[Ficlet] When Eunwoo Sick

picsart_12-21-09.56.26.png

When Eunwoo Sick

by tyavi

|Chaengwoo|

[Astro] Eunwoo and [Twice] Chaeyoung

Romance, Fluff, slight!School life | Ficlet | G

Summary :

“Kenapa Ketua tidak membalas pesanku?”

“Aku bingung harus membalas apa.”

.

.

.

“Halo, pencuri mantel.”

Sapaan setengah menyindir itu sampai di telinga Chaeyoung sedetik setelah pintu di hadapannya terbuka. Kalau ini adalah hari biasa, di mana Eunwoo memang selalu mengatai, menyindir, mengatakan hal-hal yang tidak enak di telinga padanya, Chaeyoung pasti sudah mendelik kesal ke arah wajah tampan Eunwoo. Tapi masalahnya, hari ini bukanlah hari biasa karena Chaeyoung baru saja melakukan suatu kesalahan. Yep, Chaeyoung baru saja mencuri mantel Eunwoo—atau lebih tepatnya tidak sengaja membawa mantel Eunwoo pulang.

Singkat cerita, tadi siang saat jam pulang sekolah seperti biasa Eunwoo dan Chaeyoung berada di ruang Student Council. Entah karena tidak ada kerjaan atau seorang Cha Eunwoo memang maniak kebersihan, ia memutuskan untuk membersihkan ruang Student Council. Mengumpulkan kertas-kertas dan barang yang sudah tidak terpakai lainnya untuk kemudian diletakkan di tempat pembuangan sampah sekolah. Kebetulan letak pintu menuju tempat sampah berukuran kubik besar itu berada di bagian belakang sekolah, bersebelahan dengan kolam renang milik Hagon High School.

Karena repot membawa boks-boks besar, Eunwoo menyuruh gadis Son itu untuk membawa mantelnya dengan cara dipakai—sehingga tubuh mungil Chaeyoung dibalut dua mantel—dan membuatnya tampak berisi. Sehingga saat Chaeyoung berjalan, ia akan terlihat lucu. Saat itulah masalah datang, Eunwoo yang melihat Chaeyoung berjalan di belakangnya sambil membawa boks, tertawa. Tak hanya itu ia juga mengatai kaki Chaeyoung pendek (walau memang itu kenyataannya sih). Keberatan dan kecapekan merapikan ruang Student Council membuat emosi Chaeyoung mudah tersulut hingga akhirnya ia melemparkan boks di tangannya ke arah Eunwoo dan berlari pulang. Ia bahkan tidak peduli pada Eunwoo yang jatuh tercebur ke kolam renang pada awal musim dingin ini. Chaeyoung berpikir Eunwoo bisa pulang sendiri dan menghangatkan diri dengan mantelnya. Tapi sayang, Chaeyoung baru sadar mantel Eunwoo dipakainya saat ia sampai di rumah.

“K-ketua…maafkan aku.”

Eunwoo hanya berdeham. Entah karena sikap cueknya yang kambuh atau memang kondisinya memang sedang tidak baik. Terlihat kentara di wajahnya yang pucat kalau ia tidak sedang sehat. Kendati demikian, Chaeyoung tetap menanyakannya.

“Apa Ketua sakit?”

“Tidak, kok…uhuk, uhuk…aku sehat sekali…uhuk, uhuk…” Eunwoo menjawab dibumbui dengan suara batuk yang dibuat-buat (tapi jujur, ia memang sakit batuk kok). Alih-alih mencebikkan bibir seperti biasanya saat Eunwoo mempermainkannya, Chaeyoung malah memasang wajah muram. Ia benar-benar merasa bersalah. Melihat reaksi Chaeyoung tak seperti yang diharapkannya, Eunwoo kembali berdeham sambil mengusap tengkuk.

“Ehem, lalu kenapa kau ke sini?” ujarnya masih menatap lurus-lurus pada puncak kepala Chaeyoung yang menunduk. Baru mengalihkan padangan saat gadis Son itu balas menatapnya.

“Tentu saja untuk bertanggung jawab. Ketua sakit karenaku, mana mungkin aku diam saja.”

Eunwoo batuk lagi, “Ehem, kau tidak khawatir padaku?”

“Tentu saja aku khawatir padamu—ah, maksudku aku khawatir kalau kau sakit nanti laporan-laporan di Student Council terbengkalai dan aku harus mengerjakannya sendirian.” Chaeyoung buru-buru meralat sendiri perkataannya sebelum ia salah bicara dan membuat Eunwoo berasumsi yang tidak-tidak; seperti mengira gadis Son itu menyukainya, misalnya.

“Yasudah, ayo masuk.” Eunwoo membuka pintu kediamannya lebih lebar dan mempersilahkan Chaeyoung masuk. Ruang tamu bernuansa putih adalah pemandangan pertama yang ditangkap lensa Chaeyoung. Tampak luas namun sepi. Tapi alih-alih mengikuti langkah Eunwoo menuju ruang tamu, Chaeyoung malah berjalan menuju dapur bernuansa senada yang terletak di sebelah kanan pintu utama.

“Apa Ketua sendirian?” tanya Chaeyoung sambil mengamit satu mangkok keramik dari lemari pantry—seakan ia sudah hafal setiap inci dapur Eunwoo—dan menyadarkan pemuda itu kalau tamunya malah berada di dapur.

“Iya, Ayahku dinas luar kota dan Ibuku pulang larut malam.” Namun Eunwoo abai dan malah mendudukkan diri di sofa putih beludrunya. Memijat sekilas pelipisnya selagi Chaeyoung tak melihat. Sejujurnya ia sedang berbaring saat Chaeyoung memencet bel tadi, terlampau habis tenaga sampai tak sanggup mengambil obat dari kotak P3K. Namun ia berusaha mengumpulkan tenaga saat mengetahui Chaeyoung yang datang dan berusaha menyembunyikan rasa pusingnya dengan berpegangan pada gagang pintu—hingga ia membuka setengah pintu saat mengobrol dengan Chaeyoung tadi.

“Aku bawa bubur, obat flu, obat batuk, dan plester kompres.”

Chaeyoung menyebutkan persiapannya dalam rangka ‘merawat Eunwoo’ seraya menuangkan bubur dari termos ke mangkuk. Tak lupa ia juga menuangkan air ke dalam gelas, dan meletakkannya ke atas nampan beserta mangkuk berisi bubur.

“Buburnya kau yang buat?” Eunwoo memutar tubuhnya yang semula duduk membelakangi Chaeyoung dan menyandarkan dagu di sandaran sofa. Rasa-rasanya raga Eunwoo sudah tak sanggup lagi sekadar untuk duduk tegak.

Tanpa menjawab, Chaeyoung berjalan melewati pantry sambil membawa mangkuk dan menyuapkan sesendok bubur ke mulut Eunwoo yang menoleh. “Tidak, aku minta Eomma-ku buatkan. Kenapa? Enak ‘kan?” tanyanya kemudian dengan ekspresi bangga. Lantas mengembalikan mangkuk ke atas pantry dan beralih mengambil ranselnya yang tergeletak di sofa.

“Tentu saja, kalau kau yang buat pasti bukannya tambah sehat, besok aku tinggal nama.”

Ucapan Eunwoo barusan serta-merta disambut delikan mata Chaeyoung. Lantas pipi gadis itu menggembung dan bibirnya mulai komat-kamit—mengomel-ngomel sendiri. Buat Eunwoo tersenyum melihatnya. Baguslah, Chaeyoung sudah kembali normal sekarang.

Kali ini gelas air yang diambilnya dari pantry dan disodorkan bersama dua kaplet obat—yang diambilnya dari kantung kertas obat di dalam ransel—kepada Eunwoo. “Ini, minum obatnya dulu baru makan bubur.”

Menurut, Eunwoo segera mengamit obat dan gelas air di tangan Chaeyoung. Selagi Eunwoo meminum obatnya, Chaeyoung menempelkan punggung tangannya di kening pemuda Cha itu. Lantas mengambil plester kompres dari dalam kantung kertas—yang dibelinya dari apotek dalam perjalannya ke sini—mengupas lapisan plastiknya dan menempelkannya di dahi pemuda Cha itu. Buat Eunwoo kontan memerhatikan wajah serius Chaeyoung yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Saat Chaeyoung mengalihkan titik fokusnya dan kedua pasang manik mereka bersitatap, Chaeyoung merasa bahwa demam Eunwoo baru saja tertular padanya. Karena kini kedua belah pipi Chaeyoung terasa panas. Chaeyoung harap wajahnya tidak pula berubah menjadi merah sekarang.

“S-sepertinya sudah malam, aku harus segera pulang.” Chaeyoung melepas tangannya dari dahi Eunwoo dan membereskan ransel serta termos yang dibawanya. Tas kertas berisi mantel Eunwoo tidak dibawa serta karena, well, Chaeyoung tidak mau dituduh mencuri mantel Eunwoo dua kali.

“Besok sepulang sekolah aku akan ke sini lagi, nanti ku-sms ya.”

***

Seharian ini Chaeyoung tidak bisa fokus mengikuti pelajaran. Bukan, ini bukan karena hampir seluruh penghuni sekolah menanyainya kenapa Ketua Student Council tidak masuk sekolah. Dan juga bukan karena Chaeyoung harus beratus kali menjelaskan kenapa Cha Eunwoo terkena demam plus batuk plus flu. Tapi ada satu hal—yang sejujurnya sepele namun mengusik benak Chaeyoung seharian. Hal itu tak lain adalah Cha Eunwoo yang tak kunjung membalas pesannya yang berbunyi, “Selamat pagi, Ketua. Bagaimana keadaanmu?”

Demi Neptunus! Kalau bukan karena Chaeyoung telat bangun dan jam masuk Hagnon terlalu pagi—untuknya—pasti Chaeyoung sudah mampir ke kediaman Cha sambil berangkat ke sekolah. Sekadar melihat pemuda itu masih hidup juga tak apa deh. (Meski Chaeyoung juga khawatir sih dengan apa pemuda itu sarapan pagi ini)

Maka dari itu, begitu bel tanda berakhirnya kelas berbunyi dengan merdu, Chaeyoung langsung berlari keluar Sekolah dan menghentikan taksi. Untuk pertama kali dalam hidupnya bersekolah di Hagnon Chaeyoung meninggalkan sekolah tepat pada jam pulang dan itu semua karena Cha Eunwoo—yang juga tersangka dibalik kebiasaannya pulang telat selama ini.

“Ketua! Ketua, buka pintunya!” Chaeyoung mulai berteriak sambil menekan bel berkali-kali.

“Ketua! Apa kau baik-baik saja?!” kini ia mulai bertanya, berharap siapa tahu Eunwoo melihat aksi bodohnya—berteriak heboh di depan rumah Eunwoo—lewat intercom. Atau mungkin juga sedang menertawakannya. Tapi Chaeyoung sudah tidak perduli lagi karena kekhawatirannya pada keadaan Eunwoo lebih membuatnya gila.

“Cha Eunwoo! Cha Eunwoo! Cha Eunwoo!”

“Apa? Apa? Apa?”

Eh?

Biarkan Chaeyoung mengumpulkan kewarasannya dan mencerna baik-baik suara barusan sebagai suara Cha Eunwoo. Ya! Yang yang barusan bicara itu adalah Cha Eunwoo. Orang yang sudah membuatmu berteriak seperti orang gila, Son Chaeyoung!

Dengan takut-takut, Chaeyoung membalikkan tubuhnya. Mendapati seorang pemuda jangkung dengan mantel hitam membalut tubuh, tengah menatapnya sambil memasukkan tteokbokki ke dalam mulut.

“Nona Wakil, kau sedang apa?” tanyanya tanpa dosa sambil mengunyah.

“K-ketua?”

Chaeyoung mengusap matanya beberapa kali lalu mengamati Eunwoo dari ujung kepala sampai ujung kaki seakan memastikan Eunwoo benar-benar menapak atau tidak. Apakah Eunwoo di hadapannya benar-benar Cha Eunwoo atau tidak. Karena, hei, kenapa pemuda ini tampak sehat-sehat saja?!

“Kau dari mana saja?”

“Aku lapar jadi aku keluar untuk membeli tteokbokki,” jawab Eunwoo sambil mengangkat mangkuk kertas berisi tteokbokki di tangannya. Gestur yang tentu saja tidak perlu karena Chaeyoung sudah dapat melihat jelas apa yang dimakan pemuda Cha itu saat ini. Chaeyoung tak memusingkannya lebih jauh lagi dan beralih menanyakan tujuannya ke sini.

“Kenapa Ketua tidak membalas pesanku?”

“Ah, itu aku lupa.”

Chaeyoung 100 persen melongo sekarang. Apa kata pemuda itu barusan? Ia lupa membalas pesan Chaeyoung? Setelah seharian ini otak Chaeyoung dipenuhi tentang Eunwoo—karena ia sangat khawatir akan keadaan pemuda itu—lalu pergi dengan taksi ke rumahnya begitu sekolah dibubarkan dan mendapati pemuda itu dalam keadaan sehat bugar sedang menyantap tteokbokki dengan lahapnya. Rasanya darah Chaeyoung mengalir sampai ke ubun-ubun saat ini.

“Ketua bisa keluar jalan-jalan dan membeli tteokbokki, tapi lupa membalas pesanku?” pertanyaan Chaeyoung lontarkan dengan nada penuh penekanan dan tatapan tajam.

“Memangnya aku harus menjawab pesanmu?” Eunwoo balas menatap Chaeyoung, mengerutkan sejenak keningnya sambil menelengkan kepala. “Tidak harus ‘kan?”

“Iya, benar. Ketua mau sakit atau tidak, tak ada hubungannya denganku! Aish, Son Chaeyoung. Untuk apa kau buang-buang waktu mengkhawatirkannya, huh?!”

Chaeyoung menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal menjauhi Eunwoo. Baru beberapa langkah, Chaeyoung melihat beberapa butiran putih jatuh dari langit.

“Wah, salju pertama!” serunya sambil menengadah. Ia mulai melompat-lompat kegirangan sambil mengangkat kedua tangan ke udara. Kata orang salju pertama memang selalu indah dan Chaeyoung baru benar-benar merasakannya hari ini.

“Ketua, lihat saljunya in—” Chaeyoung menoleh, hendak membagi keindahan turunnya salju pertama saat ia kemudian teringat kalau ia baru saja marahan dengan Eunwoo. Lelaki Cha itu hanya terdiam, menatap Chaeyoung lekat-lekat. Seakan tersihir dengan pemandangan Chaeyoung yang melompat-lompat di bawah terpaan salju pertama. Sekarang Eunwoo tidak yakin kalau salju pertama itu indah karena kehadiran Chaeyoung di sana.

Setelah mematung beberapa saat, Chaeyoung tersadar dan hendak pergi. “Sekarang aku benar-benar akan pul—hmpphhh!”

Tapi Eunwoo lebih cepat membungkamnya dengan sepotong tteokbokki. “Son Chaeyoung, maaf,” ujarnya yang hanya bisa dibalas tatapan tanda tanya.

“Aku bingung harus membalas apa.” Eunwoo mengangkat satu kantong plastik berisi tteokbokki yang masih utuh di sebelah tangannya.

“Kalau aku bilang masih sakit, kau akan khawatir…”

.

.

.

“…tapi kalau kubilang aku sudah lebih baik, aku takut kau tidak akan datang.”

.

fin

Iklan

4 thoughts on “[Ficlet] When Eunwoo Sick

  1. KYAAAA ANOTHER CHAENGWOO LAGI AHAHAHA udah ngeship berat mah gini ya kak kambeknya jg pake chaengwoo lagi ya XD

    Btw ini ficnya aku demen bacanya ih kak… Manis manis kyut lucu kek mereka berdua gitu… Lucu bayangin chaeng dengan muka rasa bersalahnya pas tau enwu sakit, lucu bayangin betapa jahilnya eunwoo, DAN ITU BACA KALIMAT TERAKHIRNYA IH BIKIN BAPER AHAHAHAA

    Nice fic kak tyav! Aaaaa ❤❤

    Suka

  2. “…tapi kalau kubilang aku sudah lebih baik, aku takut kau tidak akan datang.” kampret ah bisa di quote nih send ke gebetan biar peka lol

    Yaampun udahlah yha tat aku tuh udah kelewat diabetes /? baca chaengwoo kalo genre school-life. Hehe request mereka gedean dikit gmn? Penasaran sama lovelife mereka wkwkkwkw

    NICE FIC TATTTTT💜💜💜

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s