[Ficlet] A Musician Practice

179b0cceb8817113fea55733dd76346d--swag-swag-tofu

ShanShoo’s present

Kim Dahyun TWICE with Lee Chan/ Dino SEVENTEEN

horror // ficlet // teenager

-o-

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

-o-

            Dua hari lagi, kompetisi seni musik akan segera tiba. Kim Dahyun, seorang siswi kelas sepuluh yang ditunjuk seluruh teman sekelasnya untuk mengikuti acara kompetisi itu terpaksa harus pulang lebih lambat dari biasanya. Menyadari kemampuan bermusik Kim Dahyun yang sangat baik, gadis itu sontak mendapat julukan sebagai seorang musisi yang cerdas. Dia bisa mengaransemen beberapa lagu yang sedang naik daun, atau membuat musiknya sendiri sehingga orang lain yang mendengarkannya akan terbuai menikmati setiap alunan yang ada. Tapi tetap saja, Dahyun tidak ingin terlalu memamerkannya di depan publik seperti itu. Ada rasa gugup dan cemas setiap kali Dahyun mencoba untuk mempertunjukkan keahliannya di atas panggung.

Namun untungnya, Lee Chan, salah satu teman sekelasnya yang paling dekat selalu mendukungnya kapanpun. Lee Chan senang sekali mendengar permainan piano gadis itu. Lee Chan juga terkadang merekam kegiatan Dahyun di saat gadis itu sedang menggunakan ruang seni dan bermain piano selama beberapa puluh menit di dalam sana.

Seperti sore ini.

Kumpulan awan mendung mulai bermunculan, dan siap untuk menjatuhkan air hujan. Di Sabtu sore ini, sudah tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar terkecuali beberapa ekstrakulikuler tertentu yang diadakan di hari Sabtu tersebut. Kim Dahyun sudah meminta izin kepada guru Kang selaku pemegang ruangan seni yang akan ia gunakan untuk berlatih selama dua jam ke depan. Guru Kang tentu tidak merasa keberatan, dan memberikan kunci itu kepada Dahyun, sekaligus menitipkan kunci ruangan itu padanya karena beliau akan pulang sekarang.

“Sudah mendapatkan kunci ruangannya?” tanya Lee Chan, saat Dahyun sibuk mengemas beberapa barang penting di dalam lokernya untuk ia masukkan ke dalam tas sekolah.

Dahyun menoleh menatapnya dan tersenyum senang. “Tentu saja,” sahutnya cepat. “Guru Kang mungkin sudah pulang. Ayo, kita ke ruangan latihan sekarang,” ajaknya pada Lee Chan, yang segera diangguki oleh laki-laki berwajah imut itu lalu berjalan bersisian dengan Dahyun.

***

            Dahyun sudah memainkan musik pertama yang akan ia tampilkan dalam acara kompetisi itu, ketika Lee Chan yang juga berada di dalam ruangan seni mendapatkan satu panggilan di ponselnya.

“Oh, Dahyun, tunggu sebentar. Ibuku menelepon. Aku lupa memberitahunya kalau hari ini aku pulang agak terlambat,” katanya sedikit cemas. Dahyun hanya mengangguk pelan dan membiarkan Lee Chan keluar ruangan seni seraya menerima sambungan telepon dari ibunya.

Kini, hanya tinggal Dahyun seorang diri di sana.

Dahyun mendesah pelan, lalu menoleh menatap setengah kesal pada pintu ruangan yang tertutup rapat di belakangnya. Ia lupa, sudah sampai mana not yang sudah ia mainkan dengan apik tadi. Kalau saja Lee Chan tidak menginterupsi permainannya, mungkin Dahyun akan cepat selesai dan bisa secepatnya pulang ke rumah.

Tidak ada pilihan, Dahyun akhirnya mengulang permainannya dari awal sambil sesekali bersenandung kecil dan…

Ada gema tepukan tangan yang memenuhi dan memantul pada setiap dinding ruangan seni hingga turut berbaur bersama dengan dentingan halus piano yang Dahyun mainkan.

Dahyun mengulas senyum kecil. Ah, rupanya Lee Chan sudah kembali. Laki-laki itu pasti akan memberikan tepukan tangannya sebagai tanda ia menyukai permainan pianonya, atau ketika Lee Chan terus berusaha menyemangati Dahyun sampai akhir.

“Aku tahu, permainanku ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujar Dahyun, berbangga diri. Ia masih menekan tuts pianonya dengan penuh perasaan, sementara tepukan tangan itu masih saja menggema, hingga membuat konsentrasi gadis itu sedikit terganggu, lantas menoleh ke belakang untuk menegur Lee Chan.

“Hei, Chan, bisakah kau berhenti…”

Kosong. Tidak ada siapa-siapa di belakang Dahyun, terkecuali pintu ruangan seni yang masih tertutup rapat, serta bayangan Lee Chan―atau siapapun itu, Dahyun tidak tahu―yang tergambar jelas di celah pintu bagian bawah.

Dalam keheningan, Dahyun merasa bulu kuduknya meremang seketika. Kesepuluh jemari tangannya mendadak kaku di atas tuts piano, tak bisa bergerak barang sejenak. Dan tak sampai tiga detik, ponsel gadis itu yang ada di dalam sakunya berdering singkat. Ada pesan masuk yang datang.

Dahyun mengambil ponselnya dengan gerakan kaku, diiringi debaran jantungnya yang teramat cepat. Dan begitu Dahyun membuka pesan di ponselnya, Dahyun menyadari satu hal…

17.00

Lee Chan : Dahyun, tunggu sebentar, ya. Aku disuruh guru Han untuk mengantar kunci ruang olahraga kepada Mingyu. Hari ini dia ada tes fisik untuk mengikuti kompetisi olahraga entah apa itu.

Bahwa di ruangan musik ini, ia benar-benar sendirian.

-Fin.

Iklan

5 thoughts on “[Ficlet] A Musician Practice

  1. Anjay. Dia sendiri. Lalu… Siapakah yang bertepuk tangan? Kakak ya? Udah aty bilang, jangan jailin orang lagi. Waktu itu juga anak kecil jadi nangis setelah kakak jailin. Emang bandel kakak ini. 😀 😀 😀 bagus kok, kak. Kebayang ceritanya 😉 😀

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s