[TWFI Freelance] It’s Okey [1/2]

IMG-20161214-WA0014

Title : It’s Okey

Cast : Jihyo Twice, Junhoe IKon

Length : Twoshoot

Genre : Romance, Friendship.

Ranting : T+

Author Name : DinDin

Author Contact : @fitriadin209 (Twitter)

Author Note : Maaf nyampah di TWFI. FF ini sebelumnya aku publish di wattpad pribadiku tanpa adanya pengurangan atau penambahan apapun.

~~~

 

“Hidup tak semudah yang kau bayangkan Goo Junhoe.” ucap Jinan kepada June. Ia bingung apa yang sebenarnya di pikirkan laki-laki ini yang tidak mau mendengar nasehatnya.

Sebagai seorang teman dan hyung yang baik. Ia tidak mungkin membiarkan June terjerumus kedalam masalah yang ia buat sendiri. Masalah yang sebenarnya dapat di selesaikan dengan baik-baik. Tanpa harus saling menyakiti satu sama lain.

“Lalu apa yang harus aku lakukan ‘oh? Toh, semua ini sudah terjadi. Aku tidak bisa menghindarinya dan juga, ini yang dia inginkan. Bukan a-.”

“Tapi….” potong Jinan

June tak mau kalah, “Tapi apa?! Aku harus bersujud didepannya! Memohon kepadanya untuk tidak memutuskanku! Memintanya untuk kembali?! Apa itu yang harus ku lakukan?!”

June berhenti sejenak hanya untuk sekedar mengambil nafas. Dan melanjutkan kembali apa yang ingin ia ucapkan, “Dan hyung, tak usah ikut campur dengan urusan pribadiku. Hyung pun belum menyelesaikan masalah hyung dengan Joy sunbanim.”

Oh god, Jinan berfikikir. Ada apa dengan laki-laki ini? Ia tahu kalau sifat June yang keras kepala. Apapun keputusannya itu tidak bisa dibantah. Jika ia sudah memilih A maka akan tetap A. Tidak peka situasi.

“Gadis malang.” guman Jinan pelan. Ia benar-benar merasa kasihan pada gadis itu. Bagaiman ia bisa kuat menghadapi pria yang egois dan sedingin ini.

“Tapi kau harus ingat ini. Kau memutuskan ini dalam keadaan lelah, emosi, dan bimbang. Penyesalan selalu datang diakhir. Namun, jika kau ingin kembali membuat lembaran baru dan berusaha lebih baik. Hyungmu ini siap membantu.” nasihat Jinan final.

June tanpak memikirkan ucapan Jinan. Bahkan ia tidak menyadari, Jinan sudah keluar dari kamarnya. Sepertinya apa yang di ucapkan Jinan itu benar. Ia memutuskan ini saat ia baru kembali dari tour dan dalam keadaan lelah sekali. Karena kelelahan, ia menjadi emosi dan memituskan suatu hal tanpa dipikir akibatnya.

~~~

“Berhentilah menangis. Jika kau menangis seperti ini apa dia akan kembali? Tidak ‘kan?” usaha Nayeon untuk membujuk Jihyo agaknya belum membuahkan hasil.

Gadis itu masih menangis di dalam kamarnya sambil memeluk boneka beruang besar, berwarna putih bersih. Sedangkan Nayeon duduk di pinggir ranjang sambil berusaha menenangkan Jihyo. Mengusap punggung gadis itu yang naik turun.

“A-pa keputusanku salah ? Apa aku terlalu ge-gabah memutuskan in-ni. Apa yang harus ku-lakukan ?” tanya Jihyo terbata karena ia masih sesegukan, ia mungkin sedang frustasi dengan keadaanya yang dialaminya. Tepatnya, ia menyesali perbuatannya.

“Tidak ada yang salah disini. Hanya…..” ujar Nayeon menggantungkan ucapannya. Memberitahukannya gadis itu mungkin akan tersinggung dengan ucapanya. Jika tidak, ia takut berdosa karena tidak mampu menjadi teman yang baik untuknya.

Jihyo sudah mulai berhenti sesegukan, ia menghapus sisa-sisa air matanya. Gadis itu membebarkan posisi duduknya, menunggu kelanjutan apa yang akan dikatakan Nayeon.

Malas menunggu Jihyo lama ia bertanya lagi, gadis ini penasaran. Sangat penasaran sekali apa yang akan di ucapkan sahabatnya karena tak kunjung melanjutkan ucapanya dan menggantungnya diawal-awal, “wae ? Kenapa berhenti.”

“Kalian itu pasangan yang aneh. Bagaimana bisa, Goo Junhoe yang keras kepala, cuek, dan tidak memiliki sisi romantis sedikitpun bisa pacaran dengan temanku yang satu ini. Cengeng, bodoh, perasa, dan manja. Oh god, tuhan benar-benar memiliki banyak rahasia.”

Jihyo menghapus air matanya yang masih tersisa. Ia sedikit tidak suka mendengar ucapan Nayeon yang menjelek-jelekan June. Sebenarnya apa yang dikatakan Nayeon memang benar adanya, bahwa June itu tidak peka, keras kepala atau bahkan kepalanya lebih keras dari batu, sisi perhatian kepada pasangannya, oh….. sisi romantispun tak dimilikinya apa lagi hal itu. Mungkin kata cinta sebats di mulut saja.

“Dan satu lagi itu, hubungan kalian sepertinya baik-baik saja selama ini. Tidak ada masalah sedikitpun diantara kalian. Dan yang membuatku penasaran mengapa hubungan kalian bisa berakhir. Terutama dari dirimu yang memutuskannya. Bukan dia ataupun ada pihak ketiga. Setahuku kau sangat menyayanginya,” ujar Nayeon santai.

Jihyo sudah tidak menangis lagi, “Sebenarnya aku tidak bermaksud memutuskannya, disebut putus juga tidak sih. Tapi sayang apa yang aku tangkap dari sikapnya. Sebenarnya, aku hanya ingin mengujinya apakah dia mencintaiku atau tidak. Aku bingung dengan sikapnya, kami sudah berpacaran hampir 2 tahun dan 6 bulan terakhir ini. Dia itu seperti tidak menganggapku ada. Aku butuh penjelasan, butuh kepastian yang jelas. Tidak seperti ini. Aku hanya bisa berhubungan dengan benda kotak ini. Dan ini seperti pacar penggantiku.” sambil menggoyangkan phonselnya didepan Nayeon. Menunjukan bagaimana berharganya ponsel itu baginya sekaligus yang membuatnya kesal juga.

“Maksudmu yang hanya mengujinya itu?” tanya Nayeon begitu penasaran, terbukti dengan ekspresi wajahnya begitu tidak menguatkan dimata Jihyo. Ia geli melihat ekspresi Nayeon seperti itu. Kalau tertawa gadis dengan gigi kelincinya itu pasti berbalik marah dengannya.

“Begini.”

Flashback~

Hari minggu yang cerah. Sangat cocok untuk orang yang memiliki kekasih untuk pergi berkencan. Bersenang-senang walau hanya sekedar berkeliling taman atau bersepeda disekitar Sungai Han dengan menaiki sepeda couple. Menikmati suara gemricik dan jernihnya air Sungai Han. Cukup romantis dan tidak memerlukan modal banyak.

Seperti halnya apa yang saat ini tengah dilakukan oleh June dan Jihyo. Walau tidak seromantis yang dibayangkan atau diinginkan wanita biasanya. Tapi ini bisa membuat Jihyo senang. Jalan berdua dengan pasangan sendiri tanpa pengganggu dengan bergandengan tangan baginya sudah sangat romantis yang ia dapatkan dari laki-laki cuek seperti June.

Karena tidak setiap waktu akhir pekan, pria yang bersetatus kekasihnya ini dapat diajak pergi kencan. Pasti ada saja alasan yang dimilikinya. Seperti sibuk urusan kuliah, banyak tugas, jadwal latihan padat, dan ini itu masih banyak lagi. Apa lagi sekarang ia baru kembali pulang tour dari Jepang. Kebetulan hari ini June bisa, ia memanfaatkan liburnya ini untuk kencan.

“Mengapa kau terus tersenyum? Apa ada yang aneh? Atau bahkan ada hal lucu yang membuatmu tertarik? Sampai kau tersenyum terus. Apa kau tidak merasa lelah tersenyum seperti itu? Bahkan aku yang melihatnya bosan. Tapi……. tidak juga ingin senyum itu hilang.” tanya June yang meresa aneh dengan sikap Jihyo dan sedikit bercanda.

Jihyo tidak seperti biasanya banyak tersenyum walaupun tidak bisa dipungkiri memang Jihyo itu banyak tersenyum. Tetapi ada yang aneh dengan senyum ini, seperti ada yang disembunyikan. Senyum yang menggambarkan bahagia tetapi juga sedih dari pancaran matanya.

“wae? ” bukannya menjawab Jihyo malah bertanya balik.

“Hanya saja….. Tidak jadi. Bukan apa-apa. Hanya aneh…. Jangan dipikirkan, lupakan saja… Bukan hal penting… Sepertinya.”

“Apa ada yang aneh denganku?” Jihyo bertanya karena bingung dengan maksud perkataan June yang putus-putus. Ia tidak sanggup memahaminya.

“Sudahlah dengan otak kecilmu ini tak usah dipikirkan apa yang aku ucapkan tadi. Itu akan membebanimu,” gurau June sambil mengusap lembut rambut Jihyo.

“Tudak adil.” Jihyo mengerucutkan bibirnya. Kesal.

Mereka menghabiskan hari minggu yang cerah ini dengan berkeliling dengan sepeda, mengunjungi taman bermain terbesar, Lotte World dan menjelajah hampir seluruh wahana yang disediakan. Menikmatinya dengan perasaan senang.

Sekarang mereka sedang di Restaurant untuk makan malam. Setelah lelah bermain hal yang paling dan harus dilakukan adalah makan. Mengisi tenaga untik babak selanjutnya.

“Makanlah yang banyak Oppa? Kau terlihat lebih kurus dari dua bulan yang lalu. Kau terlihat lelah sekali karena tour mu dan tugasmu yang menumpuk,  kan? Jadi makanlah yang banyak. Dan nanti istirahatlah yang cukup juga.” nasehatnya pada June, seperti seorang ibu kepada anaknya.

“Kenapa kau begitu perhatian. Dan sikapmu dari tadi mengisaratkan seperti kita tidak akan pernah bertemu lagi kelak. Kau seperti memberiku pesan terakhir saja. Wae?? Atau kau memang….??” tuding June yang merasa aneh dengan sikap Jihyo karena sepertinya gadisnya ini menyimpan sebuah rahasia. Seperti ingin mengucapkan sesuatu tetapi gadis itu terlalu berbelit-belit.

“Oppa?” panggil Jihyo menginginkan perhatiannnya. “Apa kau lelah dengan hubungan ini? Apakah ini ada? Aku seperti tak melihat dan merasakannya lagi walaupun itu ada. Aku seperti orang bodoh yang selalu menunggu telepon darimu. Aku selalu mengirimu banyak pesan dan pada akhirnya hanya di-read tanpa ada satu balasan. Setidaknya kalau tidak ingin menulis kirimlah caption. Apa kau lelah? Kupikir sepertinya, YA. Kau begitu lelah dan sibuk dengan urusanmu itu. Aku yakin kamu mengerti dengan ucapanku ini. Jika tidak, aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana lagi. Karena aku benar-benar merasa lelah dengan semua ini.” ujar Jihyo serius pada June, dan keadaan hening sesaat.

“Oppa ayo kita akhiri hubungan ini.” celetuk Jihyo tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka. Perkataan gadis itu membuat June syock, syock berat.

June dapat mendengar itu dengan jelas. Apa ini? PUTUS. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba sekali. Bahkan June masih sulit untuk mencerna semua ucapan Jihyo sebelum kata-kata ‘keramat’ itu keluar dari mulut gadisnya.

“Ada apa ini? Kenapa kau menginginkan kita putus?”

“Aku lelah hanya berpacaran dengan ponselku, aku lelah hanya menunggu dan menantimu. Aku lelah untuk sikapmu dan aku lelah untuk semuanya.” jawab Jihyo serius.

June merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan Jihyo. Terkesan membingungkan untuknya. Atau karena ia sendiri belum siap untuk putus? Ya Tuhan. Ada apa dengan gadis ini. Makanan di depan sudah tidak enak lagi untuk di sintuh atau bahkan dimakannya.

“Kau sudah memikirkannya baik-baik?” tanya June.

“Memang jawaban apa yang kau inginkan sebagai jawaban dariku. Begini saja….. Pada intinya ayo kita putus.” ajak Jihyo.

OK! It’s your request. Aku tidak perduli lagi.”

“Oppa menerima begitu saja?” tanya Jihyo sedikit gugup.

“Bukankah ini keinginanmu. Kenapa kau bertanya lagi? Atau kau ragu?”

Cuek mode on.

“wah yang benar aja. Ia menerima dengan gampangnya. Saat tadi begitu penasaran. Semoga ini bukan langkah buruk yang kau pilih Jihyo.” batin Jihyo.

“Sudahlah. Setidaknya aku sudah memberi tahumu. Apa pedulimu bukan urusanku.”

Sebelum benar-benar Jihyo meninggalkan tempat duduknya ia di kejutkan oleh ucapan June yang dingin dan menyakitkan. “Terima kasih untuk 2 tahun ini yang berkesan untukku… M.U.N.G.K.I.N.”

“Mungkin?” batin Jihyo mempertanyakan. Apa dua tahun ini tidak ada artinya?

“Me Too.” seulas senyum indah mengukit diwajah Jihyo sebelum benar-benar pergi meninggalkan June sendiri di Restaurant itu.

Flasback end~

“Benarkah dia mengucapkan itu. Wah daebak~ Goo JunHoe kau sadis.” cecar Nayeon setelah mendengarkan penjelasan Jihyo bagaimana putusnya.

“Tapi dimana letak mengujimu?” tanya Nayeon polos.

Jihyo tersenyum kesal. Nayeon itu tidal tahu atau tidak peka?

“Ya. Kau itu….” kesal Jihyo sambil menganyunkan tangannya akan memukul.

“Aku mengujinya dengan memintanya putus, aku penasaran dengan tanggapannya. Nah saat aku mulai berani mengucapkan itu. Dan tanggapanya seperti tak rela. Awalnya aku suka dia yang bertanya ‘ada apa ini kenapa ingin putus?’ tapi saat aku mulai lagi mengatakan ingin mengakhiri hubungan ini sepertinya dia menyerah. Apa lagi dia membiarkanku pergi begitu saja. Tanpa berniat mencegahku dengan memegang tangan, atau bahkan dia mengeluarkan suaranya saja mencegahku untuk memutuskannya. Pastinya aku akan amat dengan senang hati berbalik menuruti permintaannya dengan syarat jangan acuhkan aku lagi dan jangan buat aku cemburu dengan kesibukanmu.”

“Nyatanya?”

“Tidak ada hal yang romantis sedikitpun yang keluar darinya,” jawab Jihyo lemas, “sudahlah.”

Jihyo memilih berbaring sambil memeluk kembali boneka beruang yang tadi ia acuhkan ketika mulai bercerita.

“Lalu apa yang akan kau lakukan dengannya kedepan? Apa kau tak merasa canggung saat bertemu dengannya nanti? Saat kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya.”

“Eantahlah itu, kupikirkan nanti saja. Aku benar-benar lelah.” pada akhirnya Jihyo meneyerah. Ia memilih untuk tidur daripada harus membahas masalah hubungannya dengan June yang sudah berakhir.

~~~

Sinar matahari menyapa bumi yang basah. Memberi kehangatan pada dunia sehabis diguyur hujan semalaman. Menemani keceriaan dan kebahagiaan orang-orang yang akan melakukan aktifitasnya dipagi ini.

“Jihyo-ah bangun. Heh! Ayo! Ya bangun. Mau sampai kapan kau sembunyi di balik selimut. Bukankah kau pagi ini ada…..”

 

TBC…

Iklan

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s