[Ficlet] So… How?

pagebfixaaa

So… HOW?

a story by mintulli

Nayeon (TWICE) , Hoshi (SVT)

AU, fluff, lil bit sad, drama

Ficlet | PG-13

Can I say to you, or not?

 

Cinta itu… apa? Banyak definisi. Manis, menyenangkan, mendebarkan, sesuatu hal yang terdengar indah sepertinya sudah bisa ditebak. Itu hal biasa. Tapi ada beberapa yang mengatakan kebalikan dari itu.

Orang yang satu mungkin akan mengatakan cinta itu hanya membuang-buang waktu. Kau harus melakukan ini- itu untuk si dia, mengantarnya pulang-menjemputnya, padahal masih banyak yang harus kau lakukan dari sekedar itu.

Orang yang satu lagi mengatakan bahwa cinta itu sesuatu yang besar. Sulit untuk meraihnya dengan sesuatu yang mudah. Butuh pengorbanan, perjuangan diluar berhasil atau tidaknya. Ada kesan bahwa kita bisa saja rugi dengan itu.

Orang yang lain lagi mengatakan, cinta itu bisa berubah. Tidak abadi, dan itu mengesalkan. Disaat satu pihak melepas, maka pihak yang lain akan menghalangi. Lantas seiring waktu berjalan, pihak yang melepas akan menyesal lalu kembali, tapi pihak yang menghalangi sudah menemukan cinta yang lain. Mengesalkan kan?

Aku tak masalah dengan persepsi mereka. Tapi jika kau bertanya padaku, maka aku akan menjawab bahwa cinta itu harus berhati-hati. Akan lebih baik jika kau memilih cinta seseorang yang umurnya berada dibawahmu.

Umur? Bukankah itu hanya masalah angka?

Memang, tapi kurasa itu penting juga. Aku hanya tak ingin kalian kecewa meski dengan alasan umur. Begini, biar kuberi tahu satu cerita mengapa kau juga harus memperhatikan berapa umur pasanganmu nanti.

Ada cerita tentang seorang lelaki muda yang percaya bahwa cinta pertamanya tak pernah salah. Panggil saja dia Hoshi. Anak konglomerat, mantan playboy, dan memiliki gaya tersenyum yang mana setiap gadis yang melihatnya akan gemas, salah tingkah, atau ikut tersenyum juga.

Ku bilang dia mantan playboy? Ah ya! Tapi yang ini berbeda. Mungkin hanya satu dari sekian banyak playboy, dia satu-satunya yang mengakhiri hubungan dengan damai. Dia akan berpura-pura  di hadapan gadisnya saat itu, bahwa dia akan pergi ke luar negeri. Begitu hubungan jarak jauh dilakukan, dimana saat itu dia merasa tidak cocok dan menemukan gadis yang lebih baik, maka dia akan memutuskan hubungan dengan si gadis awal dan mengatakan bahwa

“Hubungan jarak jauh sepertinya tak sehat. Pergilah dengan yang lain. Jika memang berjodoh, pasti kita akan bertemu lagi.”

Hoshi berhasil meluluhkan hati para gadis dengan akting yang mendramatisir seolah-olah dia tidak bersalah. Manis sekali. Atau kelewat jenius?

Tapi Hoshi sebenarnya tak sebejat itu juga. Jika ditanya apa alasannya, dia selalu bilang bahwa belum ada gadis yang cocok untuk masa depannya. Haha Hoshi! Tetap saja dia hobi pergi dengan banyak gadis.

Lalu sebanyak itu ‘mantan’ pacarnya, katanya satu pun tak ada yang bisa disebut cinta pertama.

“Cinta pertama itu, adalah saat ketika ada cinta yang membutuhkan cinta, maka itu akan datang dengan rasa yang berdebar dan menggetarkan jiwa.”

Seperti itu. Jadi gadis-gadis sebelumnya itu hanya sarana untuk menguji apakah dia membutuhkan cinta si gadis dengan rasa yang berdebar dan menggetarkan jiwa? Karena tidak, maka Hoshi meninggalkannya dan mencari gadis yang lain.

Belakangan, Hoshi kembali bertemu dengan seorang gadis. Pertemuan mereka cukup sederhana. Bermula ketika Hoshi benar-benar suntuk. Satu bulan ini dia belum juga menemukan gadis pengganti dari yang lalu. Lantas dia me-refresh kan pikirannya dengan berjalan-jalan di sekitar kompleks. Begitu dia berada dibawah pohon cherry blossom yang besar, dia membuat sebuah sumpah.

‘Kalau saat aku berfoto disini, ada gadis yang lewat dibelakangku… berarti dia adalah takdirku’

                Benar saja, ketika Hoshi berhasil mengambil gambar dirinya dengan latar belakang pohon cantik berwara merah muda, ada seorang gadis yang tertangkap kamera lewat di belakangnya begitu saja. Setengah sadar, setengah tidak Hoshi memandangi lamat-lamat hasil self-cam nya. Lantas kedua matanya berbinar dan segera membalikkan badan untuk mengejar sosok si gadis.

Tepat saat Hoshi menemukan gadis itu, jiwanya terasa bergetar. Juga jantungnya berdegup semakin lama semakin kencang. Dari situ, dia percaya bahwa gadis ini adalah cinta pertamanya. Hoshi dengan gaya seperti tak ingin playboy lagi, mengenalkan diri pada sang gadis asing yang sudah di doktrin Hoshi bahwa ia adalah takdirnya.

Gadis ini bernama Im Nayeon. Baru saja mendapat posisi tetap di perusahaan majalah fashion terkenal di Korea, dan ya.. dia tetangga Hoshi. Nayeon tentu bukan gadis yang anti-sosial. Dia mengerti keadaan. Jadi dia hanya melempar senyum pada Hoshi pada saat laki-laki ini menanyakan dimana ia tinggal seraya berujar,

“Kita ‘kan tetangga. Kau tidak tahu aku, ya?”

Sejak itu, Nayeon menyesali perkataannya. Hoshi begitu gembira, bahkan sangat girang dari biasanya. Tentu itu adalah sesuatu yang berharga, tahu bahwa sang takdir ternyata tetangganya sendiri yang Hoshi beranggapan bahwa Nayeon ini lebih muda darinya tapi sudah sukses mendahuluinya –sebab mengapa dia masih ber sekolah sedang Nayeon sudah bekerja. Awalnya Nayeon menganggap itu hal biasa. Hoshi mengajak pergi kesana-kemari, ia rasa mungkin Hoshi ingin mengenal dekat tetangganya. Mengingat keduanya memang jarang bertemu selama ini.

Tapi lama-lama Hoshi bertindak semakin jauh. Karena itu tadi. Sebab anggapan bahwa Nayeon adalah takdirnya dengan bumbuhan bahwa gadis itu adalah gadis muda yang berpenampilan dewasa meski garis wajahnya bisa dibilang baby face. Hoshi tak hanya sering mengajak Nayeon keluar yang pertamanya seminggu sekali, jadi hampir setiap hari. Hishi bahkan menunggu Nayeon setiap pagi di pagar rumah, lalu ikut mengantarkan Nayeon pergi kerja. Pulangnya, Hoshi sudah menunggu di depan kantor kerjanya sembari melempar senyum ala playboy yang sudah menemukan cinta pertamanya.

Hoshi juga sering meneriaki ‘jangan lupa makan’, ‘apa tidurmu nyenyak?’,’apa kau sedang memikirkanku?’,’selamat tidur putri cantik’, dari balkon kamarnya di lantai dua yang kebetulan bersebrangan dengan kamar Nayeon. Juga, tak jarang Hoshi memaksa Nayeon untuk memanggilnya ‘oppa’ dengan sedikit aegyo.

Sebenarnya Nayeon merasa tidak nyaman.  Tapi melihat perjuangan dan pengorbanan Hoshi, dia jadi kasihan sendiri, juga tak tega.

Pagi ini, seperti biasa Nayeon berangkat bekerja diantar Bobby sembari berjalan menikmati musim semi. Hari ini Nayeon ingin mengatakan sesuatu. Hal yang seharusnya memang diutarakannya sejak lama. Tapi ada perasaan ragu dalam dirinya. Entah bagaimana tapi rasanya jadi sulit.

Bisakah aku mengatakan padamu atau tidak?

 

“Hoshi! “

“Ya, cantik?”

“mmm… Maaf. Tapi tidak bisakah kau berhenti melakukan ini?”

Hoshi bingung. Tak paham apa arah bicara Nayeon.

 

“Sampai disini saja. Tak usah mengantarku lagi.”

“Baiklah, kalau begitu besok aku akan menjemputmu.”

“Tak perlu menjemputku juga. Kau tak perlu melakukan apapun.” Nayeon berusaha terlihat tetap sebagai seorang gadis yang berwibawa.

Hoshi mengerutkan keningnya. Dia agak kesal dengan nada bicara Nayeon yang terdengar bahwa dia lebih tua darinya.

“Bisa tidak kau sekali saja panggil aku oppa?”

“Harus berapa kali aku bilang padamu, Hoshi bahwa aku tidak akan pernah memanggilmu oppa.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku lebih tua darimu!”

 

Nayeon tersenyum sedikit geram sembari menyodorkan kartu penduduk yang menunjukkan tanggal kelahirannya yang berbeda hanya satu tahun darinya.

Hoshi tentulah terkejut. Harusnya dia bisa jeli. Itu sebabnya Nayeon selalu memakai heels, pandai berdandan, semua rekan-rekannya terlihat dewasa. Nilai plusnya memang ada pada Nayeon yang memang se-dewasa apapun penampilannya, dia masih terihat seperti gadis remaja.

 

“Aku pergi dulu ya.”

Hoshi diam sebelum dia menyadari arah jalan Nayeon yang berbeda arah dengan jalur rumahnya.

“Mau kemana?”

 

 

Ragu, Nayeon menunjuk kearah timur.

“Itu, aku sudah ditunggu tunanganku.”

 

Hoshi  tersentak sebentar. Lalu dia tersenyum dengan menampakkan deretan giginya.

“Ah, ya… hati-hati ya nuna!”

Nayeon membungkuk sedikit, lalu berlari mendatangi si pria dengan mobil mewahnya.

 

Tepat dibawah pohon cherry blossom itu, Hoshi kehilangan cinta pertamanya.

 

 

Jadi coba pikirkan hal ini!

Aku hanya tak ingin kau kecewa jika ternyata orang yang kau sukai itu sudah memiliki pasangan yang jauh lebih berpotensi untuk hidup bersamanya di masa depan dengan bumbuhan, bahwa dia ternyata lebih tua darimu. Tak masalah jika itu untuk wanita, tapi bagaimana dengan pria?

 

 

 

 

-fin-

HALLOOO ku kembali setelah sibuk menjadi maba. mumpung ada waktu jadi disempatkan nulis dan jadilah inii…. absurd ya? 😦 komentarnyaa jangan lupa yaaa :””))

 

 

 

 

Iklan

One thought on “[Ficlet] So… How?

  1. “Harus berapa kali aku bilang padamu, Hoshi bahwa aku tidak akan pernah memanggilmu oppa.”
    “Kenapa tidak?”
    “Karena aku lebih tua darimu!”
    Hoshi ngebet mau dipanggil oppa nih 😂😂

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s