[Ficlet] Delivery – by Ayumi-Chan

CQWjF2aUYAAvrvB

Delivery

Story by Ayumi-Chan | Staring with Momo of TWICE | Slice of-life, Teen | Ficlet |  Rate for PG-15 |

Summary:

All those cast are not mine and this Fanfiction is pure by mind. Last But not least, please don’t be plagiators and siders!

 

 

Siang hari di Asrama Cheer Up sangat sepi. Mengingat masih jam dua siang, pastinya teman-teman satu Asramanya itu masih ada yang tidur siang atau ada yang masih memiliki jam kuliah. Gadis Hirai ini sendiri jadwal kuliahnya hari ini sudah selesai sejak jam dua belas siang tadi. Sepulang dari kampusnya, ia langsung tertidur di sofa dan terbangun tepat pukul dua siang.

Berjalan menuju dapur tidak ada makanan apapun, beralih pada lemari kayu dekat TV di sana pun persediaan makanan ia dan teman Asrama yang lain sudah habis. Berjalan ke kamarnya siapa tahu persediaan makanan di lemari kamarnya masih ada. Tapi, sebelum itu ia teringat bahwa semalaman ia mengerjakan tugas sambil memakan persediaan makanan yang memang mau habis itu.

Ting

Itu suara pintu Asramanya terbuka, ada seseorang yang datang. Gadis bernama Hirai Momo itu tengah minum dan duduk di depan meja makan. Ia melihat dari kaca gelasnya, Yoo Jeongyeon teman satu kamarnya yang datang tengah melepas sepatunya dan menggantinya menggunakan slipper miliknya.

Gadis berambut pendek itu melihat Momo yang tengah memperhatikannya melalui kaca gelas. “Ada apa?” herannya.

Momo memegang kepala bagain belakangnya, rambutnya sudah berantakan akibat tidur siang tadi. “Hehehe… tidak.”

Jeongyeon menyimpan tasnya di atas meja makan, lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari dalam kulkas. Jeongyeon melihat-lihat kulkas dan disana tidak ada makanan apapun, bahkan bahan makanan sekalipun.

Momo mengintip ke dalam kulkas, “Apa? Bahan makanan pun habis?” ia tak percaya bahwa kulkasnya kosong dan hanya terisi oleh botol yang berisi air putih.

“Bukankah ini sudah akhir bulan?” Jeongyeon menatap lurus ke dalam kulkas, lalu menutup kulkas tersebut dengan malas.

“Ah aku lapar sekali.” Keluh Momo sambil terduduk di kursi dan memegangi perutnya yang sedari tadi meminta diisi. Tapi kemudian matanya melebar saat Jeongyeon menutup pintu kulkasnya.

“Oh, Jeongyeon!” jerit Momo, “Kau lihat ini?” Momo menunjuk berbagai post it yang tertempel disana dan ada brosur makanan juga—tepatnya brosur restoran ayam dan restoran Jepang juga China.

Jeongyeon mengikuti telunjuk Momo, “Cepat hubungi!” Jeongyeon langsung menyimpan gelasnya dengan kasar dan mengambil telepon rumah untuk menghubungi nomor yang tertera dalam Post it dan brosur-brosur tersebut.

Momo mengambil telepon rumah wireless yang diberikan oleh Jeongyeon. Slipper mereka saling bergesekan dengan lantai kayu Asrama, menimbulkan suara yang membuat Park Jihyo, penghuni Asrama Cheer Up yang kamarnya di depan kamar Momo-Jeongyeon itu terbangun.

Jihyo menggaruk kepala bagian belakangnya dan matanya masih menyesuaikan dengan sinar yang masuk. Memicingkan matanya, memastikan apa yang sedang dilakukan Momo dan Jeongyeon yang tengah duduk di depan meja makan sambil memegang telepon.

Gadis Hirai itu telah memencet nomor Restoran Ayam yang ditujunya. Ia mengetukkan jari telunjuknya pada meja makan menunggu panggilan itu diangkat. Jeongyeon menajamkan pendengarannya dengan mendekatkan telingaya pada telepon yang sedang Momo genggam, sementara Jihyo mendekati mereka lalu memandang dengan air muka bingung, kemudian mengambil brosur yang ada di sana.

Mereka kelaparan, Jihyo.

Jihyo lalu beralih dan ikut-ikutan menajamkan pendengarannya pada telepon itu, tepatnya mengikuti bagaimana posisi Jeongyeon saat ini.

“Ah kenapa hanya suara itu-itu saja, sih?” kesal Momo sambil menjauhkan teleponnya dan memandangnya.

“Hallo… dengan Ave Maria’s Chiken disini!” oh panggilan delivery nya diangkat.

Momo langsung mendekatkan lagi telepon tersebut di telinganya, “Ha-hallo!”

“Ya, ada yang bisa kami bantu?” seru suara dari seberang.

“Ah iya, kami ingin memesan ayam. Ayam bumbu bawang satu porsi, lalu… ayam goreng satu porsi…,”

“Ayam bumbu kecap.” Kata Jihyo berbisik.

“Ayam bumbu kecap satu porsi, ehm lalu—”

“Ayam bumbu pedas,” kali ini Jeongyeon berbisik.

“… lalu ayam bumbu pedasnya satu porsi juga.” Tangan Momo membuat gerakan.

“Baik. Saya ulangi ya. Ayam bumbu bawang, ayam goreng, ayam bumbu kecap, dan ayam bumbu pedas, masing-masing satu porsi.” Ulang costumer service itu.

“Iya.” jawab Momo dengan mantap. “Oh iya, dikirim ke alamat Asrama Cheer Up yang terletak di samping kampus Universitas Dongguk.

Jihyo terus beralih menatap brosur Restoran Ayam Ave Maria itu. Terasa ada yang aneh d brosur tersebut.

“Baik. Kami akan mengirimnya nanti pukul 5 sore.”

“Maaf?” ketiganya terkejut saat costumer service mengatakan akan menirimkan pesanan mereka jam lima sore. Tentu saja. Karena saat ini, mereka bertiga tengah kelaparan sekali dan kehabisan makanan mereka di Asramanya.

Jihyo kembali melihat brosur tersebut. Nah, hal tersebut yang sedari tadi membuatnya merasa aneh dengan brosur tersebut. Padahal tulisan tersebut ditulis sangat jelas. Duh!

“Restoran kami memang buka pukul 5 sore.”

Astaga! Mereka tidak bisa menahan lapar selama itu.

Jeongyeon merebut telepon dari tangan Momo. “Tapi, kami membutuhkan pesanan itu sekarang!”

“Maaf. Restoran kami mulai buka pukul 5 sore, jadi tidak bisa mengantarkan pesanan sekarang.”

Lalu kali ini Jihyo yang merebut telepon itu dari Jeongyeon. “Baiklah. Kami batalkan pesanan tadi.” Kata Jihyo cepat dan menutup panggilan itu. “Ayo, coba ke Restoran yang lainnya,” ujar Jihyo sambil menjauhkan telepon itu dari telinganya dan memberikan pada Momo.

Momo menerimanya. Kali ini Restoran Jepang yang mereka tuju. Jeongyeon mengambil salah satu brosur dari tangan Momo dan menyebutkan angka demi angka yang tertera di sana. Selesai menyebutkan angka tersebut, Momo langsung menyimpan telepon tersebut di telinganya dan Jeongyeon juga Jihyo dalam posisi seperti awal.

Bunyi tuts masih terdengar, menantikan si costumer service di sana menerima panggilan pesan antarnya.

Baiklah mereka menyerah karena panggilan itu tak diangkat, barang kali memang sedang banyak pesanan. Beralih pada brosur yang lainnya. Kali ini Restoran China, masih Momo yang memimpin panggilan pesan antar itu.

Menyerah (lagi) karena panggilan tersebut juga tak diangkat. Momo dan Jihyo bubar dari sana. Momo mengerang frustasi sambil melempar brosur Restoran China itu dengan kesal. Sedang Jihyo memilih untuk minum.

“Ada apa sih semua Restoran itu!” hardik Momo.

Jeongyeon mengambil telepon yang sudah Momo simpan itu dengan kasar. Kalau saja bukan perutnya yang minta diisi, mungkin saja Jeongyeon akan menyerah untuk melakukan panggilan delivery itu. Jadi, yang dilakukan Jeongyeon sekarang adalah mencoba menelepon kembali Restoran Jepang itu.

Didekatkannya telepon tersebut pada telinganya setelah memencet beberapa digit nomor tujuannya. Terdengar nada yang menandakan bahwa panggilan itu sudah masuk pada nomor tujuan delivery nya itu.

“A… Ha-hallo!”

Momo yang sedang duduk di meja makan pun mengangkat wajahnya. Oh kenapa dengan Jeongyeon diangkat? Bahkan setelah itu Jeongyeon menyebutkan pesanannya juga pesanan Jihyo, dan pesanan Momo tentunya—yang sebenarnya tidak Momo katakan tapi Jeongyeon sudah tahu apa kesukaan Momo.

Oke. Momo rasa ini bahkan lebih menyakitkan daripada panggilannya tidak diangkat oleh kekasihnya atau bahkan oleh Ibu pemilik Asrama ketika sedang ada kepentingan. Ini masalah hidup dan mati Momo. Momo tak bisa hidup tanpa ada makanan. Sungguh.

“Baiklah. Sepertinya aku memiliki trauma untuk panggilan delivery lagi.” Gadis bersurai sebahu itu berlalu begitu saja menuju kamarnya.

Fin~

 

Iklan

5 respons untuk ‘[Ficlet] Delivery – by Ayumi-Chan

  1. ini kasian banget Momo. udah kelaparan, eh si CS-nya kagak ngangkat telepon terus xD
    kalau kata temen2 aku sih, kudu perbanyak amal biar segala urusan dipermudah /ditendang/ wkwkwk

    keep writing! ❤

    Disukai oleh 1 orang

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s