Girls’ Problem (Episode 5)

shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 05: Girl-pocalypse

Park JihyoMyoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7

(Special guest: I.O.I as Cheer 101)

Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish | T/Teen
I own nothing but the story~ [Warning: this chapter contains a lot of swearing]
Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story!

► Watch the previous episodes! 
PROLOGUE | EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3 | EPISODE 4 | EPISODE 5


 

D-Day 

“I’m desperate. I don’t want to fail again.”

Jika itu cara Park Jihyo untuk mencapai sukses, maka Mina tidak akan berusaha menghentikannya lagi. Kata-kata Jihyo kemarin masih terulang-ulang di kepalanya. Hingga ia turun dari minivan putih butut milik 9MILLION dan menginjakkan kakinya di venue tempat lomba berlangsung, Mina masih tidak setuju dengan perbuatan Jihyo. Namun semua sudah terlanjur, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan jika ia mengatakan semua itu pada Jihyo seminggu sebelumnya. It’s all pointless. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah melakukan yang terbaik dan berharap perbuatan curang Jihyo tidak tertangkap.

Berpura-pura tidak ada yang salah ternyata sangat mudah. Mina tidak pernah tahu itu. Ia dan Jihyo memasang wajah excited seperti teman-teman setimnya, mereka melangkah bersama-sama memasuki ruang tunggu peserta yang sudah ramai dipenuhi berbagai macam tim cheerleading yang ada di kota Seoul.

“Liat tuh, Cheer 101 ada di sini,” kata Momo, menepuk pundak Sana. Keduanya memperhatikan anggota-anggota Cheer 101 melakukan pemanasan sambil berkacak pinggang.

“Mereka lebih kaku daripada Nayeon unnie,” komentar Sana.

“Kaku apaan? Look at Kim Chungha she’s slaying!” Tepat setelah Momo mengatakan itu, gadis bernama Kim Chungha yang ia maksud melakukan lima tumble berturut-turut lalu melakukan split dan melompat ke posisi berdiri tanpa kesulitan.

“Kamu juga bisa kayak gitu.” Kali ini Jungyeon yang berkomentar sembari melepaskan jaket putihnya, menampilkan seragam baru 9MILLION yang bernuansa biru tua-putih.

“Ya tapi kan, mereka lawan kita. Kita harus tau dong sebagus apa mereka,” Momo berdalih, walaupun yang ia lakukan selanjutnya lebih seperti memuji-muji tim lawan mereka itu.

Sejak masa para senior dulu, Cheer 101 selalu berhadapan dengan mereka di final selama beberapa tahun berturut-turut. Insiden tahun kemarin membuat Cheer 101 merebut posisi nomor 1 yang sudah para senior pertahankan dengan susah payah. Dan tentu saja memberi kesempatan bagi Cheer 101 untuk meremehkan mereka.

“Yang aku tau sih mereka biasanya pake koreo yang kompleks. Banyak stunt-nya,” kata Nayeon, kedua tangannya sibuk membuat sebuah kepangan kecil di rambut Mina.

“We got it this time, don’t worry,” ujar Jihyo. Ia bermaksud untuk memotivasi timnya, walau ia sendiri tidak yakin akan hal itu. Teman-temannya hanya mengangguk dan menggumamkan kata “fighting!” berulang-ulang.

“Ngomong-ngomong Chaeng sama Tzuyu kemana?” Tanya Dahyun tiba-tiba merubah arah percakapan. Sana menguncir rambutnya menjadi ekor kuda lalu menyahut, “ga tau. Tadi bilangnya ke toilet.”

.

Sementara itu di toilet Tzuyu sedang berjuang menghadapi masalahnya sendiri. Sedari tadi ia mengikatkan jaketnya di pinggang untuk menutupi ritsleting roknya yang terbuka. Ia hampir menangis karena fakta mengerikan bahwa roknya tidak muat, padahal sewaktu dicoba seminggu yang lalu rok itu pas-pas saja. Bahkan dengan bantuan Chaeyoung, ritsletingnya tetap menyangkut di tengah.

“Chaeng, rok kita ga ketuker kan? Kok ga muat sih,” isak Tzuyu benar-benar panik. Ia takut Jihyo akan memarahinya.

“Ngga kok. Mungkin kamu gendutan?” Sama sekali tidak membantu. Sekarang Tzuyu benar-benar menangis dan menyerah pada roknya. Chaeyoung tidak tahu harus berbuat apa, ia sendiri menderita sakit perut sejak di perjalanan tadi. Ditepuk-tepuknya pundak gadis Chou yang lebih tinggi darinya itu.

“Ugh Tzuyu, aku sakit perut. Coba lagi ritsletingnya nanti kalo bisa kasih tau aku.” Chaeyoung memegangi perutnya dan berlari terbirit-birit memasuki salah satu bilik toilet.

Tzuyu hanya mengangguk pelan. Alih-alih berusaha menarik ritsletingnya lagi, ia malah membiarkan derai air mata membanjiri kedua pipinya. Masa iya dia bertambah gemuk? Atau mungkin roknya menciut? Yang ia lakukan cuma menangis sambil memikirkan segala probabilitas yang ada.

Suara sepatu kets bergesekan dengan lantai tertangkap oleh indera pendengaran gadis itu. Ia melihat sepasang sepatu kets putih, celana jeans biru, sweater abu-abu, lalu wajah lelaki yang mengenakannya. Ingatan Tzuyu kembali pada kejadian waktu makan sore bersama Dahyun dan Chaeyoung. Laki-laki ini yang waktu itu menanyakan namanya. Suatu kesempatan yang sangat istimewa ketika seorang Chou Tzuyu bisa mengingat wajah orang baru yang hanya menyapanya sekali dua kali.

“Hei, kenapa nangis?” Tanya Mingyu dengan ekspresi heran.

“Kamu ngapain di sini?” Tzuyu balik bertanya.

Kim Mingyu menggaruk belakang kepalanya lalu menjelaskan, “Aku di sini sama temen sekelas, kita mau dukung Jihyo. Emang keliatannya banyak yang sebel sama dia tapi dia tetep primadona kelas kita jadi—”

“Engga, maksudnya ngapain di sini, di toilet cewek,” potong Tzuyu, air matanya kini sudah mengering.

“Oh…” Mingyu celingak-celinguk, matanya menangkap papan penanda toilet perempuan yang dipakukan ke pintu dan rasa malu mulai merayapi sekujur tubuhnya. Ia sama sekali tidak berpikir atau melihat-lihat ketika masuk ke situ. Gara-gara mendengar suara tangisan ia menghentikan langkahnya dan masuk begitu saja.

“Ehm, jadi apa masalahnya? Kenapa nangis?” Mingyu berusaha mengalihkan topik pembicaran. Ada jeda satu menit sebelum Tzuyu menjawab, gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri seolah ia takut rahasia besarnya sampai didengar orang.

“Aku makan sereal dua mangkok tadi pagi,” kata Tzuyu dengan wajah serius dan suara yang direndahkan.

“Itu masalahnya?” Tzuyu menggelengkan kepalanya sambil manyun lalu menghela napas. “Kayaknya aku jadi gendut gara-gara itu. Bisa ga sih jadi gendut dalam beberapa jam?”

“Hmm, ga tau sih,” jawab Mingyu tidak yakin. Ini pertama kalinya ia memiliki konversasi panjang dengan Tzuyu, namun topiknya malah seperti ini.

“Tapi rok aku ga muat. Padahal waktu itu muat! Liat ritsletingnya nyangkut,” gadis itu berkeluh kesah, tangannya kembali menggapai ritsleting di belakang roknya.

Tangan Tzuyu pun disingkirkan oleh Mingyu, sekarang gantian dia yang mengotak-atik ritsleting rok berempel Tzuyu. Ibu jari dan telunjuknya menarik beberapa helai benang tipis yang membelit benda perak kecil itu. Sret! Dengan satu tarikan mulus rok itu tertutup. Chou Tzuyu memekik bahagia sambil melompat-lompat, berputar ke kanan dan ke kiri untuk melihat roknya.

“Jadi aku ga gendutan kan?” Tanya Tzuyu, senyuman cerah mengembang di wajahnya.

“Ngga kok. Kamu cantik.” Jawab Mingyu balas tersenyum. “Ah aku mau ke tempat penonton sekarang. Bye Chou Tzuyu.”

Sambil memandangi Mingyu yang membelakanginya dan beranjak pergi, gadis manis itu melambaikan tangannya masih dengan senyuman lebar. Setelah laki-laki itu tak lagi terlihat oleh netranya, wajah bingung mengganti wajah bahagia Tzuyu. “Wait? Who is he again?

“Loh tadi ada cowok di sini? Siapa?” Chaeyoung yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyerang Tzuyu dengan pertanyaan sederhana, namun sulit untuk dijawab.

“Eh.. ga tau.” Jawaban itu mendapat respon heran dari Chaeyoung, ia yakin mendengar Tzuyu bercakap-cakap dengan lelaki yang dimaksud. Mengalihkan teman mungilnya dari persoalan laki-laki yang masuk ke toilet perempuan, Tzuyu menggandeng lengan Chaeyoung dan mengajaknya pergi kembali ke ruang tunggu. Beberapa langkah meninggalkan toilet, Chaeyoung menarik lengan Tzuyu kuat-kuat. Ia menyembunyikan dirinya dibalik gadis tinggi itu.

“Ada Jeon Somi, temen sekelas waktu SMA. Dia suka ngejek aku—”

HEY SHORTY!” Jeon Somi melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Chaeyoung. Sial, Chaeyoung benar-benar tidak berharap Somi melihatnya. Chaeyoung tidak akan pernah membantah kenyataan bahwa Jeon Somi punya penampilan fisik yang sempurna sesuai standard kecantikan umum; namun ia bisa membuat daftar panjang perbuatan tidak menyenangkan Somi padanya semasa SMA dulu dan itu cukup menjadi alasan baginya untuk tidak menyukai cewek yang satu itu.

Ia dan Tzuyu terpaksa berjalan beriringan dengan Somi karena tujuan mereka sama-sama ke ruang tunggu. Selama sekian menit itu Somi sesekali melempar senyum padanya. Bukan senyum ramah tentunya. Chaeyoung hanya membuang muka, berusaha tidak peduli pada gadis Jeon itu hingga mereka sampai di ruang tunggu dan bergabung dengan tim masing-masing.

Dan sakit perut itu menyerang lagi. Chaeyoung lagi-lagi memegangi perutnya sambil merintih, berusaha menahan rasa nyeri yang terasa seperti hujaman pisau.

“Chaeng? Are you okay?” Tanya Mina, meletakkan tangannya di bahu Chaeyoung.

“Ga apa-apa unnie, cuma sakit perut. Tadi pagi aku ga makan,”

“Bener ga apa-apa? Kita tampil urutan kedua loh.” Kendati wajah Chaeyoung yang memucat sangat jauh dari tidak apa-apa, gadis itu bersikukuh bahwa ia baik-baik saja.

Cheer 101 yang mendapat urutan pertama baru saja dipanggil untuk menampilkan cheers mereka. Sebelas gadis-gadis cantik itu berjalan melewati Jihyo dan timnya seakan mau pamer kostum mereka yang dipenuhi glitter. Kapten mereka Im Nayoung menyempatkan diri untuk berbicara pada Nayeon. “If I were you, I’d abandon this team Im Nayeon,” ujarnya tanpa ekspresi.

Well, kaptennya bukan aku lagi tapi Jihyo.” Nayeon menunjuk Jihyo yang berdiri di sebelahnya dengan ibu jari. Nayeon pernah jadi kapten; hal ini merupakan berita baru bagi Mina, Chaeyoung dan Tzuyu.

“Seriusan? Kamu ngasih posisi kapten ke dia? Padahal dia yang bikin kalian kalah tahun lalu.”

“Jihyo leader yang baik kok. Dia juga punya pengalaman cheerleading lebih banyak daripada aku.”

Nayoung tidak tertarik lagi. Ia mengangkat bahunya lalu menutup percakapan mereka. “We’ll see that.

We’re dead,” komentar Momo sambil memperhatikan Nayoung yang berlari kecil menyusul timnya. Ia bisa membayangkan routine keren macam apa yang akan Cheer 101 bawakan hari ini. Benar saja, mereka menonton penampilan rival mereka itu dengan mulut menganga dari awal sampai selesai. Dahyun mulai mempertanyakan apa mereka bisa lebih hebat dari itu, lalu ia dibanjiri kata-kata positif dari Nayeon.

Sembilan cheerleaders itu kaget setengah mati ketika 9MILLION dipanggil melalui speaker di ruang tunggu. Mereka disebut sebagai “mantan peraih posisi pertama di kompetisi nasional selama bertahun-bertahun” membuat Jihyo memutar matanya kesal. Ia berada di depan barisan, memimpin timnya naik ke atas panggung. Ketiga juri perempuan di depan Jihyo mengenalinya, mereka melemparkan pandangan tajam seolah memperingatkan Jihyo agar tidak mengacau lagi tahun ini. Ia juga melihat gerombolan teman sekelasnya di tempat penonton, membawa banner besar dengan foto dan namanya seperti sedang menonton konser.

The next minute went down in a blur. Jihyo hanya bisa mendengar suara musik di udara, otaknya hanya bisa memikirkan rangkaian gerakan. Ia melempar pom-pomnya lalu meroda bertukar tempat dengan Momo, ia mengulurkan lengannya ke atas dan kembali menangkap pom-pom tadi. Sorak-sorai memenuhi venue, mengukirkan senyuman bahagia di wajah Park Jihyo. Bukan hanya Jihyo, tapi seluruh timnya. Pada momen itu sang kapten percaya ia telah berhasil membawa timnya kembali ke peringkat atas di dunia cheerleading. Namun ketika salah satu juri kembali menatapnya tajam, Jihyo sadar ia terlalu cepat senang. Pandangan wanita itu penuh selidik, mengamati setiap detil gerakan yang dibawakan oleh timnya. Wanita itu mencatat sesuatu di papan penilaiannya, lalu berbisik ke juri lain di sebelahnya yang kemudian mengangguk-angguk mengerti. Ini dia, ia tertangkap. Habislah sudah.

Itu adalah dua setengah menit paling menegangkan dalam hidup Jihyo. 9MILLION menutup penampilan mereka dengan sebuah final stunt, setelah itu sembilan gadis itu turun dari panggung dengan formasi teratur. Sesampainya di ruang tunggu, Jihyo menjatuhkan diri ke sebuah kursi kosong sambil menundukkan kepala. Ia tidak bisa melupakan ekspresi yang diberikan juri itu padanya, wanita itu pasti tahu timnya baru saja membawakan routine hasil plagiat. Jihyo merasa seperti sebuah kegagalan besar. Ia mungkin harus berhadapan dengan Dekan Choi lagi minggu depan dan mengucapkan selamat tinggal pada beasiswanya. Park Jihyo tenggelam terlalu dalam di lautan pikirannya hingga ia tidak menyadari ada kerumunan besar yang mengelilingi anggota timnya—Son Chaeyoung. Gadis itu tergeletak pingsan di lantai setelah mengeluh sakit perut sepanjang jalan menuju ruang tunggu. Jungyeon, Momo, dan Sana sibuk memindahkan gadis itu ke sebuah kursi panjang. Kepalanya di pangkuan Jungyeon dan kakinya di pangkuan Sana, Momo berjongkok sambil mengusap kepala gadis mungil itu. Dahyun membongkar tasnya mencari roti keju yang dibawanya untuk diberikan pada Chaeyoung nanti. Sementara Nayeon dan Tzuyu pergi mencari bantuan ke tim medis. Lain halnya dengan Mina, ia teringat sesuatu yang dikatakan Chaeyoung sebelum mereka tampil. Kelihatan marah, Mina menghampiri Jihyo dan menyentaknya dengan cukup keras.

Can’t you see what you have done, miss captain?

Jungyeon, Momo, Sana dan Dahyun cukup terkejut, itu adalah suara paling keras yang pernah mereka dengar dari seorang Myoui Mina. Momo segera berdiri untuk mencegah mereka membuat keributan, namun Sana menarik lengannya. Lagi pula sudah terlambat, mereka sudah membuat keributan.

“Maksud kamu apa? Emang aku ngapain?” Jihyo membalas dengan tenang.

“Kapten macem apa kamu Park Jihyo, kamu ga tau temen kamu pingsan?”

Kata-kata Mina benar-benar menusuk ke dalam jiwanya. Jihyo mengalihkan pandangannya pada teman-temannya, pada Chaeyoung yang masih terkulai lemas, lalu pada Nayeon dan Tzuyu yang baru saja datang bersama seseorang dari tim medis. Ia tetap diam, membiarkan Mina bicara. Kedua bibirnya seolah dilem, ia tidak mampu mengeluarkan satu huruf pun.

“Chaeyoung bilang hari ini dia ga makan apa-apa,” kata Mina, suaranya kembali terdengar tenang. “Is this the harsh diet thingy you told her to do? Chaeyoung bahkan ga butuh diet, dia ga gemuk.”

You’re a horrible person Park Jihyo—” Belum sempat Mina melanjutkan, Jihyo berdiri dan melayangkan tamparan keras di pipi Mina.

Shut up,” ujar Jihyo pelan. Air mata mulai menggenangi kedua matanya. “Aku ga pernah nyuruh Chaeyoung buat diet atau ga makan apa-apa. Aku cuma mau dia makan lebih sehat, dia suka makan keripik kentang terlalu banyak dan itu ga baik. It’s just a miscommunication between me and Chaeyoung.” Jihyo menjelaskan masih sambil menangis dengan suara bergetar.

Ketulusan di mata Jihyo menumbuhkan keraguan di benak Mina. Apakah ini yang kedua kali? Atau yang ketiga kalinya ia menilai Jihyo sebagai manusia yang buruk, kapten yang jahat, atau cewek menyebalkan. Mungkin memang Jihyo tidak pernah membencinya, mungkin memang ia yang membenci Jihyo. Mungkin ia yang jahat. Mungkin ia seperti ini karena ia masih tidak percaya pada sesama perempuan. Mina mengakui setidaknya salah satu dari sekian “mungkin” itu.

“Aku ga sejahat yang kamu kira Mina. Ga semua cewek itu jahat,” lanjut Jihyo, menghapus air mata dengan tangannya lalu menyambar tasnya dan berlari keluar dari ruang tunggu.

Mina masih berdiri mematung di tempatnya. Ia tidak menangis, hanya menatap kosong ke lantai. Suara lemas Chaeyoung terdengar di belakang, mengumumkan bahwa ia tidak apa-apa lalu menanyakan apa yang terjadi pada Mina. Tangisan gadis Myoui itu akhirnya pecah ketika Nayeon mendatanginya dan memeluknya. Tamparan Jihyo meninggalkan rona merah padam yang terasa perih di pipi mulusnya. Sekarang ia berulang kali mengatai dirinya sendiri jahat sambil sesenggukan.

“Kamu ga jahat Mina. Semua yang belum lama kenal Jihyo emang biasanya suka salah sangka sama dia. It’s okay I know you care about Chaeyoung a lot,

Aku selalu punya pikiran negatif soal Jihyo. Rumor bullying itu… aku selalu ngira dia yang tukang bully.” Pengakuan Mina membuat Nayeon melepaskan pelukannya, menatapnya dengan ekspresi terkejut bercampur tidak percaya.

God no… rumor itu sebenernya tentang aku, waktu itu aku masih kapten terus—intinya mungkin kamu harus coba ngomong sama Jihyo, coba buat lebih deket sama dia. Nanti kamu tau sebenernya dia orang yang kayak gimana,”

“Eh.. ya kita bisa ngomong lagi di rumah kan?” Jungyeon mengirim sinyal pada kedua temannya, memberi tahu mereka dengan gesturnya bahwa orang-orang di sekitar mereka sudah mulai berbisik-bisik membicarakan soal kejadian heboh tadi. Jungyeon tidak suka menjadi pusat perhatian karena alasan semacam itu. Mengangguk mengerti, Nayeon merangkul Mina dan mengajaknya kembali berkumpul dengan yang lain. Sambil menenteng tas masing-masing, delapan gadis cantik itu melangkah pergi meninggalkan keramaian.


Seminggu berlalu, Mina dan Jihyo masih tidak saling bicara. Tak ada ucapan selamat pagi atau pun bentuk basa-basi lainnya. Usaha Nayeon dan Jungyeon untuk membuat keduanya saling bicara tak ada yang membuahkan hasil. Segelas kopi maupun lingkaran makan malam mereka yang biasanya tak bisa menyatukan dua orang ini. Setidaknya tidak ada keributan lain di rumah itu selama seminggu ini, sampai datangnya selembar amplop putih bersih yang diantarkan pengantar pos sekitar sepuluh menit yang lalu. Surat di dalam amplop itu bagaikan bom yang berbahaya, dan bisa menjadi dua kali lebih berbahaya jika Hirai Momo yang menerimanya.

Momo melempar surat dari KCA tentang diskualifikasi tim mereka ke depan Jihyo yang sedang berusaha menelan sereal sarapannya. Ia hanya mengatakan tiga kata, “What the hell?” dan Jihyo balik menatapnya dengan bingung. Diraihnya surat itu lalu dibacanya setiap kalimat yang tercetak di atas kertas tersebut. Ia tahu hari ini akan datang, siap atau tidak ia akan menghadapi kemarahan Momo dan seluruh anggota timnya yang sedang bergantian membaca surat itu.

“Kita didiskualifikasi, gara-gara plagiarisme? Park Jihyo freakin’ explain yourself!” Sentak Momo, ia menyibakkan rambutnya ke belakang lalu menambahkan, “dan kamu waktu itu nolak pendapat aku buat bikin koreo baru. yang bener aja sih.”

Damn girl, all those tiring practice for nothing,” kata Jungyeon kesal.

“Maaf.” Cuma itu yang bisa keluar dari mulut Jihyo. Ia membiarkan semua teman-temannya meluapkan kemarahan mereka padanya, ia merasa pantas mendapatkan itu. Kali ini Sana yang mendatanginya sambil menggelengkan kepala dan melipat lengan di dada. “Koreo buatan sendiri my ass. Aku benci pembohong.”

Anggota-anggota yang paling muda hanya terdiam sambil menundukkan kepala, tentu saja mereka tidak akan membentak Jihyo atau memaki-makinya. Mereka, apalagi Dahyun, mempunyai respect tertentu terhadap Jihyo. Walau kekecewaan jelas hadir di wajah-wajah manis mereka. Bahkan Nayeon yang tidak pernah marah menunjukkan kekecewaannya, ia hanya diam, melirik Jihyo sekali lalu masuk ke kamarnya. Mina, well, ia tidak berbuat apa-apa. Ia menyaksikan Jihyo tersenyum pahit, membuang mangkuk serealnya ke tumpukan piring kotor dengan sedikit dibanting. Gadis Park itu melewatinya seolah ia tidak ada, melangkah dengan cepat ke pintu depan rumah. Lalu Mina mendengar bunyi brak keras, menandakan bahwa Jihyo sudah keluar.

Ini terasa jauh lebih buruk daripada hari pertamanya datang ke rumah ini. Mina kira hari itu adalah salah satu momen paling tidak menyenangkan dalam hidupnya. Ia harus tinggal bersama segerombolan cewek, mulai beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menghadapi ketakutan dalam dirinya. Tidak, ternyata berada di tengah-tengah kekalutan dunia perempuan jauh lebih mengerikan. Seperti bom waktu, katakanlah ia membuat satu saja kesalahan fatal, ia yang akan berada di posisi Jihyo tadi.

Lamunan Mina dibuyarkan oleh nada dering ponselnya. Okaasan is calling. Bagus, benar-benar waktu yang tepat. Kalau dihitung-hitung, memang sudah lama sejak Mina terakhir menghubungi ibunya, dan bisa dibilang Mrs. Myoui adalah tipe ibu-ibu yang agak khawatiran. Menghela napas, Mina beranjak dari meja makan untuk membereskan bekas sarapannya. Kemudian ia masuk ke kamar mandi, memutuskan untuk menerima telepon ibunya di dalam sana.

“Minari! kenapa lama sekali sih ngangkatnya. God I miss you so much!” 

Mina tersenyum kecil lalu menjawab, “I miss you too.” Lalu ia mulai terisak, mengingat semua masalah yang ingin ia ceritakan pada ibunya.

“Mina? Kamu ga apa-apa kan? Ada masalah apa? Soal kuliah? Soal cheers? Atau ada masalah sama temen-temen kamu? How’s the girls, they’ve been good to you right honey?” 

“Aku ga apa-apa. Mereka baik kok. I’m not bullied, if that’s what you’re worrying about.” Mina menghapus air matanya sebelum aliran cairan asin itu sampai ke pipinya. Ibunya malah semakin khawatir dan mulai membicarakan tentang masalah Mina dulu di San Antonio, membangkitkan memori-memori yang ingin Mina hapus dari pikirannya.

“…Kalo ada masalah cerita Mina, supaya yang dulu ga terulang lagi.” 

“Iya aku pasti cerita. Okaasan, I love you! Nanti aku telpon lagi.”


Gosip menyebar sangat cepat layaknya kebakaran di padang rumput yang kering, Minatozaki Sana pernah berkata demikian. Ucapannya terbukti benar. Puluhan pasang mata di cafeteria kampus siang itu tertuju pada delapan gadis-gadis cheerleaders yang duduk bersama di sebuah meja besar, dan pada Park Jihyo yang duduk sendirian tidak jauh dari sana. Rumor tentang perpecahan di dalam tim mereka sudah tersebar kemana-mana, gumaman dan bisikan menjadi musik latar acara makan siang hari ini.

“Enaknya aku nyuruh orang-orang ini berenti ngeliatin kita atau diem aja?” Tanya Jungyeon, jelas tidak menyukai perhatian khusus yang mereka dapatkan.

“Biarin aja, entar seminggu juga udah pada lupa,” komentar Sana sembari menikmati sup-nya dengan santai.

“Gimana mau pada lupa, we’re obviously out-casting her!” Jungyeon merujuk ke Jihyo dengan ekor matanya. 

“Mending kita ajak Jihyo ke sini, ayolah kita bukan anak SMA lagi. Kayak gini ga nyelesain masalah,” ujar Nayeon, namun Momo menolak mentah-mentah usulannya. “Aku masih marah sama dia.”

“Aku juga marah. Jihyo emang salah, tapi—”

“She’s been annoying to us. She deserves it for now,” Sana menyela. Ia meletakkan sendoknya, kehilangan selera untuk menghabiskan sup ayam-nya.

Well Jihyo mungkin punya alasan sendiri.” Jungyeon berusaha tetap netral, bersama Nayeon tentunya, keduanya tidak cukup kuat untuk menenangkan gadis-gadis penuh emosi ini.

“Ya, dan dia ga pernah cerita apa-apa sama kita. Dia yang ngejauh dari kita selama ini,” balas Momo, lalu melanjutkan mengunyah cemilan cokelatnya.

Jungyeon mengacak-acak rambutnya sambil mendengus kesal, Nayeon yang duduk di sebelahnya tak kalah frustrasi.

“Jihyo unnie keliatannya ngerasa bersalah kok,” ucap Chaeyoung tiba-tiba. Jihyo memang terlihat sedih, ia sama sekali tidak menyentuh makan siangnya. Kepalanya terus tertunduk, matanya menatap lantai keramik dibawahnya seakan benda itu sangat memukau hingga ia tak bisa mengangkat kepala.

Maybe we should forgive her.” Suara lembut Mina sukses menarik perhatian ketujuh temannya, membuat mereka berhenti menyentuh makanan mereka masing-masing. Mina tidak pernah berpendapat perihal masalah ini, dan sekarang tanpa ba-bi-bu ia mengusulkan untuk memaafkan Jihyo.

“Aku setuju. Semua orang pernah bikin kesalahan kan? Lagian udah terjadi juga, ngemusuhin Jihyo unnie ga bakal bikin kita masuk final.” Perhatian itu sekarang tertuju pada Kim Dahyun begitu ia menyelesaikan kalimatnya, Nayeon memandanginya dengan tatapan wah-Dahyun-sudah-dewasa yang membuat gadis itu meneguk air mineral-nya dengan gugup.

Topik tentang Jihyo terhenti sampai di situ. Mark Tuan dan pacarnya sedang mencari kursi kosong di cafeteria, laki-laki itu membawa nampan penuh berisi makanan milik Suji sementara Suji sendiri asik mengobrol dengan salah satu teman sekelasnya; kemungkinan tentang tren fashion bulan ini. Momo langsung mengomel melihat pemandangan itu, menambahkan alasan baginya untuk badmood hari ini.

“Liat Mark sunbae sama pacarnya! Ngapain sih dia pacaran sama setan itu?”

“Kalo kamu emang suka banget sama dia bergerak dong. Dasar lamban,” sambar Sana. Ia sudah muak mendengar Momo menggerutu tentang Mark setiap saat.

“Ga bisa, nanti aku keliatan sama jeleknya kayak pacarnya,” kata Momo.

clank!

Sana menjatuhkan sendoknya ke meja kemudian berdiri. “Sini aku contohin,” katanya jengkel. Ia mengibaskan rambutnya sambil melangkah menuju meja yang ditempati Mark bersama Suji dan temannya. Mark hendak pergi membeli makanan untuk dirinya sendiri, tapi Sana menghampirinya duluan dan menahannya di tempat. Keduanya bercakap-cakap biasa, mungkin sedikit basa-basi. Momo tidak heran melihat keakraban mereka, mengetahui reputasi Sana yang seorang social butterfly.

“Sana mau ngapain sih?” Jungyeon yang tidak mengharapkan lebih banyak atensi tertuju pada mereka langsung bertanya.

“Ga tau, dia itu…”

Sebuah kecupan singkat dari Sana mendarat di bibir Mark, mengejutkan semua orang yang menyaksikan kejadian itu termasuk Mark sendiri. Entah apa seharusnya kelanjutan dari kata-katanya tadi, tapi yang keluar dari mulut Momo berikutnya adalah jeritan marah dan sebuah kata kasar.

BITCH!

Berawal dari satu jambakan keras berlanjut ke saling berteriak dan menyumpah lalu berguling-guling di lantai. Momo bahkan tidak peduli lagi soal citra baik di depan Mark atau rasa malunya, ia benar-benar marah pada Sana. Ia mau menghajar gadis itu kalau bisa.

“Baru tadi aku bilang…” gumam Nayeon sambil memijat-mijat pelipisnya.

“Cewek-cewek gila ini bikin aku jadi sepuluh taun lebih tua,” keluh Jungyeon, beranjak dari kursinya untuk memisahkan Momo dan Sana yang masih jambak-jambakan di lantai.

Chaeyoung dan Dahyun kemudian menyusul. Nayeon akhirnya ikut turun tangan, apa boleh buat Tzuyu dan Mina juga ikut-ikutan menjadi bala bantuan.

Sang kapten Park Jihyo hanya menonton kekacauan itu dari jauh, makan siangnya masih tetap utuh tak terjamah secuil pun. Biasanya hanya dengan suara ala kaptennya yang otoritatif, Momo dan Sana akan langsung menghentikan catfight mereka. Di saat seperti ini di mana ia merupakan “musuh” keduanya, suaranya tidak akan memiliki efek yang sama. Ia hanya akan memperkeruh suasana kalau ia datang ke sana. Jadi Jihyo hanya memperhatikan, sampai Dekan Choi datang dan dua gadis itu berakhir di kantornya.

.

“Tadi itu benar-benar memalukan.” Dekan Choi membuka ceramahnya. Ia lalu mengeluh bahwa ia tidak punya waktu untuk mengurus pertengkaran konyol dua perempuan berusia 21 tahun. Namun ia tetap melanjutkan ceramahnya, berharap Momo dan Sana mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Young ladies, kalian bukan lagi gadis remaja yang belum dewasa dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan serta saling menyumpah.” Kemudian ia membicarakan tentang opsi penyelesaian masalah yang lebih bermartabat, citra mereka sebagai mahasiswa, dan hal-hal lainnya yang sama sekali tidak menarik bagi Momo maupun Sana. Keduanya dibebaskan 30 menit kemudian, masih dengan rambut kusut dan wajah yang ditekuk.

Di depan kantor Dekan Choi, Momo dan Sana berdiri bersebelahan. Tetap bungkam. Tak ada yang mau memulai percakapan, tak ada pula yang mau pergi duluan. Di balik diam itu ada badai tornado raksasa melanda masing-masing benak mereka, meluluhlantahkan segala isinya. Mulai dari pertemanan yang mereka bangun bersama-sama sampai kotak penyimpanan rasa benci yang mereka telah bersumpah tidak akan membukanya sampai kapan pun. Momo akhirnya buka suara, membiarkan empat kata keluar dari mulutnya.

You’re not my friend.

“Kenapa? Karena yang tadi?”

“Bukan. Karena kamu ga peduli sama aku atau perasaan aku.” Momo berbalik memunggungi Sana lalu melangkah pergi. Suara sepatunya yang berdecitan dengan lantai menjadi lebih keras di lorong yang sepi itu.

Oh God stop being so stupid!” Seru Sana, berhasil menghentikan Momo di tempat. “Masih banyak cowok lain. Kenapa harus Mark? Why hurt yourself?!

“Ini bukan soal Mark! Masih aja ga ngerti!” Balas Momo ikutan menaikkan nada bicaranya. Gadis itu membalikkan badannya, kembali menghadap ke Sana. “Kamu jahat, tau ga.” Setelah itu ia benar-benar pergi, bahkan tidak sedikit pun menoleh ketika Sana balik mengatainya idiot dengan suara bergetar.

“I’ve always been an idiot for you Sana.”


Semangkuk besar ramyeon ekstra pedas dan sebotol soju di warung pinggir jalan menjadi tujuan akhir Sana selepas jadwal kelasnya selesai dan kakinya lelah berjalan tanpa arah. Ia tidak mau pulang ke rumah, badai di dalam dirinya belum berakhir setelah bertengkar dengan Momo tadi. Ia memilih melahap ramyeon ekstra pedasnya supaya bisa menangis dengan bebas tanpa diberi pertanyaan-pertanyaan penasaran. Momo bilang ia jahat. Sana tertawa getir lalu menuangkan soju ke gelasnya, meminum minuman beralkohol itu dalam sekali teguk.

Jahat katanya. Pertengkaran ini bukan pertengkaran pertamanya dengan Momo, tapi di antara seluruh pertengkarannya yang lain, yang satu ini benar-benar membuatnya down. Ini bukan jenis pertengkaran di mana mereka akan langsung pergi ke mall bersama lagi keesokan harinya, yang ini serius. Sana bahkan sampai menangis, ia paling anti menangis apalagi di tempat umum. Baru saja akan meminum gelas kedua-nya, seseorang menyambar gelas itu dari tangannya dan meminum soju di dalamnya. Melihat sosok Jackson Wang duduk di hadapannya, Sana langsung mendengus kesal.

“Dasar tukang bohong, tadi katanya ga bisa dateng gara-gara acara keluarga.”

“Awalnya gitu, tapi acaranya ngebosenin jadi aku kabur.” Jackson meraih mangkuk ramyeon Sana yang masih terisi setengah lalu mencicipi kuahnya yang sarat akan bubuk cabai. Laki-laki itu langsung tersedak sampai wajahnya memerah ketika kuah itu sampai ke kerongkongannya.

Shit! What the hell are you eating Minatozaki Sana?” Sana diam saja sambil memandangi Jackson yang sedang tersiksa, ia akhirnya memesankan sebotol air mineral untuk memadamkan kebakaran di mulut temannya itu.

“Jackson, menurut kamu aku jahat ga?” tanya Sana.

Well, jahat gimana maksudnya? Semua orang pasti punya pengertian sendiri soal “jahat”.  Jahat bagi kamu belum tentu bagi orang lain dan sebaliknya,”

Gosh don’t give me scientific answer,” gerutu Sana, menuangkan soju lagi ke gelas. “Momo bilang aku jahat.” Lanjutnya.

“Hah? Momo? Bentar aku ga ngerti konteksnya, kalian berantem?”

Sana menceritakan semuanya dari awal permasalahan sampai setiap detil pertengkaran mereka, beberapa bagian membuat Jackson geleng-geleng kepala. Memahami dunia perempuan memang tidak mudah. Ia membiarkan Sana terus bicara dari penuh kemarahan sampai diiringi tangisan dan yang dilakukannya hanya mengangguk atau merespon singkat. Gadis itu jelas butuh pendengar, bukan pemberi solusi.

“Aku juga ga tau kenapa aku kayak gitu, tapi… emang iya aku jahat? Dia bilang aku ga peduli sama dia, aku—” perkataannya terputus karena tenggorokannya tercekat. “Aku ga suka dia nyakitin diri sendiri kayak gitu, nungguin Mark Tuan yang udah punya pacar. Aku kesel denger dia ngomongin itu terus tapi ga berbuat apa-apa.”

She also called me a bitch Jackson! Am I?

Setelah menghabiskan air mineralnya, Jackson mencari rangkaian kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sana tanpa membuat gadis itu meledak atau menumpahkan sisa-sisa banjir air mata yang masih dibendungnya. Ia membuka kalimatnya dengan berdeham. “Engga Sana, kamu bukan… well, kamu engga jahat. Yang kamu lakuin itu agak konyol tapi—God I don’t even know what to say.” Jackson terdiam sejenak lalu melanjutkan, “kamu tau kan aku ga bisa ngasih solusi?” Setelah itu ia menawarkan sebuah pelukan, Sana hanya tertawa.

“Lucu. Ga, aku ga mau peluk-peluk!” ucap Sana, tangannya meraih gelas soju terakhirnya namun lagi-lagi Jackson merebut gelas itu dan meminum soju-nya.

“Udah minumnya. Ayo pulang.” Ajak Jackson sambil berdiri dari kursinya, yang di ajak malah diam di tempat menolak untuk ikut.

“Pulang ke mana? Aku ga mau ke rumah.”

“Ke rumah aku?”

Your mom hates me. Anter ke rumah aja deh gapapa.”


Entah sudah berapa lama Jungyeon dan Nayeon duduk di depan TV sambil melamun. Jempol Jungyeon tidak hentinya mengganti-ganti saluran TV dari yang satu ke yang lain, tanpa benar-benar menonton satu pun dari acara-acara itu. Ia akhirnya berhenti di acara memasak, wanita paruh baya bercelemek pink di layar sedang bicara soal membuat hidangan penutup tradisional.

“Udah coba ngomong sama Jihyo? Atau Momo? Mina gimana?” Tanya Jungyeon, matanya terpaku pada TV, memperhatikan wanita tadi memotong buah-buahan.

“Tadi aku bilang ke Jihyo, ‘ayo beli kopi, kita ngobrol’ bla bla bla tapi dia ga respon. Momo, dia sibuk makan sampe ketiduran di dapur. Liat sendiri nih.” Nayeon meraih lengan Jungyeon, membawa gadis itu ke dapur kecil mereka. Di dekat lemari es, Momo terlelap seperti bayi dengan bungkus bekas cemilan dan mangkuk kotor di sekitarnya. Ada dua kaleng bir dan sebotol besar air di ujung kakinya. Jungyeon tercengang melihat bencana kecil itu.

“Mina, dia kayak zombie. Ngelamun terus,” ujar Nayeon, menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Kamu aja sana ngomong sama mereka. Aku ga tahan di sini aku mau pergi.”

“Hah? Pergi ke mana?” Pekik Jungyeon, mengikuti langkah Nayeon yang sudah duluan masuk ke kamar. Ia berkacak pinggang, memperhatikan unnie-nya itu memasukan sejumlah pakaian bersih ke dalam ransel kuliahnya.

“Ke apartemennya Jinyoung,” jawab Nayeon. Ia mengenakan jaketnya lalu mencabut ponsel dan charger-nya dan memasukkan benda-benda itu ke dalam tas. Nayeon pun melewati Jungyeon yang berdiri di dekat pintu kamar kemudian beranjak ke pintu depan rumah. Ketika ia sedang memakai sepatu, Jungyeon berbicara lagi padanya.

“Harusnya kita nyelesain ini dengan cara dewasa kan, unnie sendiri yang ngomong gitu. Mana bisa aku sendiri, jangan egois—”

“Selama ini aku ga pernah egois Jungyeon, apa-apa selalu tim ini dulu. Kali ini aku capek, pusing. Bodo amat!” Potong Nayeon. Begitu ia membuka pintu, ia disambut oleh Sana yang baru saja sampai di teras rumah. Nayeon menatap gadis itu seakan melihat orang yang membunuh piaraannya atau merebut pacarnya. Dilewatinya Sana begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa.

Di balik pintu, ada Jungyeon. Terlihat lebih stress daripada saat ia diminta merevisi tugas-tugasnya. Sana dengan santai seperti biasa meletakkan sepatunya di dekat rak lalu menjatuhkan dirinya di sofa, mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.

Sana, let’s talk,” Jungyeon duduk di sebelah Sana, matanya tertuju pada langit-langit rumah.

“Soal apa?” Kata Sana pelan.

“Semuanya.”

To be continued to episode 6: Re-bond the Sister Bond


Girls’ Corner #03: Jealous Bunny
(featuring Im Nayeon & GOT7 Jinyoung) 

Sejak mereka baru duduk sampai Nayeon telah melahap habis sepiring pancake, Jinyoung masih saja berkutat dengan laptop-nya. Apapun itu usaha Nayeon untuk mengalihkan perhatian Jinyoung selalu gagal, sudah ia duga mengerjakan tugas sambil kencan bukan ide bagus. Itu pun kalau Jinyoung memang mengerjakan tugas.

“Nanti lagi aja sih ngerjain tugasnya,” protes Nayeon, membuat wajah ngambek seimut mungkin.

“Ga bisa, ini harus selesai sekarang.” Jawab Jinyoung, tak terpengaruh sedikitpun dengan aegyo yang ditunjukkan Nayeon.

“Boong. Pasti sambil chat sama adek tingkat yang imut-imut kan?” Nayeon bermaksud bercanda namun Jinyoung memberinya tatapan yang-benar-saja.

“Iya. Lagi ngobrol sama adek tingkat yang imut jadi ga selesai-selesai tugasnya,” kata Jinyoung sambil menutup file tugasnya, menunjukkan foto Nayeon yang dipakainya sebagai wallpaper pada Nayeon. Gadis itu langsung senyum-senyum lalu menirukan posenya sendiri di foto tadi.

Give me a kiss. ” Jinyoung hanya tersenyum dan mengabaikan permintaan Nayeon.


.

That was shitty, but I hope it’s not that bad. It’s a depressing episode lol I have to go through a lot of sixteen gifs and it was… nostalgic. Still I hope you enjoy it. See ya on the next episode!

Love, Sho♡

Iklan

6 thoughts on “Girls’ Problem (Episode 5)

  1. Hai?
    Maaf loh baru ninggalin jejak di chapter ini :’ ((aku sks bacanya bodoamat! jadi komentarnya sekalian, ya?)) :’D

    Pertama, INI KEREN BANGET!
    Ceritanya asik, gk cma soal cinta2an, dan ini bener2 ‘Masalah Wanita’
    judul dan isi ceritanya nyambung.

    Kedua, penulisannya bagus~
    (nyontek dr komentar terdahulu; level baca ini tuh kya baca novel!)
    asli!
    Ceritanya kesampai dgn penulisan yg rapih, kebayang juga! ><

    Terus aku suka part Girls’ Corner-nya dong~ >>w<<
    lucu, lucu..

    Next chapternya ditunggu,
    Semangat terus ya, Thor! ^0^)9

    /maaf komentarnya nggak jelas. :’

    Disukai oleh 1 orang

    1. hello! gapapa kok aku dikomenin aja udah seneng banget >< thanks for this amazing comment ♡♡
      duh jadi terharu. memang aku nulis ini tuh karena aku jarang liat ada ff yg ceritanya tentang kehidupan cewek2 dan fokusnya ga cuma romance + terinspirasi dari mv cheer up dulu jadi pengen bikin karakter mereka jadi cheerleaders XD
      padahal penulisanku masih ece ece :” ini masih sederhana bgt kok diksinya.
      thanks for coming♡ i’m glad you like this series kekeke. btw episode selanjutnya udah ada kok ‘0’)b

      Suka

  2. Episode selanjutnya nya min_
    Plissssss 😇😇😇
    Jangan gantungg tiba2 ga dilanjutin mohonnnn
    Padahal konflikny lagi dipuncak.
    Epiosed selanjutnya ya min.. 😭😭😭
    Secepattnyaa 😭😭😭

    Disukai oleh 1 orang

    1. gabakal digantung kok ini ff favorit yang pernah aku tulis jadi pasti bakal diselesain >< sabar aja ya nunggunya karena aku ga bakal bisa update cepet sekarang2 ini.
      thanks for coming ♡

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s