Girls’ Problem (Episode 2)

Poster by HRa@PosterChannel
Thank you for the amazing and lovely poster!

shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 02: Best Kind of People? Worst Kind of People?

Park Jihyo, Myoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7
Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish | T/Teen
I own nothing but the story~
Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story! (bahasa percakapan at times tidak baku(?))

PROLOGUE | EPISODE 1 | EPISODE 2


“Oh itu, aku kan cuma—“

Suara langkah kaki menuju ke pintu dapur menghentikan pembelaan diri Mina yang bahkan belum sampai setengah kalimat. Ia menoleh dan mendapati Jihyo sedang berdiri di sana dengan wajah muram. Suasana hening pun memenuhi ruangan, diselingi igauan Momo yang sedang tidur. Jihyo tidak menghiraukan mereka, gadis itu kelihatan lelah atau mungkin suasana hatinya sedikit buruk. Ia berjalan menuju kulkas, mengambil botol minumnya dan langsung meninggalkan dapur tanpa bersuara sedikit pun seperti tidak terjadi apa-apa.

“Ups.” Sana menutupi mulutnya seakan ia tidak sengaja melakukan suatu kesalahan. Sebelum pergi ke kamarnya, ia mendekati Mina lalu membisikkan sesuatu.

“Kayaknya kamu ga bakal tidur nyenyak malam ini. Good night, Mina-chan.”

Mina menghela napas panjang sambil menundukkan kepala, ia mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut sejak tadi. Kata-kata Sana ada benarnya, bahkan mungkin ia tidak akan bisa tidur sama sekali malam ini.


Tidak ada hari tanpa ribut di rumah cewek-cewek cheerleaders itu, bahkan tanpa Jihyo harus kena penyakit bad mood selama 2 hari, ia tetap akan mengomel tentang segala hal. Meskipun tidak tahan mendengar omelan Jihyo, mereka harus bersyukur karena gara-gara penyakit bad mood-nya itu Jihyo membatalkan rencana latihan jam 4 pagi dan memberi mereka waktu bebas akhir minggu kemarin. Di sisi lain, Mina tidak terlalu senang dengan hal itu, ia merasa bersalah (padahal Sana yang mengajaknya nge-gosip tentang Jihyo kelihatan biasa saja). Ia sudah mencoba mengangkat topik itu dan meminta maaf pada Jihyo, tapi si kapten malah terus menghindarinya.

Pagi ini saat berangkat ke kampus bersama dengan minivan putih butut mereka, Mina duduk di antara Jihyo dan Momo. Jihyo masih tidak mau bicara dengannya, sementara Momo sibuk mengunyah burrito sisa sarapan milik Sana. Mina akhirnya duduk dalam diam sambil menyimak obrolan teman-temannya.

“Momo, makannya hati-hati jangan ngotorin mobil lagi,” kata Nayeon sambil memberikan beberapa lembar tissue pada gadis Jepang itu. Barusan isi burrito-nya tumpah kemana-mana.

“Makanya ga usah makan di jalan! Nanti aku lagi yang bersihin, kan kesel!” Keluh Jungyeon, masih dengan mata terfokus pada jalanan di depannya. Nayeon yang duduk di sebelahnya langsung manggut-manggut setuju. Tapi siapa yang bisa menghentikan Hirai Momo makan kapan saja di mana saja?

“Tapi kan sayang ini burrito sisa si Sana, daripada dibuang!” Momo membela diri, menerima pukulan dari Sana yang duduk di belakangnya. “Ga usah bawa-bawa aku deh!”

“Ga usah mukul juga dong!” Balas Momo, memiringkan badannya dan mengulurkan tangan kotornya untuk menarik rambut Sana.

“AAAA MOMO DASAR GILA!” Jerit Sana, balas menjambak rambut Momo keras-keras sampai teriakan keduanya memenuhi seluruh mobil. Mina yang ikut menjadi korban gencetan badan Momo cuma bisa mengeluh dengan suaranya yang super lembut dan pelan. Jihyo mulai mengomel lagi karena tidak tahan mendengarkan keributan konyol itu. Dahyun yang mencoba memisahkan keduanya malah mendapatkan tabokan gratis sebagai gantinya (Sana tidak sengaja melakukannya, kata Dahyun sih tidak sakit). Sedangkan Chaeyoung dan Tzuyu hanya menonton dengan mulut menganga.

Bahkan Jungyeon yang sedang mengemudi tidak lepas dari gangguan yang disebabkan oleh sesi jambak-jambakan Sana & Momo. Ia sampai tidak bisa fokus dan menabrak pohon besar di pinggir jalan. Untungnya menabrak pohon adalah hal yang biasa bagi minivan butut itu, hanya sedikit penyok dan tidak ada yang terluka. Keributan di dalam mobil akhirnya reda juga, sekarang Momo dan Sana mengunci mulut masing-masing sambil berusaha merapikan rambut gimbal mereka.

“Cewek-cewek gila,” gumam Jungyeon sambil mengatur napas dan detak jantungnya. Kedua tangannya gemetaran di atas roda setir, ia masih agak kaget. Nayeon menepuk-nepuk pundaknya, ia langsung menawarkan diri untuk menggantikan Jungyeon menyetir (pamer SIM yang baru didapatnya minggu lalu) tapi Jungyeon menolaknya mentah-mentah. Ia khawatir Nayeon malah akan membawa mereka ke rumah sakit bukannya ke kampus.


Seolah insiden pagi hari tadi masih kurang untuk merusak harinya, Jihyo harus dihadapkan dengan Dekan Choi yang memergokinya di depan gimnasium. Gadis Park itu mendengus kesal, sepertinya mood-nya yang jelek membuatnya jadi sial terus. Tatapan menyelidik wanita umur 40-an itu membuat Jihyo refleks menyembunyikan tangan kanannya—yang menggenggam kunci gimnasium—ke dalam saku jaket. Dekan Choi hanya tersenyum tipis, memandangi Jihyo dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Park Jihyo, rokmu itu kelihatannya agak kependekan. Kamu tahu kan dresscode violation? Ayo ikut saya ke kantor.” Jihyo tertawa sarkas mendengar pernyataan Dekan Choi, jelas-jelas roknya bukan alasan sebenarnya ia diajak ke kantor. Ia yakin, begitu ia duduk di depan meja kerja Dekan Choi, wanita itu akan bicara panjang lebar soal timnya dan beasiswanya yang terancam dicabut. Ternyata dugaannya benar.

Dekan Choi duduk di kursinya yang nyaman, kemudian mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya yang ramping. Ia menyentuh papan nama di meja yang bertuliskan ‘Dekan Kesiswaan Choi Mirae’, masih tidak bicara sepatah kata pun, sebelum akhirnya meminta Jihyo menyerahkan kunci gimnasium. Dengan enggan, Jihyo meletakkan kunci yang ia dapat dari Mark Tuan tadi di atas meja.

“Kau sendiri tahu kan, tim-mu sudah tidak boleh lagi latihan di gimnasium. Lagi pula sore ini ada tim basket yang mau latihan di sana. Mereka membawa pulang lebih banyak prestasi daripada kalian yang katanya “varsity team” kampus ini,” tandas Dekan Choi. “Harusnya gelar itu sudah kucabut sejak lama,” tambahnya.

“Kami hanya membuat kesalahan kecil! Melarang kami latihan di gimnasium itu konyol sekali! Kami bisa membawa 100 piala kalau anda mau. Saya berani janji tahun ini 9MILLION akan kembali ke atas lagi, tapi tolong biarkan kami latihan di tempat yang layak!” protes Jihyo, nada bicaranya meninggi karena emosi.

Dekan Choi terlihat tersinggung dan memukul meja kerjanya keras-keras. “Jaga sikapmu nona! Pantas saja reputasi tim-mu buruk sekali. Pegang janjimu itu. Ingat, kalau 9MILLION tidak berhasil di kompetisi nasional nanti, beasiswa cheerleader-mu terpaksa harus kucabut!”

“Ngomong-ngomong soal tempat latihan,” ujar Dekan Choi lagi. “Coba kau bicara dengan Im Jaebum, siapa tahu ia mau berbagi lapangan baseball,”

Itu adalah ide terbodoh, terburuk, dan ter-tak masuk akal yang pernah Jihyo dengar. Bicara dengan Im Jaebum katanya, memang ia pikir bicara dengan mantan pacar sendiri adalah hal mudah? Tidak bisakah mereka meminjam lapangan tennis saja?

Tanpa ba-bi-bu lagi, Jihyo meninggalkan ruangan Dekan Choi sambil cemberut dan menghentakkan kaki. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku, segera memberi tahu Nayeon apa yang baru saja dialaminya lewat chat. Setelah itu dibukanya aplikasi kamera. Jihyo memandangi wajahnya dengan seksama di layar ponsel, ia menyisir rambut panjangnya dengan jari agar terlihat sedikit lebih rapi. Selanjutnya ia memberi sentuhan terakhir liptint pada bibirnya. Cukup puas dengan penampilannya, Jihyo menyimpan kembali ponsel dan liptint-nya ke dalam saku. 

Dia tidak punya pilihan lain selain menemui Im Jaebum, sekalian saja tampil cantik.


Grammar bukanlah mata kuliah favorit Mina, ia benar-benar bersyukur akhirnya 2 jam penuh siksaan itu berakhir. Mina segera membereskan buku-bukunya dan menggendong ranselnya keluar kelas. Mina sudah janji akan menemui Momo di kantin luar saat waktu makan siang, tapi ia menghentikan langkahnya di depan majalah dinding. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia mendekat dan memusatkan atensinya pada sebuah artikel keluaran majalah gosip kampus.

“ANGGOTA – ANGGOTA BARU 9MILLION: BISAKAH MEREKA MENYELAMATKAN TIM ITU DARI KEPUNAHAN?”

Di bawah judul yang agak hiperbola itu ada fotonya, Chaeyoung dan juga Tzuyu. Entah dari mana artikel gosip kampus dapat info soal dirinya, pasalnya di dalam artikel sampai disebutkan latar belakang keluarganya. Dari mulai pekerjaan ayahnya sebagai kepala rumah sakit di San Antonio sampai fakta-fakta pribadi lainnya. Mina bahkan disebut Royalty, yang menurutnya terlalu berlebihan. Ia rasa si penulis artikel  telah melebih-lebihkan status sosial dan kondisi ekonomi keluarganya. Tapi bukan itu yang membuatnya sangat kesal, ia disebut billion won bank account bagi timnya. Menjadi dompet berjalan adalah salah satu pengalaman buruk Mina semasa di San Antonio dulu. Melihat dirinya disebut sebagai “dompet” bagi 9MILLION cukup menyakiti perasaannya. Segera dirobeknya artikel itu dari mading tanpa pikir dua kali.

“Jadi kamu masuk ke cheers squad? Aneh juga, ga cocok.” Mina menoleh ke sumber suara dan mendapati Jaebum berdiri di sebelahnya. Laki-laki itu membawa buku yang dipinjamnya dari Mina di depan lab bahasa beberapa waktu lalu. Ia tersenyum lebar pada Mina sembari menyerahkan buku tadi. Gara-gara buku  mereka jadi saling kenal, padahal Mina yang pemalu tidak pernah punya pikiran untuk berkenalan dengan seorang senior. Dengan teman sekelasnya saja ia masih ragu-ragu mau mengajak bicara.

“Kenapa ga cocok?” Tanya Mina bingung.

“Ga cocok. Mereka itu gila semua, orang-orang paling buruk di kampus. Kamu kan kayaknya normal,” kata Jaebum.

Mina baru akan membantah kata-kata Jaebum namun ia teringat keributan tadi pagi dan sikap Jihyo padanya. Ia tertawa kecil.

“Well, ngga seburuk itu kayaknya. Mereka baik kok, agak liar, tapi baik. Sunbae kan ga pernah tinggal sama mereka, kok bisa bilang gitu?”

“Tuh,” Jaebum menunjuk koran di tangan Mina. “Siapa coba yang bisa nyebar info kayak gitu kalau bukan Minatozaki Sana si majalah gosip kampus,” lanjutnya.

Antara percaya dan tidak percaya, Mina langsung tertegun. Jika memang benar, ia akan bicara serius dengan Sana. Diselipkannya koran itu di dalam bukunya untuk jadi barang bukti nanti.

Sunbae, kenapa bisa sampai mengulang kelas?” Tanya Mina, mengalihkan topik pembicaraan.

Jaebum dengan enteng dan percaya diri menjawab “Aku sibuk di tim baseball, apalagi aku kaptennya. Aku keren kan?” Menilai dari cara berpakaiannya yang biasa-biasa saja, dia bukan tipikal cowok populer yang sok cool dan tebar pesona sana sini. Mina tidak akan menyebut seniornya itu keren, tapi harus Mina akui, senyumnya cukup menarik.

“Hmm jadi gitu. Eh, sunbae aku mau—” Tadinya Mina berniat menanyakan soal Jihyo, hanya saja Momo tiba-tiba datang menginterupsi obrolan mereka dan menyeretnya pergi. Sebelum Momo membawa Mina pergi terlalu jauh, Jaebum sempat melempar senyum lagi pada juniornya itu. Gadis itu tidak bisa tidak membalasnya. Memang berbahaya sekali senyuman seorang Im Jaebum.

.

“Kamu ngapain sih malah ngobrol sama dia?! Aku, Sana sama Dahyun nungguin kamu dari tadi!” Celoteh Momo sambil merangkul Mina, memaksanya menyamakan kecepatan langkah Momo. Mendengar nama Sana membuat Mina cukup heran. Tadi pagi keduanya bagaikan dua ekor kucing berkelahi, sekarang mereka sudah ke kantin bersama lagi? Mina tidak bisa mengerti persahabatan Momo dan Sana.

“Emangnya kenapa sih sama Jaebum sunbae? Aku ga boleh ngobrol sama dia?” Momo tidak merespon, mungkin terlalu lelah untuk bicara lagi setelah berjalan bolak-balik antara kantin dan gedung fakultas Mina yang jaraknya cukup jauh.

Siang ini kantin cukup ramai dipenuhi mahasiswa dari berbagai jurusan, hampir setiap meja terisi penuh. Nyaris tidak ada makanan tersisa kecuali beberapa jenis makanan ringan dan masakan yang kurang digemari. Mina hanya membeli sekotak susu pisang, lalu mengikuti Momo ke meja yang ia tempati bersama Sana dan Dahyun. Meja putih bundar itu berada tepat di sisi jendela besar yang menghadap ke luar, memperlihatkan lingkungan kampus dan orang berlalu-lalang dalam kesibukan masing-masing. Sana dan Dahyun yang sedang asik membahas warna cat kuku terbaru langsung menunda obrolan mereka ketika Momo dan Mina datang.

“Mina unnie kok lama banget?” kata Dahyun.

“Tadi dia malah ngobrol dulu sama Jaebum sunbae,” celetuk Momo, sebelum Mina bahkan bisa membuka mulutnya untuk menjawab.

“Oh ya? Haha,” tawa Sana sambil menusuk sepotong sosis dengan garpunya. “Jangan deket-deket si playboy itu.” imbuhnya.

Entah apa alasannya, tapi Mina segera berdalih, “dia baik kok kayaknya.”

NO!” Ketiganya berseru bersamaan, hampir membuat Mina serangan jantung.

Unnie, pokoknya mantan pacar temen setim itu udah garis batas paling jauh paling ga boleh paling bahaya paling haram,” ungkap Dahyun serius sambil menatap Mina lekat-lekat.

Momo, masih sambil mengunyah makanannya, menunjuk ke arah salah satu meja di tengah-tengah kantin. Di sana ada beberapa anggota tim baseball yang sedang makan sambil main truth or dare.

“Nih kuberi contoh. Ada jenis orang-orang baik dan buruk di sini, contohnya Jinyoung dan Mark sunbae. Jinyoung sunbae, pacarnya Nayeon unnie. Mereka udah 3 tahun lebih pacaran, dia setia, baik, satu-satunya yang kuliahnya masih lumayan bener dibanding temen setimnya yang lain. Calon suami idaman pokoknya,”

Masih tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin Momo sampaikan, Mina diam saja dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulut temannya itu.

“Terus Mark sunbae,” Momo terdiam sejenak, raut wajah dan sinar di matanya berubah ketika menyebut nama itu. “Dia ketua student body, dia—”

“Udah mau diganti kan tahun ini, dia udah nunda kelulusan dua kali,” potong Sana.

“Diem deh San, berisik!” Sentak Momo. “Dia ganteng banget, kalem, penyabar, jeleknya cuma dia udah punya pacar. Ngeselin lagi pacarnya,” lanjutnya sambil menunjukkan ekspresi jengkel ketika ia menyebut kata ‘pacar’.

“Nah Jaebum sunbae ini jenis yang satunya, kuliah bolong-bolong, player, brengsek lagi hih pokoknya ngga banget. Jadi intinya, cari orang baik kalo mau pacaran. Jangan sama dia, apalagi dia mantannya Jihyo.”

“Aku ga ada niatan kayak gitu kok, lagian kita baru ketemu dua kali. Mana mungkin langsung suka,” ujar Mina. Hari ini sudah dua kali ia mendengar tentang orang-orang paling baik dan paling buruk dari dua orang berbeda. Sebenarnya siapa yang bisa ia percaya?

Obrolan tentang cowok-cowok baseball & jenis-jenis orang di kampus itu berlanjut ke topik lain. Mulai dari soal mantan sampai make-up dan gosip terbaru kampus, yang mengingatkan Mina pada majalah gosip kampus tadi. Ia mengambil artikel yang ia sobek dari mading, tanpa basa-basi lagi langsung menanyakan pada Sana apa ia tahu sesuatu.

Gadis Minatozaki itu menelan ludah karena gugup. Wajahnya diwarnai ekspresi takut dan rasa bersalah. Masalahnya ia belum tahu seperti apa Mina yang pendiam kalau sedang marah, atau apakah gadis itu akan marah kalau tahu memang dia yang ‘tidak sengaja’ memberi info-info itu ke majalah gosip kampus.

“Eh itu, aku ga maksud nyebar-nyebar itu ke majalah kampus. Aku ga sengaja … maafin aku Mina. Aku abis stalk blog kamu terus … tapi bener deh yang nyebut-nyebut dompet itu bukan aku,” jelas Sana dengan hati-hati, diperhatikannya raut wajah Mina; sepertinya Mina tidak akan memakinya atau menjambaknya seperti Momo.

“Wah parah Sana unnie! Sembarangan banget,” sela Dahyun yang sedang membaca artikel tersebut. Mina sendiri malah tidak ada respon, ia tetap bungkam. Sana jadi semakin panik dan terus mengulang-ulang permintaan maafnya sampai Mina mengiyakan.

“Kita temen kan Mina? Lupain aja ya ga usah bilang-bilang juga ke Chaeng sama Tzuyu. Ya ya ya? Aku janji ga gosipin kamu lagi deh.” Momo cuma ikut tertawa mengejek mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sana dengan nada sok imut itu.

Mina menghela napas, lalu menatap ke arah Sana. Setengah hatinya masih agak kesal dengan kelakuan si tukang gosip ini.  “iya deh.”


Rentetan chat bernada panik dari Jihyo sukses memberi energi untuk kedua kaki Nayeon yang lelah selepas naik turun tangga. Ia rela lari-lari demi menemui Jihyo di depan ruangan tempat berkumpul tim baseball, karena kalau seorang Jihyo sampai minta bantuan itu artinya masalahnya serius.

Sebenarnya ini masalah hati.

Jihyo merasa sudah cukup berani dan percaya diri untuk menghadapi Im Jaebum saat ia berjalan menuju ke sana, namun begitu sampai di depan ruangan itu semua keberaniannya luntur seketika. Park Jihyo mungkin saja tegas dan galak, tapi kalau soal menemui mantan pacarnya ia menyerah. Lagi pula ia takut emosinya meluap-luap kalau melihat wajah Im Jaebum. Nayeon tidak protes atau bertanya-tanya lagi pada Jihyo ketika gadis itu meminta bantuannya untuk bicara pada Jaebum, ia tahu betul masalah Jihyo.

Nayeon—dengan Jihyo bersembunyi di belakangnya—melangkah ragu mendekati pintu, kemudian mengetuknya beberapa kali. Sampai lima kali Nayeon mengetuk, tidak ada respon dari dalam. Ia pun menempelkan telinganya pada daun pintu, mencoba mencari tahu apa ada kehidupan di dalam situ. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekati pintu diiringi gumaman kesal yang tak begitu jelas. Dengan bunyi ‘klik’ akhirnya pintu dibuka dari dalam, menampilkan sosok Im Jaebum dengan wajah mengantuk dan rambut acak-acakan.

“Eh Nayeon, Nyoung-nya ga ada di sini. Tadi dia ke kantin,” kata Jaebum terdengar malas, padahal Nayeon belum bilang apa-apa.

“Aku ga nyari Jinyoung oppa kok,” sahut Nayeon sambil tersenyum canggung. “Aku mau ngomong sama sunbae.

Jaebum menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hah? Mau ngomong apa?”

Nayeon pun berputar-putar membicarakan soal kesulitan mereka menemukan tempat latihan sampai menyebutkan bahwa Jihyo diberi saran untuk latihan di lapangan baseball oleh Dekan Choi. Ia hanya perlu izin dari Jaebum, namun sepertinya si kapten yang sedang ngantuk berat tidak bisa menangkap sedikit pun perkataan Nayeon yang berbelit-belit, kecuali ketika ia menyebut nama Jihyo. Spontan matanya mencari-cari sosok gadis pendek bermata lebar itu. Sama sekali tidak sulit menemukannya berdiri sambil menunduk di belakang Nayeon.

“Si Jihyo ga bisa ngomong sendiri emangnya?” Sebelum Nayeon bisa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan itu, Jaebum sudah meraih tangan Jihyo dan mengajaknya—lebih tepatnya memaksa—masuk ke dalam ruangan. Pintu yang dibanting di depan mukanya dan suara teriakan protes Jihyo membuat mulut Nayeon menganga. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain berdiri diam di sana, menunggu sampai Jihyo keluar.

.

Perasaan Jihyo saat ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, laki-laki yang sedang bersedekap di hadapannya itu pasti minta dicincang. Bagi Jihyo laki-laki Im ini tampak seolah ia tak pernah berbuat dosa, seakan lupa dengan apa yang ia lakukan pada Jihyo 3 bulan lalu.

“Jadi, tim kamu mau latihan di lapangan baseball gitu?” Jaebum membuka percakapan, Jihyo semakin ingin meledak. Jika otaknya adalah sebuah toples, maka toples itu sudah sudah dipenuhi cairan panas mendidih yang mulai memaksa untuk keluar.

“Tuh udah ngerti. Ngapain mau ngomong sama aku lagi. Ga penting!” Ketus Jihyo, membangun tembok setinggi-tingginya di antara dirinya dan Jaebum.

Despite still having certain feelings for him, she is extremely mad at him.

“Masih aja emosian, you see that’s why I broke up with you” 

“Kok jadi ngomongin masalah pribadi?! Katanya dulu udah punya cewek lain, jadi alasannya bisa ganti?” Jelas sekali Jaebum sudah memilih topik yang salah. Dinilai dari nada bicara Jihyo yang semakin meninggi, ia tidak akan bisa memenangkan perdebatan soal ini.

“Bodo deh Hyo, aku ngantuk. Sana pake lapangannya tapi sampe jam 4 aja ya, mau latihan juga soalnya.”

Bukannya mengucapkan terima kasih, Jihyo meraih sebuah novel yang tergeletak di meja, kemudian menimpuk kepala Jaebum dari belakang hingga laki-laki itu mengeluarkan segala rupa umpatan dari mulutnya. Setidaknya Jihyo ingin melampiaskan kekesalannya sebelum pergi, mungkin saja ini terakhir kalinya mereka bertatap muka seperti ini. Atau begitu yang ia pikir.

Crazy jerk,” gumam Jihyo sambil membuka pintu lalu melangkah keluar. Ditutupnya pintu malang itu dengan bantingan keras, lagi-lagi membuat Nayeon tercengang.

Nayeon punya firasat kuat bahwa objek penderita selanjutnya adalah ia dan semua teman setimnya.


“Serius mau latihan di sini? Ini sih pulang-pulang sepatu aku jadi cokelat.” Sana yang memakai sepatu kets putih langsung protes begitu kedua matanya menangkap pemandangan lapangan baseball yang bertanah.

Nayeon langsung menyikutnya dan berbisik, “udah nurut aja Jihyo-nya lagi bete.”

“Kenapa lagi dia?” Sana balik berbisik, tapi ia tidak akan pernah mendapat jawaban untuk pertanyaannya itu karena sebuah pom-pom merah tiba-tiba mendarat di kepalanya.

“Gosip aja terus San!” Seru Jihyo. Ia sedang berjalan mondar-mandir di depan anggota timnya yang berdiri membentuk satu banjar, seperti halnya yang biasa ia lakukan. Sana mengerucutkan bibirnya, padahal ia cuma bertanya. Well, bahkan ratu gosip seperti dia pun tidak setiap saat selalu melakukan aktivitas itu.

Seperti biasa sebelum latihan, Jihyo memberi mereka instruksi. Anehnya justru ia kelihatan tenang, bukannya marah-marah seperti dugaan Nayeon sebelumnya.

Atau mungkin belum saatnya ia marah-marah.

Setiap sesi latihan selalu diawali dengan pemanasan dan lari-lari kecil selama kira-kira 5 menit. Bagian selanjutnya adalah bagian favorit Momo; stretching. Ia menyukai bagian ini karena ia bisa pamer badan lenturnya. Sementara Nayeon sangat benci melakukan stretching, badannya yang sekaku papan cucian itu menangis minta tolong setiap ia melakukannya.

“Mungkin karena unnie udah tua kali,” celetuk Tzuyu tanpa disaring, ia dan Dahyun sedang membantu Nayeon meregangkan kedua kakinya. Nayeon yang tidak bisa marah hanya menghela napas panjang.

Hampir satu jam jalannya latihan, Jihyo mulai menunjukkan ketidaksabarannya menghadapi Tzuyu yang terus-terusan melakukan kesalahan. Mereka harus mengulangi rangkaian gerakan yang sama sampai puluhan kali gara-gara gadis Chou yang lemot ini. Ia sampai harus meminta Momo mengajari Tzuyu hingga anggota termudanya itu paham. Kemudian ia menghampiri Chaeyoung dan menceramahinya panjang lebar tentang kesehatan dan kekuatan fisik, karena Chaeyoung sepertinya cepat lelah.

“Kamu harus makan makanan yang lebih sehat, olahraga lebih teratur. Nanti kamu yang berdiri di stunt paling atas, harus bisa jaga keseimbangan. Makanya harus kuat.” Chaeyoung mengangguk pelan.

“Ayo ulangin lagi,” kata Jihyo sambil menepuk tangannya sekali untuk mengumpulkan atensi para membernya.

Jihyo memulai hitungannya dan mereka pun bergerak kompak sesuai dengan setiap ketukan. Dimulai dengan Jihyo sebagai center awal, Tzuyu—yang Jihyo tetapkan sebagai wajah baru tim mereka—berada di sebelah kirinya, dan Nayeon di sebelah kanannya. Kemudian mereka membuka jalan untuk Momo dan Sana yang melakukan tumbling dari belakang, mereka yang akan memimpin bagian dance. Setiap rangkaian rutin yang diajarkan Jihyo akhirnya berhasil dilakukan dengan lancar, sampai pada bagian paling menentukan

The most difficult stunt.

Pada bagian ini, Mina, Chaeyoung dan Jihyo bertugas menjadi flyer, dengan Chaeyoung berada di puncak, dan yang lainnya sebagai base akan menjaga mereka tetap aman. Jihyo membuat sebuah kekeliruan yang cukup fatal dengan stunt ini, mereka kekurangan pengaman dan itu sangat berbahaya. Namun ia tetap bersikeras untuk melakukan itu, meskipun berkali-kali dicoba gagal. Dan pada kali ini, mereka gagal lagi, hampir menjatuhkan Chaeyoung dari posisinya. Untung gadis mungil itu tidak terluka.

“Kalian semua kenapa sih?!” Seru Jihyo sambil mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Ia jelas-jelas terlihat frustrasi. Bukan hanya dia saja, kedelapan anggota timnya juga sudah mulai terlihat kesal dan lelah.

“Maaf tapi, Jihyo, ini kayaknya terlalu sulit,” ujar Mina pelan.

“Ga ada yang namanya terlalu sulit, kalo kita coba lagi—”

“Bener kata Mina, bukannya terlalu sulit sih tapi liat deh, kita kekurangan member!” Potong Momo. “Kita pake stunt yang gampang aja, terus banyakin akrobatik sama dance atau gimana, improvisasi gitu Hyo. Jangan maksain. Bahaya, kalo Chaeyoung patah tulang entar gimana?” Lanjutnya, membuat teman-temannya bengong karena seorang Momo yang biasanya kelihatan konyol bisa juga mengeluarkan ucapan serius dari mulutnya. Sebaliknya, Jihyo tidak terlalu senang mendengar pernyataan Momo.

“Bau-baunya mau ribut ini,” bisik Sana pada Dahyun yang langsung mengangguk setuju.

I don’t need your opinion, Hirai,” tandas Jihyo singkat, lalu melangkah kembali ke posisi asalnya. Momo sudah hampir menyusul gadis Park itu untuk menjambak ponytail-nya dan membuat keributan, beruntung Jungyeon dengan secepat kilat menangkapnya.

“Udah tau Jihyo emang gitu kepala batu, udah biarin!” kata Jungyeon, masih menahan Momo sebisa mungkin dengan kedua lengannya.

“Biarin gimana? Udah gila dia, kamu mau kita mati semua apa!” Gerutu Momo.

“Ga gitu juga unnie, tapi tangan kaki aku sakit semua sih,” Chaeyoung menimpali.

“Ya iyalah sakit, liat tangan aku kotor gini lagi gara-gara tumbling!” Tambah Sana.

Semua itu bahkan baru hampir setengah dari keseluruhan rutin yang harus mereka kuasai. Mereka cuma bisa berharap Jihyo nantinya mau mendengarkan usulan Momo, atau setidaknya memberi mereka istirahat selama 10 menit. Harapan-harapan itu seolah langsung runtuh ketika mendengar teriakan Jihyo yang kerasnya minta ampun.

“ULANG LAGI!”

.

Waktu akhirnya menunjukkan pukul 4 tepat, waktu yang sudah sangat ditunggu-tunggu oleh para cheerleaders yang kelelahan itu. Ya, termasuk Jihyo. Jujur saja ia juga ingin mandi air hangat dan tidur. Mereka mengambil tas masing-masing, sebagian menegak air minum mereka layaknya dinosaurus kehausan. Yang lain berusaha menghilangkan gerah dengan mengibas-ngibaskan tangan dan mengarahkan anginnya ke leher mereka.

“Laper bangeeet,” keluh Momo, kembali menjadi Momo si tukang makan.

“Beli makan dulu yuk!” Ajak Dahyun, mendukung keluhan Momo.

“Ah tapi capek.” Tzuyu mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipi. Kalo tidak sedang lelah, Nayeon pasti sudah tidak tahan ingin memainkan pipi Tzuyu.

“Ayo! Aku tau tempat sushi yang—”

Sebuah bola baseball meluncur dengan kecepatan penuh ke arah Myoui Mina dan menghantam gadis itu tepat di belakang kepalanya. Hantaman itu tidak membuatnya pingsan, namun cukup untuk mengagetkannya dan menghilangkan keseimbangannya. Mina langsung oleng dan bersandar pada Chaeyoung yang berdiri di sebelahnya.

“HEH!” Jihyo meneriaki si pelempar yang ternyata merupakan pitcher nomor satu di tim baseball, Kim Yugyeom. Bukan salahnya jika Choi Youngjae gagal menangkap bola lemparannya dan malah nyasar ke kepala Mina. Jungyeon mengambil bola itu dan melemparkannya kembali pada Yugyeom, menyuruhnya lebih hati-hati lain kali. Walau begitu perhatian Yugyeom tertuju pada korban lemparan bolanya, Mina. Haruskah dia minta maaf?


Malam ini ketika memainkan ponselnya sebelum tidur (kebiasaan yang sulit dihilangkan), Mina mendapat chat dari orang yang tidak ia kenal. Atau belum ia kenal.

kim yugyeom
hai, ini yang melempar bola tadi
maaf aku sangat ceroboh

First thing first, how did he get my contact?

To be continued to Episode 03: Boys Boys Boys


Terms: 

tumbling : gerakan gimnastik (semacam koprol (?))

stunt : keterampilan meliputi tumbling, membuat piramida, etc.

base : orang yang berada di bagian bawah stunt / orang yang mengangkat flyer.

flyer : orang yang diangkat oleh base, berada di bagian atas stunt.

pitcher : pelempar bola baseball


Girls’ Corner #00: Chaotic Group Chat
(featuring all members)

CHEER UP! (9)

nabong
aku lagi di supermarket nih, mau nitip sesuatu ga?

PJH
beliin pads dong

H. momo
makanan yang banyaaaak, aku pengen sosis apa tuh yang banyak saosnya

PJH
makan mulu

H. momo
diem kambing!

chaengg
rude

PJH
SINI KAMU

H. momo
GA

yoo sunbae
mo, itu sosis saosnya suka kemana-mana, udah tau kalo makan kayak balita, siapa coba yang bersihin entar?

H. momo
uuuu jungyeonnie my angel ♥

yoo sunbae
musnah -_-

PJH
musnah -_- (2)

H. momo
JAHAT SEMUA SIH HERAN

myouiii
ribut amat…

dahyunnie
ga usah dipeduliin unn
nabong unnie aku mau cemilan

myouiii
tapi hp aku geter terus 😦
eh nayeon unnie aku mau jus dong

nabong
udah itu aja? plis dong ini group chat dipake yang bener 😦 jihyo sama momo berantem di dunia nyata gih

PJH
dia ngatain aku kambing unn…

nabong
lah emang iya kan…

sanatozaki
diem kalian berisik, ini group aku 50 biji belum diliat semua tau ga

dahyunnie
WEH SANA UNNIE LAGI NGOMONGIN JACKSON SUNBAE MASA

sanatozaki
KIM DAHYUN!

chaengg
ASIK SPILL THE TEA DUBU!

dahyunnie
sampe di 10 group gitu masa ngomonginnya gila gila

sanatozaki
KALIAN GA TAU APA APA

chaengg
alah unnie ga usah ngelak gitu deh 😦

sanatozaki left the group

chaengg
IH DAHYUN OON SANA UNNIE NYA LEFT

dahyunnie
LAH APAAN KAMU YANG NYURUH AKU NGELANJUTIN 😦

yoo sunbae
adek adek kerjain tugasnya mendingan gih

myouiii
ini kenapa lagi capslock semua…
aku invite lagi ya sana nya

myouiii invited sanatozaki to the group
sanatozaki joined the group

sanatozaki
SON CHAEYOUNG SINI BURU

chaengg
GA MAU :”
maaf unnie, jangan bunuh dahyun ya 😦

choutzuyu
ada apaan sih?
sana unnie mau bunuh dahtun? kenapa ih? 😦
*dahyun
pada kemana T-T
aku mau minta beliin jeruk ke nayeon unnie, udah telat ya? 😥


[The long ass author note]
Ini ga wajib dibaca btw I just feel like I need to say something, therefore the long essay. Selain kehidupan kuliah yang edan dan maybe writer block, aku ga ada alasan lain untuk menjelaskan kenapa aku lewat berapa bulan baru update ini lagi 😦 ah i’m so sorry. I never want to abandon this fanfic because I myself love the idea very much and I want to finish it til the end, yeah but life happens lol.
For those readers who happen to like this series thank you so much and sorry for leaving you hanging for months :’ please kill me. Karena sekarang aku cukup banyak day off-nya, aku bakal berusaha setidaknya update dua minggu sekali :’) doakan berhasil (apa).
This episode is much longer than the first one, i hope you enjoy it (even tho it’s lame and not funny, probably should delete the comedy garing genre) you would want to read it from the first cause you might lost track on the story :(.
Side note, Jihyo is not a bad person, there’s more to her story I need to reveal. Sana might appear annoying but she’s not a snake lol. (this started as a Mina centric ff but then I think it has become Jihyo centric.) Pokoknya setiap member bakal dapet screen time dan ceritanya masing-masing nanti, tenang (?)
Also I introduce a new mini segment called Girls’ Corner where I put mini additional scenes that are irrelevant or just can’t be included in the main story. It would be fun! (I hope so).
yaudahlah udah kepanjangan ini kayak tugas essay aku 😦 semoga episode 2 ini tidak mengecewakan. Enjoy!

Much love, Sho♥

Iklan

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s