[Ficlet] Chaeyoung is Not Here

picsart_10-23-06-14-54

shoshana presents

CHAEYOUNG IS NOT HERE

 TWICE Chaeyoung, Dahyun ft. 17 Vernon (as Hansol)

Ficlet | Horror (idk), Psychological (?), Random (?) | PG

I own nothing but the story~

Note: This is a Holoween- i mean late Halloween special. This is also a gift for the readers and everyone because i’ve been gone for hundred years 😦 hope you enjoy it!

 


 

Hujan.

Akhir-akhir ini hujan turun tanpa henti.

Son Chaeyoung menatap lurus ke jendela tanpa sekalipun berkedip. Ia mengamati rintik-rintik hujan yang membasahi jendela, semakin lama semakin banyak hingga akhirnya tak ada lagi yang bisa ia lihat dari balik jendela yang berkabut itu. Seseorang pernah memperingatkannya bahwa melamun itu berbahaya, tapi ia tidak bisa menghilangkan bayangan-bayangan tentang Jumat malam berhujan yang kelabu dari kepalanya. Ia yakin sesuatu terjadi malam itu, hanya saja ia tidak mampu mengingat apa-apa.

“Son Chaeyoung!”

Suara yang familiar itu membuyarkan lamunannya, menariknya kembali ke ruang kelas yang membosankan. Choi Hansol, senior kelas 3 yang tampan dan lumayan populer di sekolah, terburu-buru melintasi barisan kursi-kursi di kelas 2-1 untuk menghampiri Chaeyoung. Keduanya memang sudah lama kenal dekat, kira-kira sejak Chaeyoung masih kelas 1 SMP. Hansol duduk di sebuah kursi kosong di sebelah Chaeyoung, raut wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan.

“Hai!” Sapa Chaeyoung riang lengkap dengan senyuman termanisnya. Alih-alih membalas sapaannya, Hansol terlihat semakin jengkel.

“Sabtu kemarin sikapmu aneh sekali, apa sih masalahmu?” Tanya lelaki itu dongkol pada Chaeyoung.

Hari Sabtu? Chaeyoung bahkan tidak bisa mengingat apa pun yang ia lakukan di hari Sabtu. Ia memiringkan kepalanya, berkedip beberapa kali sambil mengetukkan jari telunjuknya ke meja.

“Maksudmu? Memang apa yang terjadi hari Sabtu lalu?”

“Ya ampun. Kau ingat kan Jum’at lalu aku mengajakmu nonton? Lalu kau bilang hari Sabtu kau ada waktu,” kata Hansol, kemudian menerima anggukan setuju dari Chaeyoung. Ia pun melanjutkan, “Tapi Sabtu malam saat aku datang menjemputmu, kau mengusirku dengan kasar.”

Pernyataan itu membuat bulir-bulir keringat dingin mengaliri seluruh tubuh Chaeyoung, ia menundukkan kepalanya dengan gugup. Tangannya bergetar karena sebuah pemikiran menakutkan yang muncul di kepalanya dan bagaimana reaksi Hansol jika ia mengutarakan hal itu.

“Se-sebenarnya yang kau temui malam itu sau-saudara kembarku,” ungkap Chaeyoung sedikit terbata.

Hansol tampak sedikit terkejut—bahkan ngeri—mendengar perkataan gadis mungil di sebelahnya itu. Ia menggelengkan kepalanya sambil perlahan bangkit dari kursi yang ia duduki, menatap Chaeyoung seolah gadis itu sudah gila.

“Tapi kau tidak punya saudara kembar, Son Chaeyoung.”

-::-

Sore ini lagi-lagi hujan turun, padahal beberapa menit yang lalu Chaeyoung baru saja meminta Dahyun untuk datang ke rumahnya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu, menonton film, mengobrol, dan tentu saja ia ingin menceritakan soal Hansol pada Dahyun.

Pembicaraannya dengan Hansol siang tadi berpotensi memutus pertemanan mereka. Laki-laki itu sepertinya benar-benar berpikir bahwa ada yang tidak beres di kepalanya dan sama sekali tidak membalas pesan dari Chaeyoung. Gadis itu duduk termangu di depan cermin di kamarnya, frustasi memikirkan cara untuk membuat Hansol percaya padanya.

Chaeyoung memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin. Rambut hitam yang sama, sepasang mata cokelat yang sama, tahi lalat yang sama. Namun kini keduanya terlihat berbeda, ketika sosok di dalam cermin menyunggingkan seulas senyum nakal.

“Chaengie, ayo main,” ujar gadis di cermin.

Tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun, Chaeyoung menimpali, “Aku sedang tidak mood. Lagi pula Dahyun mau datang ke sini, jadi jangan ganggu aku.”

“Jadi begitu? Kau mau memperlakukan kembaranmu seperti ini?!” Sosok Chaeyoung di dalam cermin tidak terlihat senang mendengar tanggapan itu.

“Kau bukan kembaranku!” Seru Chaeyoung kesal. “Kau merusak hubunganku dengan Hansol! Sudah cukup jangan pernah muncul lagi!”

Chaeyoung pun mengambil sebuah bangku kayu yang berada di sebelah meja belajarnya, dan menghantamkan benda itu ke cermin beberapa kali sambil menjerit-jerit. Pecahan cermin itu berterbangan kemana-mana dan berserakan di lantai, menggoreskan luka di kedua telapak kaki dan pipi kanan Chaeyoung. Gadis bersurai pendek sebahu itu kembali duduk memeluk lutut sambil meringis kesakitan. Darah segar mengalir dari luka di pipinya. Ia memang tak bisa lagi melihat sosok kembarannya itu di dalam cermin, namun ia masih dapat mendengar suaranya, terngiang-ngiang di dalam kepalanya, seakan tak rela melepaskannya.

“Kau itu cuma milikku Chaengie!”

“Pergi!” Bentak Chaeyoung sembari memegangi kepalanya yang mulai terasa pening dengan kedua tangannya.

“Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Kamu tidak akan bisa lepas dariku Chaengie!”

-::-

Kim Dahyun berdiri di depan pintu rumah Chaeyoung yang tampak suram sambil menutup payungnya yang sudah lumayan kering dari tetesan air hujan. Ia melirik jam tangannya sekali lagi. Sudah 20 menit lebih ia menunggu Chaeyoung membukakan pintu, sepertinya gadis itu tidak mendengar ketukannya. Chaeyoung juga tidak menjawab telpon. Dahyun mulai merasa sedikit khawatir, tapi ia berusaha berpikir positif, mungkin saja Chaeyoung tertidur.

Ia pun mencoba mengetuk pintu rumah Chaeyoung sekali lagi sambil memanggil namanya. Kali ini hanya selang beberapa detik pintu itu dibuka dari dalam, membuat Dahyun tersentak kaget. Dahyun lagi-lagi dibuat tekejut melihat kaki Chaeyoung yang berdarah-darah dan pipinya yang terluka. Ia menjatuhkan tumpukan DVD yang ia bawa dari rumah, mulutnya menganga saking kagetnya.

 “Chaeyoung? Kau baik-baik saja?” Tanya Dahyun pelan. Ia tidak melihat Son Chaeyoung yang ia kenal, perempuan di hadapannya itu sama sekali berbeda, dari gerak-geriknya hingga ekspresi wajahnya. Dahyun tidak menyukai aura aneh yang memancar dari sahabatnya itu.

Chaeyoung menarik sedikit sudut bibir kanannya, memberi lawan bicaranya itu seulas senyum sinis. “Kenapa? Apa menurutmu aku terlihat tidak baik-baik saja?”

“Uh.. a-aku… sepertinya aku harus pulang,” kata Dahyun gugup sambil melangkah mundur perlahan-lahan. Sorot matanya menyiratkan ketakutan.

“Jangan takut, Dahyunie.” Chaeyoung berjalan maju mendekati Dahyun dengan tangan terulur. Ia meraih lengan Dahyun dan mencengkeramnya, menancapkan kuku-kukunya ke kulit putih gadis itu.

Sekali lagi ia tersenyum.

“Ayo kita main.”

fin


Unimportant side note;

Bingung? ya, saya juga bingung saya nulis apaan 😦 (?)

Sorry for making Chaeyoung looking like a crazy girl, it’s not her! (eh)

I want to thank the admins for not kicking me out yet (i’m actually grateful /ugly sobs/ /dances to TT/) I’m well aware that I still have a debt to pay (which is my chaptered fic if anyone remembers)

okay… that’s all. Much love, Sho

Iklan

6 respons untuk ‘[Ficlet] Chaeyoung is Not Here

  1. YA ALLAH MERINDING.
    Jadi sebenernya Chaeyoung kayak kepribadian ganda? Atau justru yang di cermin itu refleksi sisi jahatnya Chaeyoung? Aduh kepala aku gak sampe tapi ini beneran bikin merinding T _____ T
    And I also spotted Chaeng-Vernon moment omgggg, my loves! (lol, abaikan)
    Kebayang kalo aku jadi Dahyun, mau pulang aja :(( gamau temenan lagi sama Chaeyoung :((

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ya benul (?) jadi chaeng itu punya kepribadian ganda dan si yang satunya itu jahat. terus ga mau chaeyoung temenan sama yg lain kecuali ‘dia’ :’3
      aku juga gatau kenapa kepikiran chaeng x vernon random banget XD wkwk ayo main sama ‘chaeyoung’ kasian dia 😦 /ga
      thanks udah mampir dek (?) (love love)

      Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s