[Oneshot] They Should Be

wp-1482948899634.jpeg

They Should Be

by tyavi

|Jinyeon|

[Twice] Nayeon and [GOT7] Jinyoung

Romance, Fluff, School life | Oneshot | G

Summary :

Mereka saling berpandangan kendati tidak berpasangan.

.

.

.

Jinyoung ditakdirkan untuk Nayeon, seluruh penghuni sekolah tahu itu. Rumor—entah mereka harus menyebutkannya demikian atau tidak—bahwa ‘Jinyeon’, sebutan untuk pasangan Sunbae dan Hobae, itu sangat cocok sudah berembus kencang sejak mereka yang sama-sama anggota klub dance sekolah berpasangan untuk menari Trouble Maker. Lagu hits yang dibawakan sepasang penyanyi—yang kontroversi karena gerakan dance-nya—itu dibawakan dengan apik oleh keduanya hingga dapat mencuri hati setiap pasang mata yang menyaksikannya. Aktivitas menjodoh-jodohkan keduanya pun santer dilakukan setelah pertujukan selesai.

Namun, berbeda dari ekspektasi setiap murid yang menyetujui keduanya berpacaran, Jinyoung justru menunjukkan gestur yang berbanding terbalik. Dalam sehari-hari Jinyeon tidak seakrab yang terlihat di atas panggung. Mereka jarang bicara bertegur sapa, bicara berdua, dan tak jarang pula Jinyoung pergi di saat Nayeon berada di tempat yang sama dengannya. Pemuda bermarga Park itu seakan menjaga jarak, menegaskan kalau tidak ada apa-apa di antara mereka. Dan keadaan ini lebih parah dibanding sebelum mereka dirumorkan berpacaran.

Euforia para ‘Jinyeon shipper’—sebutan untuk para pendukung pasangan ini—yang sempat meredup kini bangkit kembali saat pelatih klub dance sekolah mengumumkan akan ada pertunjukkan tari berpasangan yang dibawakan klubnya pada pementasan akhir tahun. Mereka semua menaruh harapan besar dapat melihat Jinyoung dan Nayeon menari berpasangan lagi. Tapi sayang, harapan mereka pupus kala pelatih Kang mengumumkan—

“…Jinyoung dengan Yerin, dan terakhir Nayeon berpasangan dengan Jihoon.”

—Yerin dan Jihoon sebagai pasangan mereka alih-alih keduanya dipasangkan.

Ini adalah pertunjukkan tari berpasangan pertama setelah penampilan Jinyoung dan Nayeon pada tahun lalu. Dan para Jinyeon shipper harus menelan bulat-bulat kekecewaan mereka karena kehilangan kesempatan terakhir melihat Jinyeon menari bersama lagi—mengingat Jinyoung sudah berada di tahun terakhir.

***

“Kudengar kau berpasangan dengan Jinyoung sunbae, Yerin-a?” tanya Myungeun kala ia dan teman sebangkunya, Jung Yerin, sedang memoleskan pelembab di toilet perempuan. Gadis berpipi tembam itu menepuk sejenak wajahnya sebelum lantas menjawab.

“Iya, dan aku telah mematahkan harapan para Jinyeon shipper.

Myungeun tertawa. “Itu konyol sekali.”

“Tapi serius, lho. Mereka ‘kan sudah terkenal sekali di seluruh sekolah. Gara-gara pementasan akhir tahun lalu, saat kita belum masuk ke sini.”

“Tapi mereka tidak terlihat akrab.”

“Iya, makanya semua orang berharap mereka berdua dipasangkan lagi.”

“Memang tidak bisa minta tukar saja?” Myungeun yang mulai terbawa dalam euforia Jinyeon menyarankan. “Aku jadi penasaran ingin melihat mereka secocok apa jika menari berpasangan.”

“Aku sih mau saja bertukar dengan Nayeon eonnie. Toh, aku akrab dengannya. Tapi sayangnya kami berdua berada di kelompok yang berbeda—kelompok 1 dipasangkan dengan kelompok 3, dan Jinyoung sunbae berada di kelompok 1 sedangkan Nayeon eonnie berada di kelompok 4—jadi aku tidak bisa apa-apa. Dan kau tahu sendiri ‘kan pelatih Kang setegas apa?”

“Iya juga sih.”

Yerin yang baru saja mengulaskan lipbalm di bibir, terlihat mengembangkan kurva dari pantulan cermin. “Lagi pula, ini kesempatan langka ‘kan? Jinyoung sunbae juga sangat tampan.”

Ujaran Yerin barusan kontan membuat Myungeun memasang ekspresi kaget. “Maksudmu…kau berniat menggebet Jinyoung sunbae?!”

Yerin malah tersenyum ke arah sahabatnya. “Siapa tahu ‘kan?” dan lantas dibalas toyoran di kening oleh Myungeun.

“Awas lho, jangan-jangan nanti malah kau yang dicuekin.”

***

“Ada apa denganmu, Jinyoung?!”

Seruan pelatih Kang yang memekakan telinga, terdengar lagi untuk yang kelima kalinya dalam kurun waktu dua jam klub dance berlatih. Dan ditujukan pada satu orang yang sedari tadi selalu melakukan kesalahan, Park Jinyoung.

Pelatih Kang melangkah ke tengah ruang latihan berlantai kayu, di mana para anggota klub dance yang berpartisipasi pada pentas akhir tahun ini berdiri di posisi bersama pasangan masing-masing. Langkahnya berhenti di antara pasangan Jinyoung dan Yerin.

“Kenapa kau tidak fokus?” Pelatih Kang menyarangkan tatapan tajam padan Jinyoung. “Gerakanmu tidak tegas dan—oh!—apa kau baru pertama kali berhadapan dengan perempuan?”

Jinyoung kontan menggeleng sebagai jawaban. “Lalu kenapa kau kaku sekali dengan Yerin? Kau bahkan menempatkan tanganmu lebih dari tiga jengkal dari tubuh Yerin. Apa ini yang dinamakan sexy dance?”

Park Jinyoung menelan ludah mendengar dua kata terakhir dari wanita berusia 20-an itu. Ya, sexy dance, tema yang serta-merta membuat Jinyoung pusing mengetahuinya. Karena itu artinya tari berpasangan ini mengharuskan mereka melakukan kontak fisik dengan seduktif. Tapi, kenapa Jinyoung merasa seresah ini padahal ini bukan kali pertama ia menari berpasangan dengan tema sexy dance? Bukankah ia pernah melakukannya sekali bersama Im Nayeon?

“Sekarang perhatikan aku, Park Jinyoung,” suara pelatih Kang mengembalikan fokus Jinyoung sehingga kini manik hazelnya bergerak memerhatikan wanita itu yang kini mengambil alih posisinya.

“Kau harus melakukannya seperti ini.” Pelatih Kang menggerakkan tangannya dari atas ke bawah seakan tubuh Yerin—yang kini terdiam dengan pose mengangkat sebelah tangan—seperti gitar Spanyol. “Bukannya seperti gitar banci—lurus tanpa lekuk apapun.”

Sontak saja terdengar tawa dari anggota klub dance lainnya.

“Maafkan aku, Ssaem.

“Baiklah, sekarang sudah jam 5, latihan cukup untuk hari ini dan kalian boleh pulang—” seluruh anggota berseru senang dan langsung berjingkat mengambil tas masing-masing yang berada di sudut ruangan, “—kecuali Jinyoung. Kau harus berlatih sebentar lagi denganku karena pementasan tinggal 2 hari lagi.”

“B-baik, Ssaem.”

Dalam sekejap, satu persatu anggota mulai meninggalkan ruangan. Menyisakan empat orang termasuk Jackson yang baru saja menepuk pundak sahabatnya sebagai bentuk dukungan lantas berjalan santai keluar ruangan.

Jinyoung baru saja akan mulai menari saat terdengar seruan, “Tunggu sebentar. Bagaimanapun kau butuh partner, ya?” Pelatih Kang yang baru ingat kalau ini adalah penampilan tari berpasangan, mengusap dagunya ragu karena Yerin sudah pulang.

Ssaem, aku pulang dulu—”

“—ah! Im Nayeon!”

Yep, Im Nayeon, satu-satunya orang yang masih berada di sana—selain yang berkepentingan—seketika memberi titik terang bagi pelatih Kang. “Tolong kau bantu jadi pasangan Jinyoung, ya. Tadi kulihat gerakan dan ekspresimu sangat bagus. Siapa tahu dapat membantu Jinyoung berlatih.”

“Eh? T-tapi Ssaem…”

“Tidak ada tapi-tapian. Kalian mau pulang larut malam, eoh?” Pelatih Kang segera menarik Nayeon agar berdiri berhadapan dengan Jinyoung kemudian berjalan ke sudut ruangan dan menyetel lagu dari speaker.

“Mulai.”

Seirama dengan lagu Who is Your Mama yang mulai terdengar, Nayeon dan Jinyoung pun mulai menggerakkan pinggul mereka. Awalnya kikuk namun lama-kelamaan keduanya mulai menimatinya. Pada nada berikutnya Jinyoung mulai bergerak rileks, mengulurkan tangan sedang Nayeon berjalan mundur ke belakang. Lantas kembali mendekat dan memegang pundak Jinyoung spontan. Kemudian Jinyoung kembali mengulurkan tangan seraya memalingkan muka—gestur seolah-olah menolak—membuat Nayeon kembali melangkah mundur. Gerakan barusan menandakan—

“Kali ini lakukan dengan benar, Park Jinyoung,” perintah pelatih Kang.

—pose selanjutnya yang harus mereka lakukan adalah Nayeon yang berdiri mengangkat sebelah tangan sedangkan Jinyoung menggerakkan tangan dari bawah ke atas sesuai lekuk tubuh Nayeon. Gerakan yang sebelumnya menjadi masalah bagi Jinyoung karena ia berulang kali salah melakukannya dan membuat pelatih Kang tidak puas.

Tapi kali ini, sebuah senyum tergambar di paras pelatih Kang kala kedua orang di hadapannya melakukannya dengan sempurna. Entah bagaimana caranya, Jinyoung dapat menggerakkan tangannya dengan baik—tidak kaku maupun terlalu lemas—mengikuti lekuk-lekuk tubuh Nayeon. Jaraknya juga pas, tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat demi menghormati Im Nayeon.

Detik-detik selanjutnya mereka lakukan lebih baik lagi, keduanya menggerakkan tubuh dengan tegas dan dinamis, benar-benar terlarut dalam suasana. Ekspresi keduanya juga bagus, kendati sesekali Nayeon menundukkan wajah dan Jinyoung memalingkan muka saat tatapan keduanya bertemu. Sebagai sentuhan terakhir, Jinyoung berjalan mengelilingi Nayeon yang terdiam, dan kali ini mereka terkunci dalam tatapan satu sama lain.

Kedua tangan Jinyoung terangkat memagari Nayeon yang meliuk-liukkan tubuhnya. Jinyoung menjatuhkan diri ke lantai dan musik pun berhenti.

“Bagus! Bagus sekali penampilan kalian!!” pelatih Kang bertepuk tangan heboh sambil tersenyum, puas dengan chemistry kedua anak asuhnya. “Sayangnya aku tidak bisa memasangkan kalian,” ujarnya dengan nada kecewa. “Aku tidak mungkin ‘kan membiarkan anggota baru berpasangan dengan anggota baru?”

Refleks Jinyoung dan Nayeon mengangguk kikuk. “Tidak apa kok, Ssaem. Kami ‘kan sudah pernah berpasangan,” Nayeon bersuara.

“Yasudah, sepertinya cukup sampai sini saja, kalian boleh pulang. Dan Jinyoung, ingat kau harus tampil seperti ini juga dengan Yerin saat tampil nanti!”

“B-baik, Ssaem.”

***

Hari pementasan pun tiba. Jinyoung hampir tersedak kala gadis-gadis dari kelompok 4—di mana Nayeon berada—keluar dari ruang ganti. Keempatnya tampak cantik dengan atasan berlengan panjang—beberapa di antaranya tampak transparan atau berpotongan—dan celana super pendek bernuansa hitam dengan kilau glitter. Im Nayeon tampil memukau dengan atasan berpotongan di pundak, transparan di perut, dan surai bergelombang yang dikunci setengah.

Jadi, Nayeon dan Jihoon akan melakukan gerakan yang ia dan Jinyoung lakukan kemarin dengan kostum seperti itu?

“Semuanya ayo bersiap-siap, kalian akan naik ke atas panggung 3 menit lagi,” intruksi pelatih Kang yang baru saja datang bersama gadis-gadis dari kelompok 3 yang baru selesai berdandan. Tak seperti kelompok Nayeon, kelompok 3 tampak lebih simpel dengan atasan kaus berlengan panjang yang memamerkan perut datar mereka, celana super pendek dengan sebuah kain yang melingkar di pinggul mereka, dan semuanya berwarna hitam.

Tak kalah menawan dengan para gadis, para lelaki termasuk Jinyoung menggunakan kemeja hitam yang dibalut tuxedo warna maroon. Bedanya kelompok 2 menggunakan tuxedo berbahan beludru. Mereka semua tampak gagah, serasi bersanding dengan para gadis.

“Oke, sekarang kalian berbaris di tangga belakang panggung.”

Perintah pelatih Kang barusan membuat semuanya kontan bergerak mencari pasangan masing-masing. Dan kala Yerin berada di sebelahnya, tampil cantik dengan surai yang dikuncir setengah, Jinyoung melirik pada pelatih Kang yang seakan berbisik ‘agar mirip seperti Nayeon’ pada Jinyoung sambil mengedipkan sebelah mata.

***

Kehadiran delapan pasangan dari klub dance kontan disambut riuh tepuk tangan dari para penonton yang sudah menunggu penampilan mereka sejak tadi. Ke-16 orang tersebut pun berdiri di posisi masing-masing, menunggu lagu mereka diputarkan. Tak lama kemudian lagu Who is Your Mama mulai berkumandang, buat semuanya mulai menggoyangkan pinggul seirama.

Para penonton mulai bersiap dengan ponsel atau kamera mereka, terutama bagi Jinyeon shipper. Kendati keduanya tak berpasangan, semuanya tetap merekam peristiwa ini karena bisa saja ini adalah momen terakhir Jinyoung dan Nayeon dapat tampil di panggung yang sama.

Im Nayeon dengan gerakan tubuhnya yang lentur dan ekspresi yang mendukung, mampu mencuri hati setiap penonton. Namun tidak ada yang tahu kala di salah satu gerakan, saat ia berlawanan dengan Jihoon, Nayeon mencuri pandang ke arah Jinyoung. Tepat di saat Jinyoung—yang notabenenya berdiri di sebelahnya—berhadap-hadapan dengannya. Nayeon ingin tahu apakah Jinyoung menikmatinya bersama Yerin seperti ia melakukannya dengan Nayeon kemarin. Sehingga untuk sejenak, mereka saling berpandangan kendati tidak berpasangan.

Gerakan tarian Who is Your Mama dibawakan oleh klub dance dengan sempurna. Ya, mungkin itulah yang terlihat pada detik-detik awal. Sebelum mereka sampai pada gerakan tangan para lelaki yang meliuk seirama lekuk tubuh para gadis. Karena kini pelatih Kang kembali memberenggut dari kursinya karena gerakan kaku pun jarak terlampau jauh tangan Jinyoung pada tubuh Yerin.

Dan sisa dari penampilan mereka Jinyoung lakukan tak jauh berbeda dari dua hari yang lalu. Bukan, bukan seperti saat ia berlatih bersama Nayeon, melainkan seperti saat pelatih Kang meneriakinya berkali-kali. Karena gerakan pemuda Park itu kini hanya sekedarnya dan juga tidak tegas. Pun ditambah ekspresinya seperti orang linglung. Mengindikasikan kalau ia sedang tidak fokus.

Untungnya penampilan Jinyoung tertutupi dengan pasangan lainnya yang tampil dengan dinamis dan ekspresi yang seduktif. Mereka semua—selain Jinyoung—melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi sayang, yang membuat kesalahan adalah seorang Park Jinyoung, pemuda yang sejujurnya jadi sorotan malam ini karena momen Jinyeon yang ditunggu-tunggu seluruh penonton kendati kecil kemungkinan akan terjadi.

Pertunjukkan mereka berakhir dengan menuai banyak tepuk tangan serta riuh sorak penonton. Sejujurnya, penampilan klub dance malam ini—terlepas dari kesalahan Jinyoung—sangat sempurna.

Berbanding terbalik dengan pelatih Kang yang memasang tampang galak, siap memarahi Jinyoung di belakang panggung, para Jinyeon shipper justru tersenyum senang.

Mereka baru saja merekam hal menarik malam ini.

***

“Saudara-saudara, Choi Youngjae melaporkan dari tempat kejadian perkara bahwa saudara Jinyoung baru saja melirik ke arah Im Nayeon. Perhatian kepada Lee Jihoon, diharap berhati-hati karena seseorang sedang memantaumu.”

Choi Youngjae, murid kelas 1-2, berbicara layaknya reporter sambil berdiri di atas kursi. Tangannya terjulur ke arah televisi yang terpatri di dinding kantin. Alih-alih menampilkan acara pementasan akhir tahun kemarin, televisi itu justru menampilkan ‘fancam’ Jinyoung saat tampil bersama klub dance-nya—yang berasal dari salah satu penonton yang merekam.

Kurang apa lagi saat video amatir itu justru diputar pada jam makan siang di kantin. Membuat seluruh penghuni sekolah yang tengah berjejal di kantin—entah untuk mengisi perut atau sekedar melihat penampilan Jinyeon—dapat melihat segala gerak-gerik Jinyoung. Mereka menjerit saat keduanya bertatapan.

“Ahhh, mereka harusnya bersama!”

Dan mereka senyum-senyum penuh arti saat Jinyoung menggerakkan tangannya sangat jauh dari tubuh Yerin, juga saat Jinyoung kemudian menoleh ke arah Nayeon. Seolah memastikan apa pemuda Lee itu menyentuh Im Nayeon atau tidak.

“Sudah sedekat apa kau dengan Jinyoung sunbae?” sindir Myungeun kala mereka menyantap makan siang di salah satu meja kantin sambil memerhatikan layar televisi. Yerin menggembungkan pipi tembamnya lalu tersenyum simpul. “Boro-boro dekat, saat menari saja aku dicueki, tahu!”

Dan puncaknya, saat para lelaki mengangkat kedua tangan memagari para gadis yang meliukkan badannya, Jinyoung melakukannya sambil sesekali—lagi-lagi—melirik pada Jihoon dan Nayeon.

Kekeke, dengan begini Jinyoung tidak bisa menyangkalnya lagi!”

“HIDUP JINYEON!”

fin

screenshot_2016-12-28-18-00-15-1.png

screenshot_2016-12-28-17-59-29-1.png

tyavi’s little note : Gaiz help meh gaiz! Ku gakuat sama Jinyeon. Mas Jinyoung plis atuh jangan cuek-tapi-cemburu gitu atuh. Gemes kan aing jadinya T^T

p.s : untuk Jinyeon shipper plis nonton focus Jinyoung!

Iklan

4 thoughts on “[Oneshot] They Should Be

  1. WOY ADUH MY JINYEON /NANGIS/ /BRB MAKANIN FANCAM/ T________T jinyoungnya sok jual mahal gitu padahal emang maunya sama nayeon (??) jadi gregetan aku(?)
    btw salkus itu difoto yg terakhir jaebum sm siapa (?)

    Suka

  2. Itu acara apa kak? Jinyoung dipasangin ama Yerin beneran? /ah, kudet kamu nak/ Ini aku pengen garuk2 tembok kalo Jinyoung bener2 ngeliatin mbak Nayeon >< Gakuku gananaa hati daku :"

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s