Girls’ Problem (Episode 1)

girls-problem-1
Poster by HRa@PosterChannel
Thank you for the amazing and lovely poster!

 shoshana presents

GIRLS’ PROBLEM

Episode 01: The Girl Who’s Afraid of Girls

Park Jihyo, Myoui Mina, The rest of TWICE ft. GOT7
Chaptered | College!AU, Friendship, Romance, Garing Comedy-ish | T/Teen
I own nothing but the story~

Note: None of the characters in the story are the real personalities of TWICE members. Hope you like the story! (bahasa slightly tidak baku(?))

PROLOGUE | EPISODE 1


Setelah melalui satu jam perjalanan sambil mendengarkan petuah dari ibunya, Myoui Mina akhirnya menginjakkan kakinya di depan kediaman tim cheerleader Youngkwang University. Sekitar dua minggu yang lalu ia hanyalah seorang mahasiswa pindahan dari San Antonio yang tidak punya satu pun teman di kampus, lalu tiba-tiba seorang cewek aneh bernama Hirai Momo memaksanya ikut audisi anggota cheers squad tanpa alasan yang jelas. Alhasil sekarang ia berada di sini, menjadi bagian dari tim yang sudah hampir punah itu dan harus tinggal bersama 8 anggota lainnya. Mina tidak terlalu menyesali keputusannya bergabung dalam tim itu. Ia memang takut membuka diri lagi pada sesama cewek (apalagi segerombolan), ada sebuah trauma tersendiri menyangkut hal itu, tapi ia yakin tidak ada salahnya mencoba hal baru.

Mina melangkah menuju ke pintu depan rumah berukuran sedang itu, melewati taman kecil yang tidak begitu terawat dan sebuah mini van putih yang usang. Rumah itu hanya memiliki satu lantai, temboknya dicat warna putih gading dan ada satu set meja beserta tiga buah kursi di terasnya. Jika dibandingkan dengan rumahnya sendiri tentu saja sangat jauh berbeda, tapi ini bahkan lebih baik dari ekspektasinya. Ia tidak begitu mempermasalahkan kondisi atau ukuran rumah itu, ia lebih khawatir soal bagaimana ia harus menempatkan diri. Kesan pertama apa yang harus ia tunjukkan? Mina memutuskan ia akan menjadi ‘anggota baru yang menghindari masalah’.

Selang beberapa menit setelah ia menekan bel rumah yang berbunyi seperti lonceng, pintu dibukakan oleh seorang gadis ber-ponytail yang Mina kenali sebagai Park Jihyo. Pertama kali Mina bertemu Jihyo saat audisi, ia mendapat kesan bahwa sang kapten tidak begitu menyukainya. Sekarang pun ia bisa merasakannya. Jihyo sedang memandanginya dari atas ke bawah lalu tertawa mengejek melihat koper besar berwarna shocking pink yang ia bawa.

“Ada yang salah?” Tanya Mina sedikit tersinggung.

“Engga sih,” jawab Jihyo datar. “Ayo masuk, biar kuantar ke kamarmu.”

Begitu masuk ke dalam rumah, Mina disambut dengan tumpukan sepatu berbagai model dan warna bergeletakan di dekat rak sepatu. Rak sepatu itu sendiri sudah dipadati puluhan pasang sepatu yang—kata Jihyo—sebagian besarnya adalah milik Sana. Mina pun meletakkan sepatunya sendiri di sebelah tumpukkan sepatu yang lain, kemudian ia mengikuti Jihyo sambil menyapukan pandangannya ke sekitar. Di ruang TV, Yoo Jungyeon sedang duduk di sofa, sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Di sebelahnya ada Im Nayeon yang terus mengganggu Jungyeon sambil sesekali membalas pesan dari pacarnya. Anggota-anggota yang paling muda: Kim Dahyun, Son Chaeyoung dan Chou Tzuyu sedang duduk di meja makan yang terletak di dapur sambil entah membicarakan apa. Lalu ada Momo dan Sana yang sedang berebut toilet. Sana memukul-mukul pintu kamar mandi sambil meneriaki Momo dan mengatainya bau seperti toilet, Momo akan balas berteriak dan begitu terus berlanjut.

“Orang tuamu bilang apa soal ini?”

Pertanyaan Jihyo mengalihkan atensi Mina dari observasi kecilnya. Sambil melangkah masuk ke kamar dan meletakkan kopernya di dekat lemari, ia menjawab, “They’re positive. Mereka bilang mereka ingin-”

“Baguslah,” potong Jihyo, ia langsung melanjutkan lagi tanpa memberi Mina kesempatan untuk mengeluarkan sepatah kata pun.

“Ngomong-ngomong aku berbagi kamar ini dengan Momo. Dia pakai tempat tidur yang terpisah, jadi kamu pakai yang itu.” Jihyo menunjuk bagian bawah tempat tidur tingkat yang menempel pada dinding. Ia juga memberitahu Mina bagian lemari pakaian yang boleh ia pakai. Lalu seolah malas berbasa-basi lagi, gadis ber-ponytail itu langsung membalikkan badannya dan beranjak ke pintu kamar.

“Sepertinya kau tidak suka padaku,” tukas Mina tiba-tiba, berhasil membuat langkah Jihyo terhenti di depan pintu kamar.

“Pfft kata siapa? Apa kelihatannya begitu?” Tanya Jihyo, menerima anggukan pelan dari Mina sebagai jawaban.

“Ga usah aneh-aneh deh, sikapku memang seperti ini biasakan saja.” Jihyo melipat tangannya di dada lalu melanjutkan, “Anyway drop the honorific and follow me.”

Harus Mina akui, Jihyo memiliki aura yang agak mengintimidasi dan membuatnya tidak bisa berkata-kata. Tanpa membantah lagi, ia mengikuti Jihyo ke ruang TV, di mana si kapten meniupkan peluitnya yang memekakkan telinga dan membuat semua anggota—bahkan Momo yang belum selesai dengan ‘bisnis’-nya di toilet—berlari terburu-buru untuk berkumpul di ruang TV. Jihyo menarik Chaeyoung dan Tzuyu, menjejerkan keduanya di sebelah Mina lalu memberi masing-masing dari mereka bertiga segelas minuman yang tampak seperti cola. Melihat wajah-wajah bingung di ruangan itu, Jihyo pun menangkupkan kedua tangannya dan memulai.

“Ayo kita ucapkan selamat datang pada tiga anggota baru kita! Anggap saja ini acara peresmian kecil-kecilan,” kata Jihyo. Nayeon merespon dengan tepukan tangan penuh semangat dilengkapi sebuah senyum lebar, dilanjut serangkaian tepuk tangan lemas dari yang lainnya dan keluhan sakit perut dari Momo.

Jihyo berdeham keras kemudian berdiri menghadap Mina, Chaeyoung, dan Tzuyu. Ia memandangi mereka bergantian sambil berjalan mondar-mandir di depan ketiganya.

“Aku memberi kalian segelas cola sebagai tanda bahwa kedepannya kalian tidak akan bisa lagi minum minuman berkadar gula tinggi itu,” tegas Jihyo. “Tidak ada lagi cemilan berkalori tinggi! Ya, Son Chaeyoung aku akan membakar semua keripik kentang yang kau bawa kemarin!”

Raut wajah Chaeyoung berubah murung mengingat nasib keripik kentang kesayangannya, ia lalu membayangkan sebuah mimpi buruk di mana ia harus makan apel sebagai pengganti cemilan.

“Unnie… menakutkan.” Chou Tzuyu yang paling muda dan lugu tiba-tiba nyeletuk dengan suara pelan dan kepala tertunduk, wajahnya begitu memelas ketika Jihyo mendekatinya dan menyuruhnya bicara lebih jelas. Bahkan Momo yang sedang mules berat gara-gara makan sarden basi tidak tahan ingin mentertawakan Tzuyu yang kelewat polos.

“Unnie serem,” ulang Tzuyu, kali ini lebih keras. “Ini cheers squad kan bukan militer?”

Terlihat sedikit jengkel, Jihyo hanya mendesis sambil memijat-mijat pelipisnya. Ia memberi tanda pada Tzuyu untuk meminum cola-nya, menolak berbicara lebih lanjut dengan gadis tinggi itu. Tanpa bertanya lagi Tzuyu mematuhi suruhan sang kapten dan meneguk minuman berkarbonasi itu.

“Jangan lupa besok kita mulai latihan jam 4 pagi.” Terdengar suara Tzuyu menyemburkan cola dari mulutnya dan pekikan Mina yang terkena sembur di belakang.

“Tim ini sudah banyak kena masalah, aku mau kita berlatih lebih keras.” Jihyo mengakhiri kalimatnya dengan nada dan ekspresi serius. Ia meraih kunci mini van dan tasnya di meja lalu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.

“Apaan sih cewek itu memang dia kira dia siapa mau mengambil waktu tidurku lagi. Bodo amat aku sakit perut!” Omel Momo frustasi sesaat setelah Jihyo keluar dari pintu. Ia terus memegangi perutnya sambil berjalan menuju toilet, diekori oleh Sana yang langsung berkomentar.

“Dia kapten tim ini, idiot.”

Sementara yang lain kembali pada kegiatan mereka masing-masing, Mina masih tetap berada di posisinya. Kebiasaan melamunnya tiba-tiba kumat. Dengan mata tertuju pada papan tulis kecil yang ditulisi peraturan-peraturan rumah, pikirannya sedang melayang memikirkan suatu hal yang sedikit mengganjal di benaknya.

Masalah.

Kata-kata Jihyo meninggalkan sejumlah pertanyaan di kepala Mina. Rasa penasarannya semakin menguat, apa sebenarnya yang terjadi pada tim ini sebelumnya. Sewaktu merekrutnya, Momo atau pun yang lainnya tidak banyak menceritakan soal itu, seolah ada yang ditutupi darinya. Ia bahkan mulai ragu dengan hubungan di antara anggotanya, menurutnya mereka terlihat tidak begitu dekat satu sama lain.

Mina pun menghampiri Nayeon yang sedang sibuk chatting. Masih dengan baju yang baru terkena semburan maut Tzuyu, ia duduk di sebelah unnie-nya itu dan mencolek-colek bahunya. Nayeon akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan tersenyum manis pada Mina.

“Ada apa?” Tanya Nayeon.

“Um itu kata-kata Jihyo yang tadi, masalah apa yang dia maksud?”

“Ah itu…” Nayeon melirik Jungyeon yang duduk di sebelahnya sambil menyikutnya. Gadis berambut pendek itu berhenti mengetik, kemudian balik memandangi Nayeon. Keduanya saling pandang beberapa saat, bertukar isyarat-isyarat yang hanya dimengerti oleh mereka.

“Sebenarnya bukan masalah serius kok, kejadiannya tahun lalu. Tapi kayaknya Jihyo ga bakalan suka kalau aku cerita soal ini,” ujar Nayeon, menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan jari telunjuknya.

“Jihyo melakukan kesalahan yang memalukan di final nasional tahun lalu. Ia hampir mencelakai dirinya sendiri dan seorang senior gara-gara jatuh dari stunt piramid. Untungnya tidak ada yang terluka, tapi kami jadi kalah,” cerita Jungyeon, tanpa mempedulikan Nayeon yang menepuk lengannya keras-keras.

“Bukannya menyalahkan Jihyo, tapi kejadian itu memang awal dari berbagai kesialan lainnya. Setelah para senior lulus, satu-persatu anggota kami meninggalkan tim. Mereka ga terima Jihyo mau dilantik jadi kapten. Setelah itu tim ini kehilangan peminat karena—”

“Pokoknya tenang saja deh,” potong Nayeon panik. “Korean Cheerleading Association sudah memberi kita kesempatan terakhir di kompetisi tingkat kota nanti. Kita pasti bisa memperbaiki semuanya.”

Tatapan curiga dari Mina membuat Nayeon berkeringat dan merasa tidak nyaman. Ia berdiri dan meraih tangan Mina dengan maksud mengajak, namun gadis Jepang itu cepat-cepat menarik tangannya.

“Kenapa? Kamu ga suka dipegang ya? Kita ke kamarmu saja yuk aku mau membantumu unpacking!” Kata Nayeon, mengalihkan topik dari pembicaraan sebelumnya. Ia tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.

Mina membalas dengan senyuman ragu, menghiraukan uluran tangan Nayeon. “Uh okay.”

-::-

Meja makan bundar di dapur sudah diisi dengan tiga piring ayam goreng, beberapa kaleng bir dan jus jeruk, serta semangkuk kimchi buatan ibunya Dahyun. Makan malam sehat untuk diet tidak ada dalam kamus Momo. Minggu ini gilirannya tugas memasak, dan itu artinya satu minggu penuh junk food.

“Jihyo unnie ke mana?” Tanya Dahyun sambil membuka kaleng jus jeruk.

“Dia belum pulang. Lagian dia kan paling anti makan makanan dari Momo,” jawab Sana, menempati kursi di sebelah Dahyun.

“Dia anti sama aku bukan cuma makanannya,” ketus Momo. “Aku ngga ngerti dia bisa makan rumput doang. Memangnya kenyang ya?”

“Itu namanya sayuran, bukan rumput. Dasar bodoh,” timpal Jungyeon.

“Kalian ngomongin apa sih? Rumput apaan?” Tzuyu menyela sambil mengedip-ngedipkan matanya.

Dahyun menggelengkan kepalanya sambil menatap Tzuyu tidak percaya. “Bukan apa-apa. Ga usah dibahas lagi Tzuyu-ya.”

Dalam beberapa menit piring pertama sudah kosong. Seperti biasanya, Sana menceritakan pada mereka gosip-gosip terbaru di kampus, lalu pembicaraan mereka berlanjut ke ratusan topik lainnya. Hal baru yang mereka suka lakukan saat makan malam adalah mengganggu Tzuyu, si bayi polos baru dalam tim. Di tengah canda tawa mereka, tiba-tiba Mina masuk ke dapur dengan muka bantal. Nayeon segera mengambil satu kursi lagi dan menyuruh Mina duduk di sebelahnya. Momo menyodorkan ayam goreng serta sekaleng bir sambil cengir-cengir.

“Mina-ya! Cerita sedikit dong tentang dirimu,” pinta Sana, senyum jahil tersungging di bibirnya.

“Cerita apa ya, hidupku ga menarik,” ujar Mina masih setengah sadar.

“Ah bohong.” Sana meledek, menyesap bir kalengannya perlahan lalu mengernyit begitu bir itu melewati kerongkongannya.

“Mina unnie sepertinya ga suka ngomong ya,” kata Chaeyoung sembari mencomot potongan ayam terakhir dari piring kedua, merebutnya dari Tzuyu yang langsung manyun.

Mina mengangguk pelan. “I don’t know how to get along with you guys.

“Ga perlu bingung begitu Mina-ya, kita semua pasti memperlakukanmu dengan baik.” Nayeon merangkul Mina sembari menepuk-nepuk pundaknya, kali ini ia tidak menyingkirkan lengan Nayeon atau menghindar. Ia membuka kaleng bir dari Momo dan meminumnya perlahan. Ia tidak pernah begitu menyukai rasa bir kalengan, namun ia terus menyesapnya tanpa sadar.

Setelah meja dipenuhi piring kosong dan kaleng-kaleng minuman kosong, satu persatu kursi di ruangan itu juga mulai kosong. Dahyun mengajak Chaeyoung tidur lebih awal, lalu Tzuyu mengikuti mereka berdua karena kebingungan harus berbuat apa. Nayeon pergi ke teras untuk menerima telepon dari pacarnya. Sementara Jungyeon seperti biasa mengerjakan tugas kuliahnya yang tak kunjung habis, meninggalkan Mina, Sana, dan Momo di dapur. Momo kelihatannya mulai error gara-gara kebanyakan makan ayam, ia menyandarkan kepalanya di meja sambil menggumam tidak jelas.

Tidak ada alasan tertentu mengenai perasaan tidak enak Mina setiap kali ia melihat Sana, ia merasa agak canggung. Gadis itu terus memasang ekspresi yang sulit dijelaskan, seakan ada banyak hal yang ia ketahui. Mina hampir saja berdiri dari kursinya sebelum Sana memanggil namanya dan menyuruhnya duduk kembali.

“Mau aku kasih tahu sebuah rahasia?” Kata Sana dengan nada sok misterius.

“Rahasia?” Ulang Mina terdengar bingung.

“Iya, tadi siang aku dengar Jungyeon cerita sama kamu.” Sana memulai. “Tapi Nayeon unnie memotongnya, ya kan? Mau aku kasih tahu lanjutannya?”

Rasa penasaran berhasil mengalahkan perasaan tidak enaknya, Mina mengangguk sambil melipat tangannya di atas meja, siap untuk menyimak apa pun yang akan Sana katakan padanya.

“Sebenarnya yang membuat tim ini jatuh bukan cuma kesalahan Jihyo di final itu,” ucap Sana, memainkan kaleng birnya yang sudah kosong. Ia tersenyum tipis lalu melanjutkan.

“Seorang mantan anggota tim ini menyebarkan rumor bullying yang membuat orang takut mau bergabung. Ia menyebutkan bahwa salah satu dari kami mem-bully dia sampai dia stress.”

Mina tertegun sejenak, mendengar kata bully membuat kenangan-kenangan buruk bermunculan di kepalanya. Ada satu orang yang menjadi dugaan pertamanya, tapi ia tidak begitu yakin.

“Itu cuma rumor kan? Berarti ga benar dong,” kata Mina pelan.

“Entahlah, aku ga pernah lihat hal itu terjadi tapi mungkin saja benar. Siapa yang tahu,” timpal Sana. Lalu tiba-tiba ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya. “Ngomong-ngomong Jihyo ga suka sama kamu gara-gara kamu ngobrol sama mantannya.”

“Mantannya? Siapa?” Mina lagi-lagi dibuat bingung. Selama dua minggu ini di kampus, ia hanya pernah mengobrol dengan teman sekelasnya. Mana ia tahu siapa mantan pacarnya Jihyo.

“Itu loh, Im Jaebum sunbae. Kata Jihyo dia sempat lihat kamu ngobrol sama Jaebum sunbae di depan lab bahasa.”

“Oh itu, aku kan cuma—“

Suara langkah kaki menuju ke pintu dapur menghentikan pembelaan diri Mina yang bahkan belum sampai setengah kalimat. Ia menoleh dan mendapati Jihyo sedang berdiri di sana dengan wajah muram.

 

-:CONTINUED TO EPISODE 2:-


9MILLION CHEERS SQUAD’S

HOUSE RULES

  1. NO BOYS ALLOWED!
  2. EACH MEMBER CHANGE TURNS TO COOK EVERY WEEK
  3. DO YOUR OWN LAUNDRY!
  4. CLEAN THE HOUSE EVERY 2 WEEKS

 

Hola~ akhirnya setelah billion years berlalu procastinator ini ngepos ff absurdnya juga haha 😦 i feel a lil bit shameless to post this now lol but anyways- there will be more stories to be unfold so please anticipate the next chapter! (maunya)

15.gif

 

Love, Sho♥

Iklan

4 thoughts on “Girls’ Problem (Episode 1)

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s