[Ficlet] MY DREAM

858A0506.jpg

MY DREAM

Story by Ayumi-Chan | With Im Nayeon and Im Jaebum | Slice of-life, Family  | Rate for Parental Guidance Suggested |

Summary:

Bukan soal usaha, tapi juga soal menerima dan ikhlas.

Tok… Tok … Tok…

Suara itu lagi yang kudengar setiap malam.

Seminggu ini aku hanya bisa menatap langit dikamarku saja, aku tak pernah mau menatap langit lagi setelah seminggu lalu aku gagal menggapai mimpiku, iya mimpiku yang dari kecil dan sudah beberapa tahun ini itu kutulis dibukuku yang mungkin tak pernah bisa tercoret setelah kejadian minggu lalu. Gagal diujian masuk saja sudah membuatku seperti ini, padahal usahaku bukan hanya satu bulan atau dua bulan. Tapi, mimpi terbesarku tak bisa jua kugapai.

Aku tahu pasti kakak laki-lakiku yang mengetuk pintu, dan seminggu ini pula kakakku Im Jaebum yang selalu mengetuk pintu kamarku malam hari, mengantarkan makan malam untukku katanya.

Awalnya, Mama peduli padaku, tapi mengingat seminggu ini aku benar-benar kecewa dengan ujian itu dan sampai mengurung diri dikamar, Mama sepertinya sudah menyerah untuk membujukku agar tidak terlalu terpuruk dengan mimpiku itu. Begitu, pun dengan Papa ku yang sudah menyerah seperti Mama. Dan yang terakhir adalah Kakakku Im Jaebum yang tak pernah menyerah membujukku. Aku tak pernah mengizinkan ia masuk, tapi ia selalu menasihatiku diluar kamarku, dibalik pintu kokoh itu, dan juga Aku selalu mendengarkan kata-katanya, tapi aku muak, aku muak karena hanya itu yang bisa ia katakan setiap harinya selama seminggu ini.

“Nayeon-ie! Keluarlah! Sudah seminggu ini kau tidak makan.” Kata kakakku di balik pintu kamarku.

Aku selalu makan, tapi ketika mereka sudah terlelap. Mana mungkin aku masih sehat jika selama seminggu aku tak makan.

Hanya sebuah dan satu-satunya bigkai foto yang selalu kupandangi. Aku ingin menjadi seperti orang yang ada didalam bingkai tersebut. Aku menjadi matahari yang bisa berguna bagi siapapun. Tapi, setelah kejadian seminggu lalu rasanya tak mungkin jika aku bisa seperti orang yang ada didalam bingkai tersebut.

Setelah beberapa lama, kakakku mengetuk lagi pintu kamarku. Baiklah, aku akan menyerah untuk menyuruh kakakku masuk yang pertama kalinya, setelah seminggu ini. Pintu kamarku tak pernah ku kunci, tapi tak sopankan jika masuk ke kamar orang lain tanpa izin sang pemilik, ya, walaupun dalam sebuah keluarga. Dan dikeluargaku menerapkan yang seperti itu.

Kak Jaebum masuk. Tapi tak seperti biasanya, yang kali ini hanya membawa segelas susu saja untukku. Aneh.

“Kau masih belum juga menulis mimpimu yang lain?” Kata kakakku yang melihat buku, tempatku biasa untuk menulis mimpiku, atau janjiku itu masih kosong diatas meja belajarku.

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

“Aku tak mau sakit hati seperti sekarang ini.”

“Kau sendiri yang menciptakan sakit hati pada dirimu sendiri.” kakakku menjejalkan bokongnya untuk duduk disampingku, dan menyimpan segelas susu diatas nakas.

“Aku sudah menuliskan semua mimpiku disana, kak. Tapi, mimpi yang sangat aku inginkan malah tak bisa kucoret, bahkan mungkin tak akan pernah bisa kucoret lagi.”

Kak Jaebum memelukku. “Kau tahu?” Ia mengelus lembut rambut hitamku. “Untuk menjadi seorang yang besar dan berguna untuk orang lain itu bukan hanya menjadi seorang dokter saja, Nayeon-ah. Aku yakin masih banyak mimpimu yang lain.”

“Tidakkah kakak mengerti keinginanku itu? Aku sudah berusaha keras untuk menjadi seorang dokter, belajar bahkan usaha lainnya. Kakak bahkan yang selalu menemaniku untuk berusaha. Aku tidak bisa melepaskan mimpiku begitu saja, kak!” aku menghela nafas.

“Aku tahu. Tapi, kau juga harus tahu bahwa Tuhan belum mengizinkanmu menjadi seorang dokter atau mahasiswi kedokteran saat ini. Masih bersyukur Tuhan hanya tak meloloskanmu pada ujian masuk, bagaimana jika Tuhan mengambil mimpimu sebelum kau berusaha?”

“Maksud, kak Jaebum?” Aku mendongak menatap wajah kakak laki-lakiku.

“Kecelakaan misalnya.” Katanya seraya menatapku, juga. “Jika kau sudah ikut ujian masuk dan kau tak lolos, berarti kau sudah berusaha. Jika sudah berusaha kau hanya perlu menunggu hasil, dan hasilnya ya kau belum diizinkan menjadi seorang dokter oleh-Nya.” Jelas kak Jaebum.

“Tapi, aku masih ingin menjadi dokternya, tak mau yang lain.” Keukeuh ku.

Kak Jaebum menghela nafas, tak menyerah dengan ucapannku tadi. “Aku tahu mimpimu bukan hanya menjadi dokter. Mana ada orang yang mempunyai mimpi hanya satu, aku saja mempunyai banyak mimpi. Kalau kau mau kau bisa melihat kertas-kertas yang kutempel didepan meja belajarku itu.”

Aku terdiam. Ya memang aku punya banyak mimpi, tapi mimpi terbesarku adalah menjadi seorang dokter. Salahkah aku jika aku menggenggam mimpiku erat-erat dan tak mau melepaskan mimpiku itu.

“Kau harus bisa menuliskan mimpimu dihalaman baru, Nayeon.” Kata kak Jaebum.

“Tidak, aku tidak mau!” kataku cepat. Aku bosan dengan ucapan kak Jaebum yang selalu menyuruhku untuk menuliskan mimpiku yang lain. Aku bosan dan aku tak suka.

Kak Jaebum diam, menatapku teduh.

Aku mendongak menatap kakakku, “Apa kakak juga pernah sakit hati sepertiku jika mimpi kak Jaebum tak bisa dicoret?”

Kak Jaebum menatapku teduh, “Tentu saja aku pernah. Tapi, aku tidak tenggelam pada mimpi yang belum kucoret itu. Aku sadar masih banyak mimpi yang belum kucoret. Dan yang pasti aku tidak mau menciptakan sakit hati itu lagi.”

Aku diam, mencerna ucapannya. Memang kak Jaebum benar. Aku memang terlalu tenggelam dengan mimpiku yang belum kucoret bahkan tak pernah bisa kucoret itu. Bukan hanya tenggelam, tapi, aku menggenggamnya juga terlalu erat. Masih banyak mimpiku yang lain yang masih bisa kucoret.

“Kau hanya perlu waktu, Nayeon-ah. Kau harus menyibukkan dirimu dengan hal lain agar tak tenggelam dengan mimpimu itu.” Mata teduhnya menatapku lembut. “Mulailah menuliskan mimpimu dihalaman baru, mimpimu yang masih bisa kau coret.” Ia mengambil buku yang masih kosong, tempatku menuliskan mimpi-mimpiku dan memberikannya padaku.

“Hmmm…” aku mengangguk tersenyum pertama kalinya setelah seminggu ini aku murung.

Lagi-lagi ucapan kak Jaebum benar lagi. Aku hanya perlu waktu untuk tidak tenggelam dengan mimpiku yang tak bisa ku coret itu. Mungkin aku harus mengganti sosok yang ada didalam bingkai itu atau aku harus menambah bingkai-bingkai yang terdapat gambar-gambar mimpiku itu. Sekarang aku sadar, aku seperti ini karena aku hanya melihat pada seorang saja yang ada di bingkai tersebut, seorang ilmuwan kedokteran, Avicenna, ilmuan yang sangat terkenal di barat sana, dan pasti ilmu kedokteran banyak berkiblat pada beliau.

Yang paling penting, aku harus melihat mimpiku bukan hanya dilangit kamarku yang sempit ini, aku harus melihat mimpiku dilangit yang lebih luas lagi.

“Nayeon-ah, kau pasti bisa mencoret mimpimu yang lain. Coba tuliskan kembali mimpimu dihalaman baru. Mimpimu yang belum tercoret itu mungkin mimpi yang kau tulis dengan perasaan berbeda dari mimpi yang lain, sampai kau tak rela untuk berpindah halaman untuk menulis yang lain. Atau mungkin Tuhan pasti mempunyai cara lain untuk mencoret mimpimu itu.”

Kak Jaebum menepuk pundakku dengan keras, menyalurkan semangatnya padaku agar aku tidak bebal dengan ucapannya lagi. Tapi, walaupun hatiku masih sedikit bebal, setidaknya kak Jaebum mengajarkanku arti menerima dan ikhlas atas apa yang telah terjadi padaku ini.

“Dan setidaknya jika kau tak menjadi dokter, kau nanti akan mempunyai suami seorang dokter. Hahaha.” Aku benar-benar tertawa dengan ucapannya itu. Ah kak Jaebum ada-ada saja. Pertama kalinya aku melihat tawanya lagi setelah seminggu ini aku tidak becanda seperti sekarang ini dengannya.

 

Fin~

A/N:

Well, ini ff awalnya gara-gara baca buku Ephemera dan terinspirasi darisana, kalo ada yang udah baca dan ini hampir sama ya emang karena terinspirasi darisana^^

yang kedua sih ini gegara gagal masuk kedokteran jadi galau berkepanjangan tapi setelah baca buku Ephemera jadi baru sadar dan terciptalah cerita ini XD

kritik dan saran ditunggu ^^

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “[Ficlet] MY DREAM

      1. jaebum husband material banget disini /salpok/ nayeon pasti bahagia banget ya punya kakak kayak jb /jiwa fangirl berkobar/

        tapi aku kepaku sama notenya, jadi yang sebenernya gagal masuk kedokteran itu kak ayumi, kah? kalau iya, semangat kak :’v

        keep writing ❤

        Disukai oleh 1 orang

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s