Lucretia

Lucretia.png

Author : Deliadeaa

«Lenght» Oneshot contain ± 1308 words

«Genre»:Angst | Sad | AU | Romance

«Rating»  : PG 15!

«Cast» TWICE Tzuyu, NCT 127 Taeyong, 17 Mingyu

« Disclaimer » Storyline and poster murni milik aku, apapun bentuk plagiarism are totally restricted

Tainan, China

Gadis itu tak bersalah. Takdir buruk membuat dirinya menderita. Penderitaan itu akan terus berlanjut seiring dengan rantai kehidupan yang terus berputar. Tuhan tidak akan mengizinkan takdir itu berhenti di kehidupan Lucretia saja.

“Nona! Jangan mendekat!”

Takdir itu, kini giliran reinkarnasi ke-14 yang mendapatkannya. Gadis yang memiliki paras menawan, anggun, dan sopan, cerminan dari ciri khas seorang putri bangsawan.

“Kau terluka tuan, aku akan mengobatimu.”

Andai saja gadis itu tahu, bahwa dirinya sedang berada di tengah bahaya. Panah dari arah manapun dapat menusuk tubuhnya dalam sekejap. Namun anehnya, gadis itu baik-baik saja. Ia bahkan mengobati pria yang terluka itu.

“Jangan khawatir, ini wilayahku. Kau terluka karena memasuki area ini.”

Wilayahku? Perlu digarisbawahi bahwa wanita itu merupakan gadis China. Pria itu tertegun, sontak ia berdiri meskipun sekujur tubuhnya terluka parah.

“Siapa kau!?” ucap pria itu waswas, diam-diam tangannya bersiap menghunus pedang yang ia genggam.

“Saya ditugaskan untuk mengantar utusan dari Hanyang oleh Yang Mulia. Maafkan kelalaian hamba, yang belum memberitahukan informasi ini di daerah perbatasan sehingga anda terluka.”

Pria itu menghembuskan napas lega. Dilepasnya pedang itu dari genggamannya. “Baiklah. Siapa namamu?” Gadis itu tersenyum, memancarkan pesona lekukan di pipinya.

“Namaku Tzuyu, tuan.”

***

3 months later, Seorabeol

Kehidupan di Seorabeol semakin makmur di bawah kuasa Raja Muyeol. Peningkatan ekonomi menaik drastis. Semua terkendali di tangannya. Sedikit pengecualian, sebenarnya Raja Muyeol tidak bisa mengatur anaknya sendiri. Putra Mahkota Kim Mingyu, anak sulung paling nakal yang mampu membuat ayahnya tak bisa berkutik.

Dia adalah pangeran dari segala pangeran penakluk hati wanita. Satu kalimat saja, dan ia akan meluluhkan hatimu dalam sekejap. Tidak hanya itu, Mingyu terkenal dengan temperamennya yang mudah sekali mendidih. Apa yang dikehendakinya harus terjadi. Jika tidak, nyawa orang taruhannya.

“Apa kau tidak lihat aku sedang bermain di sini!? Berani-beraninya kau-” Mingyu membungkam mulutnya begitu melihat siapa yang membuka pintu.

“Anak kurang ajar, keluar kau sekarang juga!” bentak Raja Muyeol. Enggan melihat adegan tak senonoh putranya bersama gisaeng di kamar anak itu. Buru-buru ia mengenakan pakaian dan topi bangsawan miliknya. Gisaeng yang tadi pun entah kemana perginya.

Putra mahkota memang sangat ceroboh. Ia lupa hari ini ada upacara penyambutan di istana. Pantas saja di luar sangat berisik. Bunyi gayageum dan terompet berpadu menciptakan alunan melodi yang unik namun tetap indah.

Utusan dari Korea yang dikirim ke China sudah kembali. Anak asuh Lady Seungwan, Pangeran Lee. Setibanya di Korea, ia langsung menghadap raja untuk dimintai restu. Tentunya seisi keluarga kerajaan terkejut dengan permintaan sang pangeran yang sangat mendadak ini.

Pangeran Lee memutuskan untuk meminang putri dari perdana menteri kekaisaran Tang, Putri Tzuyu.

“Bukan maksudku menolak pangeran, tetapi kau masih muda. Maksudku, putra mahkota, anak sulung kerajaan bahkan belum menemukan calon yang sesuai.”

Yang Mulia Ratu pun membenarkan. Di hadapan raja, pangeran Lee tak bisa berkutik. Mingyu hanya menyeringai menatapnya, dalam hati ia bersorak. Mana mungkin anak asuh bisa melangkahinya. Sama saja dunia terbalik.

***

Tzuyu tercenung di kamarnya. Untung saja raja berbaik hati mengizinkannya singgah sebentar, sehingga dirimya tidak perlu kembali ke China tengah malam. Masih lekat di benaknya tentang lamaran Pangeran Lee kepadanya, saat mereka berdua masih berada di dataran China.

Kurang lebih baru tiga bulan ia mengenal seorang pria. Namun pria itu sudah mampu membuat jantungnya berdegup lebih cepat, membuat pikirannya penuh dengan dirinya sampai tak bisa tidur.

“Chou Tzuyu, maukah kau menikah denganku?”

Lamunan Tzuyu buyar saat suara gaduh entah dari mana merasuk ke pendengarannya. Ada apa tengah malam begini?

“Selamat malam, nona cantik.”

Tzuyu tertegun mendapati seorang pria melompat masuk ke jendela kamarnya.

“Lancang! Siapa kau, berani-beraninya masuk!” sentak gadis itu.

“Oh, aku lupa. Aku adalah putra mahkota Kim Mingyu.”

Mingyu dengan santainya duduk manis di tepi ranjang. Sambil menatap Tzuyu, tangannya menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.

“Kau pasti lelah. Berhari-hari kau menyisir lautan dengan anak asuh itu, kan? “

“Maaf, tuan, sebaiknya anda kembali.”

“Hmm… Putri secantik dirimu sama sekali tidak cocok dengan anak asuh sepertinya.” Ucap Mingyu, lantas berdiri mendekati Tzuyu.

“Sekarang sudah malam. Lebih baik anda kembali, atau aku akan memanggil prajuritku sekarang.” Sadar bahwa ini sudah terlalu larut bagi seorang wanita untuk bercakap-cakap hal yang tak penting terlebih lagi di kamar, Tzuyu mengusir pangeran muda itu secara halus. Namun pria itu bersikeras. Tungkainya bergerak mendekat. Gadis itu semakin cemas, apa yang ingin dilakukan pria ini?

Tzuyu melangkah mundur. Ia ketakutan setengah mati. Namun pria itu mengunci tubuhnya, mengikis jarak hingga keduanya begitu dekat.

“Jadilah milikku, Chou Tzuyu.”

Spontan gadis itu menatap manik mata Mingyu lamat-lamat. “Aku tidak mau.” Penolakan tegas Tzuyu berujung pada semakin menajamnya tatapan Mingyu padanya, seolah ingin memangsanya.

“Aku putra mahkota di sini. Jika aku berkehendak, maka tidak seorangpun bisa mencegahku. Jika kau menolak, aku bisa saja dengan mudah melenyapkan anak asuh tercintamu sekaligus kau sekarang juga!” bisik Mingyu tepat di telinga Tzuyu.

Tzuyu terhenyak saat pria itu mulai melepas ikatan pada hanfu-nya. Ia ingin berteriak saat itu juga, namun Mingyu melumat bibirnya. Gadis itu meronta-ronta, meminta agar Mingyu melepaskan dirinya. Sedangkan Mingyu tetap acuh, dan malah semakin melancarkan aksinya. Tzuyu kini hanya bisa pasrah dan menangis.

Malam itu adalah mimpi paling buruk di sepanjang hidupnya.

***

Semalaman menangis, membuat mata Tzuyu sembab dan bengkak. Pangeran Lee yang sedari tadi bertanya padanya ia abaikan. Pria itu begitu khawatir dengan keadaan gadis yang dicintainya. Tidak hanya sembab, matanya juga kosong. Tak ada secercah cahaya yang biasa hidup di sana. Makanan di atas meja juga sama sekali tak disentuh.

“Aku…” belum sempat Tzuyu menyelesaikan kalimatnya, air mata tumpah membasahi pipinya.

“Kenapa?” pria itu mencoba menenangkan Tzuyu. Namun tangisan gadis itu malah semakin menjadi.

“Apa kau mencintaiku?” ucap Tzuyu di sela-sela tangisannya.

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”

“Kalau begitu, biarkan aku menghadap raja dan para menteri. Juga seluruh keluarga kerajaan.”

“Ada apa?”

Gadis itu hanya tersenyum penuh arti. Dihapusnya sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.

Kau akan tahu nanti…

***

Para menteri berbisik-bisik. Mereka menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh putri dari China itu. Keluarga kerajaan juga bingung, kecuali putra mahkota.

Bisik-bisik pun resmi diakhiri ketika raja sudah tiba dan menduduki singgasananya.

“Yang Mulia, hamba berdiri di sini ingin mengatakan sesuatu pada anda…”

Tzuyu berusaha terlihat tegar. Sekali lagi diliriknya Pangeran Lee yang tersenyum kepadanya.

“Apa itu?”

“Hamba tidak layak menjadi menantu anda.”

Bisik-bisik tetangga kembali terdengar samar-samar. Deheman sang raja membuat atmosfer menjadi hening seketika.

“Kemarin malam, putra sulung Anda, Mingyu masuk ke kamar saya tanpa permisi. Dia, dia…”

Bulir bening kembali membasahi pipi gadis itu lagi. Lidahnya seakan kaku untuk mengucapkan kebenarannya.

“Putra mahkota telah menodai saya, Yang Mulia.”

Kini tempat itu menjadi gaduh. Para menteri berdiri, terkejut akan pernyataan Tzuyu. Mereka berdebat tidak jelas. Pangeran Lee menatap Tzuyu tak percaya. Prajurit yang dibawa gadis itu bersiap menghunus pedangnya. Namun Tzuyu menahan mereka.

“Apa itu benar?” ucap raja pada Mingyu, sambil menahan emosinya yang akan pecah sebentar lagi.

“Aku hanya bermain sebentar dengannya.”

“Bajingan menjijikkan!”

BRUKK!

Rahang Taeyong mengeras. Ia menatap tajam saudara tirinya yang tersungkur di lantai. Mingyu mengusap sudut bibirnya yang berdarah.

Pengawal kerajaan berusaha menghentikan Pangeran Lee yang semakin bernafsu untuk menghabisi nyawa putra mahkota. “Bawa dia pergi.” titah Yang Mulia.

“Jangan! Biarkan dia di sini sebentar saja Yang Mulia.”

Raja mengabulkan permintaan Tzuyu, gadis itu menatap Pangeran Lee nanar.

“Aku mencintaimu, Lee Taeyong.”

Lantas gadis itu mengeluarkan belati dari balik hanfu yang ia kenakan dan menghujam tepat di jantungnya.

“Tidak!!!”

Pangeran Lee menangkap tubuh Tzuyu yang terhuyung.

“Tzuyu!!” Taeyong mengguncang-guncang tubuh gadis itu. Ia menatap sepasang mata Tzuyu yang terpejam, rasanya benar-benar sakit.

“Kami akan menuntut balas atas semua kejadian ini. Yang Mulia Kaisar akan segera kami beritahu untuk mengambil tindak lanjut. ” ucap salah satu prajurit Tzuyu.

Raja memijat pelipisnya. Kekacauan terjadi bertubi-tubi karena anak sialan itu. Peperangan besar antar negara tak terelakkan lagi, dan kemungkinan besar akan menghapus Silla dari tiga kerajaan terbesar di Semenanjung Korea.

“Tzuyu, aku akan memusnahkan seluruh keturunan raja di negeri ini. Tunggu saja, pria brengsek itu sebentar lagi akan kukirim ke neraka. Itu sumpahku padamu, Chou Tzuyu.”

 

-Fin

 

 

 

Iklan

8 respons untuk ‘Lucretia

  1. Hiih….aku benci mingyu! Kan kasihan lee taeyong kehilangan tzuyu…semangat ya lee taeyong! Bunuh aja tuh si mingyu biar tahu rasa dia! 😥 O:-)

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s