[Ficlet] Memoir

tumblr_o4j62duogQ1uy43cbo1_500.jpg

MEMOIR

by aurora ; Myoui Mina & Kim Mingyu ; a ficlet ; hurt/comfort, angst ; T —


Ia yang diingat Mina adalah seratus delapan puluh sentimeter dalam kemeja putih dan jas biru tua yang tidak dikancingkan, dengan dasi longgar dan rambut ditata ke atas dengan gel, tertawa di koridor bersama segerombol teman sambil menenteng bola basket.

Ia yang diingat Mina adalah sebuah baris berisi sembilan huruf, terbisikkan berulang kali dalam pikiran Mina hingga gadis itu kesulitan menghafal tokoh-tokoh Juchia.

Ia yang diingat Mina adalah suara berat yang selalu memvokalkan kata-kata penyemangat untuk Mina ketika gadis itu kalah di kompetisi pertamanya. Ia tidak menari ballet seperti Mina, namun presensinya di setiap latihan selalu menyalurkan tenaga untuk fisik dan mental Mina.

Ia, Kim Mingyu, sebuah kenangan tiga tahun lalu yang telah pudar, namun eksistensinya di hadapan Mina sekarang adalah nyata.

.

.

“Mingyu?”

Tatkala Mina menyebut namanya, raut terkejut Mingyu lesap dan digantikan sebuah paras riang dengan senyum terkembang. Tempo tercipta dari pertemuan alas sepatu Doc. Martens Mingyu dan lantai kayu. Sementara baki berisi tiga croissant dan dua muffin berada di genggaman Mingyu.

“Sudah lama sekali, ya,” sapa Mingyu, “terakhir kali aku melihatmu di acara kelulusan sebelum kau pergi ke London.”

Mina masih tercenung. Kim Mingyu tidak berubah banyak, kecuali untuk rambutnya yang kini ditata klimis dan dasinya yang tidak lagi dilonggarkan; ia telah tumbuh dari remaja pembuat onar menjadi pria dewasa memesona.

“Hei, kau masih suka mousse cake rupanya.” Mingyu menunjuk baki yang dibawa Mina. “Kau tidak berubah, ya, Myoui-chan,” sambungnya.

Terbangunlah sepasukan kupu-kupu di abdomen Mina yang telah lama tidur. Tanpa sadar, dua pipinya semerah rambutnya, dan sehangat kue-kue yang baru diangkat dari pemanggang. Kedua sudut bibirnya terhela membentuk kurva.

“Dan kau masih berbau seperti pohon pinus, tanpa tambahan keringat,” kata Mina.

“Bagaimana London? Kau masih menari?” tanya Mingyu, pandangannya berlarian di hamparan kue di hadapannya sementara tangannya memainkan penjepit bening hingga sebuah blueberry cheesecake tertangkap.

“Iya, aku kadang tampil di beberapa pementasan di sana dan—oh, aku mulai mencoba waltz.”

“Hebat, berarti kau selangkah lebih dekat dari mimpimu, bukan?”

Mina menderap ke kasir, diikuti Mingyu. Keduanya berpandangan di antrian yang lumayan panjang.

“Berapa lama kau akan di sini?”

Mingyu sampai pada titik ini; titik di mana ia menanyakan pertanyaan yang dibenci Mina.

“Sebenarnya aku baru sampai dua hari yang lalu untuk liburan, tapi ayah mengajak kami ke Tokyo untuk mengunjungi nenek yang sakit,” tenggorokan Mina tercekat, “dan sebenarnya aku dalam perjalanan menuju bandara.”

Mina melihatnya; seberkas kekecewaan yang tumpah dalam hitam iris Mingyu. Namun seperti Mingyu yang Mina kenal, ia berusaha menutupi semua lara yang dirasakannya melalui senyum segaris, namun tersirat dalam tawa hambar.

“Sayang sekali, padahal kupikir kita bisa jalan-jalan setelah ini,” ucap Mingyu. “Aku masih ingin mengeksplor toko buku denganmu.”

“Sayang sekali, ya,” gumam Mina, ditundukannya kepala hingga rambut merahnya jatuh menyentuh pipi.

“Tidak apa-apa, aku mengerti,” ujar Mingyu lembut, diletakkannya baki di atas meja kasir ketika gilirannya tiba. “Sini, punyamu digabungkan saja denganku.”

Mina menyerahkan bakinya pada Mingyu yang langsung cekatan menerima, kemudian ia menyadari sebuah cincin perak melingkari jari tengah Mingyu.

“Apa itu cincin tunangan?” tebak Mina langsung.

Mingyu membiarkan dua detik lesap sebelum menjawab, “Iya.”

“Dengan siapa?”

“Chou Tzuyu, adik kelasku di SMA.”

Itu memberi tahu Mina bahwa Mingyu memang tidak berubah, namun Mingyu tak lagi sama seperti dulu; ketika keduanya masih saling terikat dalam status meskipun hanya sementara.

Keduanya mengucapkan salam perpisahan dan janji akan sebuah rendezvous setelah mengeluari pintu kaca bakery. Tidak ada yang tahu bahwa baik Mingyu dan Mina sama-sama punya sebuah kalimat tertahan di ujung lidah. Hanya terdiri dari dua kata.

.

/fin.


aurora’s;

Juchia adalah kelompok anti-peperangan pada Dinasti Chou, salah satu tokohnya adalah Konfusius.

happy birthday to our sugar plum Mina-chan ❤

Iklan

48 thoughts on “[Ficlet] Memoir

  1. “ia telah tumbuh dari remaja pembuat onar menjadi pria dewasa memesona.” Pas bgt td aku nontonin predebut mingyu trus up ke performance plg baru nya svt MAMPUS ITS TRUE AF!
    Weew plotnya cantik trus realis bgt astaga! Sumpah ini fav bgt deeekkkk💜💜💜💜💜

    Suka

    1. aku ngeliat mingyu predebut tuh kayak “haha gamungkin jadi bias nih” TAPI LIHAT DIA MENGAMBYARKAN SAYA DI ERA MANSAE kan kesal.
      iya dong kita kan #teamrealistic dalam menulis x3
      heu makasih kak nita ilysm ❤

      Suka

      1. maap kak nara kumengambil spotmu :’v betewe kalimat terakhirnya apaan/? ‘selamat tinggal’ kah? atau ‘aku mencintaimu’ atau malah ‘ninja berotot’/? /eh/

        Suka

                    1. wakakakak :’v katanya pun planet pluto mau menyalahi orbit dan mendekat ke bumi demi ngelihat goyang bang jali :’v

                      Suka

                    2. jadi penonton bayaran katanya, biar bisa joget angkat jemuran/? /yang itu lho di basyhat(?) yang kayak lagi ngangkat jemuran/ /ghgh/

                      Suka

  2. Syaaa, ini kok bikin baper gini, siyal. Waduh, kalo aku baca rasa-rasanya lebih dalem maknanya ‘ketemu-sama-mantan’ buat Mina. Huee ga tau harus seneng ato ga soalnya kamu nyelipin TzuGyu kekeke /because i like TzuGyu/ ((maaf MinaGyu ship ;-;))

    Uda ah, ga ada yang perlu di review dari tulisan secantik ini 🙂 keep writing syaaa ❤

    Suka

    1. loh kok aku seneng ya udah buat vris baper xD
      HAH KOK SAMA YAH AKU JUGA SUKA MINGYUxTZUYU :”)) /ganyantai/
      ah ngga ini pasti masih banyak flaw-nya huhu yang cantik mah tulisanmu vris ;-;
      thank you dear, keep writing too ❤

      Suka

    1. aHAHAHA sebetulnya aku mau main tebak-tebakan aja kayak endingnya Eleanor and Park; di mana Eleanor ngasih surat ke Park yang isinya cuma tiga kata terus langsung end :3

      Jadi ya, dua kata itu sebetulnya ‘Maafkan aku’ ((jadi semua pilihan yang aku sebutin di atas itu ngaco ya))

      Kenapa mereka minta maaf? Ehehehe coba tebak lagi x33

      Disukai oleh 1 orang

  3. Mansae Mansae Mansae yeah!
    Mingyu mah gitu sukanya bikin baper, ujung-ujungnya bikin patah hati deh.

    Eh ada author-nim, sumimasen saya reader baru ^^ yang kebetulan nyari-nyari ff Mina Twice, dan abrakadabra baru nemu sekarang -___-
    oh ya selamat buat author-nim, ff-nya sukses bikin baper saya
    nice fanfic!

    Suka

  4. Ampun kenapa diwaktu pertemuan terbatas bukannya ngomong to the point malah sibuk nanya hal lain 😆 *mode gemes* ampun daripada baper aku lebih ke arah gregetan sama mereka
    Btw Mingyu engkau kok cucok ya sama siapa aja 😆

    Suka

Leave the Love-Signal:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s