[1/3] Unperfect World

unperfectworld

©syongbaby.

[Twice] Mina |  [NCT] Taeyong

Dystopia Romance Angst | Ficlet | PG-15

malam yang melelahkan, aku terus ememgang cahaya kecilmu sambil berjalan karena aku hanya bisa melihatmu.❞ – a million pieces – Kyuhyun

 

  • Part 1 : You n I

Suasana kota Haow di pengujung hari tak bisa dibilang ramai—untuk hari sibuk seperti ini. Jalanan yang tertutup dedaunan kering lebih lenggang dari biasanya bahkan terkesan seolah kota ini sepi. Suhu yang mulai turun menjadi alasan yang tepat untuk bergulung di bawah selimut sembari menikmati secangkir coklat panas. Kecuali aku, yang sedang menuju toko roti favorit sekota Haow.

Untuk beberapa detik aku memastikan diri rapi sebelum akhirnya masuk ke toko, mendentingkan bel pintu yang tergantung. Aroma roti manis menguar lantas mencuri perhatianku, setiap bongkahannya seolah menggoda untuk dicicipi.

Namun tak satupun semenggoda tatapan Taeyong padaku saat ini.

Sulit rasanya hanya untuk menahan senyum ear to ear—tentu saja aku tahu konsekuensi kasus tersenyum di kota ini. Daripada memenangkan ego, kulakukan hal sesuai kebiasaan; mengambil roti kismis hangat dan menyerahkan pada kasir—Taeyong.

“3 dollar,” katanya, datar. Aku mengangguk pelan, menyerahkan beberapa lembar uang dari dompet lalu menerima bungkusan berisi roti.

Beginilah cara pendekatan dengan seseorang bagiku. Bertemu dengan Taeyong hanya sebatas membeli roti kismis—tanpa canda, tanpa tatapan penuh rasa, tanpa senyuman. Sejujurnya, itu semua tidak memberi suatu kemajuan.

Menyedihkan.

Tapi aku tak bisa berharap lebih. Hidup hanyalah soal panjang umur dan bekerja atau soal seberapa rupawan untuk menjadi orang sukses. Aku bagian dari mereka—kaum normal, dimana keadaan lebih baik dibanding kaum Taeyong. Karena itulah aku harus siap menerima kenyataan jikalau Taeyong ternyata membenciku—sama seperti kaumnya lakukan pada kaum normal.

Disini pembunuhan tidak dilarang, hanya saja mereka yang dirasa sebagai ‘sampah masyarakat’ dijadikan zombie pekerja; Zork sebutannya. Cirinya cukup mencolok yakni warna rambut selain hitam atau coklat dengan lingkaran gelap di sekitar mata penanda kerasnya mereka bekerja. Pemberontak, orang yang mudah menyerah, penyuka kekerasan bahkan pasangan kekasih segera ditangkap dan dijadikan Zork dimana tak seorang pun diperbolehkan berinteraksi dengan kaum rendah ini. Konsekuensi? Paling ringan 100 cambukan, terberatnya hukuman mati.

Tanpa sadar aku mendesah berat—mengapa Taeyong harus menjadi bagian dari mereka?

Andai tak ada kata perang dan rasisme di masa lalu, mungkin saja hari ini Taeyong melempar senyum dan  perasaanku tidak seberat ini. Atau perasaanku dapat ter—brukkh!

Suara barang yang terjatuh beruntun sontak membuatku memutar badan. Untuk sekian detik aku hanya menatap dengan perasaan campur aduk antara membantu atau mengabaikan. Kulirik sekitar, pesawat pengawas berbentuk bulat bernama drone berada cukup jauh. Dalam sekejap kuhampiri Taeyong dan membantunya mendirikan kembali rak yang menimpa. Tatapan Taeyong padaku tak dapat ditebak—apakah itu tanda terima kasih atau tidak, aku benar-benar tidak tahu. Agh ketampanan miliknya kadang menyakitkan. Tanpa interaksi apapun dia melanjutkan pekerjaannya dan aku memungut roti milikku sebelum beranjak pergi.

“Siapa namamu?”

Degh! Dadaku mulai berdegup tak teratur, “Mina, Myoui Mina. Kau?”

Hanya karena anggukan kecil aku mendesah kecewa diam-diam. Menelan bulat-bulat harapan yang terlanjur terbang tinggi terhadap reaksi darinya. Semacam senyuman atau obrolan basa-basi tak penting beberapa detik saja apa tidak boleh?

Tetapi seharusnya aku tahu kesialanku bukan hanya itu.

Karena ketika tubuhku berbalik, sebuah drone tengah menatapku. Lampu LED merah yang berkedip panik mengartikan bahwa riwayatku tamat kali ini. Akal sehatku sudah meneriakkan untuk lari tetapi kelibatan adegan penyiksaan sebelum menjadi zork  malah membekukanku, memaku pandang pada kedipan merah itu. “Target Myoui Mina, perempuan, 19 tahun. Lokasi 167 derajat dari markas. Keseriusan tingkat 3; menolong zork. Ki—

“LARI!”

Aku sudah tidak memedulikan apapun lagi ketika Taeyong menyelipkan koin penunjuk arah dalam genggaman dan turut berlari bersamaku. Pilihan terbaik hanya pintu belakang. Meski seratus persen kuyakini kawanan drone pengawas segera menyusul, lebih baik melakukan sesuatu daripada diam.

Kami terus berlari entah kemana. Maksudku, aku hanya berlari mengikuti Taeyong tanpa curiga. Dengan ujung mataku, kulihat dia tak menampilkan ketakutan sedikitpun. Berlari disampingku dengan tegar seolah semuanya akan baik-baik lalu balik seperti semula.

Semburat jingga di ufuk barat adalah favoritku tapi rasanya begitu mengerikan saat sedang dalam pengejaran antara hidup dan mati seperti saat ini. Cih, seharusnya sore ini begitu damai bukannya penuh ketakutan. Tanpa sadar aku mengepalkan tangan dan menyadari eksistensi koin penunjuk arah dari Taeyong sungguh sia-sia.

“Koin penunjuk arah diawasi pemerintah, maaf kubuang punyamu,” seruku, mengusahakan tetap tenang kemudian melepaskan koin tersebut ke tumpukan dedaunan kering. Belasan drone yang mengikuti kami meloloskan pekik takut dariku. Satu hal tentang dunia ini; menyerah adalah sebuah pelanggaran dalam undang-undang. Dipastikan tempat terbaik untuk kabur adalah luar angkasa—karena drone tidak akan menyerah untuk mengejar.

Taeyong meneriakkan sesuatu kemudian menubrukku hingga terlempar ke dalam saluran pembuangan, nyaris membuatku tenggelam dalam air kotor. Menghilang dari pandangan drone. Keputusan terbaik sekaligus menjijikan untuk menyelamatkan diri. Tanpa membantu atau apalah, Taeyong bangkit lantas mendahului menyusuri lorong pembungan air kota yang kotor. “Aduh,” lututku sedikit linu saat mulai mengikuti langkahnya.

Ada jeda cukup lama setelahnya. Kita berdua sama-sama berkelut dalam pikiran masing-masing, sedikit mengacuhkan eksistensi yang lain. Tapi aku tak habis pikir tentang kejadian ini—apa dengan cara ini saja aku bisa dekat dengan Taeyong?

“Maaf membuatmu dalam masalah,” ia angkat suara. Kendati suaranya yang sedalam samudra nyaris menenggelamkanku dalam pesona milik pria itu. Nada frustasinya membingungkan, maksud darinya tidak dapat kumengerti. “Kau selalu membeli roti kismis dan tidak pernah berubah pilihan. Aku.. aku penasaran ingin tahu namamu tapi bukan menjadi seperti ini.”

Dalam diam kami berjalan di air kotor setinggi lutut—selama itu aku memikirkan kata-katanya. “Tidak apa, kita sudah kabur dari kawanan drone jadi tidak usah dipikirkan.”

“Tapi tetap saja!”

Sejenak aku tercenung, sorot yang menyiratkan keputusasaan itu membuatku takjub. Caranya mengekspresikan perasaan sukses menarik hatiku. Kami hanya terus berjalan melawan air kotor sampai kakiku linu, mati-matian untuk tidak mengeluh dihadapan Taeyong yang sepertinya tidak merasakan apa-apa.

“Kakimu sakit?” tanyanya lembut. “Tahan sedikit. Kita akan sampai ditempat yang lepas dari jangkauan pemerintah. Kuharap jangan terlalu terkejut.”

Selama sisa perjalanan kami benar-benar membisu. Ia nyaris mengabaikanku sedangkan aku sendiri tidak tahu harus bilang apa. Lantas air kotor mulai menyurut dan tergantikan daratan basah, Taeyong langsung merapat pada dinding sebelum membuka jalan rahasia yang luar biasa. Aku tidak bisa menahan decakan kagum, kupikir kota Haow hanya sekedar kota dengan drone menghiasi langit dan terkesan kelabu—ternyata tidak.

Taeyong melirikku sekilas dan tersenyum tipis, “Selamat datang di kota sebenarnya, Over Haow.”

Lalu semua berubah begitu spektakuler ketika aku melewati pintu rahasia. Udara sumpek pada saluran pembuangan berganti aroma sejuk dari embun, permadani hijau sepanjang penglihatan, makhluk terbang yang orang dulu sebut burung bertebaran di langit menggantikan drone dari pemerintah.

Dan yang terpenting; kebebasan.

“Tempat apa ini? Surga?” bisikku, benar-benar merasa tolol.

Suara tawa pelan menyambut dari belakangku, “Over Haow. Semua yang diciptakan Tuhan di masa lalu ada disini.”

“Bagaimana bisa?”

“Para peneliti yang selamat dari perang dunia ketiga berhasil melindungi semua ini. Tetapi revolusi besar-besaran pemerintah sekarang meyakinkan mereka untuk menutupi semua, hanya kaum zork yang terbuang seperti aku yang boleh tinggal dan melestarikannya. Kecuali kau sekarang.” Ia terkekeh kecil. “Ayo, aku harus meminta ijin agar kau bisa berada disini.”

Menahan hasrat untuk berteriak girang dan bergulingan di rumput sungguh merepotkan. Seulas senyum tipis milik Taeyong menghiasi perjalanan singkat kami dan hatiku dibuat bergejolak, salah satu yang menahanku untuk bersikap bodoh.

Udara disini lebih nyaman, warna-warni yang terwujud di setiap bentuk sangat menarik dibandingkan kota Haow yang dominan berwarna abu-abu. Taeyong memberitahuku berbagai warna baru seperti hijau, warna dari dedaunan atau coklat dalam dedaunan yang kering. Musim semi di Over  Haow terasa lebih ‘manusiawi’ bagiku.

Aku dan Taeyong berjalan di pinggir sungai kecil dimana ikan-ikan hidup bebas. Airnya terlalu jernih sampai  aku tak tega untuk membersihkan air kotor bekas saluran pembuangan beberapa waktu lalu. Takut mengotori. Aku menatap bayangan yang terpantul di air kemudian melirik Taeyong yang melakukan hal sama—rambutnya yang  basah membuat figure rupawan itu berkali lipat semakin tampan.

Hingga di ujung sana terlihat rumah berwarna coklat yang menyita perhatian—kami berhenti sejenak. Suara tawa yang  riuh mengetuk kesadaran bahwa bukan hanya aku dan Taeyong yang berada di Over Haow. Memikirkannya tiba-tiba membuatku gugup.

“Sepertinya banyak yang berkumpul di rumahku. Mereka semua pemberontak angkatan satu dan dua, sama sepertiku, mayoritas baik tetapi lumayan banyak yang membenci kaum normal sepertimu. Tenang saja, semua ini salahku jadi kau jangan takut,” ia menjelaskan. Namun bagiku,  kata ‘lumayan banyak’ terdengar ‘seluruh zork’. Bagaimana bisa aku tidak takut?

Setibanya, Taeyong mengetuk pintu lalu masuk dengan aku yang mengekor. Riuh tawa lenyap, tatapan penasaran beralih padaku—yang omong-omong terlalu menunduk sampai menyadari jejak kakiku mengotori lantai. Ketukan teratur sebuah langkah kaki hadir di depan aku dan Taeyong—sepatu pria.

“Siapa dia?” Tanpa sadar aku semakin gugup.

“Myoui Mina, kaum normal,” sesaat kurasakan orang-orang terkesiap. ”Dengar, ini semua salahku. Ia menolongku tapi aku malah mengajaknya berkenalan. Drone mengejar kami berdua sehingga mau tak mau aku membawanya kesini. Untuk sementara waktu aku mohon ia diizinkan tinggal disini. Kalau tidak ia akan dijadikan zork karena—“

“Ya sudah. Biarkan dia berubah jadi zork lalu tinggal disini.” Pria berambut merah—si pria yang pertama bertanya melipat kedua tangan di dada seraya mengintimidasiku, “kaum normal tidak sebanding dengan kaum kita.”

“Ayolah, ini kesalahanku. Kalau mereka bisa mengubahku menjadi zork kembali sebagai hukumannya aku rela tapi tentu saja tidak bisa!”

“Apa kau tidak tahu kalau pemerintah tidak akan melepaskan seorang pun yang melanggar aturan termsuk gadis itu? Kau mau pemerintah menghancurkan Over Haow demi mendapatkan dia? Kau tidak berpikir itu juga akan membahayakan kita!?” Tutur dari pria itu langsung menyadarkan benak—keberadaanku disini tak akan dibiarkan begitu saja. Bahkan merujuk sebagai bahaya entah dari pihak zork maupun pemerintah sendiri. Walau hingga kini aku masih memikirkan bagaimana cara pemerintah menemukanku di tempat yang begitu tertutup ini.

Taeyong mendesah berat. “Gadis ini tak akan kubiarkan disiksa karena kesalahanku jadi biarkan aku menjaganya disini.” Pipiku langsung memerah. Barusan itu, apa Taeyong mengatakannya dengan tulus? Sayang, ketika merasa melayang-layang, seorang wanita memaku  tatap penuh api kebencian padaku—menjatuhkan telak bayanganku.

“Okay terserah! Tapi kau sudah menanyakan pendapatnya?” Cepat-cepat aku merunduk dalam setelah sebelumnya si Rambut Merah menujam sinis guna menanyakan apa keputusanku. “Kau tidak mau disinikan?”

Orang-orang yang tersulut emosi atas provokasi si Rambut Merah mulai melingkariku—mengintimidasi seolah hendak menembuskan sebuah peluru lewat mata. “A-aku…”

To be countinou

Iklan

5 thoughts on “[1/3] Unperfect World

  1. wah dystopic fiction *0* aku sukaaaa! kenapa feeling aku ini ga bakal happy ending 8′) wahaha (sotoy) tapi tetep penasaran lanjutannya ;u; looking forward to the next part~!

    Suka

  2. Dystopia Romance ^o^ baru pertama kali baca sih yaaa, penasaran juga dan yaaa imajinasinya bagus ih 😦 pairing kesayangan ku wkwk Mina-Taeyong xD
    next ya kak ditunggu ^^

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s