[Ficlet] Amore

amore.png

aurora’s property

Chou Tzuyu (as Psyche) – Kim Mingyu (as Eros)
a ficlet (532 words)
fantasy ; mythology-AU ; romance
rated PG-13

Poster © Apareecium via POSTER CHANNEL

summary;

Ini bukan semata kepakan sayap kupu-kupu; ini bintang kejora yang menggelora di sela-sela ichor Eros.


Sudah ratusan tahun, dan ribuan anak panah telah diloloskan untuk meniupkan nyawa dalam sekepal perasaan cinta pada manusia. Eros tak pernah satu kali pun lalai dalam tugasnya. Hanya berbekal busur dan anak panah, nasib percintaan semua orang ada di genggaman sang putra Aphrodite. Pekerjaan ini begitu menghibur bagi Eros. Melihat manusia-manusia fana itu kalang kabut sendiri karena cinta sudah jadi tontonannya di Olympus—kadang pula Hermes dan Apollo suka bergabung dengannya untuk mengusir bosan.

Namun selama ratusan tahun pula, Eros tak pernah merasakan cinta. Ironis, karena ia dan ibunyalah penguasa elemen itu. Namun—jatuh cinta? Aphrodite mungkin telah jatuh cinta pada Ares. Tetapi tak ada manusia fana maupun dewi Olympia sanggup membuat Eros merasakan elemen yang ditembakkannya pada setiap makhluk.

Kecuali, saat ketiga Moirae berkoalisi dan memberi kehidupan pada seorang gadis fana bernama Psyche, yang terlampau cantik untuk ukuran manusia sehingga para penghuni bumi mendaulatnya sebagai dewi—sebagai Aphrodite kedua.

Aphrodite yang sesungguhnya tentu saja tidak terima. Ia adalah personifikasi dari kecantikan itu sendiri, tidak sudilah ia disandingkan dengan manusia fana. Maka Aphrodite memanggil Eros, memberi titah pada putranya untuk membalaskan dendam.

Aphrodite menyuruh Eros untuk membuat Psyche jatuh cinta dengan lelaki terburuk di dunia. Eros yang tak tahu apa pun mengenai Psyche, cuma bisa menurut pada ibunya—daripada ia diledakkan jadi kabut merah jambu. Terbanglah ia ke bumi membawa busur dan anak panah.

Eros menemukan sosok Psyche sedang membersihkan kuil kecil Artemis di pinggiran kota tempat tinggalnya. Psyche membelakangi Eros, maka Eros cuma bisa melihat rambut panjangnya bergelombang dengan indah. Eros mulai mencari-cari target, dengan siapakah ia akan membuat Psyche jatuh cinta?

Gelandangan tua yang sedang berteduh di bawah pohon cemara menjadi jawaban Eros.

Tetapi sebelum Eros sempat membetulkan posisi busurnya, dua orang gadis fana lain melewati Psyche. Mereka berkata, “Wah, lihat. Ada Aphrodite kedua di sini.”

“Aku bukan Aphrodite kedua! Aku hanya manusia,” sahut Psyche, kesal, karena sudah ribuan kali disapa begitu.

“Lihatlah, sudah cantik, rendah hati pula. Betul-betul seorang dewi,” kata salah satu gadis tersebut, kemudian ia dan temannya melenggang pergi.

“Ternyata memang benar kata Ibu. Ah, paling-paling ia cuma pencitraan.” Eros bergumam pada dirinya sendiri, busurnya sudah siaga, tinggal satu gerakan lagi supaya anak panah tersebut lolos dan menjungkirbalikkan kehidupan Psyche.

Tetapi Psyche keburu membalikkan badan, parasnya terpampang nyata di hadapan mata sang dewa cinta. Eros termenung di tempatnya berdiri—Psyche tak bisa melihat presensinya, justru memberi spasi bagi sang dewa untuk memandangi Psyche lebih lekat.

Eros tinggal bersama sang ibu yang merupakan personifikasi kecantikan, hidupnya juga dikelilingi oleh dewi-dewi serta nymph berparas jelita. Tetapi tak pernah Eros terpaku pada kecantikan mereka.

Saat matanya menangkap dua bola mata Psyche yang sendu namun menyimpan pendar, serta setiap garis pembentuk wajahnya yang dilukis sempurna membentuk ekstase berwujud manusia, tubuh Eros membeku—melemah, kecuali sesuatu di dalamnya yang bergemuruh.

Ini bukan semata kepakan sayap kupu-kupu; ini bintang kejora yang menggelora di sela-sela ichor Eros. Hari itu, untuk pertama kalinya, Eros lalai dalam tugas.

Eros menurunkan busurnya, gagal membuat Psyche jatuh cinta pada si gelandangan, tetapi malah sang dewa cinta sendiri yang menjadi korban. Akhirnya sang dewa cinta merasakan sendiri bagaimana perasaan manusia yang terkena panahnya.

Tetapi Eros tak perlu busur dan panah untuk jatuh cinta, cuma eksistensi Psyche semata.

finish.


notas:

  1. Ini mestinya jadi birthday fic buat Tzuyu, tapi tanggal 14 dan sekitarnya aku lagi buntu dan WB parah ._.v
  2. Ehe, kalo mau baca selengkapnya kisah Psyche dan Eros, baca aja Percy Jackson’s Greek Heroes by Rick Riordan. Reading Riordan’s book is literally learning history and myth in humourist way. (Those who can stand Rick Riordan’s sense of humour can fight me!)
  3. Thanks for reading, anyway! Have a nice holiday, peeps ❤ ❤ ❤
  4. ((tambahan)) tanyain askfm-ku dong gengs, apa kek soalnya aku bosan parah liburan ngga ngapa-ngapain.

kisses,

aurora.

Iklan

7 thoughts on “[Ficlet] Amore

  1. AISSSSSSSS DEMI APAAA GUE DITEMBAK PANAH EROS BUAT JATUH CINTA SAMA TULISAN LO ISSS
    Serius. Fall in love. Sama. Tulisan. Lo. Gue. Kudu. Gimana. Lagi. Sih. Nunjukkinnya. Yha.

    Suka

  2. Eh, btw kenapa ya namanya kok Psyche? Apa di sejarahnya dia itu ahli pshycology? /abaikan/

    Mungkin dirimu adalah titisan Kahlil Gibran yak? Bahasanya aduhai sekali 😯

    Suka

    1. yess bener banget, psyche itu diangkat jadi dewi penjaga jiwa manusia sama zeus, makanya psychology diambil dari nama dia. eh astagaa aku sama kahlil gibran mah ibarat menara eiffel sama atap rumah da :”))

      Suka

  3. As always ya Sya, tulisanmu selalu keren. Aku ngefans parah nih, aku kudu apa cobaa?
    Ah, kalau km bosen liburan. Semenjak kelas 2 SMK sampe sekarang aku malah ngerasa liburan itu mitos, hikseu… ;(
    tbh aku kangen bgt libur /oke ini oot sama cerita/

    aku harus belajar sejarah dulu ini mah, biar konek sama dewa-dewi Yunani ituu :3

    Suka

    1. da aku mah apaan kak cuma remah qtela kok ngefans :(( HAHA aku bosennya tuh liburan cuma bangun-sarapan (iya lagi ga puasa)-gegulingan di kasur aku nggak produktif banget. baca buku rick riordan aja kak, dapet ilmu + ngakaknya xD

      Disukai oleh 1 orang

  4. OMAIGAT, keren bangget ini tulisan sampe komenku gak ketata menururt eyd (lebay). ngomong-ngomong, koq ini gak twoshot aja sih? kan keren kalau akhirnya eros bisa bareng psyche selama2nya. sori, maap, gw lg ngegandrungin ff roman, berhubung mami nggak ngijinin gue bikin cerita begituan. akhirnya yang gue lakukan di rumah cuma gigit jari baca ff roman, membayangkan kalau akhirnya mami ngebolehin gue bikin cerita macam gitu. kata mami sih gue masih terlalu kecil (OMG mamiii, anak mami itu sekarang umurnya 14!) sekali lagi, maap numpang curhat

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s