[Oneshot] My Witchy Witchy Girl!

picsart_11-14-09-24-18

shoshana presents

MY WITCHY WITCHY GIRL!

a sequel / side story of Bewitched!

TWICE Mina & GOT7 Jaebum

ft. TWICE Momo & Sana

Oneshot | AU, Fantasy, Romance | T/Teen

I own nothing but the story~

“The emo witch has fallen into a spellbinding bright love!”

Playlist: GOT7 – She’s a Monster

Menjadi perempuan normal tidak mudah bagi Myoui Mina. Bukannya dia selama ini perempuan yang tidak normal, tapi pada dasarnya ia memang bukan orang biasa. Penyihir muda itu mematut diri di depan cermin sambil mengernyit, ia tidak suka apa yang dilihatnya. Rambut cokelatnya dihiasi dua kepang kecil gaya half-up braided yang dibuatkan oleh Momo. Kulit pucatnya yang tak pernah tersentuh make-up dipoles dengan nuansa pink, terkesan terlalu lembut dan imut baginya. Pakaian yang dikenakannya saat ini nyaris membuatnya ingin mengutuk Sana. Gadis itu mengubah warna sweater hitam kesukaannya menjadi putih, dan menyuruhnya mengenakan rok pendek fuschia yang hampir ia buang minggu lalu. Dengan kaku ia memaksakan bibirnya yang hampir tak pernah tersenyum untuk membentuk lengkungan bak kue putri salju.

“Aku tidak bisa melakukan ini lebih baik aku makan biskuit choco chip asin buatan si Momo,” gerutu Mina masih dengan senyum yang dibuat-buat.

“Sebenarnya kamu jadi dirimu sendiri saja tidak usah begini,” timpal Momo. “Jaebum sunbae kayaknya bakal oke oke saja.”

“Mana bisa begitu! Aku mau jadi perempuan normal buat dia. Kalau orang lihat dia kencan sama gadis penyihir aneh dengan busana serba hitam, kan…” Mina terdiam dan menghela napas, ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri.

Ia tidak mungkin menunjukkan dirinya yang asli pada Jaebum. Setidaknya tidak sekarang ketika mereka baru pacaran seminggu. Laki-laki itu bisa serangan jantung kalau tahu ia penyihir yang suka membuat ramuan dan mengutuk orang (kata gurunya, ia boleh mengutuk orang jadi kodok atau tangkal pohon kalau mereka melihatnya mempraktikan sihir, dan hal itu terjadi setidaknya sekali seminggu.) Maka untuk sementara ini, Myoui Mina terpaksa bertingkah seperti perempuan pada umumnya.

Tepat saat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 7:05, Mina mengambil sepasang high heels putih yang ia pinjam dari Sana dan mengenakan sepatu itu di kedua kakinya. Walau dengan susah payah, ia berhasil berdiri dan berjalan sampai ke pintu depan.

“Semangat Mina sayang!” Seru Sana—jauh lebih bersemangat dari Mina sendiri.

“JANGAN LUPA SENYUM!” Teriak Momo heboh.

“Jangan gunakan sihir!” Tambah Sana.

Jangan gunakan sihir.

Sayangnya itu mustahil. Motor Jaebum tiba-tiba mogok di jalan dan ia harus diam-diam memperbaikinya dengan sedikit sihir. Mina bahkan mendapatkan meja paling bagus di restoran pasta yang sudah penuh itu dengan memantrai manager-nya. Jaebum tidak ambil pusing tentang semua keanehan yang terjadi sejak tadi, ia pikir mereka sedang beruntung saja.

“Kau mau makan apa?” Tanya Jaebum, sibuk membolak-balik halaman buku menu.

“Hm? Oh, apa saja yang oppa makan,” ujar Mina pelan sambil tersenyum tipis.

Pikirannya hanya terpusat pada lelaki yang duduk di hadapannya, ia sama sekali tidak memikirkan soal makanan. Manik matanya menelusuri wajah Im Jaebum, ia suka semuanya. Ia sangat menyukai Im Jaebum, sangat suka sampai hal itu menyiksanya. Pikirannya sempat meninggalkan restoran pasta yang dipadati manusia-manusia lapar itu. Tak lama matanya menangkap sebuah benda silinder berkilau yang sedang meluncur menuju kepala Jaebum. Mina pun tersadar dari lamunannya, dengan sigap ia menahan gelas yang jatuh dari nampan seorang pelayan ceroboh yang baru saja berlalu di belakang Jaebum. Gelas itu kini melayang di atas kepala si lelaki Im. Mina tahu ia tidak bisa mempertahankan kontak matanya dengan gelas selamanya, begitu ia berkedip benda itu akan kembali menurut pada gravitasi. Dalam satu gerakan tangan saja, gadis penyihir itu menghancurkan si gelas maut menjadi jutaan partikel kecil. Ia kemudian menghela napas lega, membuat Jaebum yang sejak tadi memusatkan atensinya pada layar ponsel jadi terheran-heran.

“Ada apa?”

Mina tetap bungkam dan menggelengkan kepalanya.

“Kelihatannya sesuatu mengganggumu,” kata Jaebum khawatir.

“Aku baik-baik saja. Itu makanannya datang! Ayo makan!” Mina berusaha terdengar seceria mungkin. Ia mengambil garpu dan segera menyambar mangkuk berisi pasta dari nampan pelayan yang baru saja datang—bahkan tidak membiarkan si pelayan meletakkan mangkuk itu di meja. Ia menyantap hidangan Italia itu dengan lahap. Niatnya agar terlihat semangat, namun Jaebum malah terkekeh geli melihatnya.

“Jangan rakus begitu, pelan-pelan makannya.” Jaebum mengusap kepala gadis itu dengan lembut sembari melempar senyuman hangat.

Deg!

Jantung Mina bisa meledak saat itu juga. Ia mengangkat kepalanya dan termangu menatap Jaebum, garpunya belum sempat sampai ke mulut. Rona di pipinya menjadi dua kali lebih jelas dari sebelumnya.

Masalahnya pada momen emosional tertentu, kekuatan seorang penyihir cenderung tak terkendali. Terlalu marah, sedih, atau dalam kasus ini perasaan bahagia yang meluap-luap karena jatuh cinta. Mina benar-benar tidak sadar ia baru saja membuat perabotan dan peralatan makan di restoran itu mengambang di udara setinggi 30 cm.

Dan kali ini semua orang di restoran—termasuk Jaebum—melihat kejadian itu dengan jelas.

Mina sudah menyerah sepenuhnya pada high heels yang menyakiti kakinya selama berjam-jam. Jaebum pun memarkir motornya di taman dekat rumah Mina dan menawarkan untuk menggendong dara berdarah Jepang itu sampai ke rumah. Awalnya Mina menolak karena ia pikir itu konyol, namun 5 menit kemudian ia berakhir di atas punggung Jaebum.

“Yang tadi itu…” Mina memulai pembicaraan di tengah keheningan jalanan sepi yang mereka lewati.

“Yang tadi yang mana?”

“Apa kau akan percaya kalau aku bilang aku ini penyihir?”

Langkah lelaki itu terhenti. Tidak ada respons apa pun keluar dari mulutnya, jadi Mina melanjutkan pengakuannya.

“Aku tidak suka dandan. Aku pakai baju hitam setiap saat. Ya, aku bisa melakukan sihir yang jauh lebih parah dari yang tadi. Aku tidak suka senyum.”

Mina menarik napas dalam. “Apa kau masih menyukaiku yang seperti itu?”

Jaebum menurunkan Mina dari punggungnya, membalikkan badan dan menatap matanya lekat-lekat.

“Aku tidak peduli, penyihir atau monster sekali pun tidak apa-apa.”

“I can’t cancel love, Myoui Mina.”

Entah kutukan atau mantra apa yang mengacaukan otaknya, Mina langsung memeluk Jaebum erat-erat sampai ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Seluruh pakaian yang dikenakan gadis itu berubah warna sendiri menjadi hitam, semak-semak liar di pinggiran jalan tiba-tiba dilalap api (cukup untuk mengejutkan Im Jaebum yang awalnya masih belum percaya 100%.)

“Kau baru saja membakar semak-semak,” ujar Jaebum.

“Itu belum seberapa. Mau kutunjukkan yang lebih mengerikan?”

-fin-


That was honestly really fun to write! I hope you enjoy it as much as I do. The next (and last) story in this universe would be Sana’s (and it would be a little bit different.) Happy Holodays Holidays everyone!

Love, Sho♥

Iklan

4 thoughts on “[Oneshot] My Witchy Witchy Girl!

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s