[Vignette] Untoldable Phrase (Momo’s Side)

Processed with VSCO

UNTOLDABLE PHRASE

.

Romance, Angst, Slice-of-life || Vignette || Teen

.

Starring
TWICE’s Momo, Pentagon’s Yuto

.

Inspired by
Illa Illa by Juniel

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

(Yuto’s Side)

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Like a young child, a first love is inexperienced.” –Illa Illa (Juniel)                

Bagi Momo, bunga tak hanya memiliki peran dalam memancarkan keindahannya. Nilai setangkai bunga jauh lebih berarti dari itu. Untuknya pribadi, bunga menyimpan sebuah filosofi hidup. Bunga mengajarkan setiap insan untuk tidak hidup dalam kekhawatiran. Lihatlah bunga liar yang tumbuh, tanpa perlu bersusah payah mencari pakaian, ia cantik dengan sendirinya karena pemeliharaan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau bunga saja Ia pelihara, mengapa manusia yang notabene adalah ciptaan-Nya yang paling mulia masih khawatir tentang kecantikan parasnya?

Selain itu, bunga juga dapat dipakai sebagai penyampai pesan. Seolah setangkai bunga dapat menyampaikan ucapan yang mungkin tak dapat dirangkai dengan kata. Itulah sebabnya orang berbondong-bondong memesan mawar merah saat hari kasih sayang, orang membeli buket bunga untuk diberikan sebagai ucapan selamat, orang membeli bunga ikat saat berkunjung ke makam atau membesuk kenalannya yang sakit.

Kecintaannya terhadap bunga sejak kecil membuat Hirai Momo memutuskan untuk membuka toko bunga. Tidak besar, memang, dan tidak banyak pengunjung, tetapi gadis itu tak peduli. Yang ia harapkan sebenarnya adalah apresiasinya terhadap bunga dapat tersampaikan.

Hari itu sekitar pukul dua belas siang. Momo sedang asyik merangkai beberapa tangkai bunga Gerbera dalam berbagai macam warna. Bukan untuk pesanan, ia hanya merangkainya karena hobi. Untuk apa? Entahlah, mungkin untuk dipajang di rumahnya.

Tahu-tahu seseorang mengetuk meja tempatnya menumpukan siku. Momo mengangkat wajah, dan terkejut. Entah sudah sejak kapan datang, tiba-tiba di hadapannya berdiri seorang pria dengan kemeja kotak-kotak, tersenyum. Di punggungnya terselempang sebuah tas tabung abu-abu yang Momo tahu sering digunakan oleh mahasiswa seni. Momo menundukkan wajah, seraya dalam hati memarahi diri sendiri. Sepertinya ia terlalu asyik dengan bunga Gerbera sampai tak awas akan pintu masuk tokonya, bahkan lupa menyambut tamu.

Pria itu menunjuk ember perak berisi bunga anyelir merah muda. Dari gerakan tangan Momo tahu bahwa pemuda tersebut minta dibuatkan sebuah buket. Momo teringat, ini adalah hari Ibu, dan Momo tahu apa yang pemuda itu maksud. Gadis itu menganggukkan kepala, dan tangannya dengan cekatan tetapi apik mulai memilih tangkai dengan bunga yang bagus.

Ditatanya tangkai-tangkai bunga anyelir dengan rapi di atas selembar kertas tisu berwarna kecoklatan, lalu dengan perlahan ia menggulungnya, membentuk sebuah buket yang cantik. Terakhir, Momo memberi hiasan berupa sebuah pita ungu yang mengikat tangkai-tangkai bunga, di bagian agak ujung. Manis.

Momo menyerahkan buket bunga tersebut pada sang pembeli, bertepatan dengan si pemuda yang kebetulan selesai menulis kartu ucapannya. Momo melirik pemuda itu dengan takut-takut, khawatir apabila ia tak terkesan akan sikap Momo yang tak menyapanya saat datang tadi. Namun sepertinya, pemuda itu tampak tak mempermasalahkannya.

Uang untuk buket sudah diletakkan di atas meja. Pemuda itu mengatakan sesuatu. Momo tidak tahu apa, yang pasti ia hanya memberi anggukan sebagai respon.

Momo menatap punggung pemuda itu lekat-lekat saat sang pemuda berjalan menuju pintu keluar. Dimiringkannya kepala sedikit ke kanan. Entah apa penyebabnya, Momo tak dapat menyembunyikan senyum akibat pria itu. Kurva di bibir sang pria yang sempat tertangkap oleh penglihatan Momo tadi tergambar jelas di benaknya. Senyum itu adalah senyum termanis yang pernah Momo lihat. Dan firasatnya mengatakan bahwa pemuda tadi adalah orang yang ramah.

Untuk sebuah alasan yang tak dapat dijelaskan, Momo berharap suatu hari nanti pemuda itu akan kembali berkunjung ke tokonya.

Keinginannya terkabul. Bahan gadis Hirai itu tak perlu menunggu waktu lama, karena esok harinya pemuda yang sama mampir ke toko kecilnya.

Entah apa yang pria tersebut inginkan, karena sejak kedatangannya lima belas menit yang lalu ia hanya mondar mandir di dalam toko, melihat satu bunga demi satu bunga, mengelusnya, membaca papan nama yang terpajang untuk menamai setiap bunga beserta harganya, bahkan sempat-sempatnya membaui bunga. Ya Tuhan, apakah ia ini lebah yang sedang mencari mana bunga dengan nektar yang lezat?

Namun berhubung tak ada pengunjung lain di toko itu serta tak ada kegiatan lain yang bisa Momo kerjakan, ia pun hanya memandang sang pemuda, mengamati setiap gerak-geriknya.

Oh, jangan tanya berapa kali pemuda itu memergokinya sedang mengamati. Bila ia kepergok, Momo cepat-cepat mengalihkan pandangan, sambil merapikan surai cokelatnya yang tergerai ke belakang punggung lalu mengibaskan tangan. Udara mendadak terasa panas, atau perasaannya saja yang seketika bergejolak. Dan Momo bisa memastikan pipinya sudah tampak seperti kepiting rebus sekarang. Memerah karena malu.

Tapi bagaimana lagi? Momo benar-benar tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang pemuda. Meski beberapa kali pandangan mata mereka bersirobok, Momo tak jua menghentikan kegiatannya. Bagi Momo, memerhatikan pemuda itu adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan.

Sejujurnya, besar hasrat Momo untuk menghampiri sang pemuda lalu menanyakan apa yang sebenarnya ia cari, karena sejak tadi kegiatan mondar-mandirnya tak kunjung selesai. Momo bahkan siap memberikan bantuan sebesar apapun asalkan Ia tahu apa yang pemuda itu inginkan. Hanya, Momo ragu. Memangnya pemuda itu mengerti bahasa isyarat?

Akhirnya, menahan kuriositasnya, Momo hanya duduk di bangkunya dan menatap sang pemuda dalam diam, meski berjuta pertanyaan berkecamuk di benaknya.

Pencarian si pemuda beres sudah, berakhir dengan setangkai mawar merah. Momo mendesah. Ck. Kalau hanya ini yang dibelinya, maka lima menit setelah kedatangan pun transaksi sudah bisa dilakukan. Mengapa sampai harus mondar-mandir mengelilingi toko bahkan membaui bunga dagangannya satu per satu? Lagipula Momo tidak meletakkan ember tangkai mawar di tempat tersembunyi yang sulit terlihat, asal tahu saja.

Tapi Momo tak dapat menahan rasa senagnnya. Toh bisa dibilang ini adalah jawaban dari doanya semalam, tentang bagaimana ia meminta sang pemuda untuk mengunjungi tokonya kembali. Termasuk menjelajahi setiap sudut toko, adalah bagian dari permintaannya, kan?

Momo membungkus setangkai mawar merah tersebut dengan selembar plastik bening, lalu menempel ujung-ujungnya dengan isolasi. Diserahkannya bunga yang sudah berbungkus tersebut pada sang pemuda. Momo bukan tipe orang yang kuat menatap manik lawan bicara lekat-lekat, karena itu ia hanya melirik diam-diam saja.

Kembali lagi pemuda itu tersenyum seraya meletakkan beberapa lembar yen di atas meja, yang hanya Momo balas dengan kurva tipis. Pria itu pun berjalan menuju pintu keluar toko, meninggalkan Momo yang bahkan belum sempat melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.

***

Tampaknya mengunjungi toko bunga Momo sudah menjadi bagian dari jadwal harian pemuda bertas tabung tersebut. Setiap siang jam dua belas, pemuda itu selalu mampir ke tokonya. Kegiatan yang ia lakukan sama: mengitari toko, melihat bunga yang tersedia, lalu berakhir dengan membeli setangkai mawar. Jujur, gadis surai cokelat itu ingin bertanya apa maksud dari kunjungan harian sang pemuda, mengapa ia selalu menghabiskan waktu di tokonya, dan untuk siapa semua mawar merah itu. Namun lagi-lagi Momo mengurungkan niatnya karena kendala bahasa. Gadis itu tuli-bisu, dan hanya dapat bicara menggunakan bahasa isyarat, sementara ia sangsi pemuda surai hitam itu akan mengerti bahasanya.

Well, tentu saja Momo senang dengan presensi sang pemuda. Siapa, sih, yang tidak senang dikunjungi pria tampan yang ramah setiap hari? Hanya saja Momo penasaran. Bahkan bila ditilik lebih lanjut, besar hasrat Momo untuk berbincang dengan pemuda tersebut. Ada kala di mana Momo menyesali keberadaannya yang tidak sempurna, yang membuatnya tak dapat bersosialisasi dengan mudah. Momo yakin pemuda itu adalah sosok yang asyik bila diajak bercengkrama, tetapi, kekurangannya menghalangi segalanya.

Hal tersebut terkadang membuat Momo pilu.

Kini, setiap menjelang jam dua belas siang, gadis Hirai itu akan menghentikan semua kegiatannya. Ia akan duduk sambil bersandar di kursinya. Tangan terlipat di depan dada dan netra yang terus memandang jam. Hati yang bertalu-talu tak sabar menunggu jarum jam tepat menunjuk pukul dua belas tepat.

Dan ketika kedua jarum jam berhimpit sama-sama menunjuk angka dua belas, pintu tokonya terbuka, dan sosok pemuda yang ia rindukan pun melangkah masuk.

Oh, seseorang tolong ajarkan Hirai Momo untuk mengontrol kurva bahagianya!

***

Ya, Momo menyukai pemuda itu. Meski Momo tak tahu identitas asli sang pemuda, bahkan nama aslinya sekalipun, tetapi hatinya telah jatuh pada pesona pria itu. Momo tak tahu sejak kapan perasaan ini muncul, tetapi yang jelas hampir setiap hari ia selalu merasa rindu akan presensi pemuda itu.

Momo memang tak terlalu berharap banyak cintanya akan dibalas. Toh mereka bisa dibilang tak saling kenal. Ia tak tahu siapa pemuda itu, begitu pula sebaliknya. Kalau pun pemuda itu sudah mempunyai kekasih, Momo tak heran, tak juga akan bersedih. Yah, bisa dipastikan, sih. Terlihat dari bunga mawar harian yang ia beli setiap harinya. Kedatangannya tiap hari ke toko Momo pasti tak lebih dari sekedar mengincar mawar dengan harga murah – meski ia masih penasaran mengapa pemuda itu sering menghabiskan banyak waktu bila hanya untuk sekedar membeli mawar. Kerap Momo tersenyum pahit; gadis yang menjadi kekasih dari pemuda tersebut pasti adalah seseorang yang amat berbahagia.

Tak apa. Begini pun sudah cukup baik. Bisa mendapati presensinya setiap hari di tokonya saja sudah merupakan sebuah anugerah. Momo rela perasaannya tak terbalaskan, bertepuk sebelah tangan. Toh ia bisa apa? Berbicara pun ia tak mampu, apa lagi yang ia harapkan?

Momo lebih suka seperti ini; mencintai sang pemuda dengan diam-diam.

***

Suatu malam, Momo sedang asyik dengan bunga bugenvil kiriman tantenya tadi sore. Bunga bugenvil ungu itu terlihat manis, apalagi bila dibuat satu buket bersamaan dengan beberapa baby’s breath putih. Ia tampak terlalu asyik dengan bunga bugenvilnya sampai lupa bahwa ini sudah waktunya untuk tutup toko.

Momo tidak peduli, sih, sebenarnya. Menambah jam buka beberapa saat toh tidak ada salahnya. Meski sangsi masih ada yang hendak membeli larut malam begini, Momo belum berkeinginan mengakhiri jam buka tokonya. Bagi gadis itu, keindahan bunga bugenvil saat ini lebih penting daripada sekedar menutup toko.

Atensi gadis itu teralih untuk beberapa saat. Dan Momo kembali terkejut ketika mendapati sosok seorang pria di hadapannya, entah kapan ia masuk. Ya Tuhan, ia kembali terlalu asyik dengan bunga hingga mengabaikan pengunjung yang datang.

Manik gadis itu makin membulat ketika tahu bahwa yang berkunjung adalah pemuda yang sama yang biasa mendatangi tokonya setiap siang. Bahkan ia masih menenteng tas tabung tersebut.

Dalam hati Momo bertanya ada apa gerangan sampai pemuda itu datang larut malam begini. Begitu pula dengan peluh yang bercucuran, napas yang agak terengah-engah, serta baju yang terlihat baru saja terkena rintikan hujan menambah kuriositasnya.

Mendapat firasat bahwa pemuda itu akan mengatakan sesuatu, Momo memusatkan atensi pada gerakan bibirnya, mencoba menangkap kata demi kata yang terucap dengan bantuan penglihatan.

Netra Momo menyipit. Gerakan bibir pemuda itu, somehow, tak dapat terbaca olehnya. Susah payah Momo mengartikan maksud dari ranum yang bergerak tersebut.

Momo dapat menangkap aura gugup yang dirasakan oleh sang pemuda, terlihat dari berapa kali ia menggaruk tengkuk atau tersenyum canggung. Raut wajahnya pun menyiratkan kekhawatiran, tetapi tetap saja, gadis Hirai itu tak dapat mengartikan apa yang si pemuda katakan.

Oh, ingin rasanya Momo mengutuk ketidakmampuannya! Frustrasi, mengapa di saat seperti ini, ia diciptakan tidak normal? Mengapa Tuhan tak membuat pendengarannya berfungsi dengan baik sehingga ia dapat mendengar dan berbicara seperti insan lainnya? Mengapa Tuhan membuatnya berbeda? Mengapa hidup terasa keras dan kejam untuknya?

Percuma. Sekeras apapun Momo mencoba berkonsentrasi, tetap saja ia tak dapat menangkap setiap kalimat yang diucapkan pemuda tersebut. Momo merasa bersalah, sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Geram karena ia tak dapat mengartikan kata demi kata, merasa bersalah karena Momo tak dapat memberi respon. Ia tampak seperti gadis dungu yang hanya menatap lekat-lekat bibir dari sang pemuda, bila orang lain tak tahu kondisinya.

Tahu-tahu pemuda itu melangkah mundur, dengan wajah yang kini tak menghadap Momo. Meski demikian, raut wajah sedihnya masih tertangkap oleh penglihatan gadis surai cokelat itu. Momo menelan ludah, sadar akan kesalahan serta ketidakmampuannya. Momo ingin mencoba mengerti, tetapi ia tidak dapat.

Sebersit pilu muncul di hati Momo ketika pemuda itu membalikkan badan dan beranjak meninggalkannya. Momo ingin menghentikan pergerakannya, tetapi kakinya seolah menolak untuk digerakkan. Ia bagai terpaku di kursi dengan otak yang masih mencoba mencerna pergerakan bibir pria tersebut, mencoba merangkai kata demi kata yang berhasil ia tangkap.

Mungkinkah … mungkinkah ia menyukaiku?

Meski itu adalah kemungkinan yang tak masuk akal, tetapi berhasil membuat Momo membelalakkan netra ketika menyadarinya. Kemungkinan itu memang kecil, tetapi eksistensinya tak dapat diabaikan. Apalagi ketika dilihat dari gestur pemuda tersebut saat berkata-kata tadi, Momo mengartikannya sebagai seorang pria yang sedang mengutarakan perasaan.

Momo terkejut, tak menyangka, sekaligus membiarkan asa tumbuh pada hatinya. Dengan raut wajah penuh harap ia beranjak dari tempat duduknya, berusaha mengejar sang pemuda bahkan sampai keluar dari tokonya. Namun, di sepanjang jalan, yang ia temui hanyalah kekosongan serta udara malam yang dingin. Sepi.

Di tengah keputusasaan itulah Momo menemukan sebuah benda familiar di depan pintu masuk tokonya. Tas tabung hitam yang selama ini terselempang pada punggung pemuda tersebut. Setelah menyelipkan helaian anak rambut di belakang telinganya, tangan Momo membuka penutup tabung tersebut, dan mengeluarkan gulungan kanvas di dalamnya.

Terkejutlah ia ketika membuka gulungan tersebut dan menemukan bahwa itu adalah lukisan potret dirinya. Penuh warna-warna cerah. Gadis dalam gambar tersenyum begitu manis. Sangat cantik.

Sebelah tangan Momo terangkat untuk menutup mulutnya. Ia tak dapat menahan rasa terharu yang kini menyeruak dalam batinnya. Tak mampu ia cegah likuid bening untuk tidak turun menuruni pipinya. Apalagi ketika menemukan sebuah frasa sakral yang ada di pojok kanvas. Terlihat tipis, tetapi jelas. Isakannya makin menjadi-jadi.

Aishiteru.

***

Hari itu,

aku menyadari perasaanmu terhadapku.

Maafkan aku,

tak dapat membalas setiap perkataanmu.

Sampai sekarang,

ada satu hal yang belum dapat kukatakan padamu.

“Aku. Juga. Mencintaimu.”

.

“Seeing as a first love is painful, a first love is like a fever. Because you can’t have it since you loved too much.” –Illa Illa (Juniel)

-fin-

A/N

Aku datang kembali dengan membawa dua orang ini Hehehehe 😀

Entahlah ini fic apa, panjang bari nggak jelas, niatnya bikin angst tapi ndak ada unsur angstnya sama sekali… Hwhwhwhw…
Maafkan untuk segala bentuk typo atau kesalahan lainnya ya…

Anyway, mind to review? 🙂

Iklan

5 thoughts on “[Vignette] Untoldable Phrase (Momo’s Side)

  1. TIDAAAAAAAAAAAAAAAAA
    MAVKAN AKU MBAK MOMO /sujud sujud/
    TERNYATA SEPERTI INI
    INI SAKIT SEKALI LEBIH SAKIT DARI YANG YUTO BACANYA
    HUHUHU BAPER MAU KAYANG DI REL AJA (?)
    /peyuk mbak momo/ /peyuk mas yuto/
    Ini keren Ce huhu ingin cri sekebon rasanya:’)

    Suka

    1. Wahahahahahhaha… Itu dia alasan KENAPA MOMO KESANNYA KEK NOLAK YUTO…
      (Lalu saya kasian sama mereka berdua)
      (Terus aku bingung bayangin kayang di rel itu gmn)

      SILAHKAN NANGIS SAYY SILAHKAN…
      Siapa tau kamu titisan mermaid kek di legend of the blue sea yg air matanya bs jd mutiara /GAAA

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s