[Oneshot] Mr. White

Mr Deliadeaa black.pngpresents

«Starring» TWICE Chou Tzuyu and other cast

Horror│Schoolife │ Friendship│ Teen │ PG-15

Oneshot contain ±more than 1000 words

«Disclaimer» Storyline and poster murni milik owe, apapun bentuk plagiarism are totally restricted.(sapa juga yang mau plagiat fic receh cem gini -_-)

« Prompt taken from here. Thanks! »

 

“The reason I called you Mr. White is your eyes.”

 

Anak kecil berlarian ke sana ke mari di taman bermain. Menikmati cuaca cerah dan biru langit yang menghipnotis. Namun tidak dengan gadis kecil berkepang dua yang duduk sendirian di ayunan. Mata bulat kecilnya menyiratkan kesedihan dan ketakutan. Di saat anak-anak yang lainnya tersenyum, ia ingin sekali menangis.

“Jangan bersedih…”

Tak ada lagi harapan baginya. Ia sudah terpuruk. Kenyataan bahwa tidak hanya dimensi ini yang tampak oleh mata gelapnya membuat semuanya menjauh darinya. Menganggapnya mengerikan.

“Kenapa kau selalu mengikutiku?” gadis itu sedikit tercekat saat memandang lurus wajah anak kecil di sampingnya, meskipun sudah berkali-kali dilihatnya.

Aku adalah temanmu. Aku akan selalu bersamamu, tak akan pernah membiarkanmu sendirian…”

Anak kecil itu tersenyum. Dengan bibir pucat dan pandangan mata kosong tanpa jiwa, cukup untuk menakuti siapapun yang lewat.

“Kau tahu, aku sangat takut waktu melihatmu pertama kali. Aku tidak tahu harus bersyukur atau sebaliknya dengan anugerah ini.”

“Tenang saja, lagipula kau sudah terbiasa, bukan?”

Gadis kecil itu mengangguk perlahan. Sebenarnya ia sangat risih dengan kapak yang tertancap di kepala bocah itu. Tangannya gatal sekali ingin mencabutnya. Apa daya, gadis itu bahkan tak bisa menyentuhnya.

“Kakakku sebentar lagi akan menjemputku, jaga dirimu baik-baik, ya!”

Kembali gadis itu sendirian. Memandangi ayunan kosong di sebelahnya. Rasa kesepian menghampirinya, seakan enggan lepas dari kehidupannya. Temannya satu-satunya itu, entah kapan kembali lagi.

***

“Annyeong haseyo. Chou Tzuyu imnida, aku asli Taiwan, tapi pindahan dari Incheon. Mannaseo bangapseumida…”

Seisi kelas riuh menyambut datangnya murid baru. Terutama para siswa laki-laki, kehadiran seorang bidadari agaknya bisa menghiasi kelas mereka.

“Baiklah, kau bisa duduk sekarang.” ucap seosangnim, gadis itupun mengangguk. Ia merajut langkah mendekati bangku di sudut ruangan. Tzuyu tahu sekali bangku itu kosong di mata orang lain, namun tidak di matanya.

“Kau mau duduk di sini?”

“Umm… Ya.”

Dalam sekejap bangku itu benar-benar kosong. Tzuyu merasa lega hari pertamanya masuk sekolah tidak rusak seperti biasanya.

“Hai, namaku Wonwoo, senang bisa mengenalmu..” sapa pria yang duduk di bangku sebelah. Gadis itu tersenyum singkat menanggapinya, mengajak pria yang bernama Wonwoo ikut menyunggingkan senyumnya.

“Sepertinya aku menemukan target baru…”

***

Dia tidak sendirian. Ada yang mengikutinya, dan gadis itu merasa tidak nyaman. Sejak ia keluar dari kelas. Tzuyu tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang mengikutinya.

“Tzuyu…”

Langkah Tzuyu terhenti. Tubuhnya ragu harus berbalik atau tidak. Entahlah, namun ia berbalik dengan sendirinya.

“Bisakah kau pergi denganku nanti malam?”

“…”

Gadis itu mematung. Sebenarnya dia senang karena yang mengikutinya berwujud sama sepertinya, tapi-

“Aku…”

-ada sesuatu di samping pria itu yang sangat mengganggu dirinya. Naasnya, ia menggelengkan kepalanya pada Tzuyu.

“Maaf, aku tidak bisa…” respon Tzuyu membuat ‘sosok itu’ tersenyum, lalu menghilang perlahan.

“Baiklah, lain kali saja. Kita masih belum terlalu dekat lagipula… “ pria itu tersenyum. Seulas senyum yang terihat sangat hangat. Sejenak gadis itu terpana dibuatnya. Tenggelam dalam lekukan simpul manis pria itu.

***

Malam hari seorang gadis pulang dengan berjalan kaki sendirian. Mengerikan memang, namun inilah kenyataannya. Di sepanjang jalan ada saja yang muncul, menakutinya. Tzuyu sudah terbiasa, namun tetap saja menakutkan. Dipercepat langkah kakinya menuju rumah.

Sampai di rumah, lagi-lagi gadis itu disambut oleh pemandangan mengerikan.

“Hai!”

Sosok yang ia temui di hari pertama sekolah. Tersenyum riang kepadanya dengan mata satu warna yang menyeramkan.

“Kau! Kenapa mengikutiku?”

Raganya melayang, mendekati Tzuyu perlahan. Sedang gadis itu menjauh, dan berhenti saat punggungnya menyentuh tembok.

“Memastikan kau selamat sampai rumah.”

Gadis itu tertawa aneh, ganjil sekali alasan itu batinnya.

“Dengar, Mr. White, aku sudah dewasa. Tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku. Aku bisa pulang dengan aman.”

“Mr. White?”

“Hmm… The reason I called you Mr. White is your eyes. It’s cool, ain’t it?”

“Baiklah. Terserah kau saja.”

Pura-pura tak acuh, gadis itu melenggang begitu saja ke sofa empuknya. Kakinya terasa pegal-pegal karena berjalan jauh. Lima kilometer memang sangat melelahkan.

“Kau punya teman baru ya, sekarang?”

“Tentu saja! Aku pindah ke lingkungan di mana tidak seorangpun tahu kalau aku bisa melihatmu.” ucap gadis itu sambil melepas sepasang sepatu pantofelnya. “Huh. Sudah kuduga. Pasti lecet semua.”

“Kuharap kita masih berteman…”

Berteman…

Seketika memori gadis iu melayang pada gadis kecil kesepian yang selalu dikucilkan oleh teman sebayanya.

“Oh! Kau anak kecil yang waktu itu? Di mana kapakmu? Apa seseorang mencabutnya?? Padahal aku ingin sekali mencabutnya. Ah… Tidak kusangka arwah juga bisa tumbuh dan berkembang…”

Sosok itu tersenyum lebar, mengakibatkan beberapa retakan pada wajah pucatnya. Tzuyu ingat sekali dengan itu.

“Jangan tersenyum terlalu lebar, lama-lama wajahmu akan rusak kalau terus begitu. Tidak ada swalayan yang menjual masker untuk hantu… Haha.” Tzuyu terkikik geli, sementara yang ditertawai memasang raut wajah datar. Tawanya mereda, melihat paras tak bersahabat sahabatnya itu.

“Manusia selalu seperti itu.”

“Oh, hei! Kau ngambek?” uji nyali, Tzuyu malah berjalan mendekatinya. Tidak buruk. Setidaknya sepasang mata putih tidak terlalu buruk untuk wajahnya yang retak.

“Mungkin terdengar gila, tapi kau terlihat lebih tampan daripada tujuh tahun lalu. Tapi, lebih sempurna jika wajudmu adalah sepertiku.” ucapnya sambil meraba wajah yang tak bisa ia sentuh. Meskipun masih ada rasa takut tersisa, ia tetap menatap lekat sosok itu.

“Ah! Aku ingat! Kau juga yang melarangku pergi bersama Wonwoo, kan? Memangnya kenapa?”

“ Dia orang jahat. Jauhi dia.”

“Alasannya?”

“Dia tidak baik untukmu?”

“Tapi, menurutku dia kelihatan baik dan hangat…”

“Sudah kubilang dia jahat.”

“Kalau aku tidak percaya?”

“Terserah. Yang penting aku sudah memperingatkanmu.”

***

Sorot lampu temaram berpendar melingkupi ruangan sempit nan kotor itu. Seorang pria menunggui gadis yang terikat di kursi dengan malas. Sesekali ia memainkan surai legamnya, sekedar membunuh bosan.

Gadis itu merasa tidak nyaman, perlahan ia mengerjapkan mata. Kepalanya terasa pening sekali. Otaknya berusaha mengingat apa yang terjadi, namun nihil. Terakhir, dia pergi bersama pria itu, lalu entah.

“K-kenapa aku bisa ada di sini?” ucap Tzuyu Serak dan tercekat, melihat penampilan sosok di depannya yang jauh berbeda.

“Oh, nona Tzuyu sudah bangun rupanya. Bius murahan begitu cepat menghilang, ya?”

“Wonwoo, ada apa ini? Lepaskan aku!”

“Your scent is like a poison, Chou Tzuyu..” Wonwoo mulai bertingkah aneh, tanpa permisi ia mengendus aroma vanilla yang menguar dari tengkuk gadis itu.

“Jeon Wonwoo! Lepaskan aku!” pinta Tzuyu. Wajahnya memucat seiring dengan kilatan yang muncul dari sepasang manik mata pria itu.

“Boleh aku mencicipinya sekarang?” pertanyaan Wonwoo berujung pada Tzuyu yang semakin meronta tak karuan.

Perlahan, pria itu menelusup ke tengkuk gadis itu, mengecupnya. Tak lama, kilatan merah di matanya menjam, dan taringnya pun menusuk leher Tzuyu dalam-dalam.

“Arrggh!”

Puas menghisap darah Tzuyu, pria itu mengusap bibirnya yang belepotan akan cairan kental berwarna pekat. “It’s been a long time since i didn’t drink sweet blood, gosh!”

***

“Mr. White?”

“And now I can call you Mrs. White.”

-Fin-

Maaf kalo ceritanya kek gini -,- abis daku masih newbie buat genre beginian.

Iklan

6 thoughts on “[Oneshot] Mr. White

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s