Escape

5

Escape by ohclaren

[Twice] Im Nayeon [BTS] Jeon Jungkook

genre slice of life  rated teens  length ficlet

.

 

Setelah menimang sekitar lima menit di depan pintu masuk, Nayeon akhirnya menyeret tungkainya memasuki café yang menyambutnya dengan hip beat Megan Trainor. Memesan secangkir latte dan sepiring kecil marmalade sebelum menyamankan pantatnya di salah satu kursi paling sudut.

Tangannya terangkat dengan niat memanggil salah satu dari waiters yang berkeliaran melayani pengunjung lain, hendak bertanya password dari jaringan WiFi mereka. Namun dengan cepat diurungkan setelah membaca kalimat singkat dengan kapur di papan tulis hitam.

No WiFi

just play with your own mate!

Serta merta mengundang dengusan panjang dari gadis bermarga Im tersebut, kenyataannya dia telah salah memilih tempat sarapan. Well, mungkin semuanya akan lebih baik jika saja dia bisa membawa seorang teman.

.

Nayeon tidak peduli jika dia terlihat seperti gelandangan—dengan ransel kulit tua, crop t-shirt dengan jeans membalut kakinya bersama sepatu kets—di antara fashionista yang berkeliaran di St. Vancouve, Paris.

Toh, tujuannya bukan untuk menghadiri sebuah gala mewah dari para designer ternama. Mengandalkan aplikasi Google Maps pada smartphone miliknya, tanpa sadar Nayeon telah membawa kets-nya masuk ke dalam perumahan lokal dengan jalan berkelok-kelok rumit.

Ah, shit!” Nayeon menggerung kesal melingkarkan tangan di sekitar perutnya sendiri, “Aku lapar lagi.”

Seingatnya baru tiga jam berlalu sejak sepiring marmalade mampir ke lambungnya, berkatilah perut berjiwa nafsu makan orang Korea miliknya. Aroma adonan kue yang manis menari-nari di sekitarnya yang berasal dari rumah penduduk lokal, sayang sekali Nayeon tidak bisa berbahasa Prancis sehingga mengurungkan niatnya untuk menerobos masuk meminta sedekah kue. Ah, kulitnya tidak terlalu tebal untuk melakukan itu.

Memutari rumah yang sama tiga kali, sampai akhirnya Nayeon benar-benar mengerti arah yang ditunjuk peta virtualnya, tolong salahkan kebodohan Nayeon yang tidak bisa lepas dalam keadaan seperti ini.

Nayeon memegang lututnya yang bergetar, belum pernah dia berjalan sejauh ini. Menyadari sakit di bagian tumitnya sendiri membuat Nayeon berpikir bahwa stilleto memang sahabat terbaiknya. Celana jeans ketat ini pun sungguh membuatnya gerah, akan lebih lapang jika dia menggunakan rok atau terusan. Berganti style ternyata tidak semudah bayangannya.

Denting bel dan wangi buku tua menyambut Nayeon ketika mendorong pintu dengan tag open menggantung manis di sana. Nayeon mengantongi kembali smartphone-nya karena dia sudah sampai pada tempat tujuan.

Tempat ini lebih mirip toko buku—dengan deretan rak penuh buku di tiap sudutnya—dan perbaduan gym—dengan seperangkat alat angkat beban di sudut yang lain.

Apa ini tempat yang benar?

Aku tidak salah mengetik antara mobil dan buku bukan?

Nayeon mengambil kembali smartphone-nya, sedikit panik. Alih-alih merental mobil dia tersesat di sebuah perpustakaan merangkap gym.

“Hey? You can’t stand over there. Just sit down and tell what type of car do you want to ride, huh?”

“Huh?”

Bodoh, mungkin kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan ekspresi Nayeon merespons sebuah kepala yang tiba-tiba menjulur dari salah satu pintu.

Asian girl! Are you Chinese? Japanase? Thai?

Nayeon hanya menurut ketika pria yang ternyata sangat tinggi itu mendorongnya untuk duduk di salah satu kursi empuk dengan meja kecil.

Daebakk! Kau orang Korea, oeh?”  pria itu memekik tidak dapat menyembunyikan nada girang ketika Nayeon mengeluarkan passport dan drivers license miliknya. “Karena kita lahir di tempat yang sama. Aku tidak akan pelit soal identitas, aku Kim Namjoon. Ah ya kau mau nomor teleponku juga?”

“Mobil yang tersedia tinggal Audy. Kau tidak mungkin berniat menyewa Ranger ‘kan?”

Kali ini dari pria yang jujur saja membuat Nayeon makin lapar karena warna rambut hijau manisnya mengingatkan Nayeon akan gula kapas yang pernah dia cicipi kemarin. Gayanya persis seorang pramuniaga dengan notepad dan pulpen di tangan.

Ranger terdengar bagus. Aku tidak terbiasa menggunakan matic, jujur saja.”

Hell yeah, Nayeon sudah kepalang berbohong demi sebuah pencitraan bahwa dia bukan putri kerajaan. Toh, yang akan dia sewa bukan truk pengangkut barang.

Namjoon—begitu Nayeon bisa memanggilnya—terlihat mengulum senyum melirik teman berambut gula kapas yang memasang wajah sebal, atau wajahnya memang didesain seperti itu.

“Kau bisa baca peraturannya di sana. Bahasamu lancar bukan?”

“Tentu saja!” protes Nayeon nyaris berteriak membuat dengusan geli keluar bersamaan dari  dua pria di sekitarnya. Ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini, terlebih menghindari tatapan menyebalkan dari pria gula kapas, Nayeon dengan cepat membubuhi tanda tangan pada surat perjanjian sewa.

“Jeon! Ambilkan kunci nomor delapan belas!”

Dengan wajah malas-malasan seperti itu, sungguh ajaib bisa mendengar pria berambut gula kapas itu berteriak. Terlebih karenanya muncul seorang lagi dari balik pintu dengan tergesa-gesa.

Nayeon nyaris tidak mengenalinya dengan tambahan bisep dan jawline yang terlihat jelas, apa anak laki-laki selalu tumbuh dengan cepat? Beruntungnya, gigi kelinci yang mengintip ketika dia tersenyum tidak pernah membuat Nayeon ragu akan keabsahannya.

“Jeon Jungkook?”

Ah, alangkah bijaksananya jika Nayeon tidak perlu repot memanggil namanya.

“Im Nayeon?”

.

Jeon Jungkook, sekeping memoar yang mengingatkan Nayeon akan rumah.

Jeon Jungkook, 24 jam dari 7 hari sungguh sial bertemu kawan lama di tengah kegiatanmu melarikan diri dari realita.

“Kau? Ranger? Hahaha, kau ingin bunuh diri?”

Jeon Jungkook, bisakah seseorang memberinya kuasa agar Jungkook berhenti mengerecokinya dan tetap fokus pada jalan  yang mereka lalui.

“Berisik.” Hanya itu yang bisa Nayeon katakan sebagai respons, mendekap kedua tangannya di depan dada, menatap rakus hamparan ladang gandum dari balik jendela.

Jungkook tidak pernah bertemu kawan masa sekolahnya di tempat perantauan sebelumnya, jika ada itu pun pastilah bukan Im Nayeon, putri yang bahkan takut naik bus untuk pergi ke sekolah. Melihatnya di sini; sendirian, menyewa sebuah mobil—Ranger type. Pastilah ada yang salah dengan dunia nyaman sang putri.

“Kau tidak penasaran bagaimana aku bisa ada di sini?” Jungkook mencoba memancing pembicaraan, aneh jika dulu dia ingat betapa cerewetnya teman sekolahnya satu ini.

“Jika aku ingat tempat kau pergi kuliah adalah Paris, aku tidak akan pernah terbang ke sini,” balas Nayeon menoleh dan menjulurkan lidahnya singkat. “Pergilah, aku tidak butuh supir.”

Oioi…tugasku adalah melindungi mobil ini dari kemungkinan terburuk bersama putri bawang yang membawanya.”

“Pria hijau itu pasti akan memberikan akses penuh mobil ini padaku jika kau tidak mengatakan hal yang aneh tentangku.”

Jungkook kembali tergelak, “Yoongi hyung maksudmu? Ck, dan membiarkan kau menabrakkan mobil ini? Big no.”

Malas berdebat, Nayeon kembali pada posisi awal. Lagi pula ini bukan ide yang buruk, dia tidak perlu mencemaskan kemungkinan dia tersesat. Eh, tunggu dulu bukankah tujuannya memang menyesatkan diri sendiri?

Cukup lama hanya deru mesin mobil yang mendominasi, Nayeon sepertinya pasrah pada Jungkook si juru kemudi. Memandang sesuatu berbau alam setelah puas tersesat di perumahan lokal setidaknya mengusir sebutir dari gundukan besar rasa penatnya. Jungkook yang dengan penuh pengertian tidak menggunakan nafsu ingin tahunya sudah cukup membuat Nayeon tenang.

“Kau pintar memilih waktu melarikan diri, sekarang sedang musim bunga matahari. Ingin ke sana?” sebenarnya Jungkook sudah setengah jalan menuju ke arah sana. “Kau terlihat menyedihkan, saat kabur kau juga butuh seorang teman, tahu.”

Nayeon tidak merespons apapun kecuali menatap lekat kearah Jeon Jungkook, bahkan sampai akhir hanya pemuda Jeon ini yang memahaminya. Dewi takdir rupanya punya cara yang unik dengan menukar tiket tujuan Jepang menjadi tujuan Paris dan mempertemukannya dengan teman lama.

“Kebetulan kami sedang kekurangan pegawai, mungkin saja kau tertarik. Eh, kau setidaknya sudah pamit ‘kan?”

Nayeon mengangkat bahu, memutar knop radio membiarkan lengkingan nyaring Adele menemani perjalanan mereka menyambut lembayung senja yang menggantung. Nayeon menyimpan senyumannya, mengingat sebuah note yang dia tempel tepat di bawah foto pernikahan ayahnya.

Appa, ijinkan aku pergi

Sama seperti putrimu mengizinkanmu untuk menikah lagi

Kepalang peduli dengan dosa, aku pergi

.

—Fin

.

 

Talk-talk

  1. Oke, FF ini sebenarnya pernah ikut event tapi fail as always :v
  2. Postingan di sela status hiatus TT
  3. Semoga bisa cepet comeback, huhuhu ku kangen surf on internet lagi
  4. 2k17 semoga UNBK ato apalah rencana Bapak Menteri Pendidikan kita tersayag, ga bikin dedek sekarat. /Pehlis deh Pak, trus nanti tetiba bilangnya Ujian batal trus besoknya lagi, April Mop!/
  5. Kan ngajak rusuh ya :v
  6. Btw, Happy New Year!

 

Iklan

2 thoughts on “Escape

  1. Suka dehhh….
    Akhirnya nemu juga wordpress fanfic twice. Aku suka tulisanmu thir, bahasa nyaman dibaca. Btw aku kook nay shiper nih hehehe

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s