[VIGNETTE] Maybe, It is Better

15800970_894813470655140_1930855853_n
Cover yang begitu cantik dan menggoda/? >< Wonwoo sumpah menganu bangeddd :”V Daehyun aduhai manisnyaaaaaaa :”3 Makasih buat Ita alias –> #HanArt

Title : Maybe, It is Better

Genre : Sad, Hurts/Comfort, Horror gagal :v, etc.

Cast : Kim Dahyun (Twice) || Jeon Wonwoo (Seventeen) || And Other

Length : Vignette // ±1550w

Rating : PG

Author : ChocoYeppeo

……….

Malam itu hujan deras diselingi gemuruh guntur beserta kilatan petir yang membuat tiap orang takut sendirian. Mungkin saat itu adalah waktu yang tepat untuk menghangatkan diri sekeluarga atau bersama kekasih. Tidak, itu tidak terjadi kepada seorang gadis yang kini tengah basah kuyup di depan rumah seseorang. Seragam sekolahnya tak ada bagian yang kering walau seukuran biji jagung. Sangat mungkin jika seluruh isi tas ransel yang dipakainya itu semua basah. Ia tidak sedang mengharapkan seseorang keluar dari balik pintu rumah yang berada tepat di depannya beberapa meter, namun ia tengah menunggu seseorang yang meminta dirinya untuk menunggu sebentar. Ya, sebentar, hanya dua puluh menit.

Tidak lama setelah itu, pintu yang megah tersebut mulai terbuka. Orang yang tampak bukanlah orang yang gadis itu tunggu melainkan orang asing namun dikenalinya yang langsung menatap tajam kearahnya. Gadis itu merasa ada yang sedikit janggal. Akan tetapi, ia masih tetap pada pendiriannya, menunggu seseorang.

Ketika gadis itu mulai merasa lemas −kelelahan dan kedingingan−, barulah seorang laki-laki keluar dari rumah tersebut lalu merangkul gadis yang sudah lebih dulu keluar tadi. Sontak, dalam hujan yang begitu dingin, gadis berambut panjang yang dikepang dua itu tidak terasa kini mengalir air bening dari sudut-sudut matanya. Namun, ia masih saja bertahan dan berusaha membuang jauh-jauh pikiran negatifnya.

Laki-laki itu menuruni tangga rumahnya dan mendekati gadis berambut kepang itu bersama orang yang sedari tadi di rangkulnya. Sesampainya di hadapan gadis itu, laki-laki jangkung tersebut melepaskan rangkulan tadi. Ia tersenyum manis kepada gadis itu.

“Dahyun-ah, apa sedari tadi kau masih di sini?” laki-laki itu membuka obrolan di tengah hujan. Ia tidak menyadari kalau gadis yang dipanggilnya Daehyun tadi menangis.

Eoh,” Dahyun menatap kedua sepatunya yang rasanya sudah tidak enak dipakai karena basah.

“Jadi, kau benar-benar menungguku? Kau mengikuti perkataanku?” Laki-laki itu kembali meremehkan dengan senyuman miringnya. Ia tidak juga mengerti betapa besarnya perasaan di hati gadis di hadapannya itu hingga merelakan dirinya basah kuyup. Melihat Dahyun yang tidak segera menanggapi, “Gadis bodoh!”

Dahyun tersentak sampai-sampai matanya membulat tidak percaya. Ia memutuskan mengumpulkan sejunlah kekuatan untuk menatap laki-laki itu, “Hyunmin sunbae,” matanya terlihat sembab.

“Hah? Kau menangis? Ku harap tidak. Sekarang adalah waktu yang tepat sepertinya untuk mengatakan yang sebenarnya,” laki-laki bernama Hyunmin itu menangkup wajah Dahyun sesaat kemudian menurunkan kembali tangannya, “aku ingin kau tidak lagi mendekatiku. Aku sudah lelah berpura-pura mencintaimu. Kau tahu siapa gadis disampingku ini?!” Hyunmin menatap dan tersenyum sesaat untuk gadis yang berada di sampingnya tapi kembali dengan ekspresi kasar ketika melihat Dahyun.

Eoh?! Dia kekasihku sudah sejak aku di sekolah menengah pertama tingkat dua. Dan kau?! Kau hanyalah selembar kertas di hidupku yang hanya kumainkan sebentar. Kupikir sudah cukup aku membayar hutangku, membayar nyawaku yang sudah kau selamatkan waktu itu. Aku muak denganmu yang selalu berpikir aku menyayangimu. Aku muak denganmu yang memamerkanku sebagai kekasihmu, gadis cupu!” lanjut Hyun tanpa memahami wajah sedih dan sesak Dahyun.

M-mwo? Apa maksudmu, sunbae?” Dahyun masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Ia merasa salah dengar karena hujan mengganggu pendengaran. Ia tidak ingin yang ia dengarkan itu adalah kebenarannya.

“Pergilah dari hidupku. Kalau perlu, kau pindah sekolah saja. Aku tidak menyukai dan tidak akan pernah menyukai seorang nerd bodoh sepertimu,” kemudian Hyunmin mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada Dahyun, “ini aku tidak butuh. Kau tahu kenapa aku tidak pernah memakai cincin ini? Karena aku tidak pernah sudi mencintaimu. Ah iya, jangan lagi memanggilku sunbae atau bahkan memanggilku. Sok dekat saja. Aku ini risih denganmu, bodoh!”

Su-sunbae? Kenapa kau seperti ini? Bagaimana bisa kau mengatakan ini di depan Hyejung eonni?” Dahyun tetap berpura-pura belum mengerti. Tetapi, karena Hyunmin dan gadis yang berada di samping laki-laki itu menatap kasar padanya, ia pun terpaksa, “sunbae, asalkan kau tahu, aku tulus mencintaimu,”

“Aku tidak menginginkan cinta tulusmu atau apalah itu. Sekarang ini semua sudah jelas. Ini adalah hari terakhir kita bertemu. Aku akan mengganti nomor ponselku dan jangan menanyakannya pada teman-temanku. Juga jangan datang kemari lagi setelah ini. Pergilah dan simpan benda berhargamu itu. Aku sudah muak,” Hyunmin dengan tidak berperasaan mendorong gadis yang amat menyukai dirinya itu hingga jatuh terjengkal ke dalam genangan air hujan. Selanjutnya, ia langsung masuk ke dalam rumah seraya mengecup bibir gadisnya beberapa kali di hadapan Dahyun yang kini hatinya terasa tengah dicabik-cabik ribuan belati.

“Aku tidak percaya kalau eonni yang selama ini berusaha ingin dekat denganku namun aku abaikan itu adalah teman dekat Hyunmin Sunbae. Kenapa aku seperti ini? Wae?!!” Dahyun pun bangkit dengan lemah dan berjalan lunglai menuju tempat tinggal sementaranya disertai isakan-isakan kecil yang tak kunjung berakhir. Dari sudut lain, ada seseorang yang terlihat mengawasi gadis itu dan seperti tidak menyukai kejadian tadi namun ia tidak berkutik.

———-

Dahyun melemparkan tubuhnya yang masih basah ke sofa depan televisi. Ia mengambil boneka biru muda di sampingnya lalu ia dekap. Saat itulah Dahyun mulai menyalakan televisi dan memilih channel asal. Ia menangis sejadi-jadinya di apartemen sewaannya tersebut hingga sebagian boneka besar itu dibasahi oleh air mata Dahyun.

“Cincin ini… apakah tidak ada artinya?” Dahyun bertanya pada dirinya sendiri sambil memperhatikan cincin yang masih terpasang di jari manis tangan kirinya. Ia sedikit tersenyum, namun sesaat senyum itu langsung menghilang, “haruskah aku menjadi diriku yang lain?”

Dahyun melepas ikat rambutnya dan mengurai rambutnya yang tadi dikepang. Lagi-lagi ia membenamkan wajahnya dibalik boneka tadi. Tidak lama setelah itu, Dahyun mengangkat kepalanya dengan raut wajahnya yang datar dan masih dipenuhi dengan ceceran air mata. Langkah kakinya membawa gadis itu ke dapur.

“Jangan!” terdengar sebuah bisikan dari pikiran Dahyun ketika tangannya hendak mengambil sesuatu dari meja makan yang memang berada satu ruangan dengan dapur. Karena merasa itu hanyalah halusinasi, gadis itu tidak menghiraukannya, “jangan lakukan itu,”

Nugu? Nugu?!” rasa takut ini bahkan terasa lebih menakutkan dari niat Dahyun untuk mengakhiri hidupnya hanya gara-gara sunbaenya. Sepertinya keputusan untuk mengakhirinya memang terlalu asal. Namun, Dahyun merasa kalau ini cinta mati. Memangnya masih ada yang namanya cinta mati?

“Kau ini siapa?! Kenapa kau datang dan mencampuri urusan orang lain? Suara siapa ini sebenarnya?! Kenapa kau menggangguku?! Huaaaa.. haaaa…. hiksss… hiks…” Dahyun kembali menangis, bukan karena takut melainkan kesal karena ada yang mencegahnya.

“Kau bodoh jika seperti itu. Kau tidak memikirkan seberapa menyedihkannya dirimu yang mati hanya karena seorang pengecut seperti laki-laki itu,” sayup-sayup itu kembali terdengar namun nadanya sedikit seperti membentak dan seperti orang tidak tidak terima.

“Sudah! Hentikan!” Dahyun menggebrak meja yang ada di sebelahnya sampai beberapa yang ada di atasnya ada yang terangkat atau pun terjatuh.

“Sudahlah. Jangan bertindak bodoh hanya karena laki-laki seperti itu,”

“Kau siapa? Eoh? Apa pedulimu denganku? Heeeyyy! Keluarlaaaahhh! Ah!” Dahyun mengacak-acak properti makan yang ada di meja makan. Yang sudah berantakan kini bertambah berantakan. Suara yang ia dengar itu masih saja menggema di sana. Dahyun merasa sudah gila dan lebih gila lagi. Sebenarnya apa yang ia dengarkan itu?

Perlahan-lahan sebuah sosok muncul di belakang Dahyun namun masih samar-namar. “Dahyun-ah, kumohon berhentilah dan hidup seperti biasanya. Ini akan percuma kalau kau mati konyol dengan cara itu,” sosok itu bergerak mendekati Dahyun yang masih kaget. Oke, untuk sekarang sepertinya Dahyun mulai ketakutan.

“Hah? Nuguseyo? Nuguseyo?” Keringat dingin meluncur sedikit demi sedikit di pelipis gadis itu. Langkahnya mundur perlahan. Tangannya mengambil benda apa saja dan dilemparkan pada sosok di depannya. Ucapan-ucapan serupa, nuguseyo?, dilontarkannya tiap barang itu terbang. Tidak, dia tembus pandang.

“Dahyun-ah, tenang. Aku tidak akan menyakitimu. Namaku Wonwoo, kalau kau ingin tahu,”

“Aku tidak ingin kau memberitahu namaku. Aku ingin kau pergi dan biarkan aku mati di sini. Mudah saja ‘kan?!” Mata gadis itu memerah menandakan sudah lelah atas tangisannya. Tangannya kini mengambil pisau yang terletak tidak jauh darinya. Tanpa menggubris suara, orang, atau entah siapa yang dari tadi mengganggunya itu, gadis itu langsung menusukkan pisau itu ke perutnya. “Ahhh… Setidaknya aku akan menghirup udara segar setelah ini,” Dahyun tersenyum bahagia namun air matanya masih tetap mengalir. Perlahan tubuhnya merosot ke lantai.

“Dahyun-ah!” laki-laki itu, ah bukan, sosok itu segera melesat menuju Dahyun. Ia bahkan dengan beraninya melanggar aturan dunianya untuk tidak memunculkan diri vampirnya di mata manusia hanya demi Dahyun. Ia tidak melakukan apapun lagi selain segera mendekati leher Dahyun. Taring putihnya yang runcing tiba-tiba tumbuh dengan cepat dan langsung ditancapkannya di urat leher Dahyun. Kesalahan besar. Ataukah itu sesuatu yang membantu?

Beberapa detik kemudian, si vampir Wonwoo melepaskan gigitannya. Ingin rasanya ia menumpahkan air matanya di hadapan Dahyun yang kini telah menutup matanya dengan darah yang mengucur dari perut serta dua titik darah lain di leher gadis itu. Namun apa. Ia hanya bisa menangis dalam hati bekunya. Ia hanya dapat berteriak dalam jiwa semunya. Asal kau tahu, ia tidak bisa mengalirkan air mata atau bahkan sekedar memiliki jantung yang berdetak.

“Asal kau tahu, aku telah mencintaimu sejak saat itu. Saat aku melihatmu menangis meminta permen kepada ibumu di taman 12 tahun silam. Maafkan aku karena mencintaimu. Maafkan aku telah melakukan ini. Aku ingin hidupmu yang terbaik,” Wonwoo mendekap gadis itu sambil menahan bau anyir yang sedari tadi sudah menggodanya. Tapi tidak boleh, ia tidak boleh melakukan itu. Ia harus bertahan… dan menunggu.

———-

“Kau… siapa?”

“Kau lupa dengan temanmu sendiri hanya karena pingsan selama 12 jam, eoh?”

“Temanku? Siapa namamu? Dan namaku—”

“Shin Dahyun, itu namamu. Aku Jeon Wonwoo, teman dekatmu sejak puluhan tahun lalu. Hei… Sejak kapan vampir bisa amnesia? Hahaha…”

“Vampir?”

“Beristirahatlah dulu agar otakmu segera waras,”

“Ah, kurasa aku lupa semuanya. Sekarang bahkan aku merasa seperti bayi baru lahir. Ya, benar, aku harus beristirahat. Perutku juga agak sakit,”

‘Aku akan memperbaiki kehidupanmu, Dahyun-ah. Sebagai orang yang baru,’

.

.

.

.

.

Kuharap kamu yang baca bisa ngerti maksudku :”3

Makasih yang udah sempetin waktu baca FF “nggak nyambung dan nggak jelas serta nggak menarik” ini ><

 

Iklan

6 respons untuk ‘[VIGNETTE] Maybe, It is Better

  1. Cinta itu memang buta :’v Dahyun sampai mau bunuh diri setelah ditolak dan dilarang mendekati Hyunmin mentah-mentah. Untung Wonwoo segera datang ngehalangin meski harus diubah si Dahyun jadi vampir dan itu juga karena cinta/ sungguh ajaib cinta itu😂/
    Btw, Choco, 1550+ word itu vignette/oneshoot bukannya ficlet? Setau ane ficlet ga sampe 1000 ‘-‘

    Disukai oleh 1 orang

    1. kamu itu dimana2 selalu baca ff ih :”V mksih udh baca punyaku xD
      oh iya aku lupa kalo ada vignette xD beneran ga ada di pikiran kata2 itu lol :”V ku edit dulu aja :” ini kesalah pahaman sungguh :3

      Disukai oleh 1 orang

    1. Halah gapapa :”v dikomenin aja udah seneng bgt kok :”3 wah jinjja? Aku cari kesana kemari belum dpt kenalan dawon shipper 😆 huaaaaa plisss deh ini aku tuh kelanjur hard hard hard shipper buanget :”V lupyu lupyu pokoknyaa 💓 muaahh xD

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s