[1st Event] Authors’ Project: My Lovely Brother – Vignette

 

1640544087001_5319945788001_4028433690001-vs
(cr pic : randomly on google)

My Lovely Brother by LaillaMP // Family, Tragedy, Angst, Undefinable PG-15 // Starring Twice’s Park Jihyo & DAY6’s Park Jaehyung ft Yoon Dowoon // For TWFF’s 1st Event! So much lacking but please enjoy!

 

Baik-baiklah kepadaku sebelum aku meninggalkanmu! [TWICE – Three Times A Day]

.

.

.

Jihyo meringkuk dalam diam di pojok kamarnya, menatap langit malam penuh bintang yang seakan mengejeknya. Gadis itu sudah lelah menangis, namun air matanya masih saja merembes sampai jatuh ke dagunya.

Pabo Oppa!” hardiknya pada udara kosong di depannya. “Tolol! Tidak berotak! Mati saja sana!”

Gadis itu menangis lagi setelah 20 menit beristirahat dari isakannya sendiri. Ia menyesal, amat sangat menyesal.


“Hey!”

Jihyo tidak menengok walaupun ia mendengar dengan jelas sapaan kakak tercintanya.

“Mau sarapan ya?”

Jihyo mengabaikannya, mengambil dua buah roti tawar dan memasukannya ke dalam toaster. Sang kakak masih menatapnya, berusaha memulai percakapan.

“Wah, kelihatannya enak!”

Jihyo benar-benar kehabisan kesabaran, tapi ia juga kehabisan tenaga untuk marah-marah. Apalagi saat roti tawar yang telah dibakar dengan indah oleh toaster kesayangannya diambil dengan kedua tangan pucat yang sudah diabaikannya seminggu ini.

“YA, PARK JAEHYUNG!” Jihyo akhirnya berteriak dengan seluruh tenaga yang telah ia simpan. “Bisa tidak, jangan ganggu hidupku? Aku sudah putus dengan pacarku empat hari lalu, gagal reuni tiga hari lalu, dan hari ini kau mencuri roti bakarku. Kau… apakah tidak ada kerjaan lain selain menghancurkan hidupku?”

Park Jaehyung, kakak laki-lakinya, tak bergeming dari tempat berpijaknya. Satu roti bakar masih terselip diantara giginya, dan ia tidak menariknya sama sekali.

“Aku hanya tidak ingin kau terus berhubungan dengan si brengsek itu, apa salah?” Jaehyung pun melanjutkan perjalanannya.

Jihyo membenturkan kepalanya pelan di atas meja dapur, meratapi nasib kenapa harus memiliki kakak semenyebalkan Park Jaehyung yang selalu mengganggu hidupnya sampai usia 20-an ini. Gadis itu menghela nafas sebelum akhirnya mengangkat kepala untuk membakar kembali roti tawar untuk sarapannya sendiri.

“Dia tidak memakannya lagi.”

 


Jihyo kembali menjalankan rutinitasnya setelah hari Minggu terlewati dengan cepat. Dengan nafas berat ia memasuki gedung fakultasnya, mampir ke mading untuk sekedar mencari informasi dan berakhir dengan duduk di bangku favoritnya di kelas sastra. Sebenarnya Jihyo sangat mencintai bangku depan dan ingin selalu memiliki bangku itu kapanpun dia bisa. Ia sampai rela berangkat pagi-pagi sekali demi bangku itu.

“Kau duduk di belakang lagi? Kenapa?” sebuah suara menginterupsi pemikiran Jihyo tentang hidupnya yang lalu.

“Aku tidak akan menjawabmu, pergi sana!” jawab Jihyo sekenanya.

“Wah, daebak! Aku tidak tahu kalau tiga tahunku ke US akan menghasilkan pemandangan indah seperti ini. Adikku yang juara kelas merelakan bangku depan? Oh, God, aku harusnya lapor ke Guinness Book of Record ‘kan?”

Jihyo menghela nafas panjang, menyandarkan kepalanya di atas meja, membelakangi si pembicara yang terus saja mengoceh tentang hal-hal yang aneh. Yah, tipikal Park Jaehyung sekali.

Talking nonsense.

“Dik,” suara itu tiba-tiba melembut, tepat pada saat itu angin berdesir lembut dan koor para mahasiswa di depannya mengalun malas menjawab salam seseorang.

“Selamat pagi, Pak.”

“Aku tidak akan mengatakannya dua kali,” suara disamping masih saja ada, padahal Jihyo sudah berkonsentrasi penuh dengan dosen tampan di depan kelas. “Berbaik-baiklah padaku sebelum aku meninggalkanmu!”

Ah, terserah!

 ****

Aku benci kakakku.

Tangis Jihyo berhenti lagi setelah 30 menit mengeluarkan air mata. Tubuhnya lelah dan membutuhkan energi lagi untuk melanjutkan hidup. Setidaknya, untuk saat ini.

Jihyo berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin berukuran 2 liter keluar. Ia membawanya ke atas meja, mengambil gelas untuk menuangkan air itu ke dalamnya. Setelahnya Jihyo bergeming, menatap lurus ke depan sembari meraba meja untuk mengambil gelas yang tadi ia isi. Naas, gelas itu tersenggol dan menumpahkan seluruh isinya sampai habis.

Nafas Jihyo yang tadinya normal kembali memburu bak dikejar anjing galak. Tenggorokannya tercekat, ia jatuh terduduk di bawah meja dapur tanpa bisa mengendalikan tubuhnya.

 


Jihyo masih seperti mayat hidup sejak seminggu lalu. Berjalan dari kelas ke kelas, dari kelas ke kantin, dari kantin ke kelas lagi, dari kelas ke rumah lagi, begitu seterusnya. Wajahnya tanpa ekspresi, matanya membengkak dan hidungnya memerah. Ketika bertemu dengan orang yang dikenal, ia akan tersenyum sedikit, kemudian kembali pada wajah datarnya. Ketika seharusnya ia dimarahi dosen, ia tidak akan meminta maaf, justru sang dosen yang meminta maaf telah memarahinya.

Dunia Park Jihyo terbalik akhir-akhir ini.

“Hai,” dan Jihyo dipertemukan kembali dengan mantan pacarnya di kantin.

“Halo,” balas gadis itu. “Makan?”

Lelaki itu mengangguk. “Kau tidak mengambil?”

Jihyo menggeleng. “Aku akan minum susu saja.”

Keduanya berjalan ke sebuah meja yang masih lowong.

Tidak ada pembicaraan, hanya suara alam yang menghiasi keduanya.

“Kakakmu… bagaimana kabarnya?” tanya Yoon Dowoon, sang mantan pacar.

“Dia menghilang,” balas Jihyo sembari menggigit sedotan susunya. “bagaimana dia bisa menghilang… setelah mengatakan kau brengsek di depanku?”

Wajah Yoon Dowoon yang sedang menyendok nasinya berubah pucat.

“Kau brengsek, katanya. Makanya aku meminta putus darimu waktu itu. Sekarang aku menyesal,” Jihyo berkicau sembari tertawa miris. “padahal dia yang lebih brengsek darimu, ya kan? Apa yang salah dari jadian lagi setelah sehari putus dariku? Toh hanya sehari, bukan sejam setelah aku deklarasikan putus.”

Yoon Dowoon meletakkan sendoknya di atas nampan makannya. “Aku minta maaf—“

“Bukan salahmu, ini salahku yang terlalu memperhatikan kata-katanya. Sudah tahu mulutnya itu seperti kutu beras. Ada saja di setiap beras!”

Lelaki di depan Jihyo menenggak air di botol minumnya sampai Jihyo menyelesaikan kata-katanya. Setelah itu ia menatap Jihyo tepat di matanya.

“Jihyo-ya, aku tidak tahu siapa yang kau lihat sebenarnya tapi aku akui, aku memang brengsek. Aku memang memacari Yoojin juga selain dirimu, tapi…” ada jeda sesaat setelah lelaki itu mengakui ke-brengsekannya. “Park Jaehyung, maksudku, kakakmu, dia memang tidak ada disini. Maksudku… kau ingat, ‘kan, dia kecelakaan minggu lalu dan kepalanya terbentur—“

Jihyo langsung bangun dari posisi duduknya. “TIDAK! Kakakku baik-baik saja! Dia ada di rumah dan mengambil roti bakarku, terus—“

“Jihyo, tolong, sadarlah!” Dowoon mengamit tangan Jihyo, mencegah gadis itu mengamuk. “Kau juga tahu kenyataannya. Kau melihatnya sendiri dia menyelamatkanmu dari lampu panggung yang putus—“

Jihyo kehilangan kesadarannya, dan sempat melihat Park Jaehyung dari kejauhan menatapnya.

 


“Hey.”

Kali ini bayangannya jelas. Jihyo bisa melihat lelaki itu berjalan ke arahnya, duduk di atas kasurnya sembari tersenyum dengan kacamata bertengger di atas hidungnya.

“Katakan padaku, ini hanya mimpi,” ucap Jihyo pada lelaki itu.

“Yang mana?”

“Kau menyelamatkanku, kemudian tidak bangun sampai sekarang dan… ini hanya…” Jihyo tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

“Ya, kau benar. Anggap saja ini mimpi, kemudian kau akan terbangun dan melihat dunia ini makin gila.”

Jihyo ingin mencoba tertawa, namun tenggorokannya keburu tercekat mengetahui tangan orang di depannya itu dingin sekali saat menyentuh kulitnya.

“Jangan menangis, please,” Jaehyung mengelus rambut adiknya. “Adikku tidak secengeng ini, ‘kan?”

Jihyo menggeleng. “Kenapa kau menyelamatkan aku? Kenapa seakan-akan kau sudah tahu—maksudku, kau selalu mengatakan ‘baik-baiklah padaku blablabla’ sebelum itu terjadi. Kau—“

“Banyak hal yang tidak kita ketahui, Jingyo-ku. Maksudku, aku memang mengucapkannya, tapi aku sebenarnya juga tidak menyangka akan begini kejadiannya. Kau tahu, God’s Plan? Pasti tidak! Kau kan tidak pernah ibadah!”

Jihyo tertawa kecil, menghapus air mata yang mengalir tiba-tiba dari pelupuk mata kirinnya.

“Seperti itu, kau mana tahu, ‘kan, air matamu bisa jatuh seperti itu? padahal kau tidak merencanakannya.”

Jihyo diperbolehkan pulang setelah menerima beberapa suntikan dan nasihat dari para dokter yang berjaga. Bayangan kakaknya menghilang, digantikan oleh sosok Yoon Dowoon yang bersedia mengantarnya pulang ke rumahnya.

 


Jihyo kembali ke kamarnya setelah berhasil minum dalam jumlah yang ‘lumayan’ banyak, satu gelas—dengan setengahnya termuntahkan lagi karena lambungnya menolak mentah-mentah asupan minumnya.

Sudah seharian Jihyo tidak melihat sosok kakaknya yang amat dirindukannya itu. Park Jaehyung yang cerewet, Park Jaehyung yang berbicara tidak jelas, Park Jaehyung yang selalu melindunginya dari para lelaki yang selalu mengatainya gemuk…

Kemarin di rumah sakit adalah saat terakhir bayangan Park Jaehyung menghampirinya. Mereka berbicara banyak seakan tidak ada hari esok, mengatakan hal-hal yang sering dijadikan gurauan malam oleh mereka berdua. Setelah tiga tahun dipisahkan jarak, kini mereka dipisahkan lagi selama 2 minggu dalam kondisi yang berbeda. Park Jaehyung yang diambang batas kehidupan dan Park Jihyo yang hampir terjun ke ambang kematian. Sekarang Jihyo baru menyadari sesuatu tentang perkataan kakaknya akhir-akhir ini.

“Baik-baiklah padaku sebelum aku meninggalkanmu!”

Mereka terlibat pertengkaran sengit sebelum kecelakaan itu terjadi. Jaehyung menyuruh Jihyo untuk tidak tampil di acara pagelaran kampus dengan alasan Jihyo kurang kompeten. Suaranya tidak bagus dalam live dan tariannya amat sangat hancur. Jihyo yang sudah berlatih dua bulan menumpahkan amarahnya, disumpahinya Park Jaehyung untuk mati saja dan tidak perlu menonton panggungnya.

Sayangnya doa itu terdengar, dan Jaehyung menyelamatkan Jihyo dari runtuhnya lampu panggung yang tidak dipasang dengan baik.

“Kau tidak apa-apa?” itu yang dikatakan Jaehyung setelah berhasil menyelamatkan Jihyo dari hantaman benda berat itu. “Syukurlah. Aku sengaja menukar tiketku sampai kau selesai pentas, lho.”

Setelahnya, Jaehyung tidak sadarkan diri di atas pundak Jihyo dengan darah bercucuran deras dari atas kepalanya.

 


Langit sedang berpesta dengan menebarkan bintang-bintang bercahaya rendah ke atasnya. Ketika langit sangat gelap maka bintang-bintang itu bisa bersinar. Jihyo benar-benar menikmati malam ini dengan secangkir teh hijau panas yang dibuatnya sendiri setelah pemilihan yang sulit (antara kopi, teh biasa, susu cokelat, dan teh hijau).

“Kira-kira Jaehyung tahu tidak ya itu bintang apa,” gumam Jihyo sembari menunjuk satu bintang yang paling terang menurutnya. “Eh, itu lebih terang, apakah itu Sirius?”

Jihyo mengajak langit malam berbicara kali ini.

“Aku tidak tahu apa yang dipelajari Jaehyung di Amerika sana, tapi kok dia bisa tahu bintang-bintang ya? Apa di Amerika tidak terlalu terang untuk bisa lihat bintang-bintang?”

Komunikasi Jihyo dan langit terputus kala ponselnya berdering nyaring disampingnya. Jihyo mengambil ponsel itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya di malam berbintang yang indah ini.

“Halo?”

Tidak ada jawaban. Jihyo pun mengulang sapaannya sampai tiga kali.

“Siapa sih—“ Jihyo menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat siapa yang menghubunginya. “Jae-Jaehyung Oppa!”

Ya?” orang diseberang mulai menampakkan suaranya. Jihyo hampir saja melompat dari kursi santainya.

“H-Hey, aku tidak bermimpi kan?” Jihyo mencoba mengontrol suaranya, tapi malah terdengar bodoh dan sangat histeris sampai ubun-ubun.

“Maaf, ini siapa ya? Kenapa ada di speed dial pertama HP-ku?”

Jihyo mengernyit, memastikan lagi apa benar ia membaca nama kakaknya dari layar ponselnya. Tapi Jihyo ingat Jaehyung terbentur kepalanya. Mungkin ia menderita gegar otak dan amnesia—

“Bercanda, bodoh! Aku juga tahu kau adikku!”

Orang diseberangnya tertawa keras sampai Jihyo menangis histeris setelah sebulan rehat tidak menangisi orang.

“Kenapa kau jahat sekali, dasar kakak yang tidak berperike-kakak-an!” Jihyo masih menangis dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.

“Kau yang tidak berperikeadikan! Kakaknya koma bukannya menengok malah asyik pacaran!”

“Siapa yang pacaran? Aku sudah putus, tahu!”

“Ha? Putus? Sejak kapan?”

Jihyo akan dicap bodoh jika menceritakan alasan ia putus, untungnya ia urungkan alasannya dan mengganti objek pembicaraan.

“Pokoknya.. cepat pulang! Aku akan jadi adik yang baik mulai saat ini,” kata Jihyo pelan.

“Apa? Kok aku tidak dengar?”

“AKU AKAN JADI ADIK YANG BAIK!”

Orang di telepon tertawa kecil. “Baiklah, buatkan aku ramen dong? Dua porsi, tiga telur, pakai cabai yang pedas.”

Jihyo menyeka air matanya sembari menatap langit. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat lebar.

“Yes, Sir!”

 

.fin

So many lacking, i’m sorry T.T

Aku comeback lagi ke dunia ff setelah sekian lama hiatus (tepatnya menghindari whahahah)) dan aku udah kaku banget duh padahal yang mau ditulis apa, tapi yang ketulis apa. Jadi maafkan fic-ku yang amburegul dan tidak jelas ini T.T

Semoga ‘Signal’ dari Kak Jaehyung tersampaikan ya wehehehe… dan maaf Admin-ssi, saya terlambat sekali nyetor ficnya T.T Paketan abis disaat yang sangat tepat huhuhu…

Last, terima kasih bagi yang kebetulan baca. Maaf panjang bener kaya jembatan suramadu. Hope you enjoy it!!

Iklan

2 thoughts on “[1st Event] Authors’ Project: My Lovely Brother – Vignette

  1. tumben banget ini ada yg masangin jihyo-jaehyung jadi kakak adek :’) btw jae emang cocok bgt jadi karakter nyebelin. baca ini kayak roller coaster masa, awal2 berasa komedi (padahal udah ada disitu genrenya tragedy angst lol) eh tapi terus sedih terus naik lagi (?) (ngomong apasih) jadi ff ini mempermainkan emosiku and it’s a good thing :’) masih ada beberapa hal yg bikin bingung sih (?) tapi gapapa (?)
    great one! ♡

    Suka

    1. Gemes gitu kalo liat jae, pengen jadiin dia tokoh kakak gitu. Untunglah jihyo bermarga sama😂

      Iya ini ff lacking sekali, aku yang baca aja ga ngerti(?)😂😂😂 but thank you udah sempetin baca dan komentar yaa! ♡♡♡

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s