[1st Event] Authors’ Project: I’LL BE HOME – FICLET

IMG_20170624_120756

I’ll Be Home

by twelve

Son Chaeyoung; Jeon Jungkook

<750 words (ficlet); neighborhood!AU, slice of life, friendzoneship, super!fluff, slight!romance

.

Prompt 43: Aku khawatir semalaman karena kamu. –Twice; Hold Me Tight.

.

Chaeyoung langsung brutal keluar dari rumahnya dan melihat Jungkook baru saja turun untuk membuka pagar. Entah kenapa, ada rasa lega yang membanjiri Chaeyoung sampai lemas kaki.

.

Dan jangan peluk aku sampai diayun-ayun kayak tadi.”

Hah?”

Soalnya aku deg-degan.”

.

Related to [ This is Typical of Love ] [ What am I to You ]

///

Son Chaeyoung tak berhenti menengok jam dinding di ruang tengah. Kemudian dwinetra yang kata seseorang lebih indah daripada mata uang itu melirik layar ponselnya cemas.

Padahal tadi ia di telepon tertawa-tawa mendengar cerita Dahyun tentang anak laki-laki setengah amerika yang jelas-jelas sudah Chaeyoung dapat kabarnya dari Mingyu tadi sore ketika makan bareng. Tak habis pikir bagaimana Vernon Chwe mendadak sebodoh itu tidak memanfaatkan peluang yang ada. Tolong ingatkan Chaeyoung untuk tertawa paling keras begitu melihat wajah clueless si Setengah Amerika itu nanti.

Kembali ke topik awal, sekarang ini Chaeyoung duduk gelisah di sofa. Pukul setengah dua belas malam. Ayah, ibu, dan adiknya sudah terlelap di atas bantal masing-masing. Sementara Chaeyoung menunggu kepulangan si Bodoh dari rumah depan bersama kue beras yang mendingin.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suara mesin motor terdengar menepi. Chaeyoung langsung brutal keluar dari rumahnya dan melihat Jungkook baru saja turun untuk membuka pagar. Entah kenapa, ada rasa lega yang membanjiri Chaeyoung sampai lemas kaki.

Hey, Buddy. Why are you still up?” Jungkook bertanya dengan kepala masih dilindungi helm full-face. Biarpun tertutupi, Chaeyoung tahu ada cengiran menyebalkan di balik sana.

Buddy-buddy memangnya aku anjing?” protes Chaeyoung dan Jungkook tertawa.

Penerangan malam sanggup menyembunyikan sungai kecil di pipi Chaeyoung begitu lengannya menemukan pinggang Jungkook untuk dipeluk serta aroma parfum si Laki-laki Busan untuk dihirup. “Thanks God.

Sementara Jungkook kebingungan di antara keenakan dipeluk Chaeyoung.

“Hey. Kenapa? Did something happen while I’m in Busan?”

A lot of things happened,” Chaeyoung menarik ingus di dada Jungkook. Setelah itu tak bisa menahan kekehan begitu terdengar Jungkook meringis jijik namun tidak bisa melakukan apa-apa selain mengusap-usap surai si Perempuan Mungil.

And then?”

I just missed you, and … worried about you.”

Hening sekali. Bayangkan saja: nyaris pukul setengah satu pagi buta dan sepasang anak manusia berpelukan di depan pagar sambil mengobrol dengan atmosfir melankolis.

Jungkook lantas mendorong bahu Chaeyoung agar dapat menatapnya tepat di mata. “I’m fine. No need to worry,” kemudian ibu jarinya terdorong mengenyahkan basah di wajah cantik itu.

“Tapi kamu baru pulang dari rumah sakit kemarin—“

“Chaeng, aku keluar rumah sakit udah dua apa tiga minggu lalu perasaan.”

Chaeyoung langsung cemberut dan menatap Jungkook dengan lipatan di kening. Jungkook juga ikut balas menatapnya dengan dahi dikerutkan karena bingung.

But still, kamu driving sendiri dari Busan ke Seoul … malam-malam gini. Mau mati beneran ya!?”

Baiklah. Adegan hening-mellow-melankolis tadi secepat kilat berganti ke Chaeyoung yang menonjok lengan atas Jungkook sekuat tenaga. Mungkin Chaeyoung tidak tahu, namun bagi Jungkook, pukulan-pukulan Chaeyoung itu seperti pijatan relaksasi untuk otot-ototnya setelah menempuh jarak ratusan kilometer dengan motor.

Maka Jungkook hanya tertawa. Kebiasaan mengacak rambut Chaeyoung dilakukan sampai si empunya berhenti memukul. “I’m happy that you worried about me. Apalagi sampai nangis gini, ututututu.”

“Ih, apaan sih.”

Anyway, I missed you too.

“Kapan emang aku bilang kangen?”

“Lah, tadi?”

“Enggak juga?”

Jungkook mengangkat bahu, kemudian ditenggelamkan kembali kepala Chaeyoung dengan nyaman di dadanya sambil sedikit diberi efek diayun-ayun.

Chaeyoung menyadari tengah malam sudah terlewat dan bahkan tanggal pun telah berganti. Namun tetap saja perutnya keroncongan. Percaya tidak kalau Chaeyoung sampai tidak nafsu makan malam saat tahu Jungkook pulang sendirian ke Seoul dari Busan? Iya, Chaeyoung sekhawatir itu.

Setelah Jungkook memarkirkan motor di garasi, mereka menghabiskan kue beras hangat hasil dipanaskan. Bersama tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ditonton karena sepasang keturunan Adam itu malah asyik mengobrol tanpa ada melankolis-melankolisnya. Chaeyoung tentu saja menceritakan kejadian Dahyun-Vernon, membuat Jungkook tergelak parah sampai tersedak.

What a loser,” Jungkook berkomentar. Chaeyoung mengangguk-angguk mengiyakan sambil memasukkan potongan kue beras ke mulut.

But let’s see what he will do on our double date plan next Saturday.

Jungkook berhenti mengunyah sejenak begitu sadar bahwa kepulangannya ke rumah Kakek-Nenek di Busan tidak menghapuskan fakta bahwa hubungan antara dirinya dan Chaeyoung masih saja abstrak begini—sama sekali belum ada perubahan: entah hanya sebatas tetangga, atau teman pulang bareng semasa les dulu, atau teman dari kecil. Mereka terlalu romantis  serta manis untuk mengaku cuma punya hubungan sebatas itu.

“Jungkook.”

“Hm?”

“Jangan pergi jauh-jauh lagi.”

“Kenapa?”

“Ini aneh. Tapi aku khawatir.”

Alis Jungkook terangkat sebelah. Diam-diam tersenyum simpul karena si Perempuan Mungil tidak berani menatapnya ketika bicara begitu. “Oh ya? But, I’ll be home though.

“Iya sih.” Kali ini Chaeyoung mendaratkan pandangan ke layar televisi. Pipinya bersemu merah entah untuk alasan apa. “Dan jangan peluk aku sampai diayun-ayun kayak tadi.”

“Hah?” Alis Jungkook terangkat makin tinggi, benar-benar tidak berhenti.

“Soalnya aku deg-degan.”

Bingo! Dengan meluncurnya ucapan tersebut, Jungkook langsung merasakan organ dibalik rongga dadanya berdegup cepat. Sementara Chaeyoung langsung kabur, menenggelamkan wajah ke bantal di kamar tamu rumah Jungkook dengan kaki menendang selimut.

Bodoh! Bodoh! Bodoh!

///

Author’s Note:

Aku baca ini tuh ya, parah bapernya T_________T

Mau ikutan nangis pas ngedeskripsiin gimana rasanya kangen campur khawatir sama orang yang pergi jauh. Terus gimana rasa lega pas tau si orang itu sehat walafiat pas nyampe tujuan atau pas pulang…. It feels amazing.

Semoga kalian yang mudik pas pulang apa yang baru pergi tetep baik-baik aja ya! Selamat lebaran ❤

–Twelve.

Iklan

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s