Girls’ Problem (Episode 4)

shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 04: Crumbling Down

Park JihyoMyoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7

Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish | T/Teen
I own nothing but the story~
Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story!

PROLOGUE | EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3 EPISODE 4 


Tempat duduk di pinggir lapangan baseball ditempati oleh gadis-gadis muda yang kelelahan, keringat bercucuran dari rambut mereka hingga ke ujung kaki. Berlatih di luar masih merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi para cheerleaders ini. Sejumlah botol kosong air mineral memenuhi tempat sampah besar di dekat lapangan, bila isi airnya digabungkan mungkin mencapai satu galon. Waktu istirahat singkat yang diberikan Jihyo mereka isi dengan mencoba-coba seragam baru. Sana membawakan plastik besar berisi 9 set seragam cheers diiringi pekikan antusias dari teman-temannya. Bahkan Jihyo ikut-ikutan mengepas rok dan memainkan pom-pom barunya dengan Nayeon.

Menjauh dari keriuhan tawa canda teman-temannya, Mina duduk sambil memegang ponselnya dengan kepala tertunduk. Sudah sebulanan lebih ini ia tak hentinya bersikap murung. Suaranya semakin jarang terdengar, porsi makannya pun kian berkurang. Ia jadi sering kehilangan fokusnya ketika latihan, membuat Jihyo kesal dan meneriakinya setiap menit. Sejak malam itu hingga hari ini, teror dari Megan dan “teman-teman” lamanya di San Antonio terus berdatangan. Mereka terus mengancam akan datang menemuinya. Ia takut. Ya, ia takut pada Megan, Cathy dan Nancy. Mina tidak akan pernah lupa akan apa yang pernah gadis-gadis itu lakukan padanya. Mereka yang membuatnya menjadi penakut, pemalu, dan yang terpenting: menghilangkan kepercayaannya pada sesama perempuan.

megan carlton
hey sharon
don’t you miss me?
i miss your father’s credit card haha

Begitu bunyi salah satu dari pesannya. Mina benci harus berhadapan dengan setan-setan itu lagi. Bisa saja ia menganggap semua teror yang ia dapatkan sebagai ancaman kosong, tapi ia kenal Megan. Ia tahu gadis itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Semua itu cukup untuk mengacaukan pikiran Mina. Seminggu menuju hari kompetisi dan ia malah berantakan seperti ini.

“Ga mau cerita masalah kamu?” Suara Jihyo memecah lamunan panjangnya. Mina mendongakkan kepala untuk melihat Jihyo yang berdiri di hadapannya. Sang kapten tidak kelihatan senang dengan sikapnya.

“Ga ada masalah apa-apa kok,” ujar Mina pelan.

“Ada. Sikap kamu waktu latihan itu masalah. Kita emang ga deket jadi mungkin kamu ga mau cerita, tapi ini menyangkut seluruh tim. Nobody cheers with a long face like that Myoui Mina,” tegas Jihyo dengan nada ala kaptennya.

“Maaf.” Jihyo yang sudah beranjak pergi berhenti di tempat mendengar suara lembut Mina. “I’ll work harder,” lanjut Mina, lalu berdiri dan melangkah menuju tempat teman setimnya yang lain berkumpul.

Oh you better do.”


Suasana tenang perpustakaan kampus berhasil meredakan kerusuhan di dalam kepala Mina walau hanya untuk sepuluh menit. Ia memilih untuk duduk sendirian di pojok ruangan, bersama setumpuk novel karya Agatha Christie dan earphone menyumbat kedua lubang telinganya. Entah ia memang membaca buku di tangannya atau menghayati setiap lirik lagu yang dinyanyikan oleh Park Hyoshin, Mina tampak serius seolah terkunci di dalam dunianya sendiri. Ia benar-benar stress. Semalam Megan membuat group chat dan mengeroyoknya bersama Nancy dan Cathy. Ia juga benci pada dirinya sendiri, mengapa ia masih saja tidak berani membela diri? Ia masih saja terperangkap dalam bayang-bayang Sharon Myoui yang terbully, meskipun ia sudah melarikan diri jauh dari masa lalunya itu. Namun sesuatu mengganjal keinginannya untuk menangis dan menjerit-jerit. Ia tak bisa melepaskan emosinya. Dan itu membuatnya semakin frustrasi. Membaca buku bisa jadi semacam relaksasi bagi Mina, buku memberinya kemampuan untuk kabur dari dunia nyata.

Novelnya baru saja sampai pada adegan menegangkan ketika seseorang duduk di hadapannya, menawarkan senyuman ramah dan sebuah gelas plastik berisi cappuccino hangat. Mina meletakkan bukunya di meja, mematikan lagu di ponselnya dan menaruh seluruh atensi pada si pemberi kopi. Im Jaebum langsung menyapanya, walau dengan suara yang dipelankan tetap menyiratkan kegembiraannya bertemu Mina.

“Perasaan ga boleh bawa minuman ke sini deh sunbae,” kata Mina, lalu menyeruput cappuccino dari Jaebum.

“Biarin aja ga ketauan kok,” kilah Jaebum.

Thank you sunbae,” Mina memaksakan senyuman terbaiknya.

“Lagi ada masalah ya?” Tanpa basa-basi, Jaebum melontarkan pertanyaannya. Bohong kalau ia bilang wajah stress Mina tidak terlihat sama sekali, gadis itu benar-benar redup. Mina hanya menjawab dengan “hmm” panjang. Tidak memberi kepastian. Respon itu ditolak mentah-mentah oleh Jaebum, ia tidak perlu bertanya penuh selidik untuk mengetahui bahwa Mina baru saja mengelak.

“Keliatan jelas ya?” ujar Mina pelan, meletakkan gelas plastiknya di meja dan menghela napas.

“Terlalu jelas malah,” timpal Jaebum.

Mina tersenyum kecil, “tapi aku ga bisa cerita sunbae, ga apa-apa kan?”

“Sure, doesn’t matter.” Jaebum menutup buku yang masih terbuka di atas meja dan menaruhnya di atas tumpukkan dengan rapi, lumayan meringankan pekerjaan petugas perpustakaan yang harus mengumpulkan buku-buku itu nanti. Ia sama sekali tidak tampak tersinggung meski gadis cantik di hadapannya itu baru saja menutup pintu rapat-rapat di depan wajahnya.

“Aku di sini mau menghibur kamu, bukan dengerin kamu cerita sedih,” lanjut Jaebum, menerima tawa pelan dari Mina.

“Tau ga perpustakaan ini punya ruang CD? Ada piringan hitamnya segala. You might find it amusing.

Oh, tebakan yang sangat akurat, Im Jaebum. Perpustakaan yang penuh buku saja sudah membuat Mina senang, ia akan menyukai ruang CD ini. Mina tidak masalah jika orang memberinya label kutu buku atau nerd, setiap orang punya kesukaan yang berbeda. Jika orang lain menganggap aroma toko sepatu sebagai suatu hiburan, maka baginya aroma buku adalah hiburannya. Ruang CD yang dimaksud Jaebum terletak di lantai dua perpustakaan kampus yang besar itu. Hanya dibatasi oleh dinding dan pintu kaca, ruangan itu luasnya kira-kira setengah dari seluruh lantai. Di dalamnya ada lima unit komputer, beberapa set meja dan sebuah gramophone tua, dikelilingi rak-rak kayu yang diisi berbagai macam CD.

Tak perlu menunggu lama sampai Mina belari kecil memasuki ruangan sepi itu dengan antusias, ia langsung mengelilingi setiap rak, matanya mencari-cari nama penyanyi atau judul album tertentu. Keduanya mulai bertukar cerita tentang lagu kesukaan orang tua mereka dan betapa menggelikannya lagu-lagu itu. Percakapan seperti “kamu tau lagu ini…” atau “aku mau coba CD yang ini,” memenuhi udara diiringi dengan tawa khas Mina serta ucapan-ucapan sok pintar Jaebum tentang setiap CD dan piringan hitam yang Mina ambil.

Sampai pada bagian dokumentasi kampus, mereka menemukan berbagai CD menarik. Mulai dari dokumentasi acara pameran seni kampus sampai penampilan tim-tim olahraga yang mewakili Youngkwang University. Mina meraih salah satu tempat CD berwarna keemasan, di dalamnya terdapat CD warna putih polos biasa yang diberi tulisan “Bronze Girls / Best Cheers Routine at the nationals / 1996”. Spontan Mina teringat akan timnya sendiri dan kata-kata Jihyo. Mungkin kah dengan menonton penampilan cheerleaders lain akan membuatnya lebih semangat? Mungkin ia akan menyadari betapa kerennya cheerleading itu. Ia dan Jaebum menghampiri salah satu unit komputer dan memasang CD itu.

Klik. Klik. Video pun diputar.

Dokumentasi itu diambil saat kompetisi nasional tahun 1996. Gadis-gadis cheerleaders itu benar-benar mengusung nama tim mereka, seragam mereka dipenuhi atribut dan variasi warna perunggu. Salah satu dari belasan perempuan itu membawa bendera besar bertuliskan Bronze Girls. Dengan cekatan, mereka membawakan setiap rangkaian gerakan. Bukan hanya kualitas koreografinya yang membuat mulut Mina menganga, namun juga fakta bahwa ia tidak asing dengan setiap gerakan itu. Ia berani sumpah ia hapal rangkaian gerakan itu di luar kepala. Setiap lompatan… setiap putaran… ia yakin ini adalah gerakan yang diajarkan Jihyo untuk kompetisi tingkat kota nanti. Dengan sedikit sekali perbedaan. Mina kembali berubah murung. Seorang Jihyo yang begitu bangga akan kemampuannya tidak akan melakukan plagiarisme kan? Jihyo seorang kapten, ia pasti tahu konsekuensinya. Ia tidak mungkin menjatuhkan timnya semakin dalam ke dasar jurang. Mina mencoba meyakinkan dirinya sendiri, namun ia tetap tidak bisa membantah kesamaan gerakan timnya dengan milik Bronze Girls.

Sunbae tau Jihyo kan? Jihyo ga mungkin plagiat dari tim lain kan?” Tanya Mina pelan.

“Hah? Maksudnya?”

“Ini… gerakan tim di video ini… nyaris persis sama gerakan yang dikasih Jihyo buat lomba minggu depan.”

Jaebum terdiam sejenak, seakan mencari-cari arsip memori tentang Jihyo di perpustakaan otaknya. “Well, aku ga tau kayak gimana image Jihyo di mata kamu, tapi dia bukan orang kayak gitu. Jihyo emang emosian, kadang sombong, keras kepala, but she would never steal a cheerleading routine.” Kemudian ia melanjutkan, “that would hurt her pride as a captain.

Haruskah ia membicarakan ini pada Jihyo? Seperti kata Jaebum, menuduhnya melakukan plagiarisme seperti ini akan menyakiti perasaannya. Mau memberitahu Jihyo atau pun tidak, Mina tetap memutuskan untuk meminjam CD itu dari perpustakaan kampus, memasukan benda itu ke dalam tas selempangnya lalu meninggalkan perpustakaan bersama Jaebum.

“Aku bingung harus gimana,” ujar Mina, hampir tidak terdengar saking pelannya.

“Simpen aja dulu, ngomong sama Jihyo-nya tunggu waktu yang pas,” saran Jaebum.

Tunggu waktu yang pas. Sama sekali tidak ada waktu yang pas bagi Mina.


Hari sudah larut ketika Sana melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Tidak biasanya, ia disambut dengan wajah-wajah khawatir di ruang TV. Ia meletakkan high heels warna krem-nya dengan asal di dekat rak sepatu lalu menghampiri teman-temannya yang diam tanpa suara.

“Pada kenapa sih? Kayak ga pernah liat aku pulang malem aja,” kata Sana, menjatuhkan diri di sofa, di sebelah Jungyeon.

“Bukan kamu bego, si Mina belum pulang,” Momo menimpali, berjalan bolak-balik sambil memegangi ponselnya.

“Telpon polisi ga nih?”

“Ngapain telpon polisi? Paling dia ada kelas sore, atau pergi main kali.” Mengkhawatirkan seorang gadis berusia 21 tahun yang belum pulang lewat jam 10 terdengar seperti hal konyol bagi Sana.

“Mina ga pernah pulang telat, dari tadi ditelpon juga ga diangkat,” tambah Nayeon, lalu seakan menumpahkah sebotol minyak ke dalam kobaran api, Jungyeon juga menambahkan. “Mana dia akhir-akhir ini kayak galau gitu, kalo bunuh diri gimana?”

Unnie ngaco ih!” Dahyun yang duduk di bawah langsung memukul paha Jungyeon.

“Tunggu aja nanti juga pulang,” ujar Jihyo tenang. Ia tampak tidak tertarik atau tidak peduli, membuat Momo melirik sinis ke arahnya sambil menggumamkan sesuatu.

Tiga puluh menit berikutnya terasa begitu lama. Mina masih juga tidak mengangkat telpon dari Momo mau pun Nayeon. Teori bunuh diri yang ditawarkan Jungyeon semakin menguat dengan dugaan-dugaan tambahan dari Momo dan Sana yang jadi ikut-ikutan panik. Gadis Hirai itu benar-benar akan menelpon polisi ketika Chaeyoung yang berdiri di dekat jendela berteriak sambil melompat-lompat,”tuh Mina unnie pulang! Tapi sama siapa…”

Sontak gadis-gadis itu—tidak termasuk Jihyo—berlarian ke jendela untuk melihat sosok orang ‘misterius’ yang mengantar Mina pulang. Laki-laki itu sama sekali tidak asing bagi mereka, Sana sampai tertawa tidak percaya. Ini seperti menemukan gosip hangat langsung dari sumbernya. “Im Jaebum? Yang bener aja haha!”

“Mina pulang sama siapa?!” Seru Jihyo kaget, akhirnya menghampiri jendela dan menyuruh teman-temannya minggir supaya ia bisa lihat. Kedua matanya menangkap sosok Myoui Mina, berdiri di halaman depan rumah sambil menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Ia tidak tampak sumringah atau berbunga-bunga. Di hadapan gadis itu—Jihyo masih agak tidak percaya—berdiri Im Jaebum, sedang mengatakan sesuatu pada Mina.

Jaw drops. Jihyo meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepalanya, menarik rambutnya sendiri dengan jari-jarinya. Tiba-tiba ia berteriak. Tidak ada yang menyangka ia akan berteriak.

“Tzuyu… sup kamu tumpah ke baju aku!” Seru Jihyo emosi. Si pelaku hanya memasang wajah polos sambil memandangi mangkuk sup di tangannya (yang ternyata miring sejak tadi) lalu beralih memandangi Jihyo yang pergi ke kamar mandi sambil menghentakkan kaki.

“I’m sorry,”  gumam Tzuyu, genangan sup panas di lantai mulai mengalir mendekati kakinya.

“Kirain dia teriak gara-gara liat yang di depan,” celetuk Nayeon.

“Bisa jadi gara-gara dua-duanya.” Sana terkekeh.

Hanya Mina yang tidak mengerti apa-apa ketika ia masuk ke dalam rumah, mendapati Jungyeon sibuk mengepel lantai lalu teman-temannya yang membombardir dirinya dengan berbagai macam pertanyaan.


Jam dinding di ruang TV sudah menunjukkan pukul 1 pagi, namun lampu masih menyala terang. Tick. Tick. Tick. Suara jemari Jungyeon menari-nari di atas keyboard laptop-nya mengisi kesunyian rumah dini hari itu. Sebenarnya ia punya waktu seminggu sampai batas waktu terakhir pengumpulan laporannya. Iming-iming nilai A+ dari dosennya untuk pengumpul tercepat menjadi motivasi bagi Jungyeon agar bisa menyelesaikan laporan itu secepatnya. Kepalanya sudah terasa seperti mau meledak, namun jari-jarinya masih bergerak lincah di atas keyboard.

Liat tuh Seungyeon, cantik, pinter, udah punya calon suami yang mapan.

Kamu kapan kayak Seungyeon?

Ngapain sih masuk cheers segala? Nanti kuliahnya keganggu, mana bisa jadi lulusan terbaik kamu?

Persetan.

Jungyeon mendorong laptop-nya menjauh. Setiap kali ibunya membuka mulut, tak ada satu pun perkataan yang baik untuk dirinya. Ia selalu dibanding-bandingkan, dibebani dengan ekspektasi yang terlalu berat dan dipaksa mengikuti standar hidup yang ditetapkan ibunya.

Refleksi wajahnya memantul di layar laptop yang mati. Jemarinya menyisir helaian demi helaian rambut pendeknya. Apakah memang benar ia tidak secantik Seungyeon? Haruskah ia memanjangkan rambutnya sampai sepinggang? Jungyeon menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu membenamkan wajahnya ke telapak tangannya. Suara pintu dibuka membuat Jungyeon mengangkat kepalanya, tampak Kim Dahyun melangkah ke luar dari kamarnya dalam balutan baju tidur dan rambut yang berantakan. Tujuan awalnya adalah kamar mandi, namun gadis Kim itu malah berdiri di depan Jungyeon dengan wajah penuh tanda tanya.

Unnie, kenapa masih bangun?” 

“Lagi ngerjain tugas, biasa,” jawab Jungyeon, menghela napas sambil mengacak-acak rambutnya.

“You don’t look okay, unnie.” Kim Dahyun baru saja membaca perasaannya.

“Aku sering kebangun tengah malem dan selalu liat unnie duduk di sini. Waktu itu pernah denger unnie telponan juga. Ga sengaja kok.” Dahyun melanjutkan. Ia bisa melihat raut wajah Jungyeon berubah, melepas topeng kepura-puraan yang selalu dipakainya.

“Sebenernya aku ga suka ngomongin masalah ini—”

“Iya tau kok,” potong Dahyun, lalu tersenyum lebar. “It’s just- even the cool Jungyeon unnie has problems.” 

Jungyeon tersenyum malu, semburat merah muda mulai muncul di kedua pipinya. Ia meminta Dahyun untuk menyimpan rahasia kecil mereka dan gadis itu menyanggupi.


D – 1 

Entah bagaimana sehari sebelum kompetisi jatuh di hari bersih-bersih rumah. Beberapa dari gadis-gadis itu berharap bisa mendapat banyak istirahat sebelum melakukan aktivitas melelahkan esok hari. Tapi kenyataannya rumah kecil mereka memang perlu dibersihkan. Plastik sampah besar yang isinya sudah melebihi kapasitas masih tersimpan di bawah wastafel. Lantai kamar mandi dan toilet seolah berteriak minta digosok. Debu tipis di mana-mana. Bahkan Jungyeon si pembersih terlalu mengantuk untuk melakukannya, kantung mata gadis Yoo itu makin jelas saja terlihat. Satu-satunya yang sudah selesai membersihkan kamarnya adalah Sana beserta dua teman sekamarnya Dahyun & Chaeyoung. Chaeyoung yang kalah main gunting-batu-kertas harus pasrah menerima tugas menggosok toilet, sementara Dahyun dan Sana pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan.

Di dalam kamar Jihyo, Momo, dan Mina, sesi bersih-bersih berlangsung tanpa suara sedikitpun. Momo menyapu lantai malas-malasan sambil sesekali memegang perutnya yang keroncongan. Mina merapikan barang-barang dengan tekun sementara Jihyo mengganti seprai.

“Laper ah,” keluh Momo, melempar sapunya tanpa tanggung jawab lalu keluar dari kamar. Mina dan Jihyo hanya terdiam sembari memandangi punggung Momo dan hair bun-nya yang bergoyang-goyang ketika ia berjalan. Keduanya tidak protes, kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing dalam diam.

Teringat kembali soal CD yang ditemukannya di perpustakaan, Mina hampir membuka mulutnya untuk bicara pada Jihyo. Namun ia mengurungkan niatnya lagi. Mungkin lebih baik tidak membicarakan hal itu sama sekali. Ia melihat ke arah Jihyo yang sedang mengganti seprai tempat tidurnya, kemudian berpaling ke meja belajar yang penuh sampah bekas cemilan Momo. Banyak sekali yang harus…

“Apa ini?”

…dibersihkan.

Suara Jihyo mengagetkan Mina lebih dari gelegar guntur terkeras yang pernah ia dengar. Keringat dingin seolah mengalir di sekujur tubuhnya ketika Jihyo mengambil tempat CD berwarna keemasan yang terselip di salah satu sisi tempat tidurnya. Jihyo mengamati tempat CD itu dengan seksama, membukanya lalu membaca tulisan di kepingan CD-nya. Kelihatan sama kagetnya, Jihyo menutup kembali tempat CD itu dengan tangan gemetaran.

Jihyo, did you really plagiarize the routine? How could you…” Mina akhirnya memuntahkan kata-kata itu dari mulutnya. Melihat reaksi Jihyo saat membuka tempat CD itu, ia yakin itu benar.

“Pertama kamu nge-date sama mantan aku, sebenernya aku ga peduli tapi tetep aja. Terus sekarang kamu nuduh aku plagiat? Kamu sebenci itu sama aku?” Kata Jihyo sambil melipat lengannya di dada. Tatapannya mengintimidasi Mina hingga gadis itu sulit berkata-kata.

“Aku bukan nuduh, emang kenyataannya gitu.” Aku ga benci kamu Jihyo. Mina memutuskan untuk tidak mengucapkan kalimat itu, setelah Jihyo berkata seperti tadi ia jadi agak ragu. Apa mungkin ia memang membenci Jihyo hingga ia selalu mencari kesalahan sang kapten sebagai justifikasi dari rasa tidak sukanya?

“Kalo misalnya emang bener, terus kamu mau apa?” Tantang Jihyo, melangkah mendekati Mina yang kini menundukkan kepala.

“Kamu ga bisa ganti gerakannya? Kalo ketauan gimana—”

“Ga bakal ketauan!” Potong Jihyo. “Lombanya besok Mina, aku ga mungkin mendadak ganti seluruh gerakan.”

“Terus kenapa kamu harus ngambil gerakan dari situ?” Jihyo tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat, memainkan tempat CD di tangannya sambil menggigit bibir bawahnya.

“I’m desperate. I don’t want to fail again.” 

To be continued to episode 5: Girl-pocalypse


Girls’ Corner #02: SnailTzu
(featuring lunch trio and Seventeen’s Mingyu)

Hari ini seseorang ikut makan siang di meja Dahyun, Chaeyoung dan Tzuyu. Cowok itu tanpa rasa malu sedikit pun duduk di sebelah Tzuyu sambil senyum-senyum dan menawarkan makanan padanya.

“Maaf tapi kamu siapa ya?” Tanya Tzuyu polos, kelihatannya ia benar-benar bingung.

“Masa ga inget? Kim Mingyu, yang ngajak kenalan waktu itu.” Mingyu menunjuk-nunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.

“Oh ya? Chaeng, emang aku pernah kenalan sama dia?” Tzuyu malah bertanya pada Chaeyoung yang sedang sibuk mengunyah sepotong apel. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, melirik ke arah Dahyun yang cuma bisa mengangkat bahu.

“Sabtu nanti nonton Power Rangers yuk?” Ajak Mingyu, masih dengan senyum terbaiknya. Yang diajak malah mengerutkan dahi sambil menggulung-gulung spaghetti di piringnya dengan garpu.

“Tapi Power Rangers kan cuma boongan,” kata Tzuyu. Dahyun langsung menepuk dahinya lalu menggelengkan kepala. Kim Mingyu harus berusaha 1000 kali lebih keras dari ini untuk mendekati seorang Chou Tzuyu yang lemot.


[A/N] Hi it’s your girl sho again. This is shorter than usual and feels like a filler chapter 8′) huhu. College has been stressful lately. I’ve got essays to do and final exam. But I hope you still enjoy this. The song featured above is Samantha Ronson’s “Built This Way” in case you are wondering.

Love Sho♡

Iklan

2 thoughts on “Girls’ Problem (Episode 4)

  1. Tapi ya.. Sumpah.. Ini tuh berasa kayak baca novel novel teens gitu >.< penulisannya rapi bangett… Ditambah ada gif nya jadi lebih seru. Ya.. Kayak bener-bener baca novel + liat film gitulah :'3 jadi malu sama tulisan sendiri yang masih banyak typo. Anw, semangatt yaaa ditunggu kelanjutannya

    Disukai oleh 1 orang

    1. ah makasih!♡ jadi terharu :’) padahal aku masih abal abal juga. apalagi ini kemaren bikinnya sambil stress wkwk. glad that you like it~ thanks for the comment too >~<

      Disukai oleh 1 orang

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s