[Oneshot] Vernon is Coming

VERNON IS COMING copy

Tob present

DahyunVernon [17]

Slice of Life, AU – PG-13 – Oneshot

“Kau lucu dengan sweater kebesaran itu.”

 

:::

Dahyun sedang membaca komik detektif conan kala seseorang mengetuk pintu utama. Ia yang saat itu sedang mengenakan sweater putih kelonggaran, celanan jeans selutut dan rambut dicepol di atas memaksakan tungkainya menuju pintu utama. Semua orang sedang pergi ke luar sore itu.

“Ada apa?” ucapnya begitu pintu telah ia buka dan mendapatkan Vernon di baliknya dengan kaus polo dan celana hitam. Rambutnya ditutupi dengan topi, membuat Vernon semakin terlihat tampan. Lalu, di tangan kanannya, Vernon memegang sebuah kantong kain.

Tanpa sadar Dahyun memundurkan langkahnya lalu menatap laki-laki di hadapannya dengan bola mata membulat sempurna. Jangan lupakan tangan yang menutup mulutnya. Dahyun benar-benar terkejut. Ia bahkan mencoba mengingat-ingat kembali mimpi apa semalam sampai-sampai seorang Vernon berkunjung ke rumahnya.

Sepuluh detik berlalu tapi Dahyun masih bergeming. Vernon pun sebenarnya tidak menyangka bahwa Dahyun-lah yang akan membukakan pintu, biasanya Jackson atau Nyonya Kim yang akan ada di baliknya begitu pintu di buka.

Tidak ingin diam terus dalam keheningan dan suasana yang canggung, Vernon memilih untuk bersuara terlebih dahulu.

“Dahyun?” tangannya ia lambai-lambaikan di hadapan wajah Dahyun.

Si gadis akhirnya kembali ke permukaan setelah tenggelam dalam keterkejutan. Ia langsung menepuk kening lalu memberikan jalan kepada Vernon untuk masuk.

Harusnya Dahyun senang melihat lelaki yang ditaksirnya datang, tapi mengingat penampilannya yang jauh dari kata baik (untung saja ia sudah mandi sore) membuatnya sedikit risih dan malu. Kendati Vernon tidak mengomentari penampilannya.

Setelah memastikan Vernon duduk di kursi, Dahyun menarik tungkainya menuju dapur, ia mengambil minuman dan beberapa kue buatan Ibunya.

“Hm… ada perlu apa, Vernon?”

Dahyun sudah meletakkan minuman dan makanan di meja. Ia sekarang sedang duduk di kursi yang berseberangan langsung dengan Vernon.

Lelaki itu lalu meletakkan kantong kain di atas meja.

“O ya, ini ada oleh-oleh dari Amerika. Kemarin Papa dan Mama baru pulang dari sana.”

Dahyun mengangkat sebelah alisnya dua detik lalu buru-buru tersenyum. Tidak sopan bertingkah demikian di hadapan orang yang memberi hadiah. Dengan tangan bergetar, Dahyun meraih kantong kain tersebut lalu menengok isinya sekilas.

“Buka saja.”

“Tidak apa-apa?”

Vernon mengangguk.

Sebenarnya Dahyun ingin melihat isinya, Vernon pun sudah mengizinkan tapi ia takut menjadi semakin salah tingkah setelah melihat hadiahnya. Takut tampak bodoh seperti kejadian konser di halaman rumah tempo hari.

Gadis itu memberikan senyuman – yang agak canggung – kepada Vernon. “Mungkin nanti setelah yang lainnya pulang. Tidak apa-apa?”

Vernon mengangguk.

“Rumah ini terlihat kosong. Kau di rumah sendirian?”

Kali ini Dahyun yang mengangguk.

“Kak Jackson mengantar Ibu membeli bahan kue, sedangkan Ayah masih di kantor.”

Lelaki di seberang melenggut dua kali.

“Kau mau bertemu Kak Jackson? Mungkin sebentar lagi dia akan kemba—“

“Tidak. Tidak. Aku ingin bertemu Kau.”

“O begitu ya. O—APA KAU BILANG?”

Dahyun sudah melotot sekarang, ia bahkan tidak sadar sudah berteriak. Buru-buru kepalanya ia tundukkan lalu menepuk dahinya keras-keras. Vernon yang melihat tingkah Dahyun menahan senyum – untung saja Dahyun tidak tahu.

Kalau ada yang bertanya bagaimana perasaan Kim Dahyun saat ini maka jawabannya adalah bahagia. Tetapi, di balik kebahagiaan itu, Dahyun tidak memiliki ide sama sekali kenapa lelaki bule itu mau bertemu dirinya. Pipi Dahyun sudah memerah, namun tangannya dengan sigap langsung menutupi wajahnya dengan nampan yang tadi ia gunakan untuk membawa minuman dan kue.

“Sebenarnya, aku mau minta bantuan.”

Kepala yang tadi tertunduk, Dahyun angkat, lalu memaksa kedua matanya untuk menatap Vernon. Ia menunggu kelanjutan dari kalimat si lelaki. Dirinya bahkan menahan napas untuk mendengar kelanjutannya.

“Kau mau kan membantuku?”

Inginnya Dahyun langsung saja mengangguk. Ia tidak mungkin melepaskan kesempatan ini begitu saja. Apalagi dalam kasus ini, Vernon yang memintanya sendiri.

“Membantu apa?”

Embusan napas lolos dari diri Dahyun sebelum ia mengeluarkan kalimat. Setidaknya dengan berucap demikian, Dahyun tidak terlihat seperti cewek gampangan. Ia tentu harus tahu dulu diminta bantuan apa. Jangan sampai dirinya dimintai bantuan untuk mencari nomor telepon seeorang yang ternyata incaran Vernon, lalu Dahyun bisa sakit sampai bertahun-tahun karena sakit yang tiada duanya.

Baiklah, itu terlalu berlebihan.

Bersamaan dengan embusan angin di luar sana dan daun-daun yang berjatuhan karena ditabrak olehnya, Vernon menjawab pertanyaan Dahyun.

“Antar aku mencari hadiah untuk Emmie sabtu nanti. Kau kan perempuan, mungkin tahu hadiah cocok untuknya. Bisa, tidak? Kalau kau sibuk tidak apa-apa. Mungkin akau akan memin—“

“Aku tidak sibuk.”

Sebuah kalimat lolos dari mulut Dahyun, bahkan sebelum Vernon menyelesaikan kalimatnya, membuat lelaki di seberang tersenyum. Lagi-lagi Dahyun menutup separuh wajahnya dengan nampan.

Emmie adalah adik perempuan Vernon, yang kebetulan tempo hari lelaki itu temani main masak-masakkan ketika Dahyun dan Jackson melakukan konser.

“Kau bersedia?”

Dahyun mengangguk. Di balik nampan, bibirnya mengulas senyum yang sangat lebar, membuat urat-urat di sana takut putus seketika.

“Aku minum jus jeruknya, ya.”

Dahyun kembali mengangguk. “Tentu saja, silakan.”

Hanya ada satu jus jeruk di sana dan segelas air mineral. Dahyun tidak terlalu suka minuman yang ada rasanya kecuali susu, mereka bisa membuat Dahyun pusing, mual, bahkan muntah.

Menit-menit berikutnya konversasi masih berlanjut. Sebagian mengenai tempat-tempat yang akan dikunjungi ketika membeli hadiah, sebagian lagi membahas kue buatan Ibu Dahyun yang sangat enak. Vernon dengan malu-malu mencomot satu per satu kue yang disajikan, membuat Dahyun tetawa melihat tingkatnya.

Suasana mencair.

“Ambil saja, Ibu justru akan senang kalau kuenya habis. Itu tandanya enak.”

Vernon nyengir, lalu memasukkan kue salju yang sudah siap menuju mulutnya sejak tadi.

Matahari hampir terbenam di ufuk barat, menandakan malam sebentar lagi akan berkuasa. Vernon menegak jus jeruknya hingga tandas lalu pamit pulang.

“Terima kasih banyak ya, Dahyun, untuk semuanya – makanan dan kesediannya menemani membeli hadiah. Nanti sabtu aku hubungi lagi, ya? Nomorku sudah kau simpan, kan?”

Setelah kesediaan Dahyun untuk pergi menemani Vernon mencari hadiah, lelaki itu lantas meminta nomor Dahyun, begitu pula meminta Dahyun untuk menyimpan nomor lelaki bule itu. Gadis itu tentu saja senang bukan kepalang. Akhirnya ia punya nomor lelaki yang ditaksirnya.

“Tentu.” Dahyun menunjukkan layar ponsel yang menampilkan nomor ponsel lelaki itu.

“Kalau begitu aku pamit. Sampai jumpa.” Vernon baru saja melahap tiga langkah, lalu berbalik, membuat Dahyun mengerutkan keningnya. “Kau lucu dengan sweater kebesaran itu.” Laki-laki itu tersenyum lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kediamannya di sebelah rumah Dahyun.

Kau lucu.

Kau lucu.

Dahyun mengulang kalimat Vernon. Ia melirik rumah sebelah, mendapatkan Vernon yang kembali melambaikan tangan. Dengan malu-malu ia pun ikut melambaikan tangan.

Setelah Vernon menghilang di balik pintu rumahnya sendiri, Dahyun buru-buru menutup pintu, menguncinya, lalu pergi menuju kamarnya dengan setengah berlari.

Begitu sampai di depan beruang besarnya, ia lantas berteriak.

“YA AMPUN! Vernon mengajakku pergi berdua. Lalu dia bilang aku lucu. O tidak, o tidak. Aku harus pastikan ini bukan mimpi!”

Gadis itu lantas mencubit lengannya lalu meringis.

Ini bukan mimpi.

Dahyun memeluk boneka beruangnya dengan penuh rasa bahagia, kemudian menarik tungkainya menuju lemari pakaian, memilih pakaian yang pantas untuk bersanding dengan pangerannya sabtu depan.

 

Fin.

Iklan

8 thoughts on “[Oneshot] Vernon is Coming

  1. HUHUHUHU. Kesel deh baca ini. Si Vernon emang gitu ya, flirty dan langsung to the point. Halah. Bikin susah move on aja nih.
    Gemesin! Aku suka aku suka ❤

    Suka

    1. Ya, berdoa saja semoga mas vernon sadar akan setiap tingkah Dahyun :”
      Wah jangan-jangan kamu lagi susah move on juga ya gara-gara mas Vernon. Ehehehe (bercanda kok ‘-‘v)

      Aku panggilnya apa, nih? Twelve(?)
      Makasih ya sudah mampir dan meninggalkan jejak:)

      Disukai oleh 1 orang

      1. Amiiin!
        Enggak gitu sih… cuman kalo denger nama Vernon suka nyelekit- inget seseorang… ((lah)) ((curhat))
        Panggil Nissa apa Twelve juga gapapa sih.

        Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s