Girls’ Problem (Episode 6)

shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 06: Rebond the Sister Bond

Park JihyoMyoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7

Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish | T/Teen
I own nothing but the story~
Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story!

► Watch the previous episodes! 
PROLOGUE EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3 | EPISODE 4 | EPISODE 5 | EPISODE 6


“Semuanya?” Ulang Sana sambil menoleh ke kanan, memandangi Jungyeon yang mengangguk mendengar ucapannya. Sana pun menegakkan posisi duduknya, matanya beralih sebentar ke lantai lalu kembali ke Jungyeon. Diubahnya arah duduknya menjadi agak miring supaya bisa bertatap muka dengan Jungyeon. Sikap serius Sana membuat Jungyeon mengira gadis ini siap mendiskusikan permasalahannya.

“Jungyeon, kamu tau kan aku tau hampir semua hal tentang semua orang?” Jungyeon hanya mengangguk.

“Termasuk soal kamu. Aku tau masalah kamu yang ga pernah kamu ceritain sama siapa-siapa di sini. Tapi bukan itu intinya,” lanjut Sana. Jungyeon yang masih tidak mengerti arah pembicaraan ini hanya diam dan menyimak.

“Cewek ga selalu pengen ngomongin masalahnya. Kamu sendiri gitu. Sometimes they just wanna be alone for a while to cope with their own hurricane inside.

“Jadi biarin aja. Mereka cuma butuh waktu buat nenangin diri. Aku juga. Just leave me alone for now Yoo Jungyeon.” Sana menutup tuturan panjang lebarnya, beranjak dari sofa yang nyaman itu ke kamarnya. Ia membuka pintunya pelan-pelan dan berjingkat masuk ke dalam, tidak mau membangunkan Dahyun dan Chaeyoung yang sudah tertidur pulas.


“The unnies are going crazy,” kalimat itu membuka percakapan Dahyun dengan Chaeyoung dan Tzuyu. Keduanya baru saja selesai menghadiri kelas ketika Dahyun datang menghampiri mereka, lari-lari kecil dari gedung fakultas sebelah seolah ada hal penting yang tidak bisa menunggu.

Beberapa hari ini ia memperhatikan situasi dan kondisi di rumah yang tidak sedikit pun membaik. Nayeon masih tidak terlihat batang hidungnya, Momo dan Sana masih saling diam atau melempar pandangan sinis ke satu sama lain. Padahal jelas-jelas keduanya menangis semalaman, dinilai dari mata mereka yang bengkak. Jihyo mengunci diri di kamar, membuat Mina harus tidur di ruang TV dan menyingkirkan Momo ke dapur (Well, gadis itu mungkin oke oke saja tidur di dapur). Ia sampai membuat surat sakit supaya bisa melewatkan kelas-kelasnya. Rupanya ia memilih sembunyi sambil menenangkan diri daripada datang ke kampus dan menghadapi bisikan-bisikan gosip atau pencabutan beasiswa cheerleader-nya. Lebih anehnya lagi Jungyeon tidak berbuat apa-apa, berkutat dengan tugas kuliahnya sepanjang waktu. Langit roboh pun tak akan ia pedulikan.

Dahyun tidak yakin ia bisa bertahan tinggal di rumah bersama gadis-gadis itu untuk beberapa hari lagi jika situasinya masih begini. Rasanya seperti tinggal bersama sejumlah orang asing yang benar-benar asing di pulau terpencil.  Pulang ke rumah orang tua-nya juga tidak akan menyelesaikan masalah, karena itu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Hanya saja reaksi Chaeyoung dan Tzuyu perihal niatnya itu sama sekali tidak membantu. Tak satupun cara yang masuk akal terpikirkan oleh mereka untuk mengembalikan keadaan menjadi seperti biasa.

“Emangnya kita bisa apa? Kan mereka yang punya masalah?” kata Tzuyu, membuka bungkusan roti yang dipegangnya dari tadi dan melahap satu gigitan besar hingga mulutnya penuh. Dahyun mendecakkan lidahnya, mengulurkan tangannya untuk merampas roti itu dari Tzuyu.

Stop eating!! Ini masalah seluruh tim.” Tzuyu mengerucutkan bibirnya dan merebut kembali roti isinya dari sitaan Dahyun.

What’s wrong with eating though? I’m so hungry,” keluh Tzuyu yang tidak melihat ada alasan kuat baginya untuk berhenti makan disaat perutnya melolong histeris minta diisi.

“Emang sebelumnya mereka ga pernah berantem sampe kayak gini?” Tanya Chaeyoung pada Dahyun. Sekarang tiga anggota termuda 9MILLION itu melangkah menyusuri koridor menuju ke lift.

“Ngga,” Dahyun menggelengkan kepala lalu melanjutkan, “aku emang baru setaun gabung sama mereka tapi aku yakin dulu mereka ga pernah gini.”

“Tapi masalah Momo sama Sana unnie ga nyangkut soal tim sama sekali, tau kan— IH CHOU TZUYU!” Ucapan serius Chaeyoung terpotong ketika kedua manik matanya menangkap Tzuyu sedang tersenyum lebar sambil melambai-lambai ke seseorang yang berdiri di dekat lift. Gadis Son itu sampai menurunkan tangan Tzuyu dengan paksa untuk menyelamatkannya dari rasa malu, masalahnya orang yang disapa tidak menyadari keberadaan Tzuyu.

“Apa sih,” protes Tzuyu pelan.

“Kita lagi ngobrol serius nih, fokus dong!” Balas Chaeyoung.

“Kamu senyum sama siapa?” Dahyun ikut-ikutan, memandangi sosok lelaki berkulit agak gelap dan berkemeja putih di dekat lift.

“Kim Mingyu? Ngapain dia di sini? Bukannya waktu itu- wait are you dating him now?

“Ngga. Kita kan saling kenal.” Jawab Tzuyu, lalu mengerutkan dahinya. Ia sedang berusaha mengingat sesuatu. “Dia pernah sih ngajak nge-date, katanya mau nonton film.”

“Hah nonton? Kapan?” Serbu Chaeyoung dan Dahyun bersamaan.

“I don’t know he said some times.”

“Well guess what, ‘some times’ will never happen.”

Setelah mengatakan itu Chaeyoung mengarahkan atensi teman-temannya kembali ke Kim Mingyu yang kini bersama seorang perempuan entah siapa, mungkin salah satu temannya. Mingyu merangkul gadis itu sambil bertukar canda dan tawa. Kemudian ia mengecup pipi gadis itu dan mengacak-acak rambut cokelatnya yang panjang sepinggang.

Oh no he didn’t,” kata Dahyun tidak percaya.

Yes he did,” sahut Chaeyoung.

“Dia cuma mainin kamu! Aku mau ngomong sama dia!” Secepat kilat Tzuyu menahan Dahyun yang marah dengan menarik lengannya. Tzuyu tampak tenang dan datar, sulit menerka-nerka apa yang dirasakannya saat ini.

“Aku ga terlalu suka nonton film kok,” ujar Tzuyu sambil melempar bungkus rotinya ke tempat sampah. Chaeyoung dan Dahyun memandanginya penuh tanda tanya, apa gadis ini baik-baik saja?

Ketiganya lanjut berjalan menuju lift dengan posisi berjajar layaknya ‘geng’ perempuan pada umumnya. Tzuyu bahkan tidak melirik Mingyu sedikit pun saat ia berdiri tepat di sebelahnya untuk menekan tombol panah atas.

“Hey Tzuyu,” sapa Mingyu ramah.

“Oh hai sunbae,” balas Tzuyu sambil tersenyum tipis. “Yang tadi itu pacarnya ya?”

Pertanyaan Tzuyu berhasil membuat Mingyu kehilangan kata-kata. Ia membuka mulut untuk menjawab namun gadis manis di sebelahnya itu lagi-lagi membungkamnya.

Why did you even ask me out? Why were you being so kind to me?” Nadanya begitu tenang, pertanyaan itu terdengar sangat naif ketika suara Chou Tzuyu yang menyampaikan. Namun Chaeyoung dan Dahyun yang tetap diam sambil membaca keadaan mengerti betapa menusuknya kata-kata Tzuyu.

Pintu lift akhirnya bergeser terbuka selepas lima menit yang canggung berlalu. Dahyun menarik Tzuyu masuk ke lift, Chaeyoung mengikuti setelahnya, meninggalkan Mingyu yang masih berdiri dalam diam. Teman mereka itu masih saja memasang ekspresi datar seolah tidak ada apa-apa, ia malah memulai topik tentang makan siang dan nilai tes hariannya.

Sungguh dalam hati sebenarnya Tzuyu kecewa.


Aroma kopi dan biskuit cokelat yang baru dipanggang begitu kental tercium di udara. Deru mesin kopi serta suara whipped cream disemprotkan dari kalengnya menghilangkan rasa sepi Mina. Gadis itu berdiri bersandar pada meja konter coffee shop favorit barunya itu, menunggu pesanannya dibuatkan sambil menyusuri timeline instagram-nya. Matanya terpaku pada layar ponsel, menonton pertengkaran Sana dengan teman sekelas Bae Suji yang memanggilnya… slutty cheerleader dalam komentar salah satu fotonya. Mina menghela napas melihat jumlah sumpah serapah yang digunakan Sana untuk membalas setiap komentar si perempuan yang tidak kalah kasarnya itu.

Notifikasi LINE dari Megan yang muncul tiba-tiba membuat Mina cemberut, ia mengabaikan chat itu seperti biasa dan tidak memiliki niatan untuk membalasnya sampai kapan pun. Sejauh ia bisa mengingat, ia sudah memblokir kontak Megan sejak seminggu lalu. Atau dia baru hampir melakukannya? Ah, ia sudah terlalu stress untuk berurusan dengan pembuat masalah seperti Megan dan teman-temannya. Dikuncinya layar ponselnya dan dimasukannya benda itu ke sakunya. Sekarang Mina hanya melamun memandangi pola meja konter sembari mengetukkan jari telunjuknya.

Sebuah tepukan lembut di bahu menarik Mina kembali ke coffee shop berdinding hijau mint itu. Ketika ia mengangkat kepala untuk melihat orang yang bertanggung jawab ‘membangunkannya’, ia disambut oleh sebuah wajah familiar.

Hey Myoui, it’s been a long time, isn’t it?” Kim Yugyeom menyapanya lalu beralih pada barista yang menjaga konter untuk memesan kopi. Ia memesan enam cangkir kopi; dua americano, satu frappuccino, dua café au lait, satu cappuccino dan satu cangkir cokelat panas dengan ekstra whipped cream. Yugyeom pasti sedang bersama timnya, Mina bisa menebak siapa yang minum cappuccino.

“Oh ya, hai Yugyeom. Ga nyangka ketemu disini,” Mina balas tersenyum sambil memikirkan betapa payahnya jawaban itu. Coffee shop ini sangat dekat dari lingkungan kampus, bukan hal aneh bertemu Kim Yugyeom yang kuliah di universitas yang sama.

“Sendirian?” Tanya Yugyeom, menyadari tidak ada kehadiran segerombolan cewek cheers yang berisik.

“Iya. Aku mau ngerjain tugas soal literatur Bahasa Inggris modern tentang bunuh diri- gitu pokoknya haha,” Jelas Mina canggung. Entah kenapa berbicara dengan Kim Yugyeom selalu membuatnya canggung.

Goodluck with that! Ngomong-ngomong aku denger 9MILLION bubar?”

Mina segera menggelengkan kepalanya, membantah pernyataan Yugyeom. “Ngga, bukan bubar. Cuma ada sedikit masalah, makanya aku males diem di rumah.”

Why don’t you just go back to your parents’ house?”

“I don’t want to bother them with, you know, typical girls problem that I can handle myself.

Secangkir cappuccino hangat masih dengan uap yang mengepul diletakkan oleh sang barista di atas meja konter. Wanita itu tersenyum sembari menggeser cangkir itu ke dekat Mina. Meski pesanannya sudah datang, Mina masih berdiri di tempat. Bukannya menemani Yugyeom, ia melihat laki-laki itu seperti hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu lagi, terutama setelah melihat cappuccino pesanan Mina. Selama Yugyeom masih mau bicara dengannya, maka Mina akan berdiri bersamanya di depan meja konter.

“Mau duduk bareng? Aku bareng tim sih, ga semuanya cuma yang deket aja.”

“Ngga usah, aku kan mau ngerjain tugas,” Mina menolak tawaran itu mentah-mentah lalu melanjutkan, “lagian aku ga kenal anak-anak baseball.” 

“Kamu kenal Jaebum hyung,” kata Yugyeom, lebih seperti menyatakan fakta daripada mengkonfirmasi kebenaran. Ada jeda sesaat, barista tadi kembali lagi meletakkan sebagian dari pesanan Yugyeom di atas nampan.

Ugh… we’re not exactly in a talking term right now,” ujar Mina lalu menyesap kopinya perlahan.

Oh right, he said you turned him down after a date or something.” Mina langsung tersedak begitu Yugyeom selesai bicara.

“Ngga gitu! Itu- cerita lain lagi.” Mina mengelak, menutup pembicaraan soal Jaebum dengan seulas senyum tipis. Yugyeom hanya mengangguk mengerti. Pesanannya sudah lengkap di atas nampan, Yugyeom menyelesaikan pembayaran lalu mengangkat nampan berat itu dengan kedua tangannya.

“Yaudah kalo gitu kapan-kapan mungkin kita bisa ngobrol lagi,” usul laki-laki Kim itu sebelum kembali ke meja para hyung-nya. “By the way that long hair suits you well,” lanjutnya.

Seiring Yugyeom melangkah pergi, senyum kecil di wajah Mina mengembang menjadi senyum lebar. Seharian ini tidak ada yang sadar akan penampilan barunya, Yugyeom adalah orang pertama yang mengatakan sesuatu tentang rambut panjangnya. Tidak sedikit waktu yang ia habiskan untuk mendapatkan rambut panjang itu, pujian Yugyeom cukup membuatnya senang. Ia menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga dan beranjak ke mejanya sendiri. Sambil menatap layar laptop dan tugas literaturnya, pikirannya malah melayang ke rumah. Bagaimana keadaan di sana? Lalu ia teringat Jihyo, apa gadis itu akan pernah memaafkannya?


Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada bangun siang hari saat liburan. Tapi masalahnya ini bukan liburan dan Nayeon sama sekali tidak merasa senang bangun terlalu siang. Punggungnya terasa nyeri dan kepalanya pusing. Ia menghindar dari kenyataan dengan cara tidur akhir-akhir ini. Mumpung hari ini dia tidak ada kelas untuk dihadiri, maka ia tidur seharian. Begitu bangkit dari tempat tidur, ia disambut oleh roti bakar yang sudah dingin dan Jinyoung yang sibuk dengan tugas akhirnya di meja belajar.

“Aku bikinin sarapan tadi, lupa kamunya tidur sampe siang mulu,” kata Jinyoung, matanya masih tertuju pada tumpukkan kertas di meja namun nada bicaranya menyiratkan kekesalan.

“Aku kan udah bilang-” Sebelum nada bicara Nayeon bisa lebih meninggi Jinyoung memotong.

“Iya tau, tapi ga bisa kamu terus-terusan menghindar dari masalah gini. Pulang gih terus ngomong sama temen-temen kamu.”

“Kamu ga suka aku di sini?” Tanya Nayeon, mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin. Ia mendekati meja belajar lalu memakan roti bakar dingin tadi. Tak peduli seberapa liatnya roti itu, ia sangat lapar dan sudah bosan dengan ramyeon instan yang ada di apartemen Jinyoung.

“Bukan gitu. I’m happy to spend time with you but I’m a guy too Nay. I can’t stand you sleeping beside me on my bed every day without—” Jinyoung berdeham dan memutus kalimatnya di situ sementara Nayeon memandanginya dengan mulut menganga.

Oh… maybe you’re right I should go home and fix my problems,” ujar Nayeon canggung, kemudian mengisi mulutnya dengan roti bakar dingin. Ia meletakkan gelasnya di meja, menghampiri tas ranselnya untuk memilih pakaian yang ingin ia kenakan. Telinganya masih terpasang mendengarkan Jinyoung bicara.

Appa kamu telpon lima kali tadi pagi.”

“Kenapa ga kamu angkat aja?” Sahut Nayeon santai sembari menarik sebuah summer dress putih dari dalam tasnya.

“Nay, seriously?” Kali ini Jinyoung sampai memutar kursi belajarnya menghadap ke arah Nayeon. “Bisa dibunuh aku kalo kamu ketauan ada di sini!”

Otak Nayeon langsung memainkan memori tentang pertengkaran ayahnya yang seorang jaksa dan ibunya Jinyoung yang seorang pengacara publik di sebuah pengadilan tahun lalu. Ayahnya juga pernah mengusir Jinyoung waktu laki-laki itu mengantarkan kado natal untuk Nayeon. Gadis Im itu tidak sampai menamai kisah mereka sebagai Romeo & Juliet versi modern karena itu terkesan terlalu tragis, tapi bisa dibilang ayahnya tidak terlalu mendukung hubungannya dengan Park Jinyoung. Terutama kalau ia berencana untuk ke jenjang yang lebih serius.

“Oh iya aku lupa,” gumam Nayeon, menjatuhkan dress putih tadi ke pangkuannya.

“Terus Jungyeon juga telpon. Katanya kamu suruh cepetan pulang udah ga tahan dia,” lanjut Jinyoung.

“Yaudah aku pulang sekarang tapi mandi dulu.” Selesai memilih baju, Nayeon langsung membereskan barang-barangnya, memasukkan semuanya ke dalam ransel sampai benda itu terlihat gendut.

“Aku ga bisa nganterin, gapapa kan?” Tanya Jinyoung, matanya memperhatikan gerak-gerik Nayeon sedari tadi. Sambil memperlihatkan senyum termanisnya, Nayeon mendekati Jinyoung lalu mengecup pipi laki-laki itu. Tangannya mendarat di bahu kanan Jinyoung dan menepuknya lembut.

“Gapapa, temenin aja tugas kamu biar cepet selesai.”

Jarak antara gedung apartemen dan rumah kecil milik 9MILLION yang tidak begitu jauh ditempuh Nayeon dengan taksi. Ia hanya bisa berharap uang di dompetnya masih cukup untuk membiayai kebutuhan hariannya sampai ayahnya yang pelit mengirimkan uang lebih. Seharusnya naik bus saja tadi supaya irit. Nayeon akan memikirkan itu lain hari, sekarang ia sudah tidak sabar ingin menemui gadis-gadis gila kesayangannya. Seperti biasa, minivan putih butut mereka terparkir di halaman rumah. Tampilan luar rumah itu juga tetap sama, biasa dan membosankan. Tetapi tinggal di situ tidak akan pernah terasa membosankan atau hambar. Nayeon menginjakkan kakinya di teras rumah tepat ketika terdengar sebuah suara lembut memanggil namanya dari belakang. Sesuai dugaannya, Myoui Mina berdiri di anak tangga kecil yang menuju ke teras dengan wajah terkejut. Mungkin kaget melihat Nayeon pulang ke rumah.

Nayeon mengulurkan tangannya dan meraih lengan Mina, menarik gadis itu supaya cepat-cepat naik ke teras rumah. Keduanya berpelukan seperti sudah berpisah selama ribuan tahun, lalu saling membombardir pertanyaan satu sama lain.

Unnie! Kirain ga akan pulang lagi,” ujar Mina, masih berpegangan tangan dengan Nayeon.

I’ll always come back to my girls. Wait, you just talk to me?!” Nayeon memekik antusias sambil menepuk-nepuk pipi Mina dengan kedua telapak tangannya, seakan Mina baru saja sembuh dari suatu penyakit.

Why wouldn’t I talk to—

“AAAA KECOA!”

Teriakan histeris Dahyun dari dalam rumah memotong percakapan Mina dan Nayeon, memaksa mereka masuk tiba-tiba ke dalam rumah sambil ikut-ikutan heboh soal kecoa. Rupanya Dahyun baru saja bertemu seekor kecoa bersayap di kamar mandi, kebetulan semua orang sedang berada di luar; Jihyo baru saja mau keluar dari kamarnya, Momo di dapur, Sana, Jungyeon, Chaeyoung dan Tzuyu di ruang TV. Rumah itu langsung ribut karena seekor kecoa setelah seminggu lebih sesunyi kuburan. Momo mengambil sapu sambil bertanya dengan panik tentang keberadaan si kecoa, sementara itu Sana membawa semprotan anti serangga, yang berujung dengan debat di antara mereka tentang metode paling ampuh membunuh kecoa. Tzuyu duduk diam sambil memeluk Chaeyoung, di sebelah mereka Jungyeon meloncat-loncat panik karena berpikir kecoa itu menyangkut di rambutnya. Mereka lengah dalam keributan sampai pada akhirnya kecoa itu menempel di baju Jihyo dengan bunyi tuk pelan.

Semua pasang mata tertuju pada si gadis Park dan kecoa yang menempel di bajunya. Jihyo pun menjerit-jerit sambil berusaha mengibaskan serangga bau itu dari kemejanya, memanggil-manggil nama Jungyeon di antara jeritannya. Bagai buronan, kecoa itu jatuh dari kemeja Jihyo lalu menghilang lagi entah ke mana.

Keheningan kembali menguasai seluruh rumah. Mereka saling menatap bergantian, bingung harus berbuat apa. Serangan kecoa tadi sempat meruntuhkan dinding di antara mereka. Sekarang ada dua pilihan yang tersedia bagi gadis-gadis itu, membersihkan reruntuhan dinding tadi atau membangunnya kembali. 

Senyum yang merekah di wajah Nayeon selagi gadis itu menghampiri Jihyo lalu memeluknya seolah mematenkan pilihan yang pertama. Satu persatu gadis-gadis cheers itu mendatangi Jihyo dan Nayeon, membentuk satu pelukan besar.

I miss you crazy girls so much!” Isakan Jihyo terdengar agak serak dan terlalu pelan untuk level suara sang kapten, namun cukup untuk memicu ledakan emosi teman-temannya. Ribuan kata maaf dan rindu diiringi tangisan memenuhi udara.

“Akhirnya aku ga usah tidur di dapur lagi,” kata Momo sambil membersit hidungnya yang memerah. Jihyo hanya tertawa kecil sambil menyandarkan kepala Momo ke pundaknya dan memainkan rambut gadis Hirai itu. Ia hampir melupakan akar permasalahan yang menumbuhkan pohon permusuhan di antara mereka.

“Aku harus minta maaf sama kalian. Since that incident I’ve been a total bitch,” ujar Jihyo. Banyak sekali yang ingin ia sampaikan. Bukan hanya maaf, tapi juga semua perasaan dan beban yang dulu sangat ingin ia bagikan dengan timnya. Semua hal yang ia simpan sendiri hingga menutup diri begitu rapat dari teman-temannya.

“Emang.” Sana menyetujui pernyataan Jihyo. “Tapi aku harus minta maaf juga, karena aku ga berusaha bantuin kamu waktu itu,” tambahnya sambil mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.

Sana beralih menatap Momo. Mereka menahan kontak mata beberapa saat sampai Momo membuka mulutnya, menghentikan rentetan kata maaf yang sudah hampir Sana muntahkan.

“Iya tau. Ga usah minta maaf aku juga bego. Kamu masih temen aku kok. Tau ga aku nangisin kamu waktu itu!”

You little dumb food monster!” Balas Sana, ia tersenyum meski mulai menitikkan air mata lagi. Pada saat seperti ini ia menerima ejekan apa pun dari Sana tanpa merasa tersinggung, betapa Momo merindukan perkelahian kekanak-kanakan dan konyol mereka.

Ungkapan segala perasaan yang campur aduk di benak gadis-gadis itu masih berlanjut. Chaeyoung sedang menceritakan siksaan yang ia, Dahyun dan Tzuyu rasakan selama anggota-anggota yang lebih tua berselisih. Ia agak melebih-lebihkan dengan pemilihan kata seperti “bagai tinggal di neraka” tapi Dahyun tidak keberatan sama sekali. Tzuyu memberi tambahan cerita itu dengan rasa rindunya terhadap masakan sehat Jihyo, membuat si kapten terkekeh mengetahui pernyataan itu sarat akan kebohongan putih.

“Dasar aneh kalian semua, kirain tuh kita bakal diskusi atau apa kek gitu yang lebih elegan. Masa kita baikan gara-gara kecoa?!” Jungyeon menyuarakan protesnya, menerima pukulan canda dari Momo dan tawa dari tujuh yang lain. Dalam hati ia juga menyampaikan ucapan syukur tak berujung. Tidak lupa rasa terima kasih khusus pada si serangga bau yang memilih untuk menyerang Dahyun hari ini. Kendati pun ia senang badai sudah berlalu, ia tetap menyukai jalan penyelesaian yang lebih dewasa.

“Kayaknya banyak yang pengen kita omongin. Dipikir-pikir kita udah bareng lama banget tapi ga bener-bener kenal satu sama lain,” kata Nayeon, kedua matanya yang seakan berkilau menandakan kehadiran sebuah ide cemerlang di kepalanya. “Gimana kalo kita ngobrol, saling jujur, cerita rahasia-rahasia kita, kayak semacam—”

Girls night?” Dahyun memotong usulan Nayeon. Gadis bergigi kelinci itu mengangguk semangat.

“Boleh,” timpal Jihyo setuju.

Melihat kebahagiaan merekah di wajah Park Jihyo terasa agak aneh bagi Myoui Mina. Ia belum pernah bertemu Jihyo yang ini, Jihyo yang belum tercemar oleh rasa bersalah dan cibiran publik. Jihyo yang dikenal oleh Nayeon, Jungyeon, Momo dan Sana. Entah berapa lapisan tebal yang harus Mina kelupas untuk melihat Park Jihyo yang sebenarnya. Tak sadar pandangan keduanya bertemu. Bibir Mina otomatis melengkung menjadi sebuah senyuman ketika Jihyo menawarkan ekspresi tulus yang serupa. Canggung, tapi itu adalah interaksi positif mereka yang pertama.

Can we have snacks and drinks on this girls night thing?” Siapa lagi kalau bukan Momo yang pikirannya dipenuhi makanan.

Sure, go buy a lot of snacks. Make sure you buy some bags of unhealthy potato chips for Chaeyoung,” Jawab Jihyo. Semburat kemerahan sampai memenuhi pipi gadis Son yang disebut-sebut tadi.

“Aku kangen Park Jihyo yang ini!” Seru Momo, didukung anggukan-anggukan setuju dari Jungyeon dan Nayeon.

Group hug pun akhirnya bubar. Momo memilih Sana dan Mina untuk pergi bersamanya membeli cemilan dan minuman, yang lain akan mempersiapkan ruang TV mereka untuk acara girls night kecil-kecilan itu. Entah bagaimana jadinya nanti rumah ini. Mendengar rencana Dahyun untuk mencari lampu disko dan memasang musik dance up beat, bisa dipastikan akan terjadi kekacauan.


Pergi ke supermarket cuma untuk beli cemilan, apakah ini hari keberuntungan Hirai Momo? Ia merasa seperti diberi setumpuk hadiah ulang tahun di hari biasa, ditambah lagi Jihyo menambahkan budget untuk beli cemilan. Sepertinya Park Jihyo kerasukan selama bertapa di dalam kamar.

Di antara ketiga gadis Jepang itu, hanya Mina yang bisa mengemudikan mobil. Itupun dengan surat izin yang ia dapat di Amerika dan tanpa pengalaman menyetir yang banyak pula. Mina panik setengah mati ketika membawa minivan milik timnya tanpa surat izin yang legal. Ditambah lagi Sana terus-terusan menjahilinya dengan pura-pura melihat polisi lalu lintas sedang patroli. Gelak tawa Momo dan Sana serta wajah cemberut Mina menjadi highlight perjalanan mereka siang menuju sore itu.

Sesampainya di supermarket, Momo langsung mengambil troli besar dan menggiring teman-temannya ke lorong tempat cemilan. Ia memasukkan berbagai macam cemilan ke dalam troli seperti sedang kalap. Kemudian Momo menyambar dua bungkus keripik kentang rasa keju dan original, terlihat bingung menentukan rasa yang ingin ia beli.

“Mendingan beli rasa keju apa original? Eh terus mending beli tiga bungkus apa lima? Soalnya kan aku masih harus jaga badan, entar kalo aku terlalu berat si Jungyeon ga bisa ngangkat aku pas stunt—”

“Momo!!” Potong Sana tak sabaran. “Kita kan bersembilan, kamu ga akan makan semua itu sendiri. Beli aja sepuluh sekalian!”

“Ya tapi aku yang bakal makan paling banyak.” Momo menggumam sambil memasukkan lima bungkus keripik kentang rasa keju dan lima bungkus yang rasa original ke dalam troli.

Selagi Momo masih sibuk memilih cemilan, perhatian Sana teralih pada Mina yang kelihatan tidak nyaman sejak tadi. Gadis itu seperti risih atau gugup. Kedua manik matanya kini terarah pada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari Mina, diam-diam bergeser semakin dekat pada temannya itu. Sana langsung mencium bau masalah yang datang darinya, pasalnya ia mengenal laki-laki ini dan reputasi buruknya.

“Kamu keganggu sama dia?” Tanya Sana pada Mina.

“Ngga sih, cuma dia ngeliatin terus gitu,” jawab Mina, jelas-jelas terdengar tidak nyaman.

He’s looking at you like a pervert!

“Sana—” Mina gagal menahan Sana melabrak laki-laki ini. Gadis Minatozaki itu bertukar posisi dengan Mina, seperti sedang melindunginya. Ia melipat lengannya di dada, memasang wajah khusus menghadapi orang-orang busuk, dan menyapa lelaki tadi.

“Kamu mau apa sih Goo Junhoe? Ngapain liat-liat?” Ketus Sana.

“Weh Sana! Ada di sini juga ternyata. Cuma liatin aja, temen kamu cantik. Minta nomornya sekalian juga boleh.” Cengiran Junhoe begitu lebar dari telinga ke telinga, membuat Sana mendengus kesal lalu beralih memandangi Mina.

“Kamu mau ngobrol sama dia?” Tanya Sana pada Mina. Gadis itu langsung menggeleng pelan sambil mengujar, “no, thanks,” dengan gugup.

“Denger sendiri kan? Bye bye Junhoe! Hush sana!”

Junhoe terlihat jengkel, menggumamkan kata ‘brengsek’ sambil melangkah menjauh meninggalkan lorong cemilan.

“Itu Junhoe, temen sekelas aku. Sumpah deh dia tuh bego banget. Genit ke siapa aja, senior juga dideketin. Dia pasti ngikutin kita tuh tadi,” Sana segera mengomel bahkan sebelum Mina sempat mengambil napas.

“Tapi.. emangnya harus banget kamu kayak gitu? Padahal biarin aja, dia ga ngelakuin apa-apa kok-”

He didn’t but he could!” Potong Sana, mendengar dirinya sendiri yang terkesan emosi dan melihat wajah terkejut Mina, ia menarik napas dalam lalu melanjutkan sisa kalimatnya.

“Mina, kamu tuh harus bisa ngelindungin diri sendiri dari cowok kayak Junhoe. Ya, ga dia doang sih. Ngelindungin diri aja pokoknya.”

Karena Mina hanya diam memandanginya tanpa berkedip, Sana menambahkan, “ga tau malu banget dia genitin kamu, luckily I’m here to protect you.”

Thank’s a lot Sana. You’re such a good friend,” kata Mina, mengubah warna kedua pipi Sana jadi rona merah muda.

Pemikiran seperti itu tidak akan pernah muncul di benak Mina bila kejadian tadi tidak terjadi. Image luar yang Sana tunjukkan akan membuat orang langsung menilai bahwa ia seperti ular, jenis teman yang membicarakan hal buruk tentangmu atau merebut pacarmu. Menilik kembali pada kasus Jihyo, Mina telah belajar untuk tidak berprasangka dan mencoba melihat orang sampai ke lapisan terdalam.

“Masa sih?”

Kemudian Momo merusak suasana manis itu dengan bertanya apa ia boleh mengambil  tiga ember es krim vanila dan kue tart mini.

“Banyak amat, dikira siapa yang mau bayar?” Komentar Sana.

“Aku aja yang bayarin.” Mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya, Myoui Mina berhasil membuat kedua temannya membelalak sampai bola mata mereka hampir keluar. Momo hampir keceplosan berkata, “indeed a royalty,” namun Sana segera menyikutnya keras-keras supaya ia bungkam.

That is not the kind of friendship we want from you. We don’t want your money like your old friends,” ujar Sana sambil menggelengkan kepala, berusaha menolak kebaikan Mina.

Tidak perlu lagi mempertanyakan dari mana Sana tahu soal teman-teman lamanya, kebiasaan stalking-nya memang susah diberhentikan.

“Ga apa-apa kok, kan aku yang mau bayarin. Momo, you can grab some more food!” Mina terkekeh melihat kilatan antusias yang terlihat di manik mata gadis Hirai itu. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih, mengecup pipi kanan Mina tiga kali berturut-turut, lalu berlari ke bagian produk susu. Sementara Sana mengatai Momo menjijikkan, tidak serius tentunya.

Kecupan tadi agak mengagetkan Mina, ia tidak biasa dengan kontak fisik semacam itu di antara teman. Mengingat ia bahkan tidak mau disentuh Nayeon ketika ia pertama kali datang ke rumah timnya. Namun kedekatan yang ia bangun dengan anggota timnya adalah suatu kemewahan bagi Mina, ia tidak pernah punya teman yang benar-benar terasa seperti teman sebelumnya. Jadi ia akan menganggap kecupan tadi sebagai sebuah hadiah.


Begitu Sana, Momo dan Mina datang bersama setumpuk makanan serta bir kalengan (tak lupa mengumumkan bahwa Mina mentraktir mereka semua), girls night itu secara resmi dimulai. Dahyun benar-benar memasang lampu disko dan menyalakan lagu-lagu kesukaannya, ia meloncat-loncat heboh bersama Nayeon dan Momo sembari berusaha menarik Jungyeon yang ogah-ogahan. Gadis Yoo itu terus mengeluh tentang menyelesaikan laporannya, tetapi Nayeon telah mengunci laptopnya di dalam kamar dan menyembunyikan kuncinya entah di mana. Jungyeon harus dipaksa mengesampingkan urusan kuliah untuk hari ini saja.

Chaeyoung sudah berkutat dengan keripik kentangnya sementara Tzuyu mencicipi mini tart yang dibeli Momo. Jihyo dan Mina duduk bersebelahan dengan canggung di atas sofa. Keduanya enggan ikut-ikutan menggila dengan alasan berbeda. Jihyo masih tetaplah sang kapten Park Jihyo yang berkarisma walau sekarang ia bisa ceria. Sedangkan Mina, ia merasa bahwa ia akan terlihat konyol jika menari-menari seperti Dahyun. Hingga Sana menarik lengan keduanya sambil mengejek mereka batang kaku, barulah keduanya ikut-ikutan.

Sekitar satu jam penuh kegilaan berlalu, sekarang tersisa sembilan gadis-gadis kelelahan yang berkeringat. Dahyun merangkak ke dekat speaker besarnya dengan susah payah dan mematikan lagu dari ponselnya. Di sisi lain ruangan, Chaeyoung berusaha mematikan lampu disko dengan tangan gemetaran.

Kini tarikan napas berat gadis-gadis itu adalah satu-satunya yang dapat di dengar. Selama beberapa menit, mereka hanya bergeletakan di lantai mengatur napas. Entah siapa yang berpikir bahwa menari-nari, melompat-lompat sambil meneriaki setiap bait dari lirik lagu yang diputar dengan tenaga ekstra adalah ide yang brilian.

What a great time to sit and talk now!” Seru Nayeon sembari bangkit ke posisi duduk dan memeluk bantal yang biasa ia pakai tidur. Melihat yang lain masih berbaring terengah-engah, jelas tidak ada yang setuju dengan pernyataannya.

Lima menit berikutnya berlalu, masing-masing cheerleaders itu kini telah berubah posisi menjadi duduk. Mereka membuat lingkaran di lantai, masing-masing memeluk sesuatu: bantal, boneka, atau mangkuk cemilan. Sana mengambil botol saus tomat di dapur, menjadikan benda itu spinning wheel untuk menentukan siapa yang pertama bicara. Ia memutar botol tadi, mendapat lima putaran, dan ujung atas botol pun berakhir menunjuk Tzuyu. Gadis Chou itu hampir memuntahkan kembali cheese balls-nya karena gugup.

“Eh… aku harus ngomong apa?” Tanya Tzuyu gugup.

“Apa aja, tentang perasaan kamu soal tim ini, ada yang pengen kamu omongin ga sama member yang lain,” jawab Sana, menambahkan “we’ll get to spilling secrets later when everyone is drunk,” melupakan kenyataan bahwa Tzuyu dan Chaeyoung sama sekali belum pernah minum alkohol.

Delapan pasang mata yang memandanginya semakin memompa rasa gugup Tzuyu hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Jujur saja ia tidak punya komplain apa-apa selain Jungyeon yang terlalu sering mengganggunya soal menjaga kebersihan dan kerapihan kamar. Bukannya ia takut pada Jungyeon, hanya saja komplainnya tidak terasa terlalu penting.

“Um… Aku seneng kok tinggal sama kalian semua. Apalagi ya…um…” ada jeda sesaat sebelum Tzuyu melirik Jungyeon selama sepersekian sekon lalu melanjutkan kalimatnya. “Tapi aku agak sebel kalo Jungyeon unnie udah nyuruh-nyuruh buangin sampah sama rapiin kamar padahal masih bersih kamarnya.”

Momo adalah yang pertama tertawa tertahan, berusaha agar remah-remah biskuit cokelat tidak berterbangan keluar dari mulutnya. 

“Emang freak banget si Jungyeon,” celetuk Sana yang juga sering jadi korban. Yang dibicarakan hanya menundukkan kepala, lalu meminta maaf pada Tzuyu dan yang lain karena sikap menyebalkannya menyangkut masalah kebersihan.  

Putaran selanjutnya berhenti di Jihyo. Sunyi langsung menguasai ruangan itu. Setelah pengakuan ringan dari Tzuyu, mereka langsung disodori yang berat begini. Jihyo tanpa ragu-ragu membuka tuturannya dengan kata maaf, lalu berlanjut menjelaskan apa yang dirasakannya setelah ‘kecelakaan’ di final itu.

“Aku ngerasa bersalah banget, mana abis itu diangkat jadi kapten. Aku juga harus mikirin beasiswa cheers yang hampir dicabut. So I tried to be a ‘great’ captain, but end up being an extremely haughty annoying bitch. Aku ga pernah ngobrol sama kalian lagi, aku jadi marah-marah mulu. I thought I can fix everything by myself but I make it worse. Aku sayang banget sama tim ini, aku ngerasa bertanggung jawab sendiri karena yang dulu itu salah aku.” Jihyo membersit hidungnya dan menghapus air mata yang sedikit demi sedikit mulai mengalir dengan selembar tisu. Virus tangis pun menular ke yang lain setelahnya.

“Nayeon unnie, you’re such a great sister. Jungyeon, kamu dulu selalu bantuin aku waktu ada masalah sama senior. Momo, aku jahat banget sama kamu, padahal dulu kita deket. Maafin aku. Sana—”

“DIEM GA!” Sela Sana, ia tidak mau menangis. Ini bukan acara perpisahan, mengapa Jihyo begitu dramatis?

“Sana, thank you so much. You’re such a good friend.” Jihyo tetap melanjutkan. “Mina, aku ga benci kamu kok. Aku sendiri yang ngasih kamu first impression yang jelek, I’m sorry. Dahyun! I love you so much fluff ball. Chaeyoung, maaf aku sampe bikin kamu sakit waktu itu. Tzuyu, you’re such a cutie, maaf aku galakin kamu terus pas latihan.”

Sembilan cheerleaders itu lagi-lagi terisak dan berpelukan setelah pengakuan Jihyo yang menghantam seperti sebuah tamparan keras. She had reasons after all. 

Pengakuan-pengakuan berikutnya tergolong ringan dan mengundang tawa di antara mereka. Hanya Sana dan Momo yang agak sedikit serius menyangkut permasalahan mereka waktu itu. Tadinya Momo ingin mengatakan sesuatu pada Jihyo juga, soal rasa sakit hatinya selama Jihyo selalu menolak bantuannya dan mendorongnya menjauh. Pada akhirnya ia memilih meninggalkan semua itu di belakang. Semuanya sudah berlalu, lagi pula ia sudah mendapatkan permintaan maaf tulus dari Jihyo sendiri. Itu sudah cukup baginya.

Mina adalah satu-satunya yang memilih untuk tidak membuat pengakuan, ia menggantinya dengan meminum bir kalengan yang dituang ke gelas dalam sekali teguk. Menetapkan peraturan baru bagi yang tidak mau mengatakan apa-apa.

Sesi berikutnya adalah membongkar rahasia masing-masing. Setiap orang punya rahasia. Ada rahasia yang masih bisa diceritakan, ada pula yang terlalu gelap bahkan untuk disimpan sendiri. Kini gadis-gadis itu berpikir rahasia mana yang akan mereka tumpahkan. Pada sesi ini, Sana mendapat giliran pertama.

Sana menghela napas dan mengangkat bahunya sambil melihat ke arah teman-temannya. “Oke, kalian mungkin sering liat aku pake baju atau sepatu mahal sama aksesoris lainnya. But actually, my father’s company went bankrupt last year. Semua barang yang aku punya tahun ini itu hadiah kalo ngga nyicil.”

Melihat reaksi tercengang teman-temannya, Sana cepat-cepat bicara lagi. “Ada rahasia yang lebih ringan nih, daripada galau lagi kan? Tau kan kalian aku sering diajak nge-date ga jelas? Sebenernya aku sempet pacaran beneran sama beberapa cowok dari tim baseball tapi aku ga pernah bilang.”

Empat orang di ruangan itu langsung bereaksi ekstrim, antara tersedak minuman dan cemilan, atau perubahan ekspresi yang terlalu kentara.

YOU’VE DATED JINYOUNG?” Nayeon langsung histeris.

“Ngga lah!! Dia kan dari dulu udah pacar unnie. Lagian dia terlalu serius ah,” bantah Sana.

“Sama Mark pernah 2 minggu doang, aku bosen. Sama Youngjae 5 bulan, yang terlama tuh, he’s too sweet. Sama Bambam cuma seminggu, kita kayak temen main bukan pacaran. Siapa lagi ya?”

GURL WHAT? BOSEN? PARAH WOY!” Momo mengosongkan kaleng birnya dan melemparkan benda itu ke kepala Sana. Ia terus menuduh Sana bohong soal pacaran dengan Mark, sedangkan yang dituduh menjulurkan lidahnya mengejek dan menyuruh Momo bertanya sendiri pada pujaan hatinya itu.

I don’t know about Jackson,” lanjut Sana, terlihat agak muram. Ia memutuskan bagiannya cukup sampai di situ saja dan memutar kembali botolnya. Padahal ada dua orang lagi yang masih penasaran.

.

Pukul sebelas malam gadis-gadis itu sudah terlelap bersama-sama di lantai, ada yang memang kebanyakan minum bir kalengan dan ada yang memang sudah mengantuk (seperti Tzuyu). Sungguh girls night bukan ide yang buruk, sisa-sisa kekacauan yang harus dibersihkan esok hari inilah yang buruk.

Igauan Momo tentang ayam goreng yang bisa terbang membangunkan Mina dari tidurnya. Tidurnya memang tidak begitu lelap, tetapi Momo yang tepat berada di sebelahnya mengigau langsung ke telinga kirinya; menambahkan alasan baginya untuk tidak melanjutkan tidur. Kedua mata Mina menatap kosong ke langit-langit rumah, ia tidak sedang memikirkan apa-apa secara serius. Mina pun bangkit ke posisi duduk, ia berniat mencari ponselnya yang tersembunyi entah di mana ketika Jihyo juga terbangun dan mata mereka bertemu.

“Hai,” sapa Jihyo canggung. Mina membalas sapaan itu lalu keduanya kembali diam membisu.

Can we talk?” Dengan sedikit ragu, Mina menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Jihyo.

Sang kapten mengajaknya ke teras rumah, bersama dua minuman kaleng yang tersisa dan sebungkus biskuit choco chips. Tidak ada pembicaraan apapun selama lima menit penuh. Suara minuman kaleng yang baru dibuka dan helaan napas dua perempuan itu menjadi pengisi sepi. Masing-masing sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu lebih dulu, dua-duanya saling menunggu dan tak ada satu pun yang mau memotong benang kecanggungan itu. Jihyo akhirnya buka suara, mengawali konversasi mereka malam itu.

“Aku iri sama kamu. You’re like an actual princess I could never be,” ungkap Jihyo. “Keluarga aku orang biasa-biasa, dan mereka ga begitu peduli sama aku. Aku bisa kuliah juga karena beasiswa cheers. You see that’s why I’m obsessed with this cheerleading thing. Aku ga benci kamu, serius. Aku ga peduli kamu deketin mantan aku atau dia deketin kamu, aku ga ngerasa kalah karena kamu lebih cantik dari aku terus jadi jahat ke kamu kayak di film-film klise gitu haha. Maybe I’m jealous about the ex thing, just a little tho, I really don’t care about Jaebum, I guess. Ga tau deh, ya gitu mungkin aku iri sama kamu, itu aja.”

“Ga ada yang bisa kamu iriin dari aku, haha,” tawa Mina, menyesap minumannya sekali lalu melanjutkan. “Harusnya aku yang iri. Aku lemah gini ga kuat kayak kamu, ngelawan bully ga bisa, ngejaga diri sendiri ga bisa. Iya emang bisa dibilang aku kaya, orang tua aku sayang sama aku, but I never had any friends. You have amazing ones. Aku mau minta maaf juga, aku berprasangka buruk terus sama kamu.”

“Ga apa-apa, aku sendiri yang ga ramah sama kamu dari awal, so it’s bound to happen. I’m sorry too, for slapping you that time, and for other things.

Gunung es di antara kedua gadis itu kini mencair sedikit demi sedikit. Mina mencoba bercanda sedikit dengan mengatakan bahwa ia pantas mendapat tamparan itu, malah membuat mulut Jihyo membulat membentuk huruf o besar. Kemudian entah bagaimana, mereka kembali membahas seorang laki-laki yang termasuk subjek mengganjal di antara mereka.

“Mina, kamu suka sama dia?” Jihyo bahkan tidak perlu menyebutkan nama lelaki yang ia maksud, Mina sudah mengerti. Bagi Mina, Pertanyaan itu lebih seperti usaha Jihyo membuktikan bahwa dirinya memang sudah tidak peduli lagi. Mata gadis Park itu jelas-jelas menyiratkan kebohongan, Mina kan juga seorang perempuan.

“Hmm sedikit, awalnya. Tapi kamu harus tau,” Mina berhenti sebentar.

He still loves you.

To be continued to episode 7: Demons from Yesterday


Girls’ Corner #04: The Fake Japanese
(featuring Japan line) 

Tidak biasanya, hari ini Momo mendengar Sana dan Mina mengobrol di ruang TV dalam bahasa Jepang. Selama Momo mengenal Sana, gadis itu jarang sekali menggunakan bahasa ibunya. Kalau Mina, ia masih sering bercakap-cakap di telepon dengan ibunya memakai bahasa Jepang. Momo sendiri? Well, tidak perlu dibahas. Karena penasaran, ia menghampiri dua temannya itu. Menjatuhkan dirinya di sofa tepat di sebelah Sana, gadis Hirai itu langsung bertanya to the point.

“Lagi ngomongin apa sih? Seru banget kayaknya,”

“Jangan bilang kamu ga ngerti?!” Pekik Sana.

“Bukan ga ngerti kan cuma nanya!!”

Mina yang heran mendengar pertanyaan Sana berkomentar, “but she’s Japanese too, why would you say that?

She’s a fake one,” ejek Sana, menerima pukulan keras di lengannya dari Momo yang tersinggung. 


[A/N] Hi everyone! Girls Problem is going to end soon (only 4 chapters left) I’m so excited but sad at the same time. I love writing this so much. Episode seterusnya bakal agak lama updatenya karena aku harus kerja ;-; (padahal ini aja udah lewat jadwal update lol) I’m so sorry. I will try to update in 2 weeks if i can (or 3 weeks). Ini unedited jadi pasti banyak error nanti kalo sempet aku edit huhu. Yang bagian secrets sama confess itu tadinya mau aku sebut semua, tapi kan mereka ada 9 dan ini chapter panjangnya udah 6000+ words T_T nanti kepanjangan yang baca capek. Tapi aku merasa itu lumayan penting, jadi kalo mau baca secrets + confessions yang lainnya bisa diliat di GIRLS FILES . Passwordnya judul episode ini tanpa spasi dan huruf kecil semua ‘0’b

Sedikit spoiler, scene yang Mina ngomongin Jaebum di cafe sama yang terakhir pas sama Jihyo itu dua2nya refer to the short date they had on episode 4 dan nanti bakal diceritain di episode 7 so don’t be confused :3

Oh iya, do tell me if you want a certain member to get a solo screen time (?) in the story or a solo Girls Corner segment :3 kayaknya udah itu aja. Sebenernya di eps 5 itu ada yg komentar tapi ga dimoderasi dan komennya bikin aku seneng bgt T_T karena belum bisa dibales langsung jadi aku bilang disini aja. Makasih komentarnya!! You guys are so sweet, those comments make me want to write better. okay then enjoy this chapter, see you soon!

BONUS: Our main characters 97Line ♥

Love, Sho♡  

Iklan

4 thoughts on “Girls’ Problem (Episode 6)

  1. Keren bangeeetttttttt😆😆😆

    Tetap lanjut ceritanya yah author😆😆😆
    Dan maafkan daku yg jd silent reader ini😅Tapi sumpah dari sekian banyak cerita Twice yang kubaca ini yang paling keren loh dua jempol deh buat kamu author😁(sok kenal deh😅)

    Btw,keep writing😊

    Disukai oleh 1 orang

  2. Update!!! Yaampun aku seneng banget… :’

    Suka dh sama cara bwt merekanya baikan lagi ((pakai kecoa dong! Siapa yg nyangka coba perang dinginnya mereka bisa selesai gitu aja cma gara2 kecoa terbang?? /*asli gk kepikiran!)) X’D

    —dan tebak apa?
    Yup! Aku nangis waktu adegan baikan itu :’ kya ngerasain sendiri gmna bebannya mereka tuh gmna.

    Terus, aku suka gmna Author-nim bagi2 dialog antara mereka. Pas.

    Ngomong2, aku sedikit penasaran loh sm ‘pacarnya’ Mingyu itu. ‘-‘

    Satu lagi, mau part Chaeyoung di Girls Corner boleh?

    Semangat Terus, ya!

    (p.s: Makasih udh balas komen aku di ch lalu /*bow.) ^^

    ((p.s.s: Beneran dh, komentar aku tuh masuk gk sih??)) :”

    (p.s.s.s: Ada yg mau aku komentarin lagi, tapi lupa) :”’

    Disukai oleh 1 orang

    1. hi again misha! makasih udah mau nungguin updatenya yang lama banget huhu
      aku mau masukin elemen komedi makanya pake kecoa baikannya biar ga terlalu serius wkwk (it still has comedy genre so… )
      masa sih sengena itu? :’) aku ga nyangka
      pacarnya mingyu itu nanti bakal diceritain di episode 8 jadi masih lama hoho
      okay noted requestnya!
      masuk kok komennya tapi belum diacc aku kira harus sama admin ternyata diacc sendiri bisa :’) wkwk
      thanks for your lovely comment ♡

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s