ICU

00102186

Casts :  Im Nayeon & Jeon Jungkook

 Support Casts : Miyoui Mina, Park Jimin, Kim Taehyung & Kim Dahyun

Genre : Romance, Fantasy, Life, Sad || Rating : PG – 15 || Lenght : Oneshoot (2500w)

Author : Dindonline/Ingenura || Disclimer :Percakapan singkat dengan teman author yang seorang perawat ICU.

‘apa harapanmu Nay?’_ Jungkook

‘tentu saja panjang umur’_Nayeon

Suara gelak tawa konstan itu terdengar, selalu memenuhi tiap sudut ruang serba putih ini. bip bip bip bip

Aroma yang selalu menusuk, bukan bau karbol atau beberapa jenis obat – obat yang dapat dengan mudah  ditemui. Ini bau cairan sterilisasi, bau yang sudah begitu akrab dengan syaraf – syaraf penciuman Nayeon. Kamar – kamar itu tersekat dan ketika ia mengunjunginya ia akan menyadari kehampaan dan keputus asaan di sana. Mereka hidup tapi mereka mati, tak ada kebahagiaan.

Nayeon menatap jarum jam yang bertengger di dinding kamar perawat. Pukul delapan malam tepat, saat dimana beberapa mili injeksi cairan obat ini menyusur diantara cairan darah di tubuh pasiennya. cairan yang sedikit menopang hidup mereka yang tak pasti.

Ia melirik ke arah Mina yang masih berkutat dengan status pasien yang harus ia isi, memenuhi kolom – kolom di sisi status yang berisi jadwal injeksi pasien. “Tn. Kim bukan?” tanya Nayeon mempersiapkan peralatannya. Ia meletakkan  spuit 3cc juga beberapa needle, ia menatap kertas KIO milik tuan Kim sambil meletakkan beberapa ampul cairan bening. Semuanya obat stroke di mana beberapa hari yang lalu pria lanjut itu mengalami anfal.

Prang!!!

Nayeon menabrak seseorang, terang saja semua benda yang sudah ia siapkan itu terjatuh di lantai. Menatap kesal beberapa ampul cairan yang harusnya masuk ke aliran darah tuan Kim itu meluber di lantai. Nayeon menatap orang yang menabraknya, mengerutkan keningnya ketika menatap pria yang berdiri tertunduk di depannya.

“siapa kau? Kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Nayeon sedikit menahan kekesalannya. Pria itu hanya menunduk, tak berani menatap bola mata lawan bicaranya.

“apa kau keluarga pasien? Seharusnya kau tak berada di sini.” Nayeon sedikit menghaluskan nada bicaranya. Pria itu masih menunduk, membuat Nayeon mendesah kesal di buatnya.

“tuan, arah ruang tunggu pasien ada di sebelah sana.” lanjut Nayeon menunjuk pintu keluar ruang ICU itu. Pria itu mengangguk lalu menuruti perintah Nayeon.

Nayeon menatap peralatannya yang berantakan, ia memunguti pecahan kaca ampul yang sekarang sudah tak berbentuk. Nayeon melirik anak ruang di ruang ICU itu, ruang dimana Mina nampak tak terganggu dengan keribut yang baru saja ia buat.

….

Nayeon keluar dari ICU, sejenak menghirup udara segar yang jarang sekali ia cium beberapa jam yang lalu. Ia menghentikan langkahnya menatap pria yang ia tabrak tadi duduk di ruang tunggu pasien. Ia menunduk, seolah menatap lututnya yang tertekuk. Pria itu beberapa kali menghela napas berat, seolah ada beribu ton beban di pundaknya. Nayeon mendekat, memegang pundak itu pelan.

“tuan,” panggil Nayeon lembut, nada suara yang sangat jauh dari yang ia keluarkan tadi.

“maaf aku tadi membentakmu.” ucap Nayeon menyesal.

….

Mereka berdua duduk di sudut kantin rumah sakit, Nayeon menyodorkan botol mineral ke arah pria itu. Ia sedikit menyesal telah membentak pria di hadapannya itu.

“apa keluargamu di rawat di ICU?” Nayeon membuka pembicaraan. Pria itu mengangkat kepalanya, tatapannya nampak sedih.

“ah,.. aku tahu.” Nayeon menyimpulkan.

“apa kau sendirian?” pria itu masih diam. “siapa namamu?” lanjut Nayeon.

Bola mata di depannya masih menatapnya dalam diam, Nayeon bukan tipe orang yang pandai bersosialisasi hanya saja melihat pria itu tertunduk sedih ada sedikit yang menganggu hatinya.

“baiklah, aku harus segera pergi. Aku tak mungkin meninggalkan teman jagaku terlalu lama.” Nayeon beranjak berdiri, namun langkahnya terhenti ketika pria itu menahan tangannya.

“aku Jeon Jungkook.” ucap pria itu pelan.

….

Hidupnya menggantung, di alam di mana orang mengatakan bahwa ice cream itu sangat enak. Hidupnya menggantung, di alam di mana aroma obat – obatan itu menopang hidupnya. Sudah sejak lama Nayeon hidup sendirian, kedua orang tuanya meninggal dan hidupnya memang terasa sangat hampa. Ia tak memiliki saudara, hanya kehidupan sebagai perawat yang sedikit membantunya untuk bertahan. Bertahan? Di tempat di mana ruang besar itu menggantung kehidupan mereka dengan berbagai alat – alat medis. Nayeon cukup kebal untuk mengisi kehidupannya di ruang ini, ICU tempat orang selalu mengatakan transit di mana jiwamu akan berakhir nantinya. Ia sudah cukup kebal ketika suara teriakan bercampur isak tangis itu memenuhi telinganya. Kehidupan di dunia memang tak akan pernah abadi.

“kau sedang apa?” Nayeon melongok ke arah Mina yang sedang mengisi waktu longgarnya dengan melihat majalah fashion di tablet Pcnya. Seharian tadi ia mondar – mandir mengurusi pasien yang tiba – tiba tekanan darahnya turun drastis.

“aku keluar sebentar.” pamit Nayeon, tapi gadis itu nampak tak bergeming. Nayeon mendesah pelan, namun langkah pastinya menuntunya ke arah taman yang terletak tak jauh dari ICU. Pria bersurai hitam itu sudah menunggunya, ia memainkan rumput di kakinya yang nampak sedikit mulai meninggi.

“sudah lama?” pria itu menoleh, tatapannya di sambut jus jeruk yang sedari tadi Nayeon bawa.

“sedikit.” jawabnya menerima Jus pemberian Nayeon. Gadis berpakain serba putih itu duduk di sisi Jungkook, menyilangkan kakinya lalu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi.

“jadi kau sedih bukan karena bentakkanku?” Jungkook menggeleng, ia menoleh dan menatap Nayeon.

“aku menangis karena ternyata keajaiban itu benar – benar ada.”

“keajaiban?” Nayeon terkekeh “aku tak percaya dengan keajaiban.” alis pria itu tertaut.

“kenapa?” tanya Jungkook sedih.

Senyum gadis itu terkembang. “aku bekerja di rumah sakit ini sudah hampir 6 tahun, selama 6 tahun itu pula aku merawat orang – orang yang bergulat dengan kematian. Tubuhmu tak akan pernah berbohong, dia juga punya batas hidup di dunia. Kau tak akan bisa memaksanya, memenuhi keegoisan manusia yang selalu ingin bertahan untuk mampu menghirup oksigen.” jelas Nayeon.

“kau terlalu teoritis, seperti kebanyakan dokter – dokter yang mampu menitah panjang pendeknya umur seseorang.” gumam Jungkook tak suka dengan penjelasan Nayeon.

“ah iya maaf kau memiliki saudara yang sakit di sini.” ujar Nayeon tak enak ketika menatap perubahan ekpresi Jungkook.

“baiklah aku harus segera kembali, sebentar lagi jadwal dokter syaraf akan visite.” lanjut Nayeon menatap jam digital yang melingkar di lengannya. Pria itu mengangguk, menatap punggung Nayeon dengan sedih.

….

Nayeon meregangangkan ototnya yang terasa kaku, jadwal jaga malam memang selalu menguras tenaganya. Gadis itu menatap Dahyun teman jaga malamnya hari ini, gadis itu masih duduk di kursi meletakkan tangannya di meja untuk menyangga kepalanya yang beberapa kali terantuk karena ketiduran. Tatapan gadis itu beralih pada tumpukan buku di depan Dahyun, berlembar – lembar laporan keperawatan yang belum Dahyun selesaikan. Ia menarik kertas itu pelan, berharap gerakkannya tidak membangunkan sahabatnya itu. Nayeon mengangguk – anggukkan kepalanya pelan melanjutkan beberapa point yang belum Dahyun selesaikan.

“kau sedang sibuk?” suara berbisik Jungkook membuat gadis itu menoleh ke arah pintu. Ia mengangkat kedua alisnya, nampak kaget melihat pria itu berani masuk ke ruang ini.

“apa yang kau lakukakn di sini?” Nayeon berjinjit ke arah Jungkook. Ia menarik lengan pria itu untuk keluar.

“apa kau tahu, jika masuk ke dalam kau harus mengenakan pakaian yang sudah disterilkan?” Nayeon dengan leluasa melepaskan kekesalannya pada Jungkook setelah mereka berdua berada di luar.

“baju yang kau kenakan bisa membawa kuman yang dapat menginfeksi pasien di dalam, apa kau tahu yang dimaksud inos?” pria itu tertunduk mendengar amarah Nayeon. Nayeon menghela nafas dalam berusaha mengontrol emosinya yang tiba – tiba meluap – luap.

“maaf.” gumam Jungkook bergetar. Nayeon menatap pria di depannya, ekspresi Jungkook, entahlah seolah menggetarkan hati Nayeon.

“aku juga minta maaf sudah memarahimu, ada apa menemuiku?” tanya Nayeon mulai tenang.

“15 hari lagi kau ulang tahunkan?” tanya Jungkook membuat gadis itu terperanjat kaget. Untuk bertama kalinya selama dia hidup ada seseorang yang mengingat ulang tahunnya. Dan itu… pria asing yang baru beberapa hari ia kenal.

“dari mana kau tahu?” Nayeon menatap Jungkook heran. Pria itu tersenyum kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “aku hanya menebak dari ukiran gelangmu.” pria itu menunjuk gelang di pergelangan tangan Nayeon.

Nayeon terkekeh, menyadari pria di depannya begitu teliti. Ia menarik lengan Jungkook pelan, mengajaknya duduk di bangku taman favorite mereka.

“berjanjilah 15 hari lagi kita merayakkannya di sini.” Nayeon menyodorkan kelingkingnya ke arah Jungkook. Tindakan yang sukses membuat Jungkook menahan air matanya. Tanpa komando pria Jeon itu menyergap tubuh Nayeon. Jungkook menangis, ya, pria itu menangis.

Nayeon hanya membelalak kaget, tubuhnya pun seolah menerima saja tindakan pria di depannya itu. Hanya ucapan ‘kau kenapa?’ yang terlontar dari bibir gadis itu. Jungkook tetap terisak, membiarkan tubuh Nayeon tetap dalam dekapannya.

….

Nayeon menyisir rambutnya, memoles lipstik baby pink di bibirnya namun sedetik kemudian ia kembali ke arah kaca menghapus lipstik di bibir miliknya dengan tisu di meja. Kedua ujung bibirnya tersungging, ia pikir untuk pertama kalinya ia merasa berangkat bekerja itu cukup menyenangkan. Ah.. tidak bukan itu, ia rasa untuk pertama kali jantungnya terasa berdetak. Gadis itu mengambil tas tangan yang sering ia kenakan, menyusuri trotoar malam yang baginya nampak begitu indah hari ini. Ini hanya sebuah jalan yang tiap beberapa meter terhujam lampu jalan, atau di sisi kananya cahaya toko yang nampak bercahaya membasahi trotoar bermotive paving.

Deg

Selalu nampak aneh ketika melintasi jalan ini, dada yang tak berhenti berdetak dengan sangat kencang. Sesuatu yang aneh, ya… memang sangat aneh dan dia tak mengerti itu apa. Nayeon hanya perlu mengabaikannya seperti biasa.

“selamat malam Kim Taehyung,” sapa Nayeon pada teman jaga malamnya.

Ia mengedarkan pandanganya menjelajah seluruh ruangan. “kemana Dahyun?” Taehyung hanya menoleh, menatap Nayeon yang memasukkan tas tangannya ke dalam loker.

“dia belum datang?” Taehyung masih diam sambil mengangguk pelan.

“kalau begitu aku akan mengecek kamar ICU A1 dan A2.” lanjut Nayeon menarik status pasien juga mengecek KIO kedua pasien itu. Meninggalkan Taehyung yang masih berkutat dengan beberapa cairan infus dan juga beberapa ampul injeksi.

….

Beberapa menit lagi hari ini akan berlalu, dan gadis ini tahu apa yang akan menyambutnya beberapa menit lagi. Gadis itu menyimpan tangannya ke dalam celana putih yang selalu ia kenakan ketika bekerja. Menyusuri beberapa kamar pasien yang nampak tenang ketika malam hari. Ujung pantofel miliknya berhenti, tergeser beberapa derajat menatap ke arah teman barunya yang tengah duduk di kursi taman favorite mereka.

“sudah lama menunggu?” sapa Nayeon, pria itu menoleh menunjukan lengkung bibirnya yang indah.

“tidak.” sahut Jungkook menatap Nayeon yang sudah duduk di sisinya.

“ini pertama kalinya aku merayakan ulang tahun dengan seseorang.” ujar Nayeon mencoba mencairkan kegugupannya. Jungkook terkekeh, ia menyodorkan mini cupcake dengan lilin kecil di tengahnya.

“tak perlu gugup Nay.” ucap Jungkook dengan suara parau. Nayeon tersenyum, menatap lilin kecil itu yang telah menyala.

“apa harapanmu Nay?” tanya Jungkook dengan sudut mata yang hampir mengeluarkan air mata. Gadis di depannya terdiam sejenak, ia menghela napas pelan.

“tentu saja panjang umur.” sahut Nayeon mantap.

Lilinnya sudah tertiup, diiringi asap tipis yang nampak muncul di udara. Tak ada nyanyian selamat ulang tahun malam itu, Cupcake di tangan Jungkook pun terjatuh di rumput. Gadis itu membatu, tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya. Mimpi? Benarkan ini mimpi? Pria di hadapannya menghilang tiba – tiba. Tak berbekas, senyuman pun tak bersisa di sana.

….

Nayeon meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, baru beberapa menit ia tertidur suara Taehyung dan Dahyun berhasil membangunkannya. Ia menarik sandal yang nampak berserakan di lantai dengan ujung jempolnya. Langkahnya terseok menuju ruang utama kamar perawat, kedua temannya nampak sibuk mempersiapkan beberapa peralatan.

“tiba – tiba saja kondisinya tak stabil.” ujar Dahyun.

“tekanan darahnya menurun lagi?” Taehyung menarik gagang telpon di sudut meja. Ia menekan beberapa nomor ketika menatap Dahyun mengangguk yakin menjawab pertanyaannya. Panggilan telpon itu tersambung pada dokter jaga, bagaimanpun mereka membutuhkan dokter jaga untuk mengatasi pasiennya.

“ada apa?” tanya Nayeon pada Dahyun.

“pasien A3 yang mengalami kecelakaan beberapa hari lalu keadaanya tidak stabil.” jawab Dahyun membaca beberapa laporan dari pasien itu.

Dahyun dan Taehyung berlari pergi meninggalkan Nayeon setelah dokter jaga datang. Gadis itu tertegun menatap berkas pasien yang baru saja Dahyun letakkan.

“Jeon Jungkook.” suara gadis itu bergetar.

….

Apa keajaiban itu ada? Pertanyaan yang akan selalu muncul dibenak Nayeon dan ia sekarang percaya bahwa keajaiban itu benar – benar ada. Pria ini memejamkan matanya, masker non rebreathing bahkan menutupi separuh wajahnya. Detak jantungnya konstan tapi ia tak bergerak, dan ini terjadi sudah satu bulan lebih. Nayeon yakin tangisnya itu nyata, Nayeon yakin senyumnya juga nyata dan Nayeon juga yakin genggaman tangannya saat itu juga nyata.

“kau Jungkook?” pertanyaan itu meluncur, tapi pria itu tak bergerak. Sunyi dan sangat tenang, hanya gelak tawa benda di sisi gadis itu yang terdengar. Hanya benda bernama elektroda itu yang tertempel di dadanya itu yang seolah mengintipnya.

“sial, apa ini mimpi?” lutut Nayeon terasa lemas, ini sudah satu bulan lebih dan ia baru menyadarinya. Pria yang selama ini ia temui ternyata terbujur di tempat tidur ini. menggantung antara ingin hidup tapi kematian tengah menyambutnya.

Nayeon masih tak bergerak, menatap setiap inci wujud nyata di hadapannya. Berdoa dalam hati bahwa ia butuh keajaiban, sesuatu yang selalu ia ingkari selama ini. Air yang bersumber dari ujung mata Nayeon nampak jatuh, sejurus jatuhnya air mata dari sudut mata Jungkook. Tergerak pelan, ujung – ujung jemari yang sedari tadi membeku seperti mayat yang masih hangat.

Nayeon mengusap air matanya, ia percaya keajaiban itu ada. Nayeon mengecek tekanan darah Jungkook, memastikan pula suhu pria itu normal. Ia berlari kecil ke arah ruang perawat yang sedang Mina dan Jimin jaga. Ujung bibirnya sedikit terangkat, dan sekarang ia percaya bahwa keajaiban itu ada.

“jika melihat pria itu aku selalu mengingat Nayeon.” ucap Mina meletakkan infus ke atas meja. Menahan gerak Nayeon untuk mendekat.

“ya, beberapa hari sebelum kecelakaan itu Nayeon mengatakan akan mengenalkan kekasihnya padaku.” sahut Jimin yang sibuk dengan laporan keperawatannya.

“aku benar – benar kehilangan Nayeon.” Mina tertunduk. Jimin menghentikan gerakkan tanganya.

“secepat itu ia meninggalkan kita.” Jimin nampak meremas bolpoin di genggamanya.

Nayeon membisu, kakinya terasa kaku. Ia rasa ini semua hanya mimpi buruk, terpekur mendengar percakapan kedua sahabatnya. Mengingat – ingat beberapa kali teman – temannya mengacuhkan. Ya, selama ini teman – temannya tak pernah menangkap sosoknya. Ia hanya sebuah jiwa yang tersesat di dunia yang ia anggap masih berputar untuknya.

“putraku bergerak, ujung jarinya bergerak!” seru oemma  Jungkook ke arah ruang perawat. Tertembus sempurna, sosok Nayeon yang berdiri tertembus wadah nyata oemma Jungkook.

Nayeon terisak, mengingat saat pria bernama Jungkook itu menangis di pelukkannya. Mengingat pria itu memenuhi janjinya, mengingat seperti apa keajaiban itu berlaku untuk mereka.

….

Beberapa bulan yang lalu.

Nayeon berdiri di sisi jalan menanti Jungkook seperti biasanya. Pria itu melambaikan tangannya, ia berdiri di seberang jalan berjarak beberapa meter dari Nayeon. Senyum pria itu terlukis ketika langkah pastinya mendekat ke arah Nayeon.

“sudah lama menungguku?” tanya Jungkook menggosokkan kedua tangannya, ia meletakkan telapak tangannya membingkai wajah kekasihnya.

“tidak, kajja kita akan ketinggalan bus.” Nayeon menarik lengan pria itu menyusuri trotoar.

Mereka memilih duduk di kursi paling belakang, Jungkook meletakkan jemari tangannya yang bertautan dengan jemari tangan Nayeon ke dalam mantel yang ia kenakan.

“Nay beberapa bulan lagi ulang tahunmu apa yang kau inginkan?” tanya Jungkook menatap Nayeon yang duduk di sisinya.

“sederhana.” sahut gadis itu singkat.

mwo?” Jungkook menautkan alisnya.

“aku hanya ingin kau menjadi orang pertama yang berada di sisiku ketika aku berulang tahun, sebelum orang tuaku meninggal mereka selalu menemaniku.” ujar Nayeon tegar. Jungkook menepuk pundak Nayeon pelan.

“aku janji Nay,” ujar Jungkook menyodorkan kelingkingnya. Nayeon akan menyambutnya, namun sebelum kelingking mereka tertaut sebuah truck dari belakang menghantam bus yang mereka tumpangi.

Asap hitam nampak mengepul di ikuti sirine ambulance dan mobil kepolisian yang saling bersahutan. Jungkook nampak tak sadarkan diri di antara beberapa puing kaca di sekitar pria itu. Nayeon mengerjapkan matanya, ia tak mampu bergerak tubuhnya dan Jungkook terhimpit bagian belakang bus. Gadis itu masih sempat tersenyum menggerakkan lengannya yang bebas melindungi kepala juga tengkuk Jungkook. Air matanya meleleh mencoba menautkan kelingkingnya pada kelingking milik Jungkook.

Beg Brag

Bibir truck nampak semakin masuk ke belakang bus, semakin menekan tubuh Nayeon dan Jungkook yang terhimpit. ‘Tuhan ciptakanlah keajaiban untuk kami.’ doa itu terpanjat dari bibir Nayeon sebelum akhirnya kedua matanya tertutup sempurna.

_End_

Iklan

One thought on “ICU

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s