[1st Event] Authors’ Project: Heart Attack – Vignette

dahyun

Heart Attack

ShanShoo’s present

TWICE’s Dahyun with SEVENTEEN’s Dino

friendship, fluff, school-life // ficlet // teenager

-oOo-

Awalnya tidak disadari, namun pada saat tertentu aku mulai menyukaimu —Twice; Signal

WordPress : ShanShoo || wattpad : @ikhsaniaty

-oOo-

“Dahyun! Dahyun! Dahyun!” Dino terlihat begitu bersemangat ketika matanya menangkap presensi Kim Dahyun yang baru saja keluar dari ruangan kelasnya. Sore ini, jam pelajaran sekolah baru saja berakhir, dan Dino memutuskan menghampiri kelas Dahyun untuk mengantarnya pulang.

Dino bergegas masuk ke kelas Dahyun yang mulai menyepi. Hanya ada anak perempuan itu dan beberapa anak laki-laki di dalamnya. Berdiri di samping Dahyun, Dino berujar, “Langsung pulang atau pergi ke kedai es krim dulu?” tanyanya seraya tersenyum lebar.

Anak perempuan berkulit putih bersih itu lantas menaikkan pandangannya pada Dino. Dia terlihat berpikir sejenak, dengan sebelah tangan menyampir tali tas selempangnya. “Langsung pulang saja, deh,” jawabnya penuh keyakinan.

“Tumben, nggak pergi beli es krim dulu?” goda Dino. Dia memang tahu kalau Dahyun begitu menyukai makanan manis itu.

“Hari ini aku absen makan es krim,” sahut Dahyun kesal. Kalau saja giginya sedang tidak dalam keadaan ngilu, sudah pasti dia akan menghabiskan dua cone es krim dengan berbagai macam rasa.

“Yakin?” tanya Dino, nadanya terdengar semakin menggodanya.

“Iyaaa, Dinosaurus!” Dahyun sengaja tidak memberi tahu alasannya. Kalau Dino tahu, Dahyun pasti akan diledeknya habis-habisan.

“Ya sudah.” Dino mengangguk kecil, sebelum akhirnya ia dan Dahyun berjalan beriringan menyusuri koridor yang masih cukup ramai oleh para pelajar lainnya. Masalahnya, saat Dahyun melontarkan panggilan Dinosaurus―yang katanya panggilan sayang―kepadanya, itu tandanya Dahyun sudah yakin dengan keputusan yang ia ambil.

Keberadaan mereka di luar ruangan kini menjadi perhatian sebagian besar siswa. Yeah, tidak sedikit di antara para siswi di sana yang menyempatkan diri mencuri pandang ke arah Dino yang tengah menjawil pipi Dahyun, lantaran candaan anak perempuan itu yang menurutnya menggelikan.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Dahyun dan Dino merupakan sepasang sahabat sejak mereka memasuki jenjang pendidikan menengah pertama. Dahyun yang ceria dan Dino yang penuh akan perhatiannya merupakan kombinasi yang baik untuk membentuk hubungan persahabatan itu. Dan sikap perhatian yang kerap kali Dino tunjukkan kepada Dahyun, sedikit banyak membuat para siswi merasa iri. Mereka tentu ingin sekali memiliki teman laki-laki dengan sikap seperti itu.

“Dino!” suara panggilan dari belakangnya membuat Dino dan Dahyun menoleh bersamaan. Ada seorang siswi berpenampilan menarik, menatap Dino dengan ekspresi yang sukar diartikan.

Anak perempuan itu setengah berlari ke arah Dino yang belum melanjutkan langkahnya. Setibanya ia di hadapan Dino, ia lekas berujar, “Katanya mau latihan dance? Kok malah pulang?”

Dahyun tahu siapa anak perempuan ini. Namanya Mina. Dia adalah kakak kelasnya dan juga Dino. Dahyun juga tahu―dan mungkin hampir sebagian besar penghuni sekolahnya―kalau Mina menyukai Dino sudah cukup lama.

Namun, entah mengapa, mengetahui kenyataan itu membuat Dahyun diam-diam mendengus kesal.

Dino tertawa mendengar pertanyaan yang memang kedengaran penting baginya. Mengingat, jadwal kompetisi dance antarkelas hampir dekat, tetapi sialnya, ia masih saja bersikap acuh tak acuh seperti ini. Padahal Dahyun sudah memperingatkannya untuk tetap ikut latihan hari ini, tetapi Dino bersikeras ingin mengantarnya pulang, tak peduli akan setiap ocehan Dahyun karena hal itu saat jam makan siang tadi.

“Kenapa tertawa?” tanya Mina, mengerutkan keningnya tak mengerti. Dirinya lantas menoleh ke arah Dahyun yang juga menatapnya dalam diam.

Hei, tidak seharusnya seorang Myoui Mina yang notabene hanyalah seorang penonton acara latihan bersikap demikian. Dahyun saja tidak menunjukkan ekspresi kurang menyenangkan begitu saat Dino menolak untuk latihan.

“Gini, Kak, hari ini aku sudah minta izin ke ketua pelaksana untuk nggak ikutan latihan hari ini. Mm … mungkin sekitar satu jam,” jelas Dino dengan nada santai, sementara sang lawan bicaranya mulai menatapnya kesal.

“Kenapa?”

Dino melirik Dahyun hati-hati, sebelum kembali menatap lawan bicaranya. “Aku mau antar Dahyun pulang.”

Kedua perempuan di dekatnya kini membulatkan matanya. Apalagi Dahyun, dia merasa jantungnya nyaris terlepas dari tempatnya kalau saja ia tak pandai mengendalikan ekspresi penuh keterkejutannya.

Padahal Dahyun sudah tahu tentang alasan Dino, tapi tetap saja, ia tidak bisa untuk tidak merasa terkejut seperti ini.

Dino kembali melontarkan alasan lain yang dirasanya cukup ampuh, agar Mina tak lagi bertanya. “Habis, ayahnya nggak bisa jemput Dahyun sore ini. Beliau lagi pergi keluar kota,” katanya, masih dengan nada yang sama.

Mina menatap wajah Dahyun penuh dongkol. “Dia, kan, bisa pulang sendiri! Ngapain harus diantar segala?” ketusnya tak tanggung-tanggung.

Ingin rasanya Dahyun menjambak rambut indah milik Mina, kalau saja ia tidak ingat Mina adalah kakak kelasnya.

Sementara itu, Dino hanya memamerkan senyuman lebar hingga deretan gigi depannya terlihat sempurna. “Sudah ya, Kak, aku pergi dulu.” Ia lantas menarik tangan Dahyun agar segera pergi dari sana, meninggalkan Mina dengan beragam macam makian yang terlontar dari bibirnya.

Keduanya kini sampai di area parkir. Begitu Dino hendak membuka pintu kemudi, pergerakannya ditahan oleh sahabatnya.

“Kenapa?” tanya Dino keheranan.

“Nggak apa-apa emang, kamu nggak ikutan latihan selama satu jam?” Dahyun menunjukkan gestur cemasnya pada Dino.

Dino terkekeh geli mendengarnya. “Nggak apa-apa,” jawabnya. “Lagian, kalau misalnya kamu pulang sendiri, terus ada yang nyulik, siapa yang nantinya bakal dibunuh sama mama kamu?”

Dahyun hanya diam mendengar pertanyaan retoris itu.

“Sudah jelas aku, kan?”

Dahyun mendengus jengkel saat Dino mengusak gemas puncak kepalanya, sekaligus merasakan kedua pipinya panas. Ia pun memalingkan wajah dari Dino dan berkata, “Ya udah, deh, terserah.”

Demi apa pun, Dahyun cukup kesulitan untuk menenangkan detak jantungnya yang terlampau cepat. Setiap kali Dino memberikan perlakuan istimewa seperti ini kepadanya, menyebabkan darahnya berdesir cepat, hingga ia merasakan kedua pipinya panas, pun bibirnya yang tak bisa mengucap kata apa-apa selain ia gigiti perlahan.

Lagi pula, tidak mungkin juga, kan, kalau Dahyun memiliki rasa pada sahabatnya sendiri?

Enggak. Jangan sampai! Dahyun terus berbisik dalam hatinya, kalau semua perlakuan Dino padanya adalah karena ia sahabat terbaik yang Dino punya. Tidak lebih. Ia tidak ingin merusak hubungan persahabatan mereka hanya karena dirinya memendam perasaan itu kepada sahabatnya.

“Malah ngelamun!” suara Dino membuyarkan lamunan Dahyun. “Cepet naik, keburu ujan!” pinta Dino seraya duduk di belakang kemudinya, sementara Dahyun menyusul duduk di sampingnya.

Mobil Dino kini melaju, turut berbaur dengan kendaraan lainnya yang agak ramai di sore hari.

“Hyun, ada es krim rasa terbaru, lho, di kedai favorite kita.”

“Rasa apa, emang?”

“Mm … green tea? Kamu mau?”

“Nggak.”

“Dih, tumben banget!”

“….”

“Lagi sakit gigi, ya?”

“Ish! Dinosaurus!”

-oOo-

Note : edisi garing dan nggak sinkron sama prompt. Sekian dan terima Vernon ♥

Iklan

5 respons untuk ‘[1st Event] Authors’ Project: Heart Attack – Vignette

  1. Cieee Dino tau ya kalau dahyun lagi sakit gigi 😀 . Pengen sih punya sahabat cowo, baik lagi. Tapi apalah daya? Temen aty, mau cewe/cowo, sama2 sableng. Nyebelin bingit./curhat/ 😀 ❤

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s