[TWFI Freelancer] It’s Okey [2/2]

IMG-20161214-WA0014

Title : It’s Okey

Cast : Jihyo Twice, Junhoe IKon

Length : Twoshoot

Genre : Romance, Friendship.

Ranting : T+

Author Name : DinDin

Author Contact : @fitriadin209 (Twitter)

Author Note : Maaf nyampah di TWFI. FF ini sebelumnya aku publish di wattpad pribadiku tanpa adanya pengurangan atau penambahan apapun.

~~~

“Jihyo-ah bangun. Heh! Ayo! Ya bangun. Mau sampai kapan kau sembunyi di balik selimut. Bukankah kau pagi ini ada…..”

“Eunghh…..” Jihyo mengerang dalam tidurnya. Menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. Setidaknya usaha Nayeon membangunkan Jihyo bisa disebut berhasil walaupun tidak sepenuhnya.

Dengan malasnya, Jihyo membuka mata. Mengerjapkannya beberapa kali hanya untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitar yang sudah terang akibat cahaya matahari yang sudah masuk menerangi kamarnya.

Setelah berhasil membuka matanya sepenuhnya. Langsung saja di hadapannya Nayeon yang tengah duduk ditepi ranjangnya dengan keadaan yang sudah berpakain rapi.

“oh, wae?” tanya Jihyo dengan suara serak khas bangun tidur, “kau bilang apa tadi?”

Sepertinya Jihyo belum lama tidur. Terlihat dari sekeliling matanya yang bewarna lebih gelap dari biasanya. Matanya tampak menunjukan kelelahan yang teramat sangat. Tampak menghawatirkan dimata Nayeon.

“Kau tidak tidur semalaman oh?” tanya Nayeon khawatir, “sebaiknya kau istirahat hari ini. Aku akan minta izin….”

“Tenang saja. Aku baik-baik saja tak pelu khawatir seperti itu. Hanya untuk dua mata kuliah hari ini aku kuat. Dan hari ini aku ada ujian praktik, sayang kalau ditinggalkan karena tak ada susulan. Jadi, tidak perlu khawatir seperti itu ‘oh?” potong Jihyo, ia tidak ingin membebankan siapapun dengan masalahnya dan membuat semua orang khawatir.

“Kalau aku hanya di rumah saja, membosankan. Setidaknya kalau aku kuliah aku bisa menghilangkan pikiranku tentangnya dan fokus ke materi. Dan juga akan labih menyenangkan jika berangkat kuliah. Aku akan siap-siap. Tunggulah sebentar di bawah.” imbuh Jihyo.

“Oh,” balas Nayeon.

~~~

“Kajja, kita kekantin. Aku benar-benar lapar. Sepertinya semua cacing diperutku sedang demo karena belum diberi makan sejak pagi.” ajak Nayeon pada Jihyo.

Ia langsung menyeret Jihyo keluar kelasnya. Gadis itu tidak ingin ditolak seperti tadi pagi kala Nayeon mengajak Jihyo untuk sarapan di Restaurant didepan kampus, “oh aku lupa. Tunggu sebentar, aku harus kembali, mengambil bukuku di perpustakaan, tadi aku lupa meninggalkannya disana. Setelah itu baru kita kekantin, Ne?”

“Baiklah,” jawab Jihyo.

Setelah mengambil bukunya, sekarang Nayeon dan Jihyo berada di depan kantin saat akan masuk, Jihyo tiba-tiba berhenti. Membuat Nayeon juga harus ikut berhenti. Ia mengikuti arah pandang Jihyo. Tetnyata ia melihat June dan Jinan sedang makan siang bersama.

“Ooh. Kita sebaiknya pergi. Kita cari makan di lain tempat saja, atau kau mau tetap disini?”

“Wae? Kenapa pindah? Kita disna, ‘oh?” ajak Jihyo menunjuk kursi didepan agak jauh dari tempat duduk June dan Jinan. “Itu memalukan jika aku harus menghindarinya terus.”

Sepertinya Jihyo sudah membaik. Tidak seperti tadi malam dan walau sebenarnya mereka baru berpisah beberapa beberapa jam belum bisa di bilang hari karena kejadiannya semalam.

Nayeon mengeryitkan dahinya ia bingung dengan gadis di depannya ini. Padahal kemarin ia uring-uringan karena salah bicara dan membaca situasi berakibat dirinya putus dengan June dan sekarang…..

“Wae?! Jangan menatapku seperti itu. Aku jadi takut. Kau akan menghipnotisku.” Jihyo berpura-pura menutup matany dengan sendok.

“YA!!” pekik Nayeon kencang mengundang perhatian banyak mahasiswa yang ada di kantin tak terkecuali June dan Jinan yang ikut memperhatikan tingkah mereka.

“Ya?! Kecilkan suaramu!” perintah Jihyo berbsik, “kau bisa mengundang perhatian banyak orang. Hush! diamlah.”

###

Jihyo sekarang benar-benar merasa kesal pada Nayeon. Ia harus pulang sendiri karena Nayeon ada kelas tambahan sialan.

Jihyo tambah kesal kepada Nayeon karena kelas tambahnya ada sunbae yang tampan yang juga ikut sebagai asisten dosen yang disenangi hampir selurih mahasiswi begitupun Nayeon. Bahkan sampai ada kejadian dimana sunbae itu ada, kelas tersebut sampai penuh padahal mereka tidak ada kelas disana. Benar-benar lucu dan mengherankan.

“Seberapa tampannya sih?! Itu sunbae, sampai aku di tinggal dan harus pulang sendiri.” guman Jihyo pada diri sendir.

Dimana sekarang bus sedang penuh-penuhnya karena tepat jam pulang anak sekolah. Ia harus berbaik hati berbagi tempat dengan anak-anak SMA. Jika harus menggunakan kereta. Yah?! Emanggya rumah Jihyo sejauh itu sehingga harus naik kereta.

Jika begini apa boleh buat ia harus bersabar menunggu bus lewat dan berhenti di halte yang ia duduki sekarang. Padahal biasanya kalau June tidak sibuk pasti Jihyo pulang bersamanya. Walaupun sibuk pasti June menyempatkan diri untuk menjemputnya dan meminta Jihyo untuk menunggu dulu di tempat biasa June kumpul untuk mengerjakan tugas atau tempat dimana ia latihan. Setelah semua selesai baru mereka pulang.

“AAA. Ya?! Park Jihyo apa-apaan kau ini. Jangan pikirkan dia lagi. Toh dia juga belum tentu memikirkanmu.” omelnya pada diri sendiri karena mengingat hubungannya dengan June dulu.

###

June menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

“Gadis aneh. Kau putus denganku jadi susahkan cari tumpangan. Sampai kapan kau akan seperti ini, oh?” pikir June.

June tersenyum kecil memandangi wajah Jihyo yang tengah duduk di halte. Kasihan pikirnya.

June cekikikan didalam mobil. Ia juga tak sadar jika ada dua pasang mata yang memperhatikan dirinya.

“Oppa,” ujar Dahyun menepuk pundak June, “kenapa berhenti?”

“Bukan apa-apa, ayo kita jalan.” ujar June kemudian tancap gas.

Jihwan tersenyum geli. Ia tahu June berhenti karena melihat Jihyo sedang duduk sendiri di halte bus.

“Oppa bukankah itu Jihyo eonnie?! Kenapa tak ajak eonnie pulang bersama? Bukankah…..”

“Sudahlah,” potong June.

“Ya, benar itu apa yang adikmu katakan. Kenapa kau tak mengajak Jihyo pulang bersama?!”

“YA?! Hyung.” seru June keras, “bukankah kau tahu aku dan Jihyo sudah putus.”

Ups, June keceplosan. Ia lupa belum memberitahukan kepada Daehyun bahwa ia telah putus dengan Jihyo.

“Putus?!” pekik Daehyun keras. Ia tak tahu kenapa hubungan oppanya dan Jihyo berakhir, “wae oppa, ‘wae? “

“issh, pasti Eonnie marah sama oppa sampai-sampai eonnie minta putus dari oppa. Tak mungkin oppa yang minta putus dari eonnie. Karena aku tahu perjuangan oppa untuk mendapatkan eonnie itu berat.” tuduh Daehyun dengan yakin.

“Jadi, kau menyembunyikan rahasia keci ini dari, hyungmu ini. Ooh jadi begitu.” ujar Jinan menyudutkan June, “seberapa berat Oppamu ini berusaha mendapatkan Jihyo.”

“Sebentar,” Dahyun tampak berfikir kemudian tetsenyum sendiri. Membuat Jinan bingung dan heran tak terkecuali June.

“Apa Jinan oppa tidak tahu?!” tanya Dahyun sebelum menceritakan mengenai perjuangan berat sang kakak untuk mendapatkan cinta Jihyo.

Jinan hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Baiklah,” balas Dahyun, “Kejadiannya hampir dua tahun yang lalu.”

Flashback on~

“Oppa, apa yang kau lakukan?” seru Daehyun pada June karena chenel TV yang sedang ia tonton diganti. Padahal sebelumnya adalah acara reality show kesukaannya, digabtikan dengan drama cinta.

“Oppa kenapa nonton ini?” tanya Daenhyun heran.

“Wae?” tanya June balik, “kau tak menyukainya?”

“Ne, aku tak suka sama sekali pada artis wanitanya, sok polos, padahal nyatanya dia. Ish menggelikan.” Dahyun berlagak jijik dengan drama yang ditonton June.

“Bukankah wanita seperti itu.”

“Mungkin semua wanita seperti itu, suka hal-hal yang romantis tapi tak semua wanita butuh romantis mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang itu yang lebih romantis dari semuanya.”

Daehyun yang melihat kakaknya tampak sedang memikirkan kata-kata yang baru di ucapkannya. Ia berinisiatif mencuri remot TV yang berada di genggaman June.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya June dingin kepada Daehyun.

Daehyun tersenyum kaku karena aksinya ketahuan oleh sang kakak. Apa boleh buat ia harus mengalah. Toh kalo ia masih bersih kukuh ingin perang pada akhirnya pastinya June-lah yang akan menang.

“Oppa~” bujuk Dahyun sambil beraegyo.

“Diam.” perinyah June singkat, padat dan jelas

“Op…..” belum juga selesai Daehyun memanggil June sepenuhnya, ucapannya telah dipotong.

“tonton, dan nikmatilah. Jangan banyak bisara.”

“Kalau suka udah ditonton kali dari tadi. Orang enggak suka gimana mau nikamtinnya. Aneh.” gerutu Daehyun dan June hanya diam, membiarkannya.

Dahyun kesal, benar-benar kesal kepada Oppanya. Ia juga bingung kenapa kakaknya jadi suka nonton drama apalagi genrenya percintaan. Aneh.

“Untuk apa oppa menonton ini? Bukan oppa banget ini.” ujar Daehyun pada June. Ia melihat sang kakak fokus sekali menonton adegan romantis saat sang pria menyatakan perasaannya pada sang wanita kemudian menciumnya.

‘Oh, apa oppa sedang jatuh cinta? Dan akhir-akhir ini….’ pikir Daehyun.

“Oppa,” panggil Dahyun pelan, “apa kau sedang jatuh cinta?”

“eh?!”

“apa kau sedang jatuh cinta?”

“Mungkin.” jawab June singkat.

“Lah~, jawabanmu aneh oppa. Masa mungkin? Kalau kau sedang menyukai seseorang bilang. Mungkin oppa bisa mendapatkan saran dariku. Bukan dari drama yang oppa tonton akhir-akhir ini, karena itu tidak nyata. Hanya hayalan penulis.” tawar Dahyun.

“Diamlah adik kecil. Jangan banyak bicara kau mengganggu konsentrasiku.” jawab June sambil mengusap sayang rambut adiknya.

“Aku sungguh-sungguh oppa, jika memang benar oppa sedang jatuh cinta. Aku bisa membantumu.” tawarnya lagi.

“Aku tidak butuh. Sudahlah tahu apa kau ini soal cinta, punya teman pria juga tidak. Bisa-bisanya kau mengajariku tentang cinta. Lebih baik kau belajar di kamar kemudian tidur.” tolak June.

Dahyun mendengus kesal, “malam ini jatah oppa. Besok aku yang akan mengambil alih TV itu.”

Karena kesal pada sang kakak, daehyun memilih kekamar sebelum amarahnya pecah karena kesal pada sang kakak. Sebelum menaiki tangga Dahyun menyempatkan diri berbicara, “Semogga berhasil mendapatkan Jihyo eonnie. FIGHTING.”

“Ya, dari mana kamu tahu?” teriak June dari bawah.

“Rahasia.” sahut Dahyun.

Kejadian malam itu, dimana kakak beradik berebut acara TV. Esoknya Dahyun memberi kejutan kepada sang kakak. Sebuah harddisk yang berisi drama-drama korea melo and romance.

“Apa ini?” tanya June.

“Hadiah.”

“Aku juga tau. Lalu apa isinya? Jangan bilang bom.”

“Ya?! Apa-apaan kau ini oppa?! Menuduh adikmu yang tak berdosa ini.” Dahyun mencoba memelas dan mengedipkan matanya beberapa kali.

“Jangan pernah tunjukan muka memelasmu dihadapanku.”

“Itu berisi film-film yang ingin oppa tonton.” jawab Dahyun, “jadi mulai sekarang TV di bawah jatahku dan aku yang berkuasa.”

Flashback off~

Jinan langsung terawa terbahak-bahak setelah mendengar semua cerita perjuangan June untuk menembak Jihyo melalui drama yang June tonton. Bahkan ia sampai memegang perutnya karena sakit.

“Dan parahnya oppa, setelah June oppa aku berikan film, hampir setiap malam dia selalu nonton dikamar. Eomma juga sempat bingung kenapa oppa sering nonton drama saat itu.”

“Oh, jadi seperti itu caramu belajar mengungkapkan persaanmu kepada Jihyo, melalui sebuah drama.” ledek Jinan, “pantas saja kau begitu romantis waktu menyatakan perasaanmu pada Jihyo waktu itu.”

June menanggapi dengan diam. Ia fokus menyetir mobil. Tidak perduli dengan kedua orang yang bersamanya didalam mobil yang tengah sibuk menggodanya bahkan mengejeknya.

“Butuh bantuan lagi agar hubungan kalian kembali, habisnya aku yakin sekali kalo Eonnie memutuskan oppa karena oppa sudah kembali kesikap seperti awal, akhir-akhir ini.” tawar Daehyun penuh harap.

“Tidak, trimakasih,” jawab June, “aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri.”

“Aku juga akan membantumu.” Jinan juga ikut menawarkan bantuan.

“Apa-apaan kalian ini?” June berusaha menghindar dari godaan Daehyun dan Jinan.

“Ayolah Oppa, aku yakin ini, bahkan aku akan meminta bantuan Nayeon eonnie. “

“Ne, Ne, ne?!” bujuk Daehyun.

June bingung kalau mengaku ia memang membutuhkan bantuan. Tapi ini memalukan sekali kalau ia mengakuinya langsung. Tunngulah sampai Jinan dan Daehyun berhasil membujuk June.

###

Jihyo sedang belajar di dalam perpustakaan ditamani Nayeon, mengingat ini adalah hari kelima hubungannya dengan June berakhri.

Nayeon juga tengah sibuk belajar, Jihyo tidak peduli apa yang tengah gadis itu pelajari. Karena Nayeon tengah serius membaca sampai buku itu diangkat.

“Ikut aku.” seru June pada Jihyo yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya, entah kapan datangnya.

“Kemana? Dan sejak kapan kau disini?” alih-alih menjawab Jihyo malah balik bertanya.

“Jangan banyak bertanya, ayo ikut,” paksa June.

“Tidak, Trimakasih.” jawab Jihyo.

“Ayo ikut, aku tidak ingin penolakan.” Ujar June dingin sambil menarik paksa tangan Jihyo untuk mengikutinya

“Oh ya, aku pinjam temanmu ini sampai sore, bukan tapi sampai malam.” ujar June pada Nayeon sebelum meninggalkan area perpustakaan.

“Ya?! jangan sampai larut malam.” ingat Nayeon, “walaupun aku percaya kau pasti tidak akan membawanya pergi terlalu lama dan membawa anak orang pergi Jauh.”

“Percayakan padaku, temanmu ini akan pulang dengan selamat sebelum jam 9 malam.” jawab June meyakinkan.

###

June mengajak Jihyo ke pantai. Menikmati semilir angin pantai dihiasi nyanyian dari deru ombak dan kicauan burung-burung senja yang akan kembali kesangkarnya. Langit yang mulai oren keunguan, matahari tampak separu seperti termakan laut menambah keindahan pemandangan di depan sana.

“Kenapa Oppa membawaku kesini?” tanya Jihyo karena bosan walaupun indahnya pemandangan di depan sana. Tidak cukup baginya.

“Diamlah. Nikmati saja sebelum berakhir. Jarang kita bisa menikmati sunset seindah ini.” jawab June.

Jihyo merasa kurang puas dengan jawab yang June berikan. Tapi ia hanya diam tidak ingin melanjutkan. Ia menuruti apa yang diperintahkan June.

Keadaan hening menyelimuti mereka. Sekarang langit jingga telah berganti hitam ditaburi dengan gemerlap bintang malam dan sebuah bulan sabit menambah manis.

“Jihyo-ah.” panggil June.

“Ne.”

“Ayo kita akhiri hubungan ini. Anggap saja yang kemarin belum terjadi dan ini adalah kencan terakhir kita.” ujar June kemudian diam tak mengeluarkan sepatah katapun dan keheningan terjadi lagi diantara mereka.

“aku…” ucap mereka hampir bersamaan memecah keheningan. Jihyo tersenyum miris.

“Lebih baik kau dulu.” ujar June sambil menunjuk Jihyo.

Jihyo menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan melalui mulutnya. Ia bermaksud mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan apa kata-kata yang ingin ia sampaikan.

“Oppa, apakah hubungan kita benar-benar harus berakhir?” tanya gadis itu pelan.

“Lalu maumu apa sebenarnya?”

“Aku bertanya padamu, Oppa. Aku menginginkan sebuah jawaban bukan sebuah pertanyaan balik darimu.” ujar Jihyo dengan suara beratnya.

Wajahya sudah mulai merah karena kesal. Mata yang mulai berkaca-kaca. Bahkan sudah hampir satu bulan ini mereka tak saling sapa. Tidak adakah rasa rindu dari seorang Goo Junhoe kepada Jihyo. Ingin rasanya ia menangis.

“Jika itu maumu aku harus bagaimana lagi.” jawab June santai terkesan tidak ada beban sama sekali didalam dirinya.

Bibir gadis itu mulai bergetar. Pandangannya mulai mengabur karena air mata yang sudah berada di pelupuk matanya. Sapai pada akhirnya jatuh deras. Ia merasa sakit mendengarkan apa yang diucapkan June tanpa beban itu.

June mengerutkan keningnya. Ia bingung dengan gadis didepannya ini mengapa ia tiba-tiba menangis. Apa ada kata-kata yang salah yang diucapkan olehnya? Sepertinya tidak ada, lalu mengapa ia menangis?

“Apa ada yang salah dengan ucapanku? Dan mengapa kau menangis? Bukankah benar karena waktu itu aku yang menyatakan cinta dan seharusnya juga aku yang mengakhiri ini. Bukankah seharusnya begitu?” tanya June memberanikan diri. Ia begitu penasaran mengapa Jihyo menangis.

“Apa tak adakah sedikitpun rasa cinta yang kau miliki untukku?”

“Aku sangat mencitaimu.” jawab June.

“La-lu apa semua ini. Jika Oppa benar-benar mencuntaiku, kenapa Oppa menginginginkanku pergi. Menjauh darimu.”

June bingung harus menjawab apa. Laki-laki seperti dirinya ini yang tidak tahu mengatasi jika wanita mulai berulah bingung harus menjawab apa. Ia hanya diam mendengarkan apa yang ingin dicapkan Jihyo lagi.

“Kenapa Oppa diam? Oppa bingung harus menjawab apa ‘kan? Aku tahu oppa itu tidak biasa bicara.”

“Maaf. ” kata-kata itu, kata yang amat dibenci jika keluar dari mulut seorang Goo Junhoe.

“Aku minta maaf. ” sekali lagi kata-kata itu meluncur indah dari mulut June.

“Jangan katakan itu. Aku tidak menginginkan kata maaf jika memang hubungan ini harus berakhir seperti ini.”

June hanya diam melihat gadis yang disayanginnya menangis. Mengeluarkan air mata yang mengalir semakin deras. Walaupun ia ingin sekali memeluknya, tapi egonya lebih tinggi ketimbang rasa sayangnya.

“Aku hanya mencintai dan menyayangi satu orang. Dan apa ini? Aku bahkahkan tidak bisa mempertahankannya. Berharap memilikinya juga sudah tak mungkin.” Jihyo tersenyum menertawakan dirinya sendiri.

“Apa yang harus aku lakukan Oppa?” ujarnya sambil menunjuk dirinya dengan memukul dadanya.

“Apa yang harus aku lakukan?!” suaranya semakin meninggi.

“Sekali lagi apa yang harus aku lalukan Oppa?!! Apa yang harus aku lakukan?!!! Dan kenapa kau selalu diam?! ” Jihyo berteriak ia sudah tak habis pikir. Ia tidak peduli jika perbuatannya menarik perhatian banyak orang.

Sekarang ia bakhan tertunduk lesu. Kakinya sudah tidak tahan lagi menopang berat badanya. Sampai pada akhirnya ia merosot dan menangis sejadinya. Ia tidak perdululi dengan sekelilingnya. Apa yang akan di pkirkan laki-laki yang hanya diam melihatnya.

“A-pa benar-benar harus berakhir seperti ini? A-pa benar-benar akan berakhir karena aku hanya meminta? A-ku tidak menginginkan semua ini. Aku benar-benar ti-dak menginginkan semua ini, aku hanya muak dengan sikapmu Oppa. Kau selalu acuh padaku, walaupun aku tidak bisa memungkiri terkadang kau juga perhatian.” ujar Jihyo disela-sela isak tangisnya dan ia masih tertunduk lemas di pasir.

Jihyo bangkit, berjalan tertatih-tatih meninggalkan June seorang diri. Gadis ini bahkan menangis sesegukan. Semua orang yang ada di pinggir pantai memperhatikan gadis itu. Pandangan mereka mengartikan bahwa mereka merasa heran dan bingung mengapa gadis cantik ini menangis? Bahkan untuk bejalan ia kesusahan karena sesekali hampir jatuh.

Banyak diantara mereka yang berbisik bahwa ia telah diputuskan pacarnya, atau pacarnya selingkuh dan ia melihatnya serta berbagai pendapat negatif lainnya yang bermunculan.

Jihyo berjalan sendiri menuju parkiran. Ia tidak mungkin pulang sendiri dan ia juga tak perduli dengan keberadaan June yang berjalan di belakangnya yang juga menghawatirkan kondisi Jihyo. Ia berjalan terus sambil mengusap air mata di pipinya.

Jihyo berhenti tiba-tiba. Ia begitu terkejut karena semua lampu padam diarea parkir. Membuat keadaan sekitar menjadi sedikit gelap dan menjadi lebih menakutkan karena tepat ini sepi.

“Oppa, kau dimana?” tanya Jihyo gemetar karena takut. Ia melihat bayangan pohon disekeliling begitu nenyeramkan seperti monster.

“Kau takut?” suara khas dan pelan membuat Jihyo sedikit tenang karena ia mengenal dengan jelas suara itu, “mungkin sedang ada pemadaman listrik di area sini.”

Jihyo merasa detak jantungnya tidak karuan. Ia merasa gugup karena ia merasa June begitu dekat dengannya. Bahkan aroma parfum khas milik June jelas tercium olehnya. June harus memerikaa jantungnya karena berpacu dengan cepat.

Sekarang Jihyo dijejutkan dengan tangan June yang memegang pergelangan lengannya. Membuat Jihyo semakin gugup dan salah tingkah. Mungkin wajahnya sekarang sudah memerah karena malu dan gugup. Jangan lupakan jantungnya yang berdetak makin tak karuan.

Jihyo besyukur karena semua lampu menyala kembali. June dan Jihyo megedarkan pandangannya kesekeliling. Semua sudah terlihat terang kembali. Mereka tak menyadaru posisi mereka yang terlalu dekat dengan tangan bergandengan.

“Oh, Oppa!!” ucap Jihyo terkejut dan buru-buru menjauhkan diri dan melepas lengannya dari genggaman June.

“Kau mau kemana?” cegah June dengan menarik tangan Jihyo sehingga gadis itu tersentak kaget dan kembali menghadapnya.

“Jangan menangis lagi.” ujar June penuh kelembutan sambil mengusap lembut pipi Jihyo menghilangkan air matnya.

“Jangan menangis karena ini menyakitiku. Aku memang ingin mengakhiri hubungan ini karena seharusnya aku yang melakukannya. Semua ucapanmu kemarin aku tidak menerimanya dan aku merasa kesal dengan semua kata-katamu itu. Mungkin karena aku masih lelah jadi belum bisa berfikir dengan baik. Aku takut kehilanganmu.” ujar June jujur

“Oppa?”

“Hush, diamlah,” perintah June, “aku memang bukan laki-laki yang kau harapkan. Laki-laki dewasa, romantis, perhatian dan aku malah begitu acuh pada kekasihku sendiri. Ani… bahkan kepada keluargaku dan temanku sendiri aku juga acuh.”

Jihyo bingung, tidak mengerti dengan ucapan June yang muter-muter, “untuk itu untuk kedua kalinya, aku Goo JunHoe meminta Park Jihyo menjadi kekasihku kembali. Maukan?”

“Maaf…..” jawab Jihyo ngantung karena ia langsung diam.

“Wae? Kau tidak ingin….. Aku janji akan berubah walau sulit,” aku June.

“Tapi kumohon, beri aku kesempatan,” pinta June, “aku akan berusaha untuk mulai merubah sikapku padamu, aku minta maaf saat aku menemanimu aku malah asik sendiri dan terkadang mengacuhkanmu. Aku minta maaf tidak bisa mewujudkan keinginanmu mengenai wallpaper ponselku dengan menggunakan fotomu atau bahkan foto kita berdua. Sebenarnya aku malu untuk mengakui ini bahwa aku sudah pernah mencobanya tapi aku malu saat adikku mengejekku dan kemudian aku menggantinya lagi seperti semula. Aku juga minta maaf terkadang aku lama membalas pesanmu dan lupa mengabarimu.”

“Aku takut, benar-benar takut kau akan dimiliki orang lain. Kau pergi menjauh dariku karena keegoisan diriku. Aku benar-benar minta maaf atas sikapku yang dulu. Aku benar-benar mengakui semua kesalahanku. Jadi, aku mengulanginya sekali lagi maukah kau menjadi kekasihku untuk kedua kalinya.”

Jihyo berjalan mendekati June. Sedikit berjinjit dan mengecup pipi laki-laki ini sebagai jawaban.

“Apa ini?” tanya June heran karena bukan jawaban iya atau tidak yang keluar dari bibir Jihyo melainkan sebuah kecupan singkat di pipi.

“Maaf, karena aku haya mencintaimu, maaf karena hanya kamu laki-laki yang ku inginkan. Maafkan aku oppa?” June benar-benar senang sekali seperti ia games baru yang ia inginkan. Tanpa aba-aba June langsung menarik lengan Jihyo memeluknya begitu erat.

Hangat, itulah yang dirasakan Jihyo didalam dekapan June. Ia merasa disayangi dan dilindungi. Bahkan Jihyo membenamkan wajahya pada dada June dan June semakin mempererat pelukannya. Seperti tak ingin kehilangan gadis ini walau hanya sedetik. Mengecup pucuk kepalanya dengan mesra. Ia juga tak perduli dengan Nayeon, Jinan dan Daehyun yang berada disana menyaksikan ini semua. Ia juga seharusnya berterima kasih kepada mereka semua yang telah merencanakan ini.

Fin~

Iklan

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s