[Oneshot] The Day

The day copy

©2016 – Tob

Dahyun – Vernon [17]

Slice of Life – PG-13 – Oneshot

Previous:  Vernon is Coming

“Otakmu sedang pindah ke dengkul, ya?”

:::

Hari yang telah lama ditunggu akhirnya tiba. Dahyun kini sedang mematut dirinya di depan cermin yang memantulkan dirinya dengan kemeja biru laut dan celana jeans. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan kepangan di bagian kanan. Bibirnya ia poles dengan liptint untuk memberikan sedikit warna di sana. Sudah dua jam ia mematut diri di depan cermin dan selama itu pula ia mengeluarkan desahan karena tidak percaya diri akan tampilannya.

Klek.

Jackson membuka pintu kamarnya. Laki-laki itu mengenakan pakaian rapi, hendak pergi ke kampus karena ada dosen yang seenak jidatnya memindahkan jadwal ke hari sabtu yang cerah ini.

“Dahyun, kau jadi pergi dengan Vernon?”

Yang dipanggil berbalik lalu menatap Jackson dengan mengerutkan kening.

“Kalau tidak, untuk apa aku bercermin sejak dua jam yang lalu.”

“Apa? Kau mematut diri sejak dua jam lalu?” Jackson menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, “Aku memang tak mengerti wanita. O ya, bibi menyuruhku untuk mengajakmu sarapan.”

“Ya, ya, ya. Aku akan kesana sebentar lagi.” Jackson mengangkat bahunya lalu berbalik saat suara Dahyun kembali terdengar, “Kak Jackson, aku tidak terlihat konyol dan memalukan dengan pakaian seperti ini kan?”

Jackson menatap Dahyun dengan pandangan menyelidik. “Hm … kurasa …”

“Kurasa apa? Apa aku benar-benar memalukan?”

Jackson mengangguk. “Cukuplah. Seleramu tak jelek-jelek amat kok. Cepatlah, sarapan. Atau nanti bibi yang menarikmu dari ruangan ini.”

Ting!

Bunyi sebuah pesan masuk dari aplikasi LINE. Sejurus kemudian benda pipih yang semula ada di atas kasur sudah berpindah tempat menjadi di tangan si pemilik.

Vernon

Kau sudah siap? Aku 10 menit lagi ke sana.

 

Rasa panik menyelimuti diri Dahyun begitu selesai membaca pesan yang baru saja ia terima. Jackson yang ada di dekat pintu mengerutkan dahinya melihat tingkah Dahyun.

“Kenapa?”

“Vernon 10 menit lagi ke sini.”

“Lalu?”

“Aku harus balas apa?”

Bola mata Jackson berputar. “Otakmu sedang pindah ke dengkul, ya? Balas saja, ‘tentu’ atau ‘baik, aku tunggu’.”

Begitu mendengar ucapan Jackson, Dahyun langsung mengetik apa yang diucapkan kakak sepupunya itu.

Dahyun

Baik. Aku tunggu.

“Sudah kubalas. Sekarang bagaimana?”

Jackson mengehela napas. “Pergi ke meja makan, sarapan, lalu tunggu pangeranmu datang. Ya ampun, sepertinya otakmu benar-benar pindah ke dengkul, ya.”

Dahyun memamerkan giginya, memberikan cengiran pada si kakak sepupu. Kemudian ia mematut dirinya sekali lagi lalu mengekori Jackson yang sudah lebih dulu pergi ke meja makan.

:::

Di meja makan sudah ada Ayah Dahyun dan Jackson yang sedang berbincang ringan mengenai sepak bola, sedangkan Ibunya berada di dapur untuk mengambil omelet bayam sebagai sarapan pagi ini. Gadis itu lantas menyimpan bokongnya di salah satu kursi yang kosong.

Ibu Dahyun meletakkan menu utama pagi ini di meja lima detik kemudian. Setelah berdoa, keempatnya memulai sarapan.

“Kau mau pergi ke mana?” tanya Ibu Dahyun begitu melihat putrinya yang lebih sering merebahkan diri di rumah jika akhir minggu bertandang. Bukan berdandan cantik seperti sekarang ini.

Ditanya demikian, sukses membuat Dahyun yang sedang memakan omelet bayamnya tersedak. Buru-buru Jackson menyodorkan segelas air mineral diiringi tawa. Di sisi lain, ayahnya melihat putri semata wayangnya itu dengan senyuman jahil.

“Mau berkencan, ya?”

Belum juga menjawab pertanyaan Ibunya, kini Ayahnya bahkan sudah membuat pertanyaan yang lebih menyudutkan lagi. Jackson sekarang sudah menepuk pundak Dahyun (masih dengan cengiran yang tak hilang sejak tadi). Setelah merasa lebih baik, gadis berkepang itu menjawab,

“Memangnya aku terlihat seperti bagaimana?”

“Seperti mau berkencan.” Sontak tiga orang yang berada di ruangan itu mengeluarkan pendapatnya berbarengan. Mata Dahyun membentuk bulan sabit dengan cengiran di wajahnya.

“Memang seperti itu ya? Hehe.”

Lagi-lagi ketinganya mengangguk.

Ting. Tong.

Suara bel berbunyi. Dahyun buru-buru menghabiskan sarapannya, takut yang datang adalah Vernon. Ibu Dahyun pergi ke pintu utama untuk membuka pintu.

“Eh, Nak Vernon? Ada perlu apa, ya?” tanya Ibu Dahyun begitu melihat Vernon, anak tetangga sebelah berkunjung pagi-pagi. Namun, belum juga Vernon membalas pertanyaannya, Ibu Dahyun teringat sesuatu. “Ah! Mau menjemput Dahyun, ya?”

Vernon tersenyum – agak canggung. “Iya, Bibi.”

Ibu Dahyun mengangguk. “Tunggu sebentar, ya. Biar Bibi panggilkan. Masuk dulu saja.” Vernon memasuki ruangan lalu duduk di salah satu sofa di sana. Setelahnya, Ibu Dahyun melesat pergi menuju meja makan.

“Kau berkencan dengan Vernon, ya?” tembak Ibunya begitu sampai di meja makan. Jackson cekikikan, sedangan Ayahnya tidak berkomentar apa-apa. Hanya tersenyum melihat anak perempuannya gelagapan.

Ng … tidak! Aku hanya menemani Vernon membeli hadiah untuk Emmie, kok!” seharusnya Dahyun bisa bersuara lebih tenang daripada berteriak seperti tadi. Tempatnya dan tempat Vernon berjarak tidak terlalu jauh dan tentu saja Vernon bisa mendengar apa yang dikatakannya. “A – aku mau ke kamar dulu mengambil tas.” Dahyun langsung pergi ke kamar setelah menegak air mineralnya hingga tandas.

Jackson melihat jam tangannya. “Aku juga mau berangkat, Bibi, Paman.” Ayah dan Ibu Dahyun mengangguk. “Aku mau ke kamar dulu mengambil kunci motor.”

Kamar Jackson dan Dahyun bersebelahan. Jackson yang baru saja keluar dari kamar dengan tangan memegang kunci motor melihat Dahyun kembali sibuk mematut cermin.

“Sudahlah pergi sana. Nanti cerminmu pecah karena bosan melihatmu terus-terusan.”

Dahyun melotot. Tapi detik selanjutnya memasang raut wajah khawatir. “Aku tidak konyol kan? Tidak memalukan kan?”

Itu pertanyaan yang kedua kalinya Jackson terima hari ini. Lelaki dari Hongkong itu mengangkat bahu. “Entahlah. Menurutmu?”

“Kak Jackson!”

“Dah, aku mau berangkat. Selamat menikmati kencanmu.”

Dahyun mendengus lalu kembali bercermin. Setelah kepergian Jackson, Ibunya datang tiba-tiba. “Kau sedang apa? Katanya mau mengambil tas saja. Kasihan Vernon sudah menunggu lama di ruang tamu.”

“I – ini sudah selesai kok.” Dahyun mengambil tas cangklong hitamnya lalu mengajak tungkainya menuju tempat Vernon berada.

Begitu sampai ruang tamu, Dahyun melihat Vernon bercakap-cakap dengan Jackson. Lelaki itu ternyata belum juga berangkat menuju kampus.

“Kak Jackson belum juga berangkat?”

Dua lelaki itu menghentikan perbicangannya, menatap Dahyun. Sekon kemudian suara Jackson terdengar, “Aku mau berangkat kok. Tadi menemani Vernon dulu, kasihan menunggu seorang gadis yang terlalu lama menatap cermin dan bermonolog ‘apa aku konyol? Apa aku memalukan’”.

Dahyun melotot. Pipinya bersemu merah. Jackson langsung angkat kaki dari sana. “Semoga sukses mencari hadiahnya, ya!”

Gadis berkemeja kotak-kotak itu masih diam di tempat. Vernon lantas berdiri.

“Berangkat sekarang?”

Dahyun mengangguk. keduanya lalu berangkat setelah sebelumnya berpamitan pada Ibu dan Ayah Dahyun.

:::

“Kau tidak konyol dan tidak memalukan kok. Justru terlihat cantik.” Itu suara yang Vernon keluarkan ketika lelaki itu memberikan helm kepada Dahyun.

Pipi Dahyun kembali memerah. Kali ini karena tersanjung sekaligus malu akan pujian lelaki di hadapannya, bukan karena ucapan Wang Jackson yang menyebalkan itu.

“Jadi kita akan pergi ke mana sekarang?” tanya Dahyun yang baru saja memakai helm.

“Ke tempat yang kita sebutkan di LINE saja, bagaimana?”

Dahyun mengangguk.

“Kenapa tidak naik?”

Gadis dengan tas cangklong hitam itu tersenyum kikuk. Lalu mulai naik ke kursi penumpang motor Vernon. Detak jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Perutnya kembali digelitiki oleh kupu-kupu. Senyuman pun tak lepas dari bibir Dahyun. Senyuman secerah mentari di pagi hari yang baru saja bertandang dari ufuk timur.

:::

Satu jam telah berlalu. Keduanya sudah sampai di tempat yang dibicarakan sebelumnya: Nayeon’s Accessory. Toko itu adalah tempat favorit Dahyun ketika ingin membeli barang-barang cantik dan lucu. Pemiliknya adalah anak teman Ibu Dahyun. Dahyun sudah kenal dekat dengan sang pemilik dan sebelumnya sudah mengirim pesan bahwa ia akan berkunjung ke toko tersebut hari ini.

“Selamat datang,” ucap seorang pelayan begitu keduanya memasuki toko. Dahyun dan Vernon membungkukkan kepalanya untuk membalas sapaan si pelayan.

Di sudut toko ada seorang perempuan dengan rambut berwarna coklat, diikat satu seperti ekor kuda. Ia memakai kemeja merah bata, rok hitam selutut dan flat shoes berwarna senada dengan roknya. Perempuan itu melambaikan tangannya begitu kedua netranya mendapatkan presensi Dahyun.

“Dahyun!”

“Kak Nayeon!”

Dahyun langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Nayeon. Keduanya lantas bercakap-cakap sebentar untuk menanyakan kabar. Setelah selesai, Dahyun baru berbicara kembali maksud kedatangannya meski sebelumnya sudah memberitahu lewat pesan.

“Kak Nayeon ini temanku Vernon. Kami mau mencari boneka sapi ukuran sedang untuk hadiah ulang tahun adiknya Vernon. Ada kan?”

“Teman atau teman?” Nayeon bertanya dengan nada menggoda, membuat pipi Dahyun kembali merona. Vernon yang di sampingnya tersenyum mendengar pertanyaan Nayeon.

“Kak Nayeon!”

Perempuan yang saat itu mengenakan lensa kontak hijau terkekeh lalu mengangguk. “Kuharap masih ada, boneka itu sedang laku sekali di pasaran akhir-akhir ini karena kartun terbaru itu. Mari kuantar ke tempatnya.”

:::

“Ini tempatnya,” ucap Nayeon begitu sampai di rak-rak yang berisikan boneka-boneka lucu nan manis. “O ya, kalian lihat-lihat dulu saja, mungkin ingin membeli benda yang lain. Aku harus bertemu dengan dosen hari ini. Bilang saja teman Nayeon saat membayar, nanti diberi diskon.” Nayeon melirik jam tangannya lalu pamit undur diri dari hadapan Dahyun dan Vernon.

Dahyun dan Vernon mengucapkan terima kasih lalu melihat-lihat boneka yang tersimpan rapi di rak.

“Menurutmu Emmie suka boneka ini?” tanya Dahyun sambil menunjuk sebuah boneka sapi berwarna putih dengan bulatan hitam di sekitar tubuhnya.

“Semoga saja. Emmie suka sekali melihat kartun itu setiap pagi. Bahkan sampai lupa sarapan.”

Kepala Dahyun melenggut dua kali lalu memasukkan boneka sapi tersebut pada keranjang yang sebelumnya ia ambil di depan rak alat-alat kecantikan.

“Kapan ulang tahun Emmie?”

“Dua hari lagi. Hari Senin,” balas Vernon yang sedang melihat-lihat bando.

“Oh.”

Tanpa Dahyun sadari Vernon sudah mengambil sebuah bando dengan bunga-bunga mengerubungi bagian atasnya lalu memasangkannya di kepala Dahyun.

Tentu saja Dahyun tersentak kaget. Tangannya ia simpan di dada untuk menenangkan degup jantungnya yang semakin hilang kendali.

“Kau cantik dengan bando itu. Kubelikan, ya? Anggap saja hadiah karena telah mau menemani mencarikan kado untuk Emmie.”

“Te – terima kasih.”

Keduanya lalu pergi ke tempat kasir. Di keranjang yang dipegang Dahyun sudah berisi boneka sapi serta sebuah gelang dan kalung (itu barang yang Dahyun beli untuk kado yang akan diberikan pada Emmie). Vernon menunjuk barang-barang yang ada di keranjang serta bando yang dipakai Dahyun. Gadis itu langsung menyela dan mengatakan bahwa gelang dan kalung akan dibayarnya sendiri. Ia bersikeras karena itu adalah hadiah darinya untuh Emmie, jadi harus dirinya yang membeli bukan Vernon. Vernon mengalah. Ia membiarkan Dahyun membayar bagian gelang dan kalung.

Dengan mengatakan bahwa mereka adalah teman Nayeon, keduanya mendapatkan diskon sebesar 50%. Dahyun senang bukan kepalang. Ia harus berterima kasih banyak pada Nayeon nanti. Barang-barang yang akan dihadiahkan pada Emmie diminta langsung dibungkus dengan kertas kado yang ada di sana. Vernon awalnya memilih kertas dengan motif bajak laut tetapi langsung beralih pada kertas berwarna biru muda dengan motif permen di sekitarnya (Dahyun langsung protes begitu Vernon memilih motif bajak laut), sedangkan Dahyun memilih kertas berwarna merah muda dengan gambar princess di sekitarnya.

Dahyun menenteng  kantong plastik yang berisi kado untuk Emmie. Gadis itu meminta Vernon untuk menyimpan kadonya dan memberikannya pada Emmie jika waktunya tiba. Laki-laki itu mengangguk kemudian berkata,

“Kau keberatan tidak jika kita mampir dulu sebentar sebelum pulang?”

Dahyun menggeleng.

“Kalau begitu kita mampir dulu ke rumah Seungkwan, ya? Aku harus mengambil buku catatan yang dia pinjam. Kau pasti kenal dengannya kan?”

Dahyun menelan ludah. Habislah ia jika bertemu Seungkwan hari ini. Dahyun dan Seungkwan berada di kelas yang sama. Biar Dahyun beritahu, bangku Seungkwan tepat di depan bangkunya. Adalah ketidakberuntungan jika ia harus bertemu Seungkwan hari ini. Ia bisa diejek habis-habisan jika Seungkwan melihat Dahyun bersama Vernon. Lelaki itu bisa membuat gosip. Ah, Seungkwan Si Penggosip.

“Tentu saja. Dia berada di kelas yang sama denganku.”

“Baguslah.”

:::

Vernon memarkirkan motornya di rumah bercat coklat muda dan putih. Seungkwan sedang duduk di kursi beranda ketika keduanya datang. Laki-laki itu tersenyum jahil pada Vernon begitu melihat Vernon datang dengan seorang perempuan.

“Aku baru tahu kalau kau sudah taken, Vernon,” ucap Seungkwan setelah Vernon dan Dahyun duduk di kursi beranda. Ada empat kursi di sana dengan meja di tengahnya.

Vernon tertawa lalu mengibaskan tangannya.

“Mana buku-ku?”

Bukannya menjawab pertanyaan Vernon, Seungkwan justru bertanya pada Dahyun yang sedang memandang halaman rumah Seungkwan – berusaha sibuk. “Dahyun, kau tidak memberitahuku sudah membuat langkah baru dengan lelaki bule ini.”

Dahyun tidak menjawab. Pipinya merah padam – antara kesal dan malu. Ia menatap Seungkwan seolah berkata, “Diam.”

Vernon menepuk pundak Seungkwan. “Jadi, mana buku-ku?”

“O tunggu sebentar.” Seungkwan berlalu sambil menggerutu, “Ah, kenapa susah sekali, sih.”

“Seungkwan memang seperti itu sejak dulu. Suka sekali menggosip dan menjadi orang paling pertama yang mendapatkan informasi.”

Dahyun setuju. Ia mengangguk membenarkan ucapan Vernon. “Iya. Aku yang sekelas dengannya pun sering sekali mendapatkan berita terbaru darinya. Dan berharap bukan aku yang menjadi berita terbaru esok hari.” Dahyun memelankan suaranya di akhir kalimat, tapi masih bisa di dengar oleh Vernon.

Vernon tidak membalas apa-apa. Ia hanya mengulaskan sebuah senyuman. Bukan ditujukan pada Dahyun, tapi pada matahari yang sedang pada titiknya bersinar. Jarum jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12.30.

“Kenapa Seungkwan meminjam buku-mu? Kau kan beda kelas dengannya,” tanya Dahyun kemudian.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin karena sejak dulu Seungkwan terbiasa meminjam catatan-ku, maka meskipun beda kelas dia masih saja meminjam beberapa buku catatan. Kutebak, Seungkwan pasti sering tertidur di kelas kan?”

Dahyun mengangguk tanda mengerti. “Iya. Dia sering sekali tertidur di kelas. Sampai-sampai guru sejarah sering menghukumnya dengan berdiri di depan kelas. Haha.

Dua menit kemudian Seungkwan datang dengan sebuah buku catatan di tangan. Ia memberikannya pada Vernon. Lelaki itu langsung menerimanya lalu berdiri. Dahyun mengikuti setelahnya.

“Baiklah. Aku pergi, ya.”

Seungkwan protes. “Kenapa cepat sekali? Aku kan belum mengumpulkan informasi!”

Vernon mengangkat bahunya. “Informasi apa? Tidak ada yang bisa kau gali dari kami berdua.”

Seungkwan mendengus. Vernon tertawa. Sedangkan Dahyun menjulurkan lidahnya pada Seungkwan. Vernon yang melihat itu tertawa. Apalagi setelah melihat Seungkwan membalas dengan tingkah yang sama kepada Dahyun seperti yang gadis itu berikan.

“Sekarang langsung pulang ke rumah?”

Inginnya Dahyun menggeleng dan meminta untuk jalan-jalan saja, tapi kepalanya berkhianat.

Dahyun mengangguk.

:::

Tiga puluh menit kemudian Vernon sudah sampai di rumah Dahyun. Gadis itu turun dari tempatnya lalu memberikan helm pada lelaki di hadapannya.

“Terima kasih.”

Vernon yang sudah membuka kaca helmnya menggeleng. “Tidak. Seharusnya aku yang berterima kasih.”

Dahyun tersenyum. “Kalau begitu sama-sama.”

“Masih siang. Cuaca pun tidak terlalu panas. Mau berjalan-jalan di taman sebentar?”

Dahyun yakin seratus persen jikalau pipinya sudah memerah sekali. Belum juga menjawab pertanyaan Vernon, suara motor terdengar dari arah samping. Jackson baru pulang.

“Hei Vernon! Sudah selesai kenca – membeli barangnya?”

Vernon memamerkan kantong plastik yang berisi hadiah untuk Emmie.

“Emmie tidak ada di rumah?” tanya Jackson.

“Tidak. Papa dan Mama mengajaknya jalan-jalan. Emmie ingin membeli gaun baru.”

Jackson mengangguk, menutup kaca helmnya,  lalu memasukkan motornya  ke garasi rumah.

“Jadi bagaimana?” tanya Vernon. Dahyun belum membalas ajakannya.

Dahyun mengernyit. “Apa?”

Vernon tertawa sebentar. “Jalan-jalan di taman?”

“Boleh.”

“Kalian mau jalan-jalan ke taman? Aku ikut!” tanpa keduanya sadari Jackson sudah berada di belakang Dahyun, memberikan cengiran pada keduanya.

Vernon mengangguk. “Boleh. Aku simpan motor dulu, ya?”

“Tentu saja Vernon!”

“Hati-hati, Vernon.”

Selepas kepergian Vernon, Dahyun memberikan pelototan pada Jackson.

“Kak Jackson ini kenapa, sih? Mau menganggu, ya?”

Jackson mengangkat bahu. “Vernon saja memperbolehkan, kenapa kau yang marah?”

Dahyun baru saja ingin berteriak begitu Vernon sampai di hadapan keduanya.

“Berangkat sekarang?”

“Tentu!” Jackson membalas dengan penuh semangat.

Dahyun menggeleng. “Kau berangkat saja dengan Kak Jackson. Aku baru ingat ada tugas yang belum diselesaikan. Takut keburu malas. Dah.”

Jackson dan Vernon mengerutkan dahinya masing-masing. “Eh?”

Fin.

Tob’s note: mau dibuat manis ternyata masih kurang gula. Mau dibuat creepy, rasanya tak pantas. Akhirnya seperti inilah yang lahir. Meskipun belum mahir semoga ceritanya tetap mengalir :”>

Iklan

One thought on “[Oneshot] The Day

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s