[1st Event] Authors’ Project: PAINKILLER – Oneshot

Painkiller.png

Deliadeaa presents

Starring: TWICE Mina and NCT Yuta

Genre:  Psychology │ Thriller │ Romance │ Marriage life

Length: Oneshot

Rating:  PG 17

( WARNING! Mature for violence scene and vulgar words)

[1st Event] Author’s Project: Signal

— “Kau tak tahu apa yang aku rasakan, jahat.” (TWICE; TT)  —

Tahun ketiga.

Tidak banyak harapan bagi nyonya Nakamoto untuk menyambut pergantian tahun. Ia sudah menjadi arsitek sukses di Korea, agaknya itu sudah lebih dari cukup baginya untuk hidup mewah di kawasan elit seperti Gangnam.

Tidak berhenti sampai di situ, Mina juga membina rumah tangga kecil bersama suaminya Nakamoto Yuta dan satu malaikat kecil bernama Hana.

Seolah hidupnya tercipta dengan begitu sempurna, Mina selalu tersenyum tiap pujiaan menjamu rungunya. Kehidupan tetap kehidupan. Tiada gading yang tak retak, bukan?

***

Tahun pertama.

Pagi yang ditemani secangkir kopi hangat  dan sepotong croissant di atas meja. Mina suah bersiap untuk pergi magang ke kantor barunya. Kendati baru seminggu dia mengikat janji, Mina tetap tidak bisa mengambil cuti.

“Sayang, aku akan pergi ziarah ke makam ibu, kamu ikut?”

Ibu mertua. Meninggal sebulan yang lalu. Kata suaminya karena overdosis obat tidur. Beliau terlalu setres memikirkan mendiang ayah mertua samppai mengidap insomnia selama beberapa tahun.

“Tidak bisa. Aku harus bekerja. Titip doa saja ke ibu, ya!”

Hari itu, Mina melangkahkan kakinya ke gerbang neraka.

Andai Mina tahu bahwa perjalanan yang ditempuh suaminya akan mengalami kecelakaan. Andai dia melarangnya pergi. Beribu andai, dipatahkan oleh beberapa untaian kata.

“Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi nyawa pasien tidak dapat diselamatkan.”

***

Tahun kedua

Hidup Mina berbalik 180o saat tiba-tiba di suatu malam seseorang mengetuk pintu rumah kecilnya.

“Yuta?”

Dia tersenyum pada Mina, membuat gadis itu berpikir dua kali apa dia berhalusinasi atau apa, tapi nyatanya tidak. Nakamoto Yuta berdiri tegap di depannya seakan dia adalah sosok yang hidup, manusia.

“Mina, aku mencintaimu.”

Dengan begitu mudah pria itu masuk kembali ke dala kehidupan Mina. Taka da satupun kecurigaan terlintas dalam benak, walaupun Yuta mengajukan satu persyaratan yang teramat janggal.

“Coba tebak, kenapa aku melakukan hal ini padamu?” tanya Mina pada pemuda yang kini meronta di kursinya dalam keadaan terikat, memohon belas kasih seorang wanita yang sayangnya sudah lama lenyap diisap nyeri.

Cairan pekat berbau anyir menyeruak. Wajah pria asing itu robek mulai dari ujung dagu sampai pangkal hidung. Sengaja Mina lakukan agar tidak perlu repot-repot membungkamnya dengan lakban.

“Demi suamiku? Demi kehidupannya yang seperti delusi?”

Tanpa rasa jijik, Mina menyentuh luka robekan menganga yang penuh dengan darah segar itu.

“Sebentar, aku akan ambilkan obat pereda nyeri untukmu. Jangan mati.”

Apapun akan Mina lakukan untuk Yuta. Jika itu apapun, maka yang ia maksud adalah apapun; apapun yang sebenarnya. Walaupun harus mengubur seorang pra hidup-hidup di lorng bawah tanah yang lembab dan mengerikan.

***

Tahun keempat

“Nyonya Nakamoto?”

Dokter Kim. Dia masih ingat dokter paruh baya yang sempat menolong persalinannya dulu. Mereka berbincang hangat ditemani dua cup es kopi latte.

“Aku dengar kau membesarkan anak bernama Hana? Kukira akan sulit mencari adopsi bayyi.”

Setelah semua penderitaan yang ia lalui selama ini —berkat tuan Nakamoto tentunya, ia harus dilemparkan ke dasar jurang. Dokter Kim menyatakan bahwa dulu bayinya meninggal beberapa lama setelah dilahirkan. Sementara dirinya divonis tidak bisa hamil lagi setelah kehamilan yang pertama.

Sempat terlintas dalam benak Mina, kalau mungkin saja Yuta mengadopsi bayi. Sampai kirian paket rekaman CCTV itu terputar di layar laptop.

Ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, sangat jelas kalau suaminya melakukan-apa-yang-harusnya-hanya-dilakukan-bersamanya dengan wanita lain. Dilihat dari tanggalnya, itu adalah dua minggu sebelum Mina tahu bahwa dirinya hamil untuk pertama kalinya.

Lenyap sudah. Cinta terganti oleh rasa benci yang amat mendalam. Benci berganti dendam. Jika Yuta dating hanya untuk menghancurkan hidupnya, maka Mina akan balas menghancurkan hidup Yuta berkali lipat.

Pertama. Tentu saja wanita yang berada di rekaman.

Kali ini berbeda dengan korban-korban yang sebelumnya, Mina menggunakan keterampilan barunya, menjahit.

Jadi begini, mulanya ia akan menjahit kedua kelopak mata wanita jalang itu agar tidak jelamitan. Lalu bagian paling penting di mana wanita itu bisa mengandung benih dari suaminya. Mina sangat senang karena jalang itu terus menjerit di sesi ini. Setidaknya ia sudah berbaik hati memberinya pereda nyeri , sehingga wanita itu bisa bertahan sebentar sebentar untuk tidak meregang nyawa. Baru ia menjahit bagian mulut yang berani mengeluarkan suara jahanam selama rekaman.

Hana.

Bayi itu bukan anaknya. Melainkan anak haram dari seorang jalang yang ia habisi tadi siang. Untuk Hana, Mina memberikan keringanan. Dia hanya menjatuhkan bayi tak berdosa itu dari lantai dua puluh, membiarkannya jatuh tertancap pagar besi.

***

“Sayang, kamu bisa memintaku baik-baik. Tolong lepaskan tanganmu, ini mencekikku.”

Sekali ini saja. Hanya untuk terakhir kali. Mina menyusun kepingan hatinya hanya untuk hilang ditiup angin sekali lagi. Bohong. Bohong jika ia tidak ingin disentuh oleh bajingan itu. Baginya Yuta adalah pereda  nyeri sekaligus rasa sakit yang amat melukainya.

Tidak, tidak. Itu dulu. Sudah terlambat mengatakan itu semua sekarang. Tak ada lagi pereda nyeri. Hanya luka. Tidak sudi lagi dirinya berkorban hanya demi bajingan tukang selingkuh.

“Mati. Mati saja.” Seperti kaset rusak, Mina terus mengulangi kata-kata itu sembari menghujamkan pisau buah di dada suaminya bertubi-tubi. Dia sengaja memberinya obat agar  terus sadar meskipun rasa sakit serasa membunuhnya.

Ujung pisau runcing itu bergerak perlahan menguliti bagian privat si korban, membuatnya menjerit amat kencang karena rasa nyeri yang luar biasa. Ia bahkan dapat merasakan Mina memotong ujungnya.

“Arrghh!”

“Tenanglah nona, ini hanya suntik biasa.”

Kamar luas yang pekat bau darah itu berubah menjadi sebuah bilik di dalam rumah sakit jiwa. Myoui Mina memberontak, ia berusaha  menggigit perawat-perawat yang menahan lengan dan kakinya. Giginya bergemeletuk marah, diiringi desisan kesal serta tatapan tajam yang menusuk bola mata sang dokter.

Dulu sewaktu jiwanya masih waras, gadis Jepang itu sempat mengidam-idamkan dokter pengurus bangsalnya, Dokter Nakamoto. Siapa wanita yang tidak tergila-gila pada ketampanan, kebaikan, dan kecerdasannya? Bukan Mina tentunya. Sederhana saja, gadis itu pernah sekali meihat Tuan Nakamoto dalam suatu pameran seni dan ajaibnya dia langsung jatuh pada lekukan senyum memesona yang dimiliki oleh sang dokter. Suatu hari nanti, ia berharap nama Nakamoto akan berdampingan dengan namanya.

Mimpi tinggal mimpi. Semuanya berubah pahit semenjak Mina tahu dia telah berkeluarga. Tak bisa menerima kenyataan, kadar kesehatan mentalnya menurun drastic, ia jadi sering berteriak dan berhalusinasi.

Sesaat sebelum obat melumat kesadarannya, setitik bulir bening lolos dari pelupuk mata indah Mina. Si gadis berucap lirih –ditujukan untuk Yuta membuat sang dokter dann para perawat terbelalak.

“Kamu tak tahu apa yang kurasakan, jahat.”

Pasalnya, baru kali ini pasien kamar 312 bangsal sebelas bernama Myoui Mina mengutarakan untaian frasa yang jelas, bukan teriakan.

 

Fin

 

Hello!

Lama rasanya nggak nulis di sini. Otak seakan kaku kalau buat nulis lagi. Jangan tanya kenapa saya bikin cerita thriller yang nggak thriller- thriller amat /pundung/. Itu karena sejauh ini saya belum pernah liat film thriller explisit macam Saw dkk. Jadi saya hanya bisa menulis eksekusi korban sesuai imajinasi. Tapi kalopun saya ada waktu dan kesempatan buat itu, saya nggak bakalan liat juga *takut mual dan parno berkepanjangan*  Okeh. Sekian. Salam ketjup dari mas dokter ganteng,

WhatsApp Image 2017-07-07 at 10.04.39 AM.jpeg

b y e 🙂

Iklan

7 thoughts on “[1st Event] Authors’ Project: PAINKILLER – Oneshot

  1. WAIT AKU MASIH GA PAHAM duh otakku lagi lemot gara2 capek :”
    jadi semuanya itu cuma halusinasi mina? 😦 jadi mina gila?!?! bagus kok ini :” aku malah ga bisa banget bikin thriller yang terlalu gruesome yg mendetail gitu. takut sendiri bayanginnya lol
    nice one~! ♡

    Disukai oleh 1 orang

    1. Huhu ku terharu masa /abaikan/ :’) Ini cerita emang rada gak jelas macem yg nulis 😂 Padahal banyak cerita walaupun gk detail tp tetep krasa grrr-nya, aku mah cuma remah roti khong guan. Makasi udah baca ~ 💕

      Disukai oleh 1 orang

  2. Omo omo omo!!! Thriller nya dapet kok aku bacanya smpe gelenggeleng kepala (?) :v
    Tak kira beneran, ternyata halusinasi :((( si Mina tergila gila sama mas Yuta ya duh
    suka jalan ceritanya 👍 nice fict 😄

    Disukai oleh 1 orang

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s