[1st Event] Authors’ Project: Bizarre — Ficlet

Bizarre true blue copy 2.png

Deliadeaa presents

Starring: TWICE Dahyun and 17 Wonwoo

Genre: Romance│ Sad │ Hurt

Length: Ficlet

Rating: Teen

[1st Event] Author’s Project: Signal

— “Apalagi yang bisa aku lakukan untuk mengungkapkan perasaanku?” (TWICE; Signal) —

“Akh—“

Dahyun tersandung lagi. Siku yang kemarin masih luka sekarang mengeluarkan cairan merah lagi. Lututnya memar lagi. Tapi di antara lagi-lagi tadi, gadis itu paling menyukai pria yang menatap dirinya aneh sambil mengerutkan dahi. Entah bodoh atau apa, hanya ini satu-satunya cara yang bisa Dahyun lakukan untuk mencuri perhatiannya.

Semua tu semata-mata untuk mengalihkan atensinya dari pebincangan sesama teman laki-laki seangkatan yang terkenal akan visual mereka.

“Ya! Dahyun! Apa kau baik-baik saja? Lututmu berdarah!” Jungyeon berteriak dari ujung koridor, ia lari menghampiri Dahyn, membantunya bangun. Ketika menoleh, ternyata orang itu sudah pergi.

“Apa kau gila! Kenapa harus menyakiti diri sendiri untuk memancing perhatian sunbae maho itu!?” Dahyun menutup telinga. Jujur,suara Jungyeon selalu naik dua oktaf tiap kali mengomel.

“Jungyeon-ah, kau tahu aku menyukainya.

“Tapi bukan begini caranya, bodoh!”

“Lalu aku harus apa? Aku tidak pernah jatuh cinta, aku tidak pernah meminta. Aku tidak peduli jika harus terluka seribu kal asal dia mau melirikku akh!” Kedua kalinya Dahyun meringis karena sentilan Jungyeon membuat jidatnya berdenyut nyeri.

“Idiot! Dari sekian cara untuk menarik perhatian lelaki kau malah meilih cara paling tolol yang tidak masuk akal. Baru kali ini aku melihat ada gadis yang melakukan hal seperti itu. Masih ada cara-cara normal lain seperti coklat, bekal, atau kue untu memikat laki-laki bodoh itu ‘kan?”

Dahyun hanya menghela napas, lalu menatap langit biru yang penuh dengan gumpalan berwarna kelabu. Sepertinya hari ini akan turun hujan padahal masih bulan Juli.

“Aku sudah mencoba semuanya. Aku selalu menyelipkan surat di benda-benda yang kuberikan. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun balasan sampai sekarang. Apalagi yang bisa aku lakukan untuk mengungkapkan perasaanu kepadanya?”

“Dengan menyakiti dirimu sendiri kau mencoba menarik perhatiannya? Kau sudah gila, Dahyun-ah.”

“Mau bagaimana lagi? Aku sudah melangkah sejauh ini dan tidak ada jala untuk kembali. Aku tidak akan menyerah. Aku yakin suatu saat nanti dia akan menyadaari kehadiranku di muka bumi.”

***

Perlu digarisbawahi. Wonwoo itu tipe orang yang benar-benar keras seperti es batu. Manusia e situ tidak playboy seperti Kim Mingyu tidak pula kutu buku seperti Jihoon dan sebangsanya. Satu lagi, dia selalu memasang muka datar yang lebih mirip tembok. Dahyun sudah menyerahkan akal sehatnya pada pemuda Jeon itu. Dan sekarang dia sendiri kehilangan pikirannya.

“Apa yang kau lihat?”

Dahyun mendorong jari telunjuknya pada jidat pria gembil yang entah darimana datangnya tiba-tiba merusak acaranya menonton pemandangan surgawi di lapangan basket.

“Jangan bilang itu Jeon. Dubu, dia itu beku. Tidak perlu repot-repot membeli kulkas saat tatapan matanya saja sudah bisa mengubah susu menjadi es krim.” Seungkwan menyodorkan satu cone es krim vanilla kesukaan Dahyun, yang isinya tinggal setengah karena amblas di perutnya sewaktu perjalanan pulang dari kantin.

Dahyun menerima saja dan mulai mencicipi, “ Terima kasih, Boo. Tapi apapun yang kau katakana tidak akan memengaruhi perasaanku.”

“Aku tahu. Hujan di bulan Juli sangat jarang, tapi tidak mustahil, ‘kan? Berdoalah saja pada Tuhan agar kau tidak transparan lagi di matanya.

Seungkwan tersenyum. Bukan senyum konyol atau jenaka seperti biasanya. Melainkan senyum lembut menenangkan bak malaikat. Dubu-nya hanya terdiam menatap kosong ke depan, yah semoga apa yang dikatakan Boo itu benar.

***

Pagi itu mendung. Menerjemahkan bagaimana isi hati gadis bermarga Kim yang kini duduk termenung di tepi atap sekolah. Pikirannya terdistraksi oleh ucapan dua sahabatnya semingggu lalu, benarkah ia harus berhenti?

Semilir angin menerbangkan helai anak rambut nakal Dahyun yang tidak ikut terkuncir. Rasanya dingin, dan menenangkan. Lama, hingga akhirnya keputusan itu datang.

Bersamaan dengan keyakinannya yang tumbuh, kakinya bangkit menumpu pada lantai semen. Menikmati hembusan angin yang makin lama makin senang menerjang tubuhnya, pertanda hujan tak lama akan membenturkan tetesannya pada bumi. Dahyun dulu tidak suka hujan, karena menurutnya langit sedang bersedih. Bahkan sekarang hujan seakan mengejeknya.

Dalam diam hatinya remuk berserakan. Biarkan tertiup angin dan terbebas menjadi partikel-partikel kecil tak kasat mata. Biar selamanya seperti itu, gar dia tak pernah tahu. Sepatu sneaker puih yang telah basah sepenuhnya itu seakan menolak untuk menuruti langkah sang pemilik keluar dari batas aman.

“ Aku memohon kepada-Mu untuk menciptakan keajaiban untuku. Sekali ini saja, buat diriku terlihat setidaknya olehnya. Ingatkan dia kalau ada seorang gadis yang benar-benar mencintainya.”

Lelehan air mata berbaur dengan kepedihan hujan, Dahyun menutup sepasang kelopak matanya. Tubuhnya terasa semakin ringan seiring dengan hujan yang turun semakin deras.

“Semoga tersampaikan.”

Sepersekian sen, terlalu cepat untuk menyadari bahwa bukan aspal keras tempatnya membenturkan diri, melainkan dada bidang sandarable milik seseorang.

Don’t act like stupid, idiot.

Dan gadis itu membenamkan diri ke dalam dekapan hanyat nan nyaman milik pemuda Jeon. Mungkin yang dikatakan Seungkwan waktu itu salah, seingatnya kulkas tidak pernah sehangat ini.

 

Fin

 

Hello!! /tebar confetti

Dahyun-Wonwoo shipper on the air bruh.

Iklan

3 thoughts on “[1st Event] Authors’ Project: Bizarre — Ficlet

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s