapten, sementara Chaeyoung dan Tzuyu masih tidak mengerti mengapa Jihyo begitu marah.

Perkataan ‘orang yang sedang marah memiliki tenaga ekstra’ memang benar adanya. Sekuat apa pun barikade yang timnya buat untuk menahannya, Jihyo akhirnya berhasil lepas juga. Teriakan marahnya lepas ke udara, nama Im Jaebum terselip di antaranya diikuti dengan sebuah umpatan. Kali ini Park Jihyo benar-benar meledak.

“Jihyo mau kemana!!!” Seruan panik Nayeon mengikuti langkah Jihyo ke luar kantin. Momo lah yang pertama berlari menyusul Jihyo, setelah itu teman-temannya mengekor di belakang.

Momo sama sekali tidak terkejut mendapati Jihyo pergi ke lapangan baseball, siang itu tim baseball sedang latihan dan Im Jaebum sedang memberi pengarahan pada timnya. Ia berhenti beberapa meter di belakang Jihyo, cukup untuk mendengar semua teriakan penuh amarahnya.

“HEH IM JAEBUM! SINI KAMU BRENGSEK!” Seru Jihyo emosi. Jaebum jelas-jelas mendengar mantan pacarnya teriak-teriak dari pinggir lapangan, namun memutuskan untuk mengabaikannya bahkan setelah Jinyoung memberi kode padanya.

“IM JAEBUM!!” Jihyo terdengar semakin frustrasi. Karena terus-terusan diabaikan, gadis Park itu akhirnya mendatangi Jaebum, mendorong laki-laki itu sekuat tenaga di depan timnya. Tanpa disuruh, gerombolan pemain baseball itu menyingkir dari sana, memberikan waktu dan tempat pada mantan pasangan ini untuk bertengkar.

“Apa-apaan sih? Kamu pikir tim aku ga bisa masuk nationals dengan usaha sendiri? Harus banget kamu pake koneksi kamu kayak gitu? Kamu ngerasa hebat? Kamu siapa hah?! Ga usah urusin tim aku, urus tim kamu sendiri!”

Setiap kata yang ke luar dari mulut Jihyo dipenuhi berbagai macam emosi, terlalu kusut dan sulit untuk dijelaskan. Seolah ia baru saja memuntahkan seluruh perasaan yang ia pendam tentang Im Jaebum dan perbuatannya. Semua itu terpicu hanya karena sebuah bantuan kecil dari lelaki itu. Bantuan kecil yang menyakiti hatinya, baik sebagai sang kapten Park Jihyo maupun sebagai seorang perempuan.

I just wanna help you,” jawab Jaebum pelan, berusaha mengimbangi ledakan panas Jihyo dengan siraman air dingin. Jawabannya malah membuat gadis itu semakin marah. Jihyo mulai menangis saking dongkolnya, tapi Jaebum mengerti. Begitulah Park Jihyo dari dulu, tempramennya begitu buruk, apa pun yang dikatakan Jaebum akan selalu salah di saat seperti ini.

Do I look like I need your help?” Balas Jihyo tajam.

“Denger dulu, aku ga minta imo buat ngundang tim kamu ke nationals. Itu keputusan dia. Aku cuma minta dia dateng ke pertandingan kemaren, dia bahkan ga tau kalau mau ada tim cheerleader. Kalian dipilih karena kalian emang bagus, karena kemampuan kalian. Basically I just remove a pebble from your way Jihyo, you did the rest. You’re a great captain that’s what you are.

Park Jihyo hanya membisu, air matanya masih mengalir membuat sungai di pipinya. Sesungguhnya ia sudah mengerti apa yang dikatakan Jaebum, bukan itu masalah sebenarnya. Bantuan Jaebum hanyalah puncak kecil dari gunung es permasalahan yang membuat Jihyo marah. Ia hanya tidak mau Jaebum campur tangan dalam hidupnya lagi, ia tidak mau menelan ilusi bahwa lelaki Im itu masih peduli padanya, ia tidak mau perasaan itu datang lagi. Dulu Jaebum sudah melangkah pergi dari hidupnya, dan bagi Jihyo lebih baik tetap begitu. Diam-diam mengintip dan menyelinap kembali ke dalam kehidupannya hanya akan membuka luka lama. Luka lama yang bahkan kini sudah mulai terbuka, luka yang membuat Jihyo berdiri di hadapan Jaebum sambil membenamkan wajahnya yang basah karena air mata ke kedua telapak tangannya.

“Jangan muncul di hidup aku lagi, itu aja. Ga usah ngurusin aku lagi, bisa ga sih?”

“Ga bisa. Aku ngerasa bersalah liat kamu susah-”

So you just wanna make yourself feel better,” Jihyo tertawa pahit. Hampir saja aku mempercayainya, batin Jihyo.

Betapa manisnya mulut laki-laki Im ini kalau ia pikir-pikir lagi, dulu kata-katanya jugalah yang membuatnya menyukai Jaebum, membuatnya percaya kalau ia adalah perempuan paling beruntung di dunia karena menjadi pacar seorang Im Jaebum. Memori-memori manis itu mendatangi Jihyo lagi seperti deburan ombak ketika Jaebum berkata bahwa ia masih peduli padanya, bahwa ia masih menyayanginya. Rasanya ia ingin menampik semua itu lalu memaki Im Jaebum. “That’s bullshit!” Ingin sekali Jihyo berkata begitu, namun ia tak kuasa mengangkat kepalanya. Air matanya masih mengalir dan sepertinya akan semakin deras.

Sentuhan hangat laki-laki itu bertemu kedua bahunya, getaran itu masih ada, sentuhan itu masih memiliki efek yang sama pada Park Jihyo seperti setahun yang lalu. Jihyo tak mau mengakui kenyataan bahwa ia juga masih punya perasaan yang sama untuk Im Jaebum. Sebelum hatinya sempat menerima kembali kehadiran laki-laki itu, otaknya akan berkata “Oh, bagaimana dengan waktu itu ketika ia memutuskan hubungan kalian? Dia selingkuh Park Jihyo! Yang benar saja kau akan memaafkannya?” dan tembok pertahanannya pun bangkit kembali dari reruntuhan. Kali ini pun begitu, momen ini adalah momen di mana pertahanannya akan runtuh, mungkin untuk selamanya.

“Ada yang kamu harus tau, aku bukan mutusin kamu karena ada cewek lain. Waktu itu kamu lagi stress, I thought dating someone who is too busy practicing like me would just make everything harder for you, because I can’t be there for you. Aku pacar yang bego ya? Maafin aku Jihyo.” Selesai mengatakan itu, Jaebum mengeluarkan jepit rambut yang dibelinya beberapa waktu lalu dari saku celananya,  menyematkan benda kecil berbentuk four leaf clover itu di rambut Jihyo. Sekali lagi tangisan gadis Park itu pecah.

“Iya emang kamu bego banget! Why did you leave me when I needed you the most you idiot! Pake bikin alasan kayak gitu segala lagi. I hate you so much!!” Jihyo memukul-mukul si lelaki Im sekuat tenaga dengan kedua tangannya sambil terus mengungkapkan kebenciannya. Jaebum sama sekali tidak berusaha membuat Jihyo berhenti, jika dengan memukulinya Jihyo akan merasa lebih baik, maka ia rela dipukul seharian.

Sementara itu Momo, Sana, Nayeon, dan yang lainnya sejak tadi menonton sambil geleng-geleng kepala. “That got personal so fast,” ucap Momo tak percaya. Ia kira Jihyo akan memaki Jaebum karena masalah undangan KCA, tapi yang ia dapatkan malah drama percintaan.

“Kira-kira mereka bakal balikan ga?” Tambah Nayeon.

“Taulah Jihyo kayak gimana. Meskipun dia masih cinta mati sama Im Jaebum kayaknya mereka tetep ga akan balikan.” Sana berkomentar sambil memainkan ujung rambutnya.

Hanya Myoui Mina yang matanya masih terpaku pada mantan pasangan di lapangan baseball itu, senyum tipis muncul di wajah cantiknya. Ia tidak tahu apakah ia harus senang atau sedih.


Kelas terakhir Tzuyu sore itu ditutup dengan pembagian kelompok dan tugas untuk minggu depan. Menghela napas lega, Tzuyu begitu senang akhirnya ia bisa keluar dari kelas. Ia menolak semua ajakan teman sekelasnya untuk pergi makan atau ke mall, mengingat Chaeyoung pasti sudah menunggunya di lobby kampus. Di antara sembilan anggota 9MILLION mereka berdua adalah satu-satunya yang ada kelas sore hari ini. Lagi pula sore ini mood-nya benar-benar buruk, ia ingin cepat pulang, mandi air hangat lalu tidur.

Berjalan cepat menyusuri koridor menuju lift, Tzuyu juga sebenarnya sedang menghindari Kim Mingyu yang selalu berusaha menemuinya akhir-akhir ini. Laki-laki itu terus menawarkan penjelasan yang tidak ia butuhkan. Toh hubungan mereka tidak sampai ke mana-mana, Tzuyu bahkan belum yakin ia menyukai Mingyu atau tidak. Lagi pula setelah melihat pertengkaran Jihyo dan Jaebum tadi siang, Tzuyu memutuskan cinta adalah hal yang terlalu rumit untuk dirinya.

Pertemuan dua insan itu tetap tak terhindarkan, Tzuyu sedang tidak beruntung. Lift kampus begitu penuh hari ini hingga Tzuyu harus menunggu lebih lama dari seharusnya, memberikan kesempatan bagi Mingyu untuk menghampirinya. Sebelum Tzuyu bisa berkata “aku ga butuh penjelasan apa-apa,” Mingyu sudah berbicara panjang lebar tentang siapa sebenarnya si perempuan rambut panjang dan apa hubungan mereka, sampai keinginannya untuk pergi kencan dengan Tzuyu.

“Namanya Kim Minkyung, aku emang sempet nge-date sama dia tapi aku biasa aja sama dia. Tadinya aku mau bilang dia sepupu aku tapi itu terlalu klise kamu ga akan percaya juga jadi mending aku jujur. And I still want to watch movies with you Tzuyu.” Mingyu mengatakan itu semua dengan satu tarikan napas tanpa titik dan koma seolah sebuah kereta dengan kecepatan penuh sedang mengejarnya.

Why did you kiss her then? I don’t get it,” ucap Tzuyu, memiringkan kepalanya. Pertanyaannya terkesan konyol tapi ia serius.

“Eh ga tau juga. Soalnya orang pacaran kayak gitu kan? Lagian Minkyung cuma pengen bikin mantannya kesel, dia ga suka beneran sama aku.”

“Aneh banget. Kalo kata Sana unnie, tetep aja kamu brengsek.” Walau konteksnya salah, Tzuyu tetap dengan bangga mengutip kata-kata Sana. Ia merasa seperti baru saja melayangkan tamparan keras ke wajah Kim Mingyu, walau Mingyu jelas tidak merasa seperti baru ditampar.

It’s not even- you didn’t just quote Minatozaki Sana!” Mingyu menggaruk kepalanya frustasi. Apa saja yang gadis polos ini dengar dari Sana tentang dirinya?

“Chaeyoung lagi nungguin aku, kalo ga ada yang mau diomongin lagi aku pergi aja,” kata Tzuyu, hendak beranjak ke tangga yang terletak tak jauh dari lift. Dengan sigap, Mingyu meraih lengannya, lalu memberinya selembar tiket bioskop untuk besok malam.

“Siapa tau kamu berubah pikiran,” katanya singkat, lalu melepas Tzuyu, akhirnya membiarkan gadis itu pulang. Gadis Chou itu terdiam sejenak, menatap tiket di tangannya sambil menggigit bibirnya. Mungkin ia bisa memberi Kim Mingyu satu kesempatan lagi. 

Hal pertama yang menyambut Tzuyu ketika ia sampai di rumah bersama Chaeyoung adalah suara isak tangis dari ruang TV. Chaeyoung memutuskan untuk langsung masuk ke kamar, tidak mau ikut-ikut apa pun itu keributan yang melanda rumah ini lagi. Lain halnya Tzuyu, gadis tinggi itu menghampiri Mina yang sedang mengintip ke ruang TV dari balik tembok pemisah ruangan itu dengan deretan kamar.

“Ada apa? Jihyo sama Momo unnie abis berantem ya?” Tanya Tzuyu dengan suara pelan pada Mina. Kedua matanya beralih pada Jihyo yang sedang terisak sambil menggenggam jepit rambut pemberian Jaebum, dengan Momo yang duduk di sebelahnya mencoba menenangkan sang kapten.

“Engga. Jihyo lagi sedih,” jawab Mina. “She just can’t win over her pride to get back together with that person.

“Aku ga ngerti. Kenapa harus milih sakit hati kayak gitu. Kalo emang masih suka kan tinggal balikan aja, ya kan unnie?”

“Ga sesimpel itu sih,” Mina tertawa kecil akan mind set Tzuyu yang begitu sederhana.

“Kayaknya ga semudah itu apalagi buat orang yang pendiriannya keras kayak Jihyo,” lanjutnya. Tzuyu hanya mengangguk-angguk walau ia masih tidak mengerti. Apakah cinta memang benar-benar serumit itu?

“Eh unnie, bisa tolongin aku ga?” Tzuyu tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

Mina sekarang memusatkan atensi pada Tzuyu sepenuhnya. “Tolongin apa?”

“Aku mungkin besok malem mau pergi nonton. Bantuin aku dandan ya? Aku ga pernah nge-date sebelumnya,” ungkap Tzuyu malu-malu. Senyum lebar mengembang di wajahnya, membuat Mina ikut tersenyum.

Sure I’ll help you. Tell me who is this guy though?

“Nanti aku ceritain.”


Angin musim gugur meniup lembut banner bertuliskan “Korean National Cheerleading Competition” yang dipasang di depan gedung venue tempat kompetisi nasional itu akan berlangsung. Terdapat sebuah tenda kanopi berwarna biru dan putih layaknya warna merk produk sponsor tahun ini. Di bawah naungan tenda itu terdapat sebuah meja, kursi, dan dua orang staf lomba yang mengurus proses registrasi ulang dan pengambilan nomor urut peserta.

Baris antrian di depan tenda sudah sangat panjang ketika Sana sampai, gadis itu tak mau repot-repot mendengarkan saran Jihyo untuk datang lebih pagi. Sudah bagus ia mau meluangkan waktu di hari liburnya yang berharga untuk ini, sekaligus merepotkan Jackson untuk mengantarnya.

Sana mengibaskan rambut panjangnya seiring kakinya melangkah mendekati antrian. Speaker stereo yang sedari tadi mengalunkan lagu-lagu upbeat untuk menyemangati peserta dan staf langsung memutar Get the Party Started milik P!nk, seolah tahu bahwa lagu itu adalah deskripsi sempurna seorang Minatozaki Sana.

Tak ada habisnya Sana melambaikan tangan dan berkata “hai” selagi ia mengantri. Semua orang mengenalnya, sebagian menyukainya dan sebagian membencinya. Yang mana pun itu, Sana tetap melempar senyuman ramah pada mereka. Bahkan pada Kim Chungha yang mengantri di barisan sebelahnya, meskipun gadis itu menganggap fakta bahwa Sana dan timnya kembali diundang ke kompetisi nasional sangatlah konyol dan tak masuk akal.

Chungha mendecih, membalas senyum ramah Sana dengan tatapan sinis, sementara Sana sendiri terkekeh puas melihat ekspresi si gadis Kim.

“Kenapa? Iri ya kita dapet undangan?” Kata Sana bangga, melambaikan amplop berisi undangan itu depan wajah kesal Chungha.

“Dih ngapain iri. Seengganya tim aku ga perlu plagiat routine orang lain buat lulus tingkat kota kemaren,” balas Chungha, mengacungkan jari tengahnya pada Sana yang langsung mendengus.

“Itu cuma sekali! Seengganya tim aku loyal dan ga pernah saling rebutan posisi kapten sampe kayak orang gila.”

Sana menyindir perang dingin dan saling sikut yang sering terjadi di dalam Cheer 101. Chungha merupakan salah satu kandidat kuat kapten, namun hasil pemilihan suara memenangkan Im Nayoung beberapa poin di atasnya. Sana tahu gadis itu masih berambisi sampai sekarang. Chungha tidak menampik pernyataan Sana. Itu memang fakta, tetap saja ia membenci Minatozaki Sana seberapa benar pun perkataannya.

Well at least I’m not a slut like you!” Chungha kembali menyambar Sana dengan hinaan. Wajah si gadis Jepang memerah, tidak ada hal yang lebih ia benci selain dipanggil dengan kata itu.

What the-

Sebuah senggolan pelan dari orang di belakangnya menunda semburan amarah Sana. Tanpa sadar Sana dan Chungha sama sekali tidak melangkah maju mengikuti antrian, mereka sibuk bertengkar hingga barisan di depan mereka sudah hampir kosong. Sana membungkuk minta maaf pada perempuan yang berdiri di belakangnya, ia langsung berlari kecil menyusul antrian dan melancarkan kembali antrian yang macet di belakangnya.

Proses pengambilan nomor dan daftar ulang ternyata tak memakan waktu lama. Sana hanya perlu menunjukkan undangannya lalu menuliskan nama timnya di daftar peserta dan mengambil nomor urut tampil secara acak dari sebuah toples kaca di atas meja. Setelah memberitahu panitia nomor urut yang didapat, maka urusannya selesai. Hanya saja urusannya dengan Kim Chungha belum selesai.

Begitu Chungha menyebutkan nomor urut tampil Cheer 101 pada panitia, Sana meraih rambut panjangnya dan menarik gadis itu ke luar barisan. Cengkeramannya pada rambut Chungha tidak main-main, jeritan kesakitan menyelinap ke luar dari mulut Chungha.

How dare you?” Sana menggumam, masih tidak terima Chungha mengatainya tadi. Kedua perempuan itu mungkin akan saling cakar dan memukul satu sama lain jika Jackson tidak mendatangi Sana dan memaksanya melepaskan jambakan mautnya itu. Ia menarik Sana pergi, dan gadis itu dengan setengah hati membiarkan temannya membawa dirinya kembali ke tempat parkir.

“Kan aku suruh tunggu di sini ngapain nyusulin!!” Seru Sana kesal, ia belum puas menyiksa Kim Chungha.

“Gimana mau nunggu. Kamu di mana-mana suka bikin ribut kayak tadi.” Jackson benar-benar khawatir pada kebiasaan Sana yang selalu bicara tanpa disaring, belum lagi temannya yang satu ini selalu bertindak kasar kalau marah. Sesungguhnya manajemen emosi Sana tidak jauh berbeda dari Jihyo.

“Kamu bukan baby sitter aku, Jackson Wang! Stop taking care of me so much!

“Ya emang bukan siapa bilang gitu. Tapi kan-”

“Kita temen?” Potong Sana, ia sudah tahu ke mana arah argumen Jackson.

“Awalnya kita temenan juga cuma gara-gara kamu pengen deketin Momo dulu. Kamu tuh terlalu peduli sama aku, terus nanti aku ngerasa penting, terus aku makin suka sama kamu. Malesin pokoknya!”

Melihat wajah bingung dan kaget Jackson, Sana langsung menampar dirinya sendiri secara mental. Ia baru saja mempermalukan diri, membiarkan rahasianya kabur begitu saja melalui mulutnya.

“Aku ga ngomong apa-apa. Lupain aja. Ayo pulang.”

Tiba-tiba kehilangan kontrol dirinya, Sana berjalan bolak-balik kebingungan harus ke arah mana. Ia tidak bisa membayangkan dirinya duduk di dalam mobil berdua dengan Jackson Wang setelah apa yang dikatakannya barusan. Biasanya ia tidak begitu peduli pada hal seperti ini, namun kali ini ia berubah menjadi gadis SMP lugu yang baru saja mengaku pada cinta pertamanya. Bukan Minatozaki Sana yang biasanya, Jackson juga menyadarinya. Laki-laki itu tertawa geli melihat gelagat aneh Sana.

You have a crush on me? That’s new,” komentar Jackson.

“Ga usah dibahas, please?!” Omel Sana. Wajahnya sudah mulai memerah, apalagi ketika Jackson meraih tangannya sambil tersenyum; senyum setengah mengejek dan setengah senang. Sungguh Sana ingin menampar wajah itu sekarang juga.

“Tapi kita ga bisa pacaran San, kamu udah mantanan sama member tim aku, aneh rasanya,” gurau Jackson, mengayun-ayunkan kedua tangan Sana yang sedang ia pegang.

“Siapa juga yang mau pacaran sama kamu! Sinting!” Sana melepaskan pegangan itu, melangkah menjauh dari Jackson sambil menggerutu sendiri.

Tak lama sepasang lengan kuat menangkapnya, memaksanya kembali ke mobil. Seruan kesal Sana memenuhi udara diikuti tawa jahil Jackson. Keduanya sama sekali tidak berencana menghabiskan terlalu banyak waktu di lapangan parkir itu seperti yang sedang terjadi saat ini. Melihat soft spot Sana adalah hal langka yang tidak terjadi setiap hari, karena itu Jackson Wang akhirnya mensyukuri keputusannya untuk mengantar Sana hari ini dan meninggalkan game-nya di rumah.


D-7 Nationals

Suara musik dan seruan semangat gadis-gadis memenuhi gimnasium Youngkwang University hingga larut malam datang menggantikan siang. Udara semakin dingin, bahkan untuk mereka yang sudah mengulang gerakan yang sama berkali-kali hingga keringat membanjiri seluruh tubuh mereka. Sang kapten Park Jihyo seperti tak bisa kehabisan tenaga dan suara, ia menepuk tangannya dua kali dan meminta mereka mengulang routine itu sekali lagi. Momo tak kuat menahan diri untuk protes, ia belum makan dari sore dan sudah mulai kelaparan.

“Jihyo, aku udah capek! Udahan aja yuk?” Keluh Momo, lalu menunjuk perutnya. “Aku laper,” lanjutnya. Jihyo tak terpengaruh sedikit pun, sisi kapten tegasnya selalu mengambil alih setiap latihan, ia tidak akan luluh pada wajah memelas Hirai Momo sekalipun.

I want you to shut up, and do it again.” Balas Jihyo dingin, menunjuk posisi awal Momo dan memaksa gadis itu kembali dalam formasi. Mendengus kesal, Momo tetap menurut sembari menggumam “yes sir“. 

Musik kembali terdengar, menggema ke seluruh ruangan. Jihyo berdiri di depan sebagai titik tengah dari formasi V, lalu ia menepuk tangan sekali, memberi tanda pada delapan anggota lainnya untuk menyebar ke posisi berikutnya sambil melakukan handspring. Ia sendiri mundur ke belakang, memberi spotlight seutuhnya pada Dahyun, Chaeyoung dan Tzuyu yang menjadi center rangkaian gerakan berikutnya. Seperti biasa, mereka tidak melakukan banyak stunt, Jihyo memilih untuk memperbanyak unsur tarian dan gimnastik. Jihyo, Mina dan Chaeyoung tetap menjadi flyer seperti biasa, kali ini sang kapten juga memperbolehkan Momo memasukan dance break solo di tengah-tengah. Jungyeon dan Nayeon yang biasanya menjadi base dan selalu berada di belakang juga tidak ketinggalan mendapat spotlight, bersama dengan Sana mereka memimpin bagian penutup. Penampilan singkat berdurasi dua setengah menit itu berhasil Jihyo kemas untuk memberi setiap anggota perhatian dari penonton, bukan hanya dia sendiri sebagai kapten.

Park Jihyo cukup puas dengan dirinya dan timnya, kali ini perasaannya tentang kompetisi nasional sangat positif. Ia mematikan musik yang masih mengalun, lalu mengajak teman-temannya duduk melingkar di lantai. Waktu sudah menunjukkan pukul 11:55, sebaiknya ia mempercepat sesi briefing ini atau sekumpulan cheerleaders kelelahan akan menyerangnya.

“Latihannya udah cukup. Seminggu ke depan aku kasih kalian libur latihan supaya ga terlalu capek juga. Aku yakin nationals tahun ini kita pasti menang. I know you guys are the best. Ada pertanyaan atau apa gitu?”

Jungyeon mengacungkan tangannya. “Yang mau nyetir pulang sekarang siapa? Tangan aku sakit.”

“Hmm aku aja. Ada lagi?” Jihyo menyapukan pandangannya dari mulai Tzuyu yang duduk paling pinggir sampai Sana di ujung yang lain. Wajah-wajah lelah menatap kembali ke padanya, Jihyo pun berdeham dan menutup sesi briefing saat itu juga. Ia tak bisa menahan mereka di sini lebih lama lagi.

Gadis-gadis itu pun membereskan tas masing-masing, menghabiskan air di dalam botol minum mereka, lalu satu per satu berjalan menuju pintu ke luar gimnasium. Jihyo dan Momo adalah dua terakhir yang tersisa. Keduanya berjalan bersama menuju pintu sambil saling merangkul, membicarakan masa-masa sulit bersama para senior dulu. Saat ini mereka bisa tertawa dan tersenyum di dalam nostalgia, walau saat itu hari-hari mereka sebagai cheerleader dipenuhi tangis dan luka lahir batin.

“Nih kunciin pintunya, aku mau manasin mobil dulu,” ucap Jihyo, melempar kunci gimnasium ke Momo sambil tersenyum lebar, lalu melangkah pergi. Momo hanya tertawa kecil, melakukan yang Jihyo minta, dan memasukkan kunci perak itu ke dalam saku celana pendeknya.

Ketika ia membalikkan badan, Mark sudah berdiri di belakangnya. Dulu Momo pasti langsung bersikap manis, atau panik karena penampilan lusuhnya dan badan bau keringatnya. Sekarang ia memasang wajah datar, bahkan sama sekali tidak mau menatap mata laki-laki itu.

“Mau ngambil kunci?” Tanya Momo singkat. Mark hanya mengangguk, menerima benda perak kecil yang Momo lempar padanya. Mark tidak sempat berbasa-basi pada gadis Jepang itu, Momo langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat malam atau sapaan lainnya. Ia teringat Momo yang sering mengajaknya makan bersama, atau mendatangi kelasnya cuma untuk berkata ‘hai’. 

Ia selalu menganggap Momo sebagai adik kecil, namun kini ada sedikit penyesalan di hatinya. Mengapa dulu ia tidak pernah mengiyakan ajakan Momo? Sekarang ketika ia punya niatan untuk mengajak Momo makan di tempat sushi kesukaannya, gadis itu malah menghindarinya habis-habisan.

Sekarang ia mengerti makna menghargai sesuatu sebelum hal itu hilang.

To be continued to episode 9: Finale

Girls’ Corner #06: PMS-ing
(featuring Kim Dahyun & other members)

Satu-satunya yang ke luar dari mulut Kim Dahyun hari ini adalah kata ‘tidak’ dan ‘malas’. Semua pertanyaan teman setimnya dijawab dengan dua kata itu saja, sampai Momo gondok mendengarnya.

“Mau makan ga? Aku beli tteokbokki nih,” kata Sana, menunjukkan bungkusan plastik yang ia bawa pada Dahyun. Gadis Kim itu hanya melirik dan menjawab, “engga.” Setelah Sana, datang Chaeyoung mengajaknya nonton acara TV favorit mereka berdua. Jawaban yang datang dari gadis itu adalah “males ah,” membuat Chaeyoung mengerucutkan bibirnya. Berikutnya datang Momo yang sudah kesal mendengarnya mengucapkan dua kata itu. Ia memeluk Dahyun erat-erat dan menggoyangkan tubuh gadis itu ke kanan dan ke kiri.

“Kenapa sih kamu! jangan bilang ngga sama males mulu dong!”

“IH APASIH MOMO UNNIE AKU LAGI PMS TAU! LEPASIN!”


[A/N] Yeay! Are you ready for the series final episode? Hehehe thanks for keeping up with Girls’ Problem until now 8′) I’m so happy people actually read this stuff. You’ve got some drama in this episode, MinTzu and JackNa is kinda sailing lol, and you also got a glimpse of Sana’s cute side. I’ll drop a hint of my next project after GP: a five episodes mini series of family comedy 😉

Until next time!

Love, Sho

Iklan

4 respons untuk ‘Girls’ Problem (Episode 8)

  1. Wah finally update ya kak….

    Jihyo keren bgt ngelawan tmn2 mina , ikut geregetan saya jadinya wkwk
    Proved that Tzuyu like Mingyu
    PMS nya Dahyun, totally me wkwkwk

    Episode favorit saya yang ini kayaknya 😄
    Semangat kak Sho!

    Disukai oleh 1 orang

  2. ini lucu banget sumpah huhuhu. teenlit abis, dan walaupun aku bukan anak cirlider tapi aku jadi into sama ceritanya. ahhh twaisdeul lucu lucu banget. telat banget aku baru baca di episode 8 ini. hhuhu.

    Disukai oleh 1 orang

    1. wah thanks for coming and commenting ♡ aku terharu (?)
      aku juga sebenernya ga gitu tau apa2 soal cheers lol jadi ga begitu mendetail bagian itunya. but i’m happy you like it! thanks again♡♡♡

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s